NovelToon NovelToon
ROMANTIKA HIDUP

ROMANTIKA HIDUP

Status: tamat
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Misteri / Tamat
Popularitas:219.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
Novel lanjutan dari CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].

Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.

Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.

Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?

Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?

"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Pemeriksaan 2.

...~•Happy Reading•~...

Apa yang dikatakan Karpin melegakan bagi Kaliana, tapi juga mencurigakan. Oleh sebab itu, Kaliana lebih fokus dan berpikir cepat untuk memastikan hal itu. Semua yang berhubungan dengan keterangan saksi atau bukti perlu diselidiki keabsahannya

"Apakah anda ingat atau anda tahu, kwitansi atau bukti pembayaran pengobatan rumah sakit, diletakan di mana oleh Ibu Chasina?" Tanya Kaliana lagi, karena itu merupakan bukti pendukung yang sangat penting.

Sampai saat ini, Chasina belum mengingat, sudah letakan atau menyimpannya di mana. Kaliana perlu bukti otentik untuk mendukung keterangan terdakwa dan saksi.

"Ada di mobil Bu. Ada sama sisa obat yang diberikan dokter. Saya letakan di mobil, untuk obatin luka." Jawab sopir cepat, membuat Kaliana terkejut, tapi hatinya jadi lega.

"Kalau begitu, tolong anda ambil dan berikan pada saya." Kaliana berkata cepat, lalu berdiri mengikuti sopir. Pak Adolfis dan Bryan yang belum mengerti duduk persoalan sebenarnya, hanya bisa melihat Kaliana dan Karpin yang akan meninggalkan ruang kerja.

"Pak Adolfis dan Pak Bryan. Saya keluar sebentar, ada yang mau saya ambil di mobil." Kaliana pamit, lalu berjalan cepat ke luar dari ruang kerja.

Beberapa saat kemudian, Kaliana kembali ke ruang kerja dengan kantong plastik bersegel di tangan. Karpin belum kembali, membuat alis Kaliana bertaut, lalu melihat Pak Adolfis dan Bryan bergantian.

"Karpin agak lama, karena harus ke belakang ambil kunci mobil Chasi." Pak Adolfis menjelaskan, karena wajah Kaliana seakan bertanya, mengapa Karpin belum kembali.

Kaliana mengangguk dengan hati lega. Dia tetap waspada dengan setiap kemungkinan, khawatir Karpin melarikan diri karena berbohong tentang bukti. Kaliana kembali ke tempat duduknya di depan Karpin, setelah dia kembali ke ruang kerja.

"Tolong masukan semuanya di sini, Pak Karpin." Kaliana membuka segel kantong plastik di depan Karpin. Kemudian dia memasukan kwitansi dan sisa obat seperti yang diminta Kaliana. Ada dua katong plastik obat dengan nama apotik, tercantum juga tanggal pembelian obat beserta kwitansi pembelian. Hal itu melegakan hati Kaliana.

"Pak Karpin, selama sidang belum selesai, anda dilarang meninggalkan rumah ini. Anda dilarang berbicara apa pun dengan siapa pun, terutama tentang apa yang saya tanyakan saat ini." Kaliana berkata tegas, agar Karpin tidak sembarang bicara dengan orang lain.

"Baik, Bu. Ibu tolong ibu Chasi ya, Bu. Malam itu, kami tidak sengaja melakukannya." Pinta Karpin dengan mata berkaca-kaca. Hal itu membuat Kaliana tertegun dan pikirannya langsung koneksi ke mana-mana.

"Pak Karpin. Lihat saya." Ucap Kaliana tegas dan serius, sambil menunjuk wajahnya. Karpin terkejut mendengar bentakan Kaliana dan langsung melihat wajah Kaliana yang sedang menatapnya dengan serius.

"Ucapan tadi, itu yang terakhir anda katakan. Saya tahu perasaan anda terhadap apa yang sedang menimpa Ibu Chasi. Tapi ucapan itu, tidak boleh keluar lagi dari mulut anda kepada siapa pun. Termasuk pengacara beliau. Ingat itu!" Kaliana jadi khawatir, Karpin mengatakan apa yang dia pikirkan dan menurut perasaannya. Sehingga bisa memberatkan hukuman Chasina.

"Pak Karpin. Saya ulangi sekali lagi, anda hanya boleh mengatakan apa yang anda tahu dan dengar dari Ibu Chasi juga korban malam itu. Tidak boleh katakan apa yang anda pikirkan atau tentang perasaan anda." Kaliana berkata tegas, sambil menatap Karpin dengan serius. Karpin mengangguk ragu-ragu, karena belum mengerti yang Kaliana maksudkan.

"Ingat baik-baik. Hanya yang anda tahu dan dengar dari Ibu Chasi dan korban saat kejadian itu. Selain itu, tidak boleee! Apalagi dugaan atau perkiraan anda." Kaliana berkata sambil mengangkat jari telunjuknya untuk mengingatkan Karpin.

"Anda percayakan kepada kami, sebagaimana Pak Adolfis dan Pak Bryan. Jangan anda membuat persoalan baru untuk kami dengan mengatakan hal seperti itu. Hanya menjawab pertanyaan Jaksa atau pembela sesuai dengan apa yang anda ketahui."

"Dengan perkataan anda seperti itu, anda sudah mengatakan Ibu Chasi melakukan pembunuhan. Jadi anda berhati-hati dalam mengatakan sesuatu tentang pemikiran dan perasaan anda." Ucap Kaliana tegas, membuat Karpin terhenyak.

Begitu juga dengan Pak Adolfis dan Bryan. Mereka tidak menyangka, ucapan rasa simpati dan permintaan tolong Karpin bisa memberatkan hukuman Chasina.

"Pak Adolfis dan Pak Bryan. Tolong amankan Pak Karpin di sini, sampai sidang kasus ini selesai. Hanya ada satu saksi yang meringankan Bu Chasi, yaitu Pak Karpin. Jadi hati-hati menjaganya di sini. Pak Karpin tidak boleh bertemu atau berhubungan dengan siapa pun. Apalagi dengan keluarga suami Ibu Chasi." Kaliana berkata sambil menghadap ke arah Pak Adolfis dan Bryan.

"Jika Pak Karpin sudah berkeluarga, Pak Adolfis tolong mengatur orang untuk menghubungi keluarganya, bukan Pak Karpin sendiri." Kaliana berkata lagi dengan serius, sambil memandang Pak Adolfis dan Bryan bergantian.

Yicoe, Novie dan Putra yang sedang melihat Bryan di layar, tidak berani bercanda karena mendengar keseriusan Kaliana. Mereka justru sudah tegang saat mendengar perkataan minta tolong Karpin. Karena itu bisa menjadi makanan empuk Jaksa Penuntut dan Hakim.

"Baik, Bu Kaliana. Kami akan perhatikan yang Ibu katakan. Terima kasih bantuannya." Pak Adolfis berkata dengan hati lega. Ternyata semua pertanyaan Kaliana bukan hanya mencari keterangan, tetapi juga mempersiapkan Karpin sebagai saksi. Bryan pun jadi tertegun dan mengerti, karena cara Kaliana mendapatkan keterangan dan mempersiapkan saksi tidak biasa baginya.

"Pak Karpin sudah bisa beristirahat. Kalau ada yang kurang mengerti, tolong tanyakan atau bicarakan dengan Pak Adolfis atau Pak Bryan. Jangan kepada orang lain." Kaliana menegaskan lagi, karena dia benar-benar mau amankan Karpin.

"Baik, Bu. Saya permisi." Karpin berkata dengan sopan dan hormat sebagaimana yang dilakukan kepada Pak Adolfis dan Bryan. Dia tidak menyangka, menjadi saksi tidak mudah, tidak boleh salah bicara atau terpeleset kata.

Dia sangat sedih dengan apa yang dialami oleh bossnya, sehingga ingin membelanya. Tetapi ternyata perkataannya bisa jadi peluang yang memberatkan hukuman bossnya. Karpin jadi ingat terus yang dikatakan Kaliana, sambil keluar dari ruangan.

Kaliana langsung memberikan sinyal kepada Putra untuk mematikan alat komunikasi, karena dia mau berbicara dengan Pak Adolfis dan Bryan secara pribadi.

"Setelah Putra mematikan alat komunikasi dan juga kamera, Kaliana berjalan mendekati Pak Adolfis. "Pak, baiknya saya menceritakan sedikit tentang kasus ini, agar bapak berdua tidak terlalu terkejut saat kasus ini disidangkan." Kaliana berkata dengan sopan, karena melihat Pak Adolfis belum tahu persoalan yang sebenarnya. Mengapa putrinya bisa membunuh istri Marons.

"Kalau begitu, kita bicara di dalam saja sambil minum." Pak Adolfis berkata sambil menunjuk ruang meeting yang berada di bagian lain ruang kerjanya. Kemudian beliau menghubungi pelayan untuk mengantarkan minuman dan cemilan.

Kaliana berjalan mengikuti Bryan di belakangnya, lalu duduk di kursi yang tersedia. Tepatnya duduk di depan Bryan bersebrangan meja, sambil menunggu Pak Adolfis.

"Begini Pak Adolfis dan Pak Bryan... Saya tidak memilik banyak waktu, untuk mempersiapkan saksi. Jadi saya minta tolong bapak-bapak untuk terus mengingatkan Pak Karpin tentang apa yang harus dilakukan saat persidangan." Kaliana berkata serius setelah Pak Adolfis duduk di samping Bryan.

...~°°°~...

...~●○¤○●~...

1
Hariyanti Katu
novelx mantaf🥰🥰🥰
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Makasih sudah baca & dukung karya ini & timggalkan jejak, Kak.🤗 Smg kita bisa bertemu di karya yg lain, ya. 🙏 Makasih 4 all Kak♡ 🙏❤️😍🤗
total 1 replies
Hariyanti Katu
aktorx trnyta jaret🫣🫣
Hariyanti Katu
mantaf🥰🥰
Hariyanti Katu
serasa nonton film detektif😁
Hariyanti Katu
kena p.rikus..ooohhh kamu kthuan🤣🤣
Hariyanti Katu
kerjasama yg manis🥰
Hariyanti Katu
grecep🤗🤗
Hariyanti Katu
waspada pak bram,banyak nyamuk mengintai,jgn sampai d gigit😄😄
Hariyanti Katu
saya suka sekali🥰team kaliana dan bram..kalian top banget...lanjut thoorr
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Waaaaah...🤭😄 Makasih 4 all Kak♡🙏❤️😍🤗
total 1 replies
Hariyanti Katu
🥰🥰🥰
Hariyanti Katu
sosialita😆gaya hedon
Hariyanti Katu
cerdas kaliana sm bram🥰
Hariyanti Katu
saya tdk bisa berkata2,damai negeriq🥰
Hariyanti Katu
wiih pak dany pengertian banget🤗
Hariyanti Katu
tuntaskn thoorrr
Hariyanti Katu
mm garet mainx luar biasa..ngeri🫢🫢
Hariyanti Katu
wauuoo..
Hariyanti Katu
mantul thoor,serasa saya jg ikut2 jadi detektif😅
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Waaaah.. 🤭😊 Makasih 4 all Kak🙏😍❤️🤗
total 1 replies
Hariyanti Katu
lanjut thoorr,trpesona diriq😄
🍁💃Katrin📙📖📚❣️: Makasih dukungannya Kak 🙏❤️😍🤗
total 1 replies
Hariyanti Katu
perikitiww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!