Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Berita
Duar!
Suara ledakan terdengar dari arah mobil sedan hitam milik Agha, api langsung besar dan asap hitam langsung mengepul di udara, membuat orang suruhan Tom panik.
"Wah gimana ini, tiba-tiba mobilnya meledak."
"Mundur cepat!."
Mereka langsung memundurkan mobilnya, tak lama datang polisi dan pemadam kebakaran untuk memadamkan api dari mobil. Dikarenakan mereka yang ada di sana, polisi meminta mereka untuk jadi saksi.
"Buona notte." (Selamat malam.) Ucap salah satu polisi setelah mengetuk kaca mobil.
"I can't speak Italian." (Saya tidak bisa berbahasa Italia.) Ucap salah satu orang suruhan Tom.
"Can I ask for your time to ask for clarification?." (Bolehkah saya meminta waktu Anda untuk meminta klarifikasi?.)
"Yeah su-sure." (Yah tentu.) Ucapnya sedikit terbata-bata.
Polisi tersebut menatap curiga mereka, kemudian polisi meminta dashcam agar lebih jelas tentang kejadian tadi. Setelah mereka memberikan apa yang di minta, polisi juga meminta identitas diri mereka dan mendokumentasikan setelahnya mereka di minta untuk ikut ke kantor polisi.
...****************...
Berita Terkini! Seorang CEO Harrison Company Telah Berpulang ke Sang Pencipta.
Dunia Bisnis Sedang Berkabung, Pengusaha Muda Erlan Agha Harrison Telah Meninggal Dunia Akibat Ledakan Mobil Di Jembatan ××.
Banyak yang Mengira Ada Sabotase Mobil Milik Agha, Apakah Benar Ada yang Bermain Curang.
Di lain tempat, Syakila yang sedang bermain handphone untuk melihat postingan berita terkini, di lihatnya video tentang kematian Agha membuat dirinya terkejut dan tak percaya. Syakila langsung menghubungi nomor Agha yang sempat menelepon nya beberapa hari lalu, berulang kali sudah Syakila menghubungi tapi tidak bisa, membuatnya semakin panik.
"Hiks A'a, kumohon angkat teleponnya." Ucapnya sambil menangis.
"Kenapa nak?." Tanya umi dengan panik melihat anaknya menangis.
"Umi, A'a mi, hiks diberitakan meninggal akibat ledakan mobil, umi gimana ini hiks. A'a hiks." Setelah mengucapkan itu Syakila langsung pingsan tak sadarkan diri membuat umi memanggil Hamdan yang sempat pulang untuk mengambil berkas yang ketinggalan di rumah.
"Hamdan! Tolongin umi nak."
"Ada apa umi, ya Allah Kila, kenapa bisa gini umi?."
"Baringkan di kamarnya sekarang nak, nanti umi jelaskan."
Tanpa nunggu lama, Hamdan langsung meletakkan tubuh Syakila di ranjang, sementara umi memberikan minyak angin ke hidung Syakila.
"Kenapa umi?." Tanya Hamdan dengan nada lembut sambil tangannya mengusap telapak tangan Syakila.
"Kila tadi habis baca berita di handphone, terus bilang kalau di berita Agha sudah meninggal akibat ledakan mobil."
Mendengar itu Hamdan lansung mengecek handphone nya, apakah benar yang di bilang uminya atau itu Agha yang lain mengingat nama Agha bukan hanya satu, begitu pikir Hamdan.
Deg!
Detak jantungnya tersentak, Hamdan nge- frezz, jarinya terus meng- scrol dan membaca dengan teliti.
"Astaghfirullah, ini beneran Agha kita umi." Ucap Hamdan dengan lirih.
"Hah, yang bener kamu!."
"Umi lihat ini." Hamdan memberikan handphone nya ke umi untuk melihat video dan artikel berita.
"Astaghfirullah, gak mungkin. Bentar umi telepon Aaliyah dulu, berita gak bener itu."
Dering pertama dan kedua tidak di angkat, umi tetap terus menghubungi nomor umah dan mbak Aqila. Setelah beberapa menit di hubungi akhirnya ada telepon masuk dari handphone Syakila tertera nama 'Suamiku❤️'
...****************...
Agha sedang dalam mobil menuju apartemennya, dari awal dirinya keluar sudah menduga bakalan ada orang suruhan Tom untuk mengintainya sesuai dengan prediksi mereka. Tentu saja Agha tidak bodoh dan dia memberi isyarat ke Luca, tepat di keramaian dan mobil sedan hitam memenuhi jalan membuat orang suruhan Tom bingung, di situasi itu Agha mengambil kesempatan untuk bertukar dengan mobil sedan lain yang sudah stay menunggu.Saat sudah bertukar, mobil awal di tumpangi Agha sudah masuk di kawasan jembatan baru yang belum diresmikan.
Orang yang didalamnya langsung melompat ke bawah jalan tepat sebelum mobil di ledakkan, di bawah jembatan terdapat air jadi kemungkinan nyawa mereka selamat sebesar.
Sementara dilain tempat, Agha duduk tenang di apartemen milik Harding. Jhonatan yang mendapat kabar dari orang nya yang membawa mobil Agha, lansung saja memerintahkan asisten nya untuk meng-upload berita tentang kematian Agha.
"Wow, that's amazing, it only took less than five minutes for the news to spread." (Wow, itu luar biasa, berita itu menyebar hanya dalam waktu kurang dari lima menit.) Gumam Agha setelah membaca artikel tentang kematian dirinya, bahkan sudah ada yang menyebarkan video kondisi mobilnya.
"Yes, he is reliable." (Ya, dia bisa diandalkan.) Ucap Harding yang mendengar ucapan Agha tadi.
"Well, I agree." (Baik, aku setuju.)
"You have contacted abah umah?." (Kamu sudah menghubungi abah umah?.)
"Just before my departure." (Tepat sebelum keberangkatan ku.)
"Good, but for your wife, did you contact her too?." (Bagus, tapi untuk istrimu, apakah kamu juga sudah menghubunginya?.)
"Seeing you silent it's definitely not." (Melihatmu diam, ini jelas bukan pertanda buruk.) Ucap Harding lagi saat melihat Agha diam membisu.
"Just focus on this." (Fokus saja pada ini.)
"No, you call him now or I'll send you to your birthplace right now." (Tidak, telepon dia sekarang juga atau aku akan mengirimmu ke tempat kelahiranmu sekarang juga.) Ucap Harding mengancam Agha, dirinya tau kalau Agha masih belum membuka hatinya.
Sebelum mengambil handphonenya yang sempat di matikan, Agha menghela napas panjang.
"Halo, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, ini beneran nak Erlan?." Tanya umi di sebrang telepon.
"Iya, ini umi?."
"Iya nak, Alhamdulillah kamu masih hidup, ya Allah terimakasih, Alhamdulillah nak."
Agha sudah menduga reaksi ini akan terjadi, sebab Harding menghubungi keluarga Agha tapi tidak dengan keluarga istri nya Agha. Harding juga meminta untuk menonaktifkan handphone untuk jaga-jaga, dan mereka berkomunikasi menggunakan handphone lain.
"Iya umi, maaf umi, Syakila dimana?."
"Syakila pingsan nak, ini belum siuman. Gimana ceritanya sampai ada berita tentang kematian kamu nak, kok jahat banget mereka menyebarkan berita gitu nak."
"Panjang ceritanya umi, nanti insyaallah kalau ada waktu Erlan ceritakan umi." Ucap Agha sambil memijat keningnya.
"Umi tunggu penjelasan nya nak."
"Ugh, umi." Suara Syakila yang sudah sadar terdengar dari telepon.
"Iya nak, ini nak Erlan telepon."
"Umi beneran?." Tanya Syakila memastikan pendengaran nya, umi memberikan handphone ke Syakila, sementara Agha diam tanpa suara mendengar percakapan Syakila dan uminya.
"Hiks, assalamu'alaikum A'a." Ucap Syakila dengan lirih.
"Waalaikumsalam, udah mendingan?."
"Alhamdulillah udah A'a, ini beneran A'a kan?."
"Iya, maaf sebelumnya tidak kabarin kamu. Untuk waktu kedepannya nomor saya tidak bisa di hubungi, begitu juga dengan nomor keluarga saya. Kamu jangan keluar dari rumah, situasi saya masih belum baik, jadi saya harap kamu bisa di ajak kerjasama." Jelas Agha yang tidak tau gimana cara basa basi dan menanyakan kondisi Syakila.
"Iya A'a, tapi umi abah dan lainnya aman kan?."
"Mereka aman, kamu tenang aja, dan jangan lupa apa yang saya bilang tadi."
"Iya A'a, hiks, A'a Kila sebenarnya takut hiks huaaaaaaa." Ucap Syakila tiba-tiba meluapkan isi hatinya setelah umi dan Hamdan keluar dari kamarnya.
"A'a jahat gak kasih tau Kila, hiks A'a jangan hukum Kila seperti ini, hiks Kila minta maaf A'a." Syakila berkata tidak jelas arahnya sebab dirinya di liputi emosi kesal, sedih yang menjadi satu.
Agha tidak berkomentar, hanya diam sambil mendengarkan apa yang di ucapkan Syakila sambil sesekali memijit pelipisnya dan tubuhnya di sandarkan di kursi sofa serta kepalanya menatap langit-langit apartemen.
"A'a, kok gak jawab." Ujar Syakila saat tidak mendengar suara Agha dan melihat handphone nya yang masih terhubung telepon dengan nomor Agha.
"Udah siap?."
"Hiks udah."
"Gantian saya yang ngomong, sepulang saya dari sini akan saya jelaskan ke kamu, jadi kamu tenang aja. Selagi kamu dengar dan ikut apa kata saya, saya tidak akan marah sama kamu paham."
"Iya A'a, Kila paham. Hiks, berapa lama A'a disana?."
"Gak pasti, yaudah saya matikan telepon nya, tidak bisa lama-lama, jadi assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Begitulah Agha yang tidak ada membujuknya, untung Syakila sabar menghadapi sikap Agha yang seperti itu. Setelah itu Syakila keluar kamar dan menjelaskan dengan umi, dan dirinya kembali lagi ke kamar.