𝗢𝗻 𝗚𝗼𝗶𝗻𝗴
"Bersediakah Kamu menjaga istriku untuk lima tahun ke depan?" tanya seorang pria sekarat yang baru saja menikah.
"Baiklah!"
Seorang kurir dipercayakan untuk menjadi suami pengganti dan menjaga kehidupan istrinya selama lima tahun ini.
Semua keluarga istrinya sangat tidak menyukai Steven, menantu pria yang masuk ke dalam keluarga istri dengan dirinya yang hanyalah seorang kurir, membuat keluarga Castano malu karena mereka merupakan salah satu keluarga terkaya di kota kecil, kota Heos.
Mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya orang yang mereka bicarakan, dia adalah Steven, seorang pembunuh paling berbahaya di dunia, dengan aset ratusan triliun dan bahkan sebagian bawahannya merupakan seorang miliarder!
Menantu Sampah? Aku adalah menantu palsu! Aku adalah Steven Laurent! Tidak ada yang bisa menyinggungku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aoxue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Lenyapkan dia!"
"Eh? A–aku sudah memberimu informasi! Kenapa Kau mau melenyapkanku?" tanya pria yang sebelumnya berteriak membocorkan rahasia tentang kelompoknya sendiri.
"Itu karena Kau tidak kompeten! Sky!" jawab Steven dengan dingin.
Pelatuk pistol pun ditarik, pria itu mengeluarkan air mata. Dia benar-benar ketakutan, Steven melangkahkan kakinya mendekati pria tersebut dan dia mulai menginjak kepalanya dengan leluasa.
"Apakah Kamu tahu? Aku paling membenci seorang bawahan yang lemah sepertimu?" ucap Steven dan menendang kepalanya dengan kuat.
Saat kepala pria itu terjatuh, Sky langsung menembak targetnya tepat sasaran sehingga membuat pria berpakaian hitam lainnya kebingungan.
"Apa maksudnya bawahan?" batin salah seorang pria berpakaian hitam kebingungan.
Dia menjatuhkan dahinya ke tanah dan memberikan hormatnya dengan bersujud kepada Steven.
"Mohon maafkan bawahan yang tidak kompeten ini!" serunya dengan sedikit gugup.
"Lenyapkan!" ucap Steven datar.
Hanya dalam beberapa saat, Sky kembali menembak pria berpakaian hitam yang tengah bersujud tersebut.
Hanya tersisa dua orang lainnya yang kebingungan, hanya saja. Seseorang yang dikatakan senior dari kelompok itu menatap Steven dengan serius.
"Tuan! Jika anda ingin mengetahui informasi tentang Kami, maaf aku tidak akan memberitahumu! Meskipun harus mati sekalipun!" ujarnya dengan sorot mata yang serius.
Steven mulai tertarik dengan pria tersebut, dia menatap pria itu dengan tersenyum.
"Ho? Itu artinya Kamu akan mati di tanganku?" tanya Steven meremehkan.
"Suatu kehormatan bisa mati di tanganmu! Apakah aku boleh meminta sesuatu sebelum kematianku?" tanya pria itu dengan serius.
"Mau apa?" bukannya Steven menjawab pertanyaan dari pria itu, dia balik bertanya karena penasaran.
"Aku ingin menelpon istriku!" jawabnya mantap.
"Tidak ada!" kata Steven, dia meminta pistol yang ada pada tangan Sky dan menodongkan pistolnya tepat di depan dahi dari pria tersebut.
Ketika pelatuk pistol itu ditarik, pria yang sedang pasrah dengan ajalnya itu menghela nafas panjang dan bergumam, "Maafkan aku!"
Doorr
Bunyi suara tembakan terdengar jelas, hanya saja. Pria itu kebingungan karena tidak ada rasa sakit yang dirasakan oleh olehnya sama sekali.
"Baiklah, kalian berdua cukup meyakinkan!" ucap Steven dan mengembalikan pistol tersebut kepada Sky.
"Oh iya! Aku sudah mengetahui letak markas mafiamu! Dan saat ini, bosmu akan segera datang kemari!" ujar Steven menjelaskan.
Steven memegang sisi bahu dari pria itu dan bertanya, "Lalu, siapa namamu?"
"Na–namaku Ayano!" jawabnya ragu.
Tidak berlangsung lama, sebuah mobil berhenti tepat disana. Ketika pintu mobil itu terbuka, seorang gadis cantik langsung menuju ke pintu belakang mobil dan membuka pintu lainnya.
Dia menarik seorang pria paruh baya yang merupakan ketua mafia di kota tersebut, ketika gadis itu menyeret pria paruh baya tersebut, dia melemparkannya langsung ke depan Steven.
"Kalian berani-beraninya memperlakukanku seperti ini? Ka—" ketus pria paruh baya itu kasar dan terhenti karena dirinya melihat sosok yang pernah dia temui.
"Ma–mawar berduri? A–aku mohon maaf karena telah menyinggung orangmu Tuan Sky!" ujarnya memohon maaf dengan bersujud.
"Ini adalah perintah dari Tuan Atmaja! Iya! Dia yang memberikan perintah tersebut kepada Kami!" lanjutnya yang langsung memberikan informasi tentang seseorang yang telah memberinya perintah.
"Apa Kau pikir aku peduli dengan informasimu?" ketus Steven yang mulai menertawakan pria paruh baya itu.
"Diam Kau! Aku sedang berbicara dengan Tuanmu!" teriak pria paruh baya itu kesal karena mendapatkan tanggapan menyebalkan dari Steven.
Dengan cepat, Sky langsung menarik rahang pria tua itu dengan kasar, "Apa yang Kau katakan kepada Tuanku? Tuan, apa aku bunuh saja dia?" tanya Sky kesal dan marah kepada pria paruh baya itu serta dilanjutkan dengan meminta saran kepada Steven.
"Tu–tuan? A–apa maksudnya itu? Bukankah Sky adalah pembunuh bayaran paling ditakuti di negara ini? Lalu, siapa dia? Bukankah dia hanyalah seorang kurir? Apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Ini sangat aneh! Ini—" keluh pria tua itu di dalam hati dengan dirinya yang kebingungan karena permasalahan yang sangat aneh ini.
Steven tersenyum, dia menatap sosok Ayano yang saat ini hanya terdiam.
"Mulai sekarang aku ingin dia menjadi ketua mafianya! Apa Kamu mengerti?" tanya Steven.
"Ta–tapi—Tidak! Baik Tuan!" ujar pria paruh baya itu yang ingin berargumen, hanya saja ketika dia mendapatkan sorot mata Steven yang dingin, dia ketakutan dan menghentikan perkataannya.
"Baiklah! Mulai sekarang Kamu akan mengambil alih bisnis keluarga Atmaja!" ucap Steven mengarahkan telunjuknya kepada pria paruh baya itu.
"A–aku? Bagaimana caranya, Tuan?"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tiba di sebuah perusahaan yang cukup besar, perusahaan yang bergerak dalam bidang pemasaran dan restoran.
Beberapa mobil hitam masuk ke dalam perusahaan tersebut dan disambut dengan hangat oleh para petugas keamanan.
Ketika telah berada di depan ruang kantor, mereka tidak masuk terlebih dahulu melainkan pria paruh baya yang sebelumnya merupakan seorang ketua mafia itu menekan dial angka pada layar ponselnya.
Dia menghubungi seseorang, ketika panggilan telepon telah diangkat, "Cepat kebawah! Tuan Mawar Mewar datang kemari!" ucapnya dan membuat si penerima panggilan itu bahagia.
"Tuan Mawar Merah? Bukankah dia pembunuh bayaran paling berbahaya di negara ini? Untuk apa dia datang kemari?" bingungnya, namun selain dirinya kebingungan. Jauh di lubuk hatinya dia sangat bangga karena akan bertemu dengan sosok seorang yang terkenal dalam dunia bawah tanah.
Tentunya, itu akan membuat relasinya bertambah banyak.
Ketika dia sudah berada di bawah, dia dikejutkan karena sosok seorang Steven tersenyum melihat sosok seorang pebisnis yang bernama Iwan Atmaja.
"Ka–Kamu bukankah? Hei! Katakan padaku kenapa Kau tidak membunuh bocah sia*lan itu!" teriak Iwan Atmaja kepada mantan ketua mafia itu.
Tidak ada jawaban sama sekali, Steven melangkahkan kakinya melewati Iwan dengan penuh percaya diri.
"Cepat antar aku ke ruanganmu!" ketus Steven yang membuat Iwan semakin kebingungan.
"Ada apa ini? Hei!" batin Iwan bersorak kebingungan.
"Hei! Apa yang mau Kau lakukan di perusahaanku!?" ketus Iwan bertanya.
"Perusahaanmu? Oh, mulai saat ini! Dia yang akan mengelola perusahaan ini karena Kamu dan anakmu akan aku berikan pekerjaan lain!" jawab Steven dengan santai.
Tiba-tiba saja, sebuah mobil berwarna putih memasuki perusahaan dan membuat Iwan Atmaja bahagia.
"Hei! Jangan membuang waktuku lagi! Aku harus menyambut kedatangan Manager Ninda!" keluh Iwan dan berjalan dengan cepat ke arah mobil putih.
Ketika pintu mobil tersebut dibuka, dia tersenyum dan menyambut kedatangan Manager Ninda dengan sangat sopan.
"Manager Ninda! Saya adalah pemilik perusahaan —" ujarnya dengan bangga, namun Manager Ninda berjalan dengan tenang dan tidak menganggap keberadaan tentang Iwan Atmaja sama sekali.
Ketika Manager Ninda berada tepat di depan Steven, dia langsung menyapa dan memberikan hormat kepada Steven.
"Tuan!"
Serius dah. Asli
Senpai jadi kebawa ampe ke novel kalimat anu nya
Kalau gak dendam
Jebakan
Atau mengalihkan sesuatu