Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Bawah Hujan Peluru
Kehangatan yang baru saja menyelimuti kulit Elena seketika berganti dengan hawa dingin yang mencekam. Suara pecahan kaca jendela yang terkena peluru peredam suara masih berdenging di telinganya. Di dalam kegelapan pondok yang kini hanya diterangi sisa bara perapi yang meredup, Matteo bergerak seperti bayangan yang menyatu dengan malam.
"Turun!" Matteo menekan bahu Elena dengan kasar, memaksanya berlindung di balik meja ek yang tebal.
Elena meringkuk, jantungnya berdegup kencang hingga ia bisa merasakannya di ujung jari. Di atas kepalanya, sebuah peluru kembali bersarang di dinding kayu, mengirimkan serpihan tajam yang menggores pipinya.
"Luca! Status!" Matteo berteriak melalui alat komunikasi kecil di telinganya.
"Kita terkepung, Tuan! Ada setidaknya enam orang bergerak dari arah bukit. Mereka bukan polisi, mereka profesional. Tim taktis D’Angelo!" Suara Luca terdengar di sela deru angin dan suara tembakan balasan.
Matteo mengokang senjatanya. Wajahnya yang tadi menunjukkan sisi lembut kini telah kembali menjadi topeng baja yang tak berperasaan. Ia menoleh ke arah Elena, matanya berkilat tajam dalam keremangan.
"Elena, dengarkan aku. Di belakang meja ini ada pintu jebakan menuju ruang bawah tanah yang terhubung ke terowongan drainase menuju dermaga sekunder. Kau pergi ke sana sekarang. Jangan berhenti, jangan menoleh."
"Lalu bagaimana denganmu?" Elena mencengkeram lengan jas Matteo. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai merasa takut kehilangan pria ini.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Aku akan menyusulmu dalam lima menit. Jika aku tidak datang, kau ambil perahu di ujung terowongan dan pergi ke arah utara menuju Riva del Garda. Ada orangku di sana yang bernama Marco."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!"
Matteo merenggut wajah Elena, mencium keningnya dengan cepat namun dalam. "Pergi, Elena! Itu perintah!"
Dengan berat hati, Elena merangkak menuju pintu jebakan yang ditunjukkan Matteo. Ia membuka penutup kayu itu dan turun ke dalam lubang yang gelap dan berbau tanah. Sesaat sebelum ia menutup kembali pintunya, ia melihat Matteo berdiri, melemparkan kursi ke arah jendela untuk memancing tembakan musuh, lalu membalas dengan rentetan peluru yang akurat.
Elena berlari di dalam terowongan yang sempit dan pengap. Air setinggi mata kaki yang dingin membasahi kakinya yang telanjang, namun ia terus memacu langkahnya. Di belakangnya, suara ledakan kecil mengguncang terowongan. Pondok itu mungkin telah diledakkan.
Tuhan, biarkan dia selamat, doa Elena dalam hati, sebuah doa yang aneh untuk ditujukan pada pria yang dulu ingin ia hancurkan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Elena sampai di ujung terowongan yang tertutup semak belukar. Di sana, di sebuah ceruk kecil yang tersembunyi dari pandangan udara, sebuah jet ski hitam telah disiapkan. Namun, bukan jet ski itu yang membuatnya terkesiap, melainkan sosok pria yang berdiri di sampingnya dengan pakaian taktis lengkap.
Itu bukan Luca.
"Signorina Moretti," pria itu tersenyum tipis, memperlihatkan bekas luka di bibirnya. "Count D’Angelo sudah lama menunggumu. Terima kasih telah membawa daftar itu langsung ke tangan kami."
Pria itu menodongkan senjatanya tepat ke wajah Elena. Di saat yang sama, suara langkah kaki berat mendekat dari arah belakang Elena di dalam terowongan. Elena terjepit. Di depannya adalah musuh, dan di belakangnya... ia hanya bisa berharap itu adalah Matteo.
Tiba-tiba, sebuah ledakan cahaya terjadi. Sebuah bom asap dilemparkan dari dalam terowongan, menelan area dermaga dalam kabut putih yang pekat.
"Sekarang!" sebuah suara yang sangat ia kenal menerjang dari balik asap.
Sebuah tangan kokoh menyambar pinggang Elena, mengangkatnya dengan satu gerakan kuat dan melemparkannya ke atas jet ski. Matteo muncul dari dalam kabut, wajahnya berlumuran darah namun matanya menyala penuh amarah. Sebelum pria bersenjata itu sempat menembak, Matteo melepaskan dua tembakan cepat yang membuatnya tumbang ke dalam air danau.
Matteo melompat ke belakang kemudi jet ski, memacu mesinnya hingga meraung keras. Mereka melesat membelah ombak Danau Garda yang ganas di tengah badai yang mulai mengamuk. Peluru-peluru masih menghujani air di sekitar mereka, namun Matteo bermanuver dengan gila di antara bebatuan besar di tepian danau.
"Pegang erat-erat, Elena!" teriak Matteo di tengah deru angin.
Elena melingkarkan tangannya di pinggang Matteo, menyandarkan wajahnya di punggung pria itu yang keras. Di tengah hujan yang mengguyur dan ancaman kematian yang mengintai, Elena menyadari satu hal: Labirin pengkhianatan ini jauh lebih besar dari yang mereka duga, dan mereka baru saja mengusik sarang lebah yang paling mematikan di seluruh Italia.
Jet ski hitam itu membelah permukaan Danau Garda dengan kecepatan yang memekakkan telinga. Air danau yang biasanya tenang kini berubah menjadi gundukan ombak yang ganas, seolah-olah alam semesta ikut memihak pada musuh yang mengejar di belakang. Setiap kali jet ski melompat dari puncak gelombang dan menghantam permukaan air kembali, tulang-tulang Elena terasa seperti akan retak. Namun, wanita itu justru semakin mempererat pelukannya pada pinggang Matteo, merasakan setiap otot di punggung pria itu bekerja keras untuk menjaga keseimbangan mereka.
Di belakang mereka, dua sorot lampu jet ski musuh mulai muncul dari balik kabut hujan, mendekat dengan kecepatan yang menakutkan.
"Matteo! Mereka menyusul!" teriak Elena di antara deru angin dan air yang menghantam wajahnya.
Matteo tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu sedikit memiringkan tubuhnya, melakukan manuver tajam di antara bebatuan runcing yang menonjol dari permukaan air—area yang dikenal oleh penduduk lokal sebagai 'Gigi Setan'. Satu kesalahan kecil akan membuat mesin jet ski mereka hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, suara desingan peluru kembali terdengar. Salah satu pengejar melepaskan tembakan otomatis. Cipratan air meledak hanya beberapa inci di samping tangan Elena yang memegang erat jas Matteo.
"Tetap menunduk, Elena! Jangan lepaskan aku apa pun yang terjadi!" Matteo memerintah dengan suara yang serak, namun tetap terdengar otoriter di tengah badai.
Matteo meraih sesuatu dari saku jaket taktisnya—sebuah granat asap laut. Dengan satu tangan yang tetap mengendalikan kemudi, ia melepaskan pin dengan giginya dan melemparkannya ke belakang. Seketika, asap tebal berwarna abu-abu pekat menyebar di atas air, menelan pandangan musuh.
Memanfaatkan momen kebutaan lawan, Matteo membelokkan jet ski masuk ke dalam celah sempit di antara tebing kapur yang tinggi. Ini adalah jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup barang antik sejak zaman perang. Ruangannya begitu sempit hingga lutut Elena nyaris menyerempet dinding batu yang tajam.
Setelah beberapa menit bermanuver dalam kegelapan yang mencekam, suara mesin pengejar mulai terdengar menjauh ke arah tengah danau. Mereka berhasil mengelabui musuh. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Elena merasakan sesuatu yang hangat dan basah membasahi tangannya yang melingkar di perut Matteo. Awalnya, ia mengira itu adalah air danau yang bercampur hujan. Namun, saat ia melirik ke bawah di bawah remang cahaya bulan yang sesekali mengintip dari balik awan, ia melihat warna merah yang kontras di atas kain hitam.
"Matteo... kau berdarah," bisik Elena, suaranya bergetar hebat.
Matteo tidak merespons. Tubuhnya perlahan mulai miring ke satu sisi. Kecepatan jet ski mulai berkurang secara drastis hingga akhirnya mesinnya mati dan mereka hanya terombang-ambing oleh ombak kecil menuju tepian pantai berbatu yang tersembunyi.
"Matteo! Lihat aku!" Elena segera turun ke air yang setinggi pinggang, menahan tubuh Matteo agar tidak jatuh dari jet ski.
Wajah pria itu tampak sangat pucat di bawah cahaya bulan. Sebuah luka tembak bersarang di sisi perutnya, kemungkinan didapat saat ia melindunginya di dermaga tadi. Matteo baru melepaskan napas panjang yang selama ini ia tahan, seolah-olah ia menolak untuk menyerah sampai mereka benar-benar berada di tempat aman.
"Aku... aku baik-baik saja," gumam Matteo, suaranya sangat lemah. Matanya perlahan terpejam.
Elena merasakan kepanikan yang luar biasa menyerangnya. Di tengah kegelapan pantai yang asing, tanpa bantuan, dan dengan daftar yang bisa membuat seluruh Italia membakar mereka hidup-hidup, Elena harus membuat keputusan. Ia menarik tubuh Matteo yang berat menuju daratan pasir, mengabaikan rasa sakit pada kakinya sendiri.
Gema di langit Verona mungkin telah membawanya kembali ke rumah, tetapi sekarang, di tepi Danau Garda ini, Elena menyadari bahwa ia tidak hanya berjuang untuk ibunya. Ia berjuang untuk pria yang seharusnya ia benci, namun kini menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tetap bernapas.