Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22 Kencan
Alle sudah mengatur jadwal Aksa. Sesuai rencana, ia menyiapkan sebuah kencan romantis untuk bosnya tersebut. Sekar juga berperan dalam kencan Aksa kali ini. Ibunda Aksa tersebut bertugas mengundang Laura untuk datang.
Dengan muslihatnya, Alle mengantar Aksa ke sebuah hotel berbintang.
"Di mana acaranya?"
"Di roof top, Pak."
"Serius?"
"Iya," jawab Alle meyakinkan. Alle mempersilakan bosnya untuk berjalan lebih dulu.
"Kamu nggak ikut?"
Alle menampakkan wajah menyesalnya. "Sebenarnya saya ingin ikut, tapi Chilla sudah menunggu saya di rumah."
Aksa mengangguk paham. Sejak Chilla sakit saat itu, Aksa jarang memberikan tugas lembur. Kalaupun lembur pasti hanya satu atau dua jam saja. Pria itu mulai mengerti peran sekretarisnya yang juga merupakan seorang ibu.
Aksa melangkah masuk sendirian.
"Pak," panggil Alle. "Jangan lupa bunganya!" seru Alle mengingatkan. Sebelum turun dari mobil tadi Alle memberikan sebuket bunga untuk Aksa agar diberikan pada anak dari kolega bisnisnya yang sedang berulang tahun.
Alle berbohong, jika malam ini Aksa mendapatkan undangan dari Dirgantara—salah satu kolega bisnisnya—yang hari ini putrinya merayakan ulang tahun. Ia juga membubuhi cerita bohong jika putri dari Dirgantara sangat mengagumi sosok Aksa sebagai seorang bisnisman sukses dan ingin sekali bertemu dengan Aksa.
Dirgantara adalah salah satu rekanan bisnis yang sangat Aksa segani. Selain memiliki pribadi yang baik, pria itu juga investor besar di PT. BUMI SENTOSA DAMAI. Alangkah tidak etisnya jika ia menolak undangan tersebut.
Aksa kembali mengangguk dan melihat buket bunga di tangannya. Mawar merah dengan harum semerbak. Ia tak lagi menoleh. Terus berjalan hingga seorang pegawai hotel menuntunnya ke tempat acara.
Sampai di roof top Aksa merasakan kejanggalan. Tempat tersebut sepi. Hanya ada alunan musik yang memenuhi.
Aksa akan memanggil pelayan yang berdiri di pintu masuk, tapi kedatangan Laura membuatnya urung. Dia mengembuskan napas kasar. Sekarang ia tahu, ada rencana dibalik semua ini.
"Kak Aksa?" Raut kaget terlihat jelas di mata gadis itu. Laura menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Sekar.
"Cari siapa?" tanya Aksa dengan nada yang dingin.
"Mama Sekar, eh ... maksudku Tante Sekar." Laura sampai meralat panggilannya takut kalau Aksa tidak suka.
"Mama mengundangmu?"
Laura mengangguk.
Aksa semakin yakin jika ada permainan di sini. Ia tersenyum miring. Memperhatikan semua yang sudah dipersiapkan. Ia juga menatap Laura yang datang dengan dandanan paripurna.
"Baiklah, kita bermain sekarang," batin Aksa ketika ia menoleh ke belakang.
"Ayo duduk," ajak Aksa.
Laura menurut.
"Tunggu, ini untukmu." Aksa memberikan buket bunga yang sedari tadi ia bawa.
Senyum Laura terkembang menerima buket mawar merah dari Aksa. Ini pertama kalinya Aksa bersikap manis padanya. "Terima kasih, Kak."
"Hmmm."
Berjalan beriringan Aksa dan Laura menuju meja yang sudah dipersiapkan. Tak lama setelah mereka duduk, seorang pelayan datang dengan membawa minuman.
Aksa mengajak calon tunangannya itu untuk bersulang. Hal yang disambut baik oleh Laura. Wajah ketakutan yang sering diperlihatkan Laura ketika bertemu Aksa, hari ini perlahan pudar. Banyak senyum yang menghiasi bibirnya.
Makanan pun tiba. Menu beef steak adalah menu yang Alle pilih untuk kencan Aksa dan Laura. Mereka berdua begitu menikmati makanan yang telah disediakan.
"Kapan kamu balik ke Amerika?" tanya Aksa memecah kesunyian.
"Eh, apa, Kak?" Laura sampai tidak mendengar ketika Aksa mengajaknya berbicara. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sebab sikap Aksa yang berbeda malam ini.
"Kapan kamu balik ke Amerika?" Aksa mengulang pertanyaannya.
"Oh ... itu, masih satu minggu lagi, Kak."
"Kamu suka tinggal di sana?"
"Maksud, Kak Aksa?"
"Apa kamu merasa nyaman tinggal di sana?"
Laura sedikit bingung, tapi dijawab juga. "Ehm ... suka sih, tapi di sini aku juga suka kok."
"Apa yang membuatmu betah tinggal di Amerika?"
Laura tersenyum. "Tentu saja karena aku kuliah di sana jadi aku harus betah tinggal di sana, kan."
"Bagaimana dengan Simon, apa dia juga menjadi alasan kamu betah tinggal di sana?"
Mendadak Laura tercekat. Daging yang ia makan seolah mengganjal di kerongkongan. Pertanyaan Aksa tak mampu ia jawab. Bagaimana pria ini tahu tentang Simon.
"Minumlah." Aksa menyodorkan gelas milik Laura karena melihat gadis itu kesulitan menelan.
Segera Laura meneguk air dalam gelas sampai tandas. "Te-terima kasih," ucap Laura gugup.
Kini gadis itu tertunduk malu. Tak ada keberanian menatap calon tunangannya.
"Kau tahu Laura, sejak dulu aku tak pernah menaruh perasaan padamu. Bagiku kau hanya seorang adik. Bahkan hingga hari ini, aku tak pernah memandangmu sebagai seorang wanita dewasa yang akan dijodohkan padaku. Kau bukan tipeku. Aku tidak suka wanita lemah."
Laura mendongak. Kejujuran Aksa ternyata mampu melukai hati gadis itu.
"Jadi, Kak Aksa menolak perjodohan ini?"
"Kurasa aku tidak perlu memberikan jawaban karena aku yakin kamu tahu sejak awal." Aksa menyudahi makannya. Ia mengusap mulutnya dengan kain yang ada di pangkuannya.
"Kenapa Kak Aksa tidak bilang sendiri pada Tante Sekar."
"Karena aku menunggu kamu yang mengatakannya."
"Tapi, kenapa?"
"Aku hanya ingin kamu berterus terang pada orang tuamu juga orang tuaku jika sebenarnya kamu pun tak menginginkan perjodohan ini."
Mata Laura membola. Aksa, pria ini tahu segalanya tentang dirinya. Ia menatap Aksa yang kini melipat tangannya di depan dada.
"Kenapa kamu tidak jujur jika kamu punya seseorang yang kamu cintai, dan itu bukan aku."
Laura semakin kaget.
"Harusnya kamu berkata jujur dan berjuang untuk cintamu. Bukan pasrah dan menerima begitu saja apa yang orang tua kamu pilihkan untukmu. Kamu bahkan rela mengorbankan kebahagiaanmu sendiri. Kenapa, apa kamu se______"
"Cukup, Kak ... cukup! Jangan lagi teruskan!" Terlihat jelas mata Laura berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi air di pelupuk matanya tumpah.
"Kak Aksa nggak tahu kan betapa berartinya perjodohan ini untuk keluargaku. Aku menerima semua karena aku membutuhkan perjodohan ini, Kak." Benar saja, ucapan penuh emosi dari Laura membuat ia tak mampu lagi membendung air matanya.
"Tente Sekar menawarkan perjodohan ini dengan imbalan kalau keluarga Kakak akan membantu perusahaan papa yang hampir bangkrut. Aku bisa apa kalau begini, Kak. Sementara aku nggak pernah ingin keluargaku jatuh miskin." Laura menyeka air matanya yang luruh ke pipi.
"Simon, ya ... aku mencintainya. Pasti Kak Aksa juga tahu kan berapa lama kami menjalin cinta?"
Tentu saja Aksa tahu. Pria itu diam-diam menyelidiki kehidupan Laura di Amerika.
"Aku sangat mencintainya, Kak. Kami saling mencintai. Kami bahkan punya mimpi bersama. Tapi kami bisa apa. Aku bisa apa, Kak?" Laura nampak semakin emosional ketika membicarakan Simon—kekasihnya.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima dan pasrah dengan perjodohan ini. Aku hanya ingin keluargaku bahagia, Kak."
Melihat dan mendengar pengakuan Laura membuat Aksa tidak tega juga. Ia menarik napas panjang sebelum berbicara. "Jika aku membantumu bicara pada orang tuamu, apa kau mau jujur pada mereka?"
Laura kembali menghapus air matanya. "Maksud, Kak Aksa?"
"Aku akan bicara pada papamu untuk menolak perjodohan ini dan____"
"Tapi, Kak _____" sela Laura.
"Kamu jangan khawatir, aku tetap akan membantu perusahaan keluargamu agar pulih, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Kak?"
"Kamu harus mengakui hubunganmu dengan kekasihmu. Aku tidak mau kalian bersembunyi-sembunyi seperti sekarang ini."
Laura kembali menangis mendengar tawaran Aksa. Bukan menangis sedih, tapi ia bahagia. Karena akhirnya ada yang bisa mengerti perasaan dan cintanya untuk Simon.
Setelah mereka sepakat. Aksa mengantar Laura ke parkiran. Di sana sudah ada supir keluarga Laura yang tadi mengantar gadis itu. Senyum Laura nampak semringah. Tidak lagi ada ketakutan seperti sebelumnya.
"Terima kasih, Kak." Laura melambaikan tangannya dari balik jendela yang dibuka saat mobilnya mulai melaju.
Aksa merasa lega. Satu masalah dalam hidupnya sudah ia selesaikan. Mulai sekarang tak akan ada lagi yang menekannya dengan pertunangan.
"Keluarlah!" ujar Aksa pada seseorang yang bersembunyi di balik mobil. Mengintai dirinya.
"Aku bilang keluar, atau mau aku seret!"
Takut mendengar ancaman Aksa, orang itu pun keluar dengan takut.
"Aku tahu kamu yang merencanakan semua ini, kamu bahkan memata-mataiku sejak tadi. Kurasa kamu harus dapat hukuman yang pantas untuk apa yang kamu lakukan kali ini."
"Jangan, Pak. Saya tidak mau dihukum."
Aksa menggeleng. "Kamu pantas dihukum!"
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.