Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Kilas Balik
Sepeninggal pria itu, Bianca menatap kartu nama yang ditinggalkan di atas meja. Nama pria tersebut tercetak dalam huruf latin yang indah dengan tinta emas timbul: Hernan de Valois.
"Sepertinya bukan orang sembarangan. Terlihat sangat matang dan berkelas," gumam Bianca pelan. "Tapi, untuk apa dia mengajak gadis penjaga toko sepertiku? Bukankah pria seperti dia bisa dengan mudah mengencani mahasiswi cantik atau wanita dengan profesi bergengsi seperti dokter atau pengacara? Pasti dia hanya iseng."
Bianca mendengus, lalu meletakkan kartu nama mewah itu begitu saja di tumpukan kertas dekat mesin kasir, mencoba mengabaikan debar aneh di dadanya.
Tepat pukul tujuh malam, Bianca kembali ke flat kecilnya dan memilih untuk mengabaikan ajakan Hernan. Seperti biasa, ia mengambil cermin kesayangannya, memulai ritual berbicara pada bayangannya sendiri.
"Hari yang melelahkan, Lora. Kau tahu? Aku rindu ayah dan nenekku. Juga ibuku... aku bahkan tak ingat sama sekali. Dia meninggalkanku saat aku masih berusia dua tahun."
Bianca mendesah pelan, lalu meletakkan cermin itu di atas nakas kayu sederhana sebelum beranjak untuk mandi.
Keesokan siangnya, Bianca sedang menikmati makan siang sederhana—menu yang sebenarnya jauh dari kata bergizi, namun yang penting murah dan mengenyangkan.
"Aku menunggumu kemarin malam, Mademoiselle."
Bianca tersentak. Ia menoleh dan seketika membeku saat mendengar suara bariton itu. Matanya membulat panik, sementara mulutnya masih penuh dengan makanan dan sedikit saus krim yang belepotan di sudut bibirnya.
Hernan mengusap sudut bibir Bianca dengan sapu tangannya yang halus.
"Jangan, Tuan. Nanti kotor," cegah Bianca segera. Ia merasa sayang karena sapu tangan itu sangat mahal, apalagi logo brand mewah yang terpampang jelas di sana.
"Kalau begitu, kau harus menggantinya."
"Hah? Mengganti?!" Bianca melongo. "Astaga, Tuan. Gaji saya sebulan saja mungkin tidak cukup untuk membeli sapu tangan itu." Wajah Bianca yang memucat begitu dinikmati oleh Hernan sebagai kepolosan murni tanpa dibuat-buat.
"Kalau begitu, temani aku minum kopi malam ini setelah jam kerjamu usai. Atau...., aku akan mengirimkan tagihannya langsung ke flatmu di Rue de Crimée."
Bianca tersentak, nyaris menjatuhkan rotinya. "Anda tahu di mana saya tinggal?"
"Itu tidak penting. Jam 19.30, jangan terlambat," ujar Hernan terkekeh sebelum berbalik pergi, meninggalkan Bianca yang masih mematung sambil menggenggam sapu tangan mahal bernoda saus krim itu.
Bianca melangkah masuk ke kafetaria yang letaknya tak jauh dari tempat kerjanya. Aroma kue yang baru matang dan wangi kopi hangat seketika menyerbu indra penciumannya, membuat perutnya bergemuruh hebat karena lapar.
"Astaga, diamlah! Jangan membuatku malu," bisik Bianca sambil mencengkeram perutnya sendiri. Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan pria itu.
"Anda sudah ditunggu di meja nomor tujuh belas, Mademoiselle," sapa seorang pelayan sembari menunjuk ke arah meja yang dimaksud.
"Merci," jawab Bianca singkat. Ia pun berjalan menghampiri Hernan yang kini tampil lebih santai dengan kaus polo kasual.
"Silakan duduk, Nona" ujar Hernan, lalu memberi isyarat kepada pelayan. "Pesanlah apa pun yang kau mau. Aku tahu kau lapar."
"Benarkah? Apa aku terlihat semalang itu?" tanya Bianca polos.
Hernan tersenyum geli melihat kejujuran gadis di hadapannya. "Bukan malang, tapi perutmu baru saja mengirimkan sinyal radio yang bisa terdengar sampai ke meja sebelah."
Pipi Bianca merona karena malu. Diam-diam, ia memperhatikan penampilan pria itu—mulai dari arloji mewah, sepatu kasual, hingga kaus polo bernuansa earth tone yang tampak bersahaja namun harganya jelas berkali-kali lipat dari blus lusuh, sepatu kets hampir jebol, dan jam tangan pasar loak miliknya.
Hari-hari berlalu, hubungan Bianca dan Hernan semakin akrab. Mereka mulai menghabiskan banyak waktu bersama layaknya sepasang kekasih di apartemen mewah Hernan, Le Manoir d'Argent. Bianca pun berhenti bekerja; Hernan membiayai kursus keterampilan manajemen aset dan saham untuknya. Pria itu bahkan menyewa mentor mahal agar Bianca memiliki wawasan yang luas.
Namun, di tengah kemewahan itu, Hernan tidak pernah meresmikan status mereka.
"Itu sama saja aku ini simpananmu, Hernan," protes Bianca pada suatu hari.
"Beda, Bianca. Simpanan itu istilah untuk pria yang sudah menikah, sedangkan aku lajang."
"Kalau kau menyembunyikanku seperti gundik begini, jangan-jangan kau memang sudah beristri? Itu berbahaya, Hernan. Bagaimana jika istrimu tahu?" cecar Bianca dengan ketakutan yang polos.
"Kartu identitasku sudah menjelaskan semuanya, bukan? Profilku di kalangan pebisnis juga mencatatku sebagai pria lajang, Bianca. Jalani saja ini. Kau bukan simpananku, tapi aku memang belum bisa memublikasikanmu," jawab Hernan sembari menghela napas panjang, lalu memberikan ultimatum keras.
"Satu hal lagi, jangan pernah membahas pernikahan. Aku belum siap terikat komitmen."
Memasuki tahun kedua hubungan mereka, saat Bianca berusia 25 tahun dan Hernan 40 tahun, segalanya hancur tanpa peringatan. Hernan memutuskan hubungan mereka dengan alasan akan menikahi mantan kekasihnya, seorang aktris berusia 30 tahun bernama Aurélie Mereau.
"Kau tega, Hernan. Setelah dua tahun kita bersama... kenapa kau memilihnya? Bukankah dia sudah menikah dengan pebisnis Monako itu?"
"Itu bukan urusanmu, Bianca. Kuberikan waktu tiga hari untuk meninggalkan apartemen ini."
"Kau mengusirku?"
"Kasarnya bisa dibilang begitu. Aku akan memberikan uang sepuluh kali lipat dari jatah bulananmu untuk modal kehidupan barumu. Dan ingat, jangan pernah menyapaku jika kita tidak sengaja bertemu nanti."
"Kau berengsek, Hernan! Dasar penjahat kelamin! Setelah semua yang kuberikan padamu—keperawananku, waktuku, ketulusanku melayanimu!" Bianca memukul keras dada bidang Hernan dengan isak tangis yang mulai pecah.
Hernan menangkap pergelangan tangan Bianca dengan dingin, sorot matanya tak menyiratkan penyesalan sedikit pun. "Jangan dramatis, Bianca. Sejak awal aku sudah bilang tidak ada komitmen. Kau mendapatkan pendidikan, kemewahan, dan uang. Anggap saja ini biaya sewa atas waktu yang kau habiskan bersamaku. Sekarang, lepaskan mulailah berkemas dan mencari tempat tinggal!."
Hernan berlalu begitu saja, meninggalkan Bianca yang menangis tergugu di lantai, bersandar pada kaki ranjang yang dingin. Begitu besar cinta yang ia berikan, namun bagi pria itu, Bianca hanyalah mainan penghalau sepi yang kini sudah habis masa pakainya.
Pikiran Bianca buntu. Dalam kegelapan hatinya, hanya ada satu jalan keluar: mengakhiri hidup dengan terjun dari atap tertinggi Le Manoir d'Argent. Ia berharap kematiannya akan menjadi kutukan bagi Hernan de Valois. Ia menuliskan pesan terakhir di atas meja dan menyelipkan sepucuk surat ke dalam saku piyama sutra hitamnya.
Bianca ingin dunia tahu. Ia berharap saat tubuhnya hancur menghantam bumi, orang yang menemukannya akan membaca surat itu dan menggemparkan seluruh Prancis dengan berita tentang seorang kekasih yang tak pernah dianggap.
Flashback Off
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?