NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Mantan Suami

Kring... Kring...

Telepon genggamnya bergetar di atas meja kasir yang miring. Pesan dari Ayub: "Mbak, maaf aku harus masuk kelas pagi ini. Setelah jam satu aku langsung ke sana. Jangan angkat yang berat-berat, Mbak. Tunggu aku."

Livia tersenyum tipis, sebuah garis lengkung yang dipaksakan di wajahnya yang pucat. Ia menyimpan ponsel itu dan mulai memunguti pecahan kaca satu per satu. Setiap serpihan yang ia ambil seolah mengingatkannya pada kepingan hidupnya yang hancur karena obsesi gila Sheila. Ia lelah menjadi korban. Sambil menyapu, air matanya jatuh menetes ke tumpukan tepung, namun ia segera mengusapnya kasar dengan lengan bajunya.

****

Berjarak beberapa kilometer dari ketenangan yang dipaksakan Livia, Rumah Sakit Jiwa Grogol sedang berada dalam status siaga satu. Suara teriakan yang melengking, jauh melampaui batas frekuensi suara manusia normal, menggema di sepanjang koridor steril Bangsal Melati.

"HA-HA-HA-HA! LIHATLAH! KUE ITU AKAN BERASA ABU! SEMUANYA AKAN JADI ABU!"

Sheila Nandhita berada dalam puncak kegilaannya. Ia tidak lagi duduk diam. Ia membenturkan punggungnya ke dinding busa ruang isolasi dengan ritme yang ganjil, seolah sedang menari mengikuti irama musik yang hanya terdengar di kepalanya sendiri. Rambutnya yang acak-adut menutupi wajahnya, namun matanya yang melotot lebar tetap terlihat menakutkan di balik helaian itu.

Dokter Kusno berdiri di balik kaca kecil pintu baja, wajahnya tampak sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur sejak kejadian di toko kue kemarin.

"Dokter, dosis penenang yang kita berikan tadi malam seolah tidak mempan. Metabolisme tubuhnya seolah-olah membakar obat itu karena adrenalin kemarahan yang terlalu tinggi," lapor seorang asisten perawat dengan suara ketakutan.

Sheila tiba-tiba berhenti membenturkan tubuhnya. Ia menempelkan wajahnya ke kaca kecil, menatap tepat ke mata Dokter Kusno. Bibirnya yang pecah-pecah tersenyum lebar, menampakkan gusi yang memerah.

"Dokter sayang... apakah kamu mencium aroma vanila?" bisik Sheila, suaranya tiba-tiba menjadi sangat lembut dan menggoda, lalu sedetik kemudian berubah menjadi raungan brutal. "ITU BAU KEMATIAN LIVIA! AKU AKAN KELUAR! AKU AKAN MEMBAKAR SEMUANYA! HAHAHAHAHA!"

Sheila mulai tertawa tak terkendali, tawanya melengking tinggi hingga menyerupai suara pekikan burung pemangsa. Ia mulai meludahi kaca, mencakar-cakar dinding dengan kuku-kukunya yang patah hingga berbunyi nyaring yang memilukan telinga. Dokter Kusno mundur selangkah, ia merasa kewalahan. Untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya, ia merasa sedang menghadapi sesuatu yang bukan lagi sekadar gangguan jiwa, melainkan kejahatan murni yang memakai topeng manusia.

"Siapkan fiksasi fisik empat titik. Kita tidak punya pilihan lain," perintah Dokter Kusno dengan suara berat. "Dan panggil tim keamanan tambahan. Dia tidak boleh lepas lagi."

****

Di sebuah rumah mewah yang kini hampir kosong, Attar Pangestu menutup koper besarnya. Ruangan itu terasa asing baginya. Tidak ada lagi aroma parfum Livia, tidak ada lagi suara tawa ibunya. Hanya ada kesunyian yang mencekam dan bayang-bayang dosa yang menempel di setiap sudut plafon.

Attar menatap paspor dan tiket pesawat di atas meja kerja. Tujuan: Sydney, Australia.

Keputusan ini tidak diambil dalam semalam. Sejak kejadian di toko kue, Attar menyadari satu hal yang menyakitkan: kehadirannya di dekat Livia hanya akan mengundang maut. Ia adalah magnet bagi kegilaan Sheila. Selama ia masih ada di kota ini, Sheila akan selalu memiliki alasan untuk mengejar Livia.

"Ini yang terbaik, Liv," bisiknya pada bingkai foto yang sudah ia bungkus dengan kain.

Ia teringat tatapan Livia di toko kemarin—tatapan yang penuh syukur karena telah diselamatkan, namun juga penuh jarak yang tak tertembus. Livia telah memilih jalannya, dan jalan itu tidak lagi bersinggungan dengan jalan Attar. Ayub adalah pelindung yang lebih baik, karena Ayub tidak membawa masa lalu yang berdarah.

Attar berjalan menuju balkon, menatap langit Jakarta yang mendung. Ia merasa gagal sebagai suami, gagal sebagai anak, dan kini ia mencoba untuk berhasil sebagai manusia yang tahu diri. Ia akan pindah ke kantor cabang di Australia, mencoba membangun kembali kariernya yang hancur, dan mungkin, suatu hari nanti, menemukan cara untuk memaafkan dirinya sendiri.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari sekretarisnya: "Pak, taksi sudah di bawah. Penerbangan jam 1 siang."

Attar menghela napas panjang. Ia menyeret kopernya menuju pintu, mematikan lampu ruangan untuk terakhir kalinya. Kegelapan menyelimuti apartemen itu, persis seperti kegelapan yang kini ia bawa di dalam hatinya. Saat ia masuk ke dalam lift, ia membayangkan Livia sedang tersenyum di tokonya, dan bayangan itu adalah satu-satunya hal manis yang ia bawa pergi dari negara ini.

****

Kembali ke toko, Livia sedang mencoba menggosok noda darah yang membandel di lantai. Ia sudah menghabiskan satu botol cairan pembersih, namun bayangan darah itu seolah menolak untuk hilang dari ingatannya.

Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi cahaya matahari di pintu. Livia tersentak, memegang erat gagang pelnya, siap untuk menyerang.

"Mbak, ini aku!"

Ayub berdiri di sana, masih mengenakan tas punggung, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari dari kampus. Ia melihat Livia yang bersimbah peluh dan lantai yang masih berantakan.

"Mbak... kan aku bilang tunggu aku," ucap Ayub dengan nada sedikit menyesal. Ia segera meletakkan tasnya dan mengambil alih gagang pel dari tangan Livia.

Livia terduduk di salah satu kursi kayu yang masih utuh. Ia menatap Ayub yang mulai bekerja dengan gesit. "Aku hanya tidak ingin berdiam diri, Ayub. Menunggu hanya membuat pikiranku pergi ke tempat-tempat yang menakutkan."

Ayub berhenti mengepel, ia menatap Livia dengan ketulusan yang murni. "Sheila tidak akan menyentuhmu lagi, Mbak. Aku sudah bicara dengan pihak rumah sakit. Penjagaan padanya ditingkatkan berkali-kali lipat. Dan Mas Attar..." Ayub ragu sejenak. "Aku dengar dia berangkat ke Australia hari ini. Dia pergi, Mbak."

Livia terdiam. Ada rasa lega, namun juga ada sedikit lubang di hatinya mendengar kabar itu. Bagaimanapun, Attar adalah bagian dari hidupnya selama hampir satu dekade. Namun, ia tahu ini adalah yang terbaik.

"Baguslah," jawab Livia singkat. "Semoga dia menemukan kedamaiannya di sana."

Livia bangkit, ia mendekati Ayub dan membantunya memindahkan meja. Mereka bekerja dalam diam, namun keheningan itu terasa nyaman. Di luar, suara klakson Jakarta terus bersahutan, dan di dalam ruko kecil itu, dua orang sedang mencoba menyusun kembali kepingan hidup yang telah dihancurkan oleh badai bernama Sheila.

Namun, di dalam selnya yang gelap, tawa Sheila mendadak berhenti. Ia menatap ke langit-langit, tersenyum dengan cara yang sangat tenang, seolah ia baru saja menerima pesan dari iblis bahwa perjalanannya belum benar-benar berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!