*
"Tidak ada asap jika tidak ada api."
Elena Putri Angelica, gadis biasa yang ingin sekali memberi keadilan bagi Bundanya. Cacian, hinaan, makian dari semua orang terhadap Sang Bunda akan ia lemparkan pada orang yang pantas mendapatkannya.
"Aku tidak seperti Bunda yang bermurah hati memaafkan dia. Aku bukan orang baik." Tegas Elena.
"Katakan, aku Villain!"
=-=-=-=-=
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villain Chapter 35
*
Matahari mulai melakukan tugasnya menyinari bumi. Angin segar menyapa setiap orang yang berlalu lalang di jalan, dedaunan sedikit berembun membuat suasana semakin sejuk pagi ini.
"Apa ini?" Pekik Keyra terkejut. Pagi sekali Elena menemuinya di kampus dan saat mereka bertemu, bukan sapaan memulai pembicaraan. Melainkan Elena yang secara tiba-tiba menyodorkan tumpukan uang seratus ribuan pada Keyra.
"Milik papahmu." Jawab Elena menarik tangan Keyra dan memberikannya paksa.
"Papah?" Keyra makin bingung "Apa maksudnya ini? Aku tidak mengerti."
"Tidakkah kamu mengerti sifat papahmu sendiri, Key." Ucap Elena menatap Keya intens.
Yang di tatap segera memutar otak, mencerna apa yang terjadi. Elena menyebut papahnya, kini Key teringat semalam yang mengantar Elena pulang adalah papahnya dan pasti tanpa sepengetahuan dia, terjadi sesuatu di antara mereka.
"Papah memberikan ini untukmu?" Tanya Keyra memastikan, Elena mengangguk. "Untuk apa?"
"Untuk menjauhimu." Jawab Elena, ia berbalik melangkahkan kaki meninggalkan Keyra.
"Apa?!" Keyra terkejut bukan main, tak menyangka papahnya akan berbuat seperti ini. Tersadar maksud ucapan Elena, segera ia menyusulnya dan menyejajari langkah Elena "Papah melakukan ini? Kenapa?" Masih berusaha menyangkal.
"Karna dia tidak menyukaiku." Jawab Elena tanpa menoleh dan tanpa menghentikan langkah.
Keyra berhenti di hadapan Elena, otomatis Elena pun ikut berhenti karena jalannya terhalang "Apa kamu ingin menjauhiku?" Tanyanya menatap intens Elena.
Elena diam, bukan bingung menjawab apa tapi dia ingin melihat bagaimana reaksi Keyra.
"El, kamu tidak akan menjauhiku kan?" Pinta Keyra penuh harap.
"Jika aku ingin menjauhimu, pasti sudah ku ambil uang itu." Elena tersenyum.
Melihat senyuman Elena sedikit membuat Keyra lega, namun ia juga masih was was jika nanti papahnya meminta Elena untuk menjauhi dirinya.
"Aku tidak habis pikir kenapa papah melakukan ini." Gumamnya pelan namun bisa di dengan Elena.
"Karna papahmu aneh." Celetuk Elena, Keyra melotot "Hei jangan marah, aku bicara fakta. Papahmu selalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa memperhatikanmu. Tapi saat aku menjadi sahabatmu, aku memperhatikanmu tapi dia mencegahnya. Apa dia tidak ingin anaknya di perhatikan? Dia ingin anak semata wayangnya kesepian?" Lanjut Elena bertutur panjang dengan sebal bukan kepalang.
Keyra diam. Ingin menyangkal namun itu benar, ia sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran papanya. Elena benar, seharusnya jika papahnya sibuk bekerja, papahnya tidak harus membuat sosok yang belakangan ini menemaninya menjauh. Tidakkah papahnya tahu jika dia kesepian? Dia butuh perhatian, jika bukan dari orangtuanya maka bisa ia dapatkan dari sahabat seperti Elena. Tapi apa yang papahnya lakukan? Berusaha menjauhkan dia dari sahabat terbaiknya. Itu tidak adil.
Diamnya Keyra di perhatikan Elena, dia memalingkan wajah menahan senyum. Sedikit demi sedikit dia perlahan mempengaruhi pikiran Keyra agar melihat jika papahnya bukan oang baik. Hingga ia bisa pastikan tidak lama lagi, Keyra akan mengobrak abrik keharmonisan keluarganya sendiri.
"Aku akan bicara sama papah." Ucap Keyra, Elena pun menoleh.
"Tidak perlu Key." Tolak Elena.
Meski dalam hati ia menginginkan itu, tapi tentu tidak akan langsung seperti ini. Dia akan membuatnya transparan, bergerak tanpa terlihat. Jika Keyra memberontak sekarang, jelas Faisal ataupun istrinya tahu jika Keyra terpengaruh olehnya. Ini harus terjadi secara perlahan, hingga mereka tidak menyadari akar masalahnya. Keyra harus merasa emosional hingga dia tak tahan lagi dengan sikap orangtuanya dan memilih memberontak sendiri tanpa di perintahkan.
"Tapi El--..."
"Apa kamu ingin membuat papahmu marah? Jika itu terjadi, hubunganmu dengan papahmu bisa hancur. Dia akan semakin mengabaikanmu nanti." Potong Elena sebelum Keyra protes.
Mencerna ucapan Elena, Keyra bisa membenarkannya. Dia menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan "Kamu sangat baik El."
Elena tersenyum "Jangan katakan aku baik Key, aku tidak sebaik itu."
"Mau kamu katakan dirimu tidak baik atau semua orang berkata kamu penjahat sekalipun, aku akan terus menganggapmu baik." Tutur Keyra, berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi "Karna aku sangat mempercayaimu." Ucapnya tersenyum tulus.
Kalimat terakhir yang di ucapkan Keyra mampu membuat Elena sedikit terhenyak. Spontan tersenyum, lalu mengalihkan pandangan, hatinya merasa diremat sesuatu, jantungnya berdegup cepat. Tak mengerti apa yang terjadi, Elena berusaha mengendalikan diri serta ekspresinya agar terlihat normal. Tidak mungkin ia terpengaruh dengan ucapan dari Keyra, karena mengkhianati kepercayaannnya adalah tujuan utama Elena.
"Aku minta maaf." Ucap Keyra membuyarkan pikiran Elena. Elena menoleh tak mengerti "Aku salah memintamu setuju untuk di antar pulang papah semalam. Aku juga minta maaf atas sikap kurang mengenakkan dari mamah papahku, mereka keterlaluan padamu.'
"Tidak masalah." Ucap Elena tersenyum, Keyra pun membalas senyumannya. Keyra terlihat hampir membuka mulut untuk bicara, tapi langsung Elena potong "Key, aku ke toilet dulu."
"It's oke, aku antar?" Tawarnya.
"Tidak, aku bisa sendiri." Setelah mengucapkan itu, Elena bergegas melangkah menuju toilet.
Tak mau ambil pusing, Keyra menggidikkan bahu acuh lalu pergi menuju kelasnya.
Tanpa sepengetahuan Keyra, Elena sendiri tidak menuju toilet. Itu hanya ia jadikan alasan untuk menghindari Keyra. Ucapan Keyra selalu terngiang di kepalanya, ia jadi tidak fokus.
Elena sekarang berada di koridor kampus yang cukup sepi. Berdiri di pinggiran lantai sambil menahan tubuh dengan menyandarkan tangan di pilar bangunan.
"Tidak bisa begini." Gumam Elena sambil menyisir rambut panjangnya ke belakan.
Berdiri tegak lurus menghadap depan "Fokus Elena, fokus." Ucapnya lalu memejamkan mata.
"Fokus apa?"
Sontak Elena membuka mata, menjerit terkejut melihat seseorang berdiri tepat di depan dengan wajah yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Hah?!" Pekiknya hampir terjungkal ke belakang, hingga membuat kakinya terpeleset.
Dengan sigap, orang itu menahan tubuh Elena agar tidak terjatuh. Tangan kiri menyangga punggung Elena, tangan kanan menahan pinggangnya. Elena pun spontan mengalungkan tangan ke leher orang itu hingga mengikis jarak wajah mereka hanya beberapa senti.
Saat mata mereka bertemu satu sama lain, suasana sekitar mendadak hening, tak ada suara sedikitpun kecuali degup jantung mereka, waktu seolah berhenti, dunia tidak berpenghuni selain mereka berdua.
Sepersekian detik, mereka tersadar dengan posisi mereka dengan jarak intim.
"Eh m-maaf." Ucap orang itu terbata setelah menegakkan tubuh Elena. Bahkan dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menghilangkan rasa canggung.
"T-tidak apa, terimakasih Leo." Tak hanya dia, Elena pun merasa canggung. Hatinya gelisah yang tak bisa di utarakan, sesekali mengalihkan pandangan.
Keheningan melanda di antara mereka, kejadian singkat tadi seolah mengobrak abrik pikirannya.
"Sendiri?" Tanya Leo asal, ia hanya berniat mencairkan suasana.
"Iya." Jawab Elena singkat "Kamu?" tanyanya tanpa sadar.
"Sama, sendiri juga." Leo menjawab apa adanya, meski merasa jawaban dia sedikit aneh.
Hening lagi, lidah mereka terasa membeku dan kaku.. Semua kata mendadak hilang, kecanggungan apa ini? Mereka pun tak tahu.
"Kamu--..." Ucap mereka bersamaan tanpa sengaja.
"Kamu duluan." Lagi dan lagi ucapan mereka keluar dari mulut secara bersamaan. Mereka terkekeh tak percaya.
"Astaga, kenapa bisa barengan terus." Elena menghentikan tawanya "Kamu duluan saja."
"No, ladies first." Tolak Leo, meminta Alana bicara lebih dulu.
Elena menatapnya "Kamu mengagetkanku."
"Ah itu, ku pikir kamu akan bilang apa." Leo terkekeh sendiri menduga apa yang ingin Elena sampaikan "Maaf jika mengagetkanmu, aku tidak bermaksud seperti itu."
Elena berdehem singkat "Kamu mau bilang apa?"
"Cuma ingin memastikan, kamu jadi kan hari minggu nanti?" Balas Leo bertanya.
"Jadi." Jawab Elena pasti membuat Leo senang.
"Elena."
Seruan seseorang mengalihkan perhatian mereka. Dapat mereka lihat Satya berjalan menghampiri.
.
~Bersambung~
*-*-*-*-*-*-*-*-*
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE Yaaa Gengs...
Love You~