Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Keseharian yang sedikit berbeda
Mereka melaksanakan sholat dengan damai dan di akhiri dengan Agha yang selesai baca doa, setelah itu Agha langsung ganti baju dengan kaos dan celana panjang untuk tidur. Syakila yang memerhatikan Agha yang langsung tidur pun tidak ambil pusing dan ikutan naik ke ranjang, mereka tidur sampai azan subuh terdengar, yah mereka hanya tidur karena tau sendiri Agha gimana.
"A'a mau kemana?." Tanya Syakila dengan suara dan wajah bangun tidur nya.
"Ke mushola, jangan lupa sholat." Setelah mengatakan itu Agha langsung keluar dari kamarnya dan tidur ke mushola.
Sementara Syakila langsung masuk kedalam kamar mandi untuk siap-siap sholat, saat selesai sholat Syakila berdoa dengan sungguh-sungguh sampai air matanya menetes.
"Ya Allah, hamba memohon kepada engkau, lancarkan selalu rezeki suami hamba seperti air yang mengalir ya Allah, dan hamba mohon lembutkan lah hati suami hamba untuk menerima takdir ini dan menerima hamba untuk menjadi istrinya, bismillahirrahmanirrahim allahumma inni as'aluka bi haibati adhamatika wabi sathwati fii qoblii Erlan Agha Harrison bin Rafan Harrison wa aqil wahabbata wal mawad data fii qolbihi wa aththifhu ala wabi fadlika ya karim. Aamiin." Syakila berdoa dengan penuh permohonan dan di akhiri dengan doa untuk melembutkan hati seseorang.
"Bismillah, Kila gak akan menyerah untuk buat A'a membuka hati untuk Kila sebagai istri A'a."
"Ohiya berhubung hari ini pulang ke rumah abi umi, aku siapin semua deh jadi habis sarapan bisa langsung berangkat." Syakila mengatakan itu dengan semangat.
Sebenarnya kasihan melihat betapa dinginnya Agha menghadapi Syakila, tapi balik lagi kan dari awal udah di beritahu Agha bahwa dirinya belum siap dengan masa lalu, tapi lihat Syakila dia dengan semangatnya menerobos masuk kedalam kehidupan Agha dan walaupun Agha seperti itu dia tetap tidak melupakan kewajibannya sebagai suami, Agha tetap memberikan semua kebutuhkan Syakila dari jajan, skincare, belanja, perawatan, dan nafkah secara lahir, karena untuk nafkah batin Agha belum bisa memberikan nya.
Seperti saat ini, Agha baru balik dari mushola dan langsung membuka dompetnya dan menyerahkan kartu ATM berwarna hitam ke Syakila.
"Ini kartunya kamu pegang, setiap bulan akan saya kirim melalui ATM ini, akan saya nafkahi semua kebutuhan kamu kecuali nafkah batin kamu, untuk bagian itu saya belum bisa maaf."
"Makasih A'a, ini udah lebih dari cukup kok, tapi untuk bagian terakhir pelan-pelan aja A'a gak usah buru-buru, Kila masih mau pacaran dengan A'a."
"Terserah kamu mau anggap saya apa, tapi saya mau kamu jangan maksa saya karena saya tidak suka di paksa."
"Baik A'a."
"Untuk sandi nya ini, terserah kamu mau ganti atau gak." Agha mengucapkan itu sambil memberikan secarik kertas sandi atau pin ATM yang akan jadi milik Syakila kedepannya.
"Ini mirip tanggal lahir, milik A'a?."
"Bukan, milik Alice"
Mendengar nama itu entah kenapa hati Syakila sedikit sakit, tapi langsung di singkirkan pikiran itu karena tadi Agha mengizinkan diri nya untuk mengganti pin ATM. Tapi makin kesini Syakila makin penasaran dengan sosok Alicia, seperti apa dirinya.
"Ooh, kalau boleh tau teh Alice orangnya gimana A'a?."
"Simpan omong kosong kamu, siap-siap kita sarapan di bawah habis itu pulang ke rumah orang tuamu."
"A'a mah gitu, itukan orang tau A'a juga."
"Makin kesini makin cerewet yah kamu, cepat atau saya tinggal."
"Iya A'a, sabar atuh."
Setelah itu mereka turun ke bawah untuk sarapan, mereka makan dengan hikmat lalu mereka kembali ke kamar untuk bersiap cek out dan mereka mulai jalan menuju rumah orang tua Syakila. Memang tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai dan di sambut dengan ramah.
"Assalamualaikum umi abi." Ucap Syakila dengan nada senang.
"Waalaikumsalam sayang, suami kamu mana?." Tanya Umi yang tak melihat Agha.
"Lagi turunin koper umi, tadi mau Kila bantu tapi A'a gak mau."
"A'a, tolong bantu adik kamu ngeluarin kopernya, habis itu bawa masuk kedalam yah."
"Iya umi." Ucap A'a Hamdan (Abang kandung Syakila, mereka hanya dua bersaudara seperti Agha dan teh Syifa) dan berjalan menuju Agha dan membawa nya masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Agha dan A'a Hamdan barengan.
"Waalaikumsalam, duduk sini nak." Ucap Abi dan mempersilahkan Agha duduk di sofa dekat dengannya.
"Kalian disini dua hari kan?."
"Iya pak, karena Agha banyak kerjaan kantor yang harus di urus."
"Kok pak sih, abi dong."
"Iya abi."
"Nah gitu, di sini anggap aja kayak rumah kamu sendiri yah, kamu juga bagian dari keluarga ini."
"Iya Abi."
Drrrt
Suara telepon Agha yang selalu dalam mode getar dan ada panggilan masuk membuat Agha izin ke Abi dan A'a Hamdan untuk mengangkat telepon, setelahnya Agha keluar rumah untuk menjawab.
"Kenapa hel?." Tanya Agha yang selalu to the point banget.
"Sebelumnya saya minta maaf pak, sebenarnya jadwal anda untuk dua hari kedepan kosong, tapi ini pak Harto yang ingin jumpa dengan anda setelah di tunda karena keberangkatan anda ke Korea."
"Kirim file nya, akan saya pelajari dulu sebelum memutuskan untuk jumpa."
"Baik pak, akan saya kirim sekarang."
"Hmm."
Tut
Suara telepon terputus dan Agha langsung mengecek email di hp nya yang udah di kirim Helmi, setelah membacanya sesaat Agha memiliki pikirin yang cemerlang.
'Kalau gini ada alasan untuk tidak berlama-lama dengan Syakila dan keluarganya, baiklah berhubung konsep yang di kirim cocok jadi lansung aja.' Batin Agha dan langsung masuk kedalam untuk mencari Syakila untuk menanyakan dimana tas miliknya yang berisi tab dan laptop, sebab pada saat Agha masuk membawa koper dan tas di bantu A'a Hamdan, Syakila langsung membawanya kedalam kamar yang Agha gak tau dimana karena langsung di ajak duduk sama abi.
"Syakila dimana bi?."
"Di dapur nak."
"Dapurnya arah mana bi?."
"Hamdan, tolong antarkan adik mu."
"Baik abi."
"Makasih abi."
"Iya sama-sama."
Agha berjalan mengikuti A'a Hamdan dari belakang, mereka berjalan sampai tiba di dapur yang lumayan luas, tapi masih luasan dapur miliknya dan umah, mengingat kalau Alicia hobi masak dan membuat cake serta camilan jadi waktu membangun rumah Agha memilih untuk membuatnya luas seperti dapur milik umah.
"Ada apa A'a?." Syakila mengucapkan itu sambil memegang bahu milik Agha, dan membuat Agha tersentak.
"Kamu dimana letak tas hitam?."
"Di kamar A'a."
"Kamarnya yang mana?." Tanya Agha sambil melihat sekeliling.
"Itu yang pintu warna coklat muda, A'a masuk aja dan tasnya di atas meja belajar aku."
"Terimakasih." Ucap Agha cepat tanpa menunggu jawaban Syakila, jangan lupakan ada umi dan teh Kayla yang ada di dapur sedang menyiapkan makan siang, untuk A'a Hamdan langsung balik ke tempat abi.
"Nak Agha kenapa Kila, kayak buru-buru gitu?." Tanya umi.
"Mungkin urusan kerjaan umah, A'a kan emang sibuk banget orangnya." Jelas Syakila mengingat posisi Agha.
"Kalau gitu kamu harus lebih perhatian Kila, jangan sampai suami kamu kurang istirahat."
"Iya umi, Kila akan ingat." Ucap Syakila sambil memotong wortel kentang untuk di buat sop ayam karena cuaca di luar mendung tapi tidak ada tanda-tanda hujan, jadi cocok untuk masak sop ayam.
"Wah kalau gitu kamu sering di tinggal dong, kasihan banget bakalan jarang di manja." Ledek teh Kayla.
"Biarin, yang penting bulanan tetap lancar teh."
"Awas aja panas lihat teteh dan umi manja dan mesra ke suami."
"Dih sombong banget sih teh."
"Biarin ya kan umi."
"Hahaha kalian ini, udah nanti Kila ngambek."
"Hahaha biarin, lagi gak ada suaminya umi, jadi bebas di ledekin."
"Umiii." Rengek Syakila yang kalah dengan teh Kayla.
"Udah-udah, lanjut lagi masaknya."
Sementara di kamar, Agha langsung siap-siap dengan stelan kantornya dan menenteng tas laptop isinya tentunya tab dan laptop, kemudian Agha keluar kamar dan menghampiri Syakila lagi. Sebenarnya Agha ingin langsung keluar aja, tapi dirinya masih tau sopan santun.
"Loh nak, kamu mau kemana?" Tanya Abi ternyata ada di dapur juga.
"Mau ke kantor abi, ada meeting sama client, kasihan di tunda terus karena Agha kemarin ke Korea."
"Ooh, tapi ini udah mau masuk jam makan siang loh."
"Nanti makan di luar aja abi, yaudah Agha pamit yah." Ucap Agha sambil mencium tangan Abi, umi, dan A'a Hamdan.
"Hati-hati dijalan nak, jangan lupa makan yah." Ucap umi perhatian dengan Agha yang udah di anggap anaknya sendiri, bukan hanya sekedar mantu.
"Iya umi."
"Kila antar suami kamu kedepan."
"Iya umi."
Agha dan Syakila berjalan ke arah depan tanpa suara, sampai di depan Agha lansung saja pamit sama Syakila.
"Saya pergi dulu."
"Hati-hati dijalan A'a, jangan ngebut bawa mobilnya."
"Hmm."
"Sini tangannya A'a." Syakila mencium tangan Agha, setelah itu bukannya di lepas malah di tahan oleh Syakila.
"Kenapa gak kamu lepas?." Tanya Agha sambil menaikkan sebelah alisnya.
"A'a gak mau cium kening aku, seperti waktu akad."
"Gak. Udah saya pamit." Ucap Agha sambil melepaskan tangan Syakila.
"Yaudah gak papa, tapi lain kali di cium yah A'a."
Agah gak menjawab dan langsung masuk kedalam mobil, mobil Agha mulai melaju mulai menjauh.