Follow;
FB~Lina Zascia Amandia
IG~Deyulia2022
WA~ 089520229628
Seharusnya Syapala sangat bahagia di hari kelulusan Sarjananya hari itu. Namun, ia justru dikejutkan dengan kabar pertunangan sang kekasih dengan perempuan lain.
Hancur luluh hati Syapala. Disaat hatinya sedang hancur, seorang pria dewasa menawarkan cinta tanpa syarat. Apakah Syapala justru menerima cinta itu dengan alasan, ingin membalaskan dendam terhadap mantan kekasih?
Ikuti terus kisahnya dan mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Ciuman Dalam Setrika Panas
Sejak kejadian malam itu, Erlaga tidak lagi menyempatkan sarapan bersama pagi ini. Dia tidak mau memperlihatkan kalau dirinya patah hati. Hari-hari menjelang keberangkatan dirinya ke Papua, ia habiskan di markas.
"Laga sudah mendapat surat perintah untuk Satgas ke Papua. Laga minta doa dari Mama dan Papa." Laga menghampiri sang mama, memberitahukan kabar keberangkatan dirinya ke Papua.
Bu Zahira menatap putra keduanya dengan tatapan sedih. Bagaimana tidak? Wanita paruh baya itu akan mengalami hal serupa seperti yang pernah ia alami ketika melepas Arkala Satgas 16 tahun lalu. Satgas itu, berlanjut sampai Arkala menghabiskan waktu di medan tugas sampai 16 tahun lamanya.
Itu yang sangat dikhawatirkan Bu Zahira. Tapi apa boleh buat? Surat tugas itu sudah turun, dan Laga tidak bisa menolaknya, karena ini tugas yang harus diembannya dari negara.
Bu Zahira memeluk Erlaga, wanita itu menangis. Seperti tidak merelakan sang putra kedua pergi jauh.
"Mama dan Papa akan selalu mendoakan kamu, Ga. Sehat-sehat kamu di medan tugas. Dan kembali pulang dengan selamat. Tapi...bagaimana dengan tunanganmu, dokter Prita?" Tiba-tiba Bu Zahira menyinggung nama Prita.
Laga seperti tidak ingin membahas nama itu. Karena sejak terungkap bahwa dokter Pritalah yang membuat hubungan dia dan Syapala renggang, dia seperti malas melanjutkan hubungan pertunangan itu.
Erlaga sengaja tidak memutuskan apa-apa terhadap dokter Prita, sebab ia sudah tidak mau bertemu dokter itu, meskipun dokter Prita pernah berulang-ulang menghubunginya.
"Laga hanya fokus dengan keberangkatan Satgas, bukan yang lain," tukasnya sambil berlalu.
Bu Zahira menatap kepergian sang putra kedua dengan tanda tanya. Sudah beberapa hari wajahnya muram. Namun, Bu Zahira menduga, semua itu karena berkaitan dengan Satgas. Yang kali ini tidak mudah.
Berita yang saat ini santer diberitakan di wilayah konflik bagian timur NKRI, serangan KKB sudah memakan korban. Ada warga sipil yang jadi korban dan prajurit gugur di medan tugas.
Dada Bu Zahira seketika sesak, dalam keadaan seperti itu, wanita paruh baya itu hanya bisa berucap dan berdoa semoga Erlaga dijauhkan dari hal-hal buruk selama tugas.
**
Pagi itu di dalam kamar berukuran 5x8.
"Bisa tidak, Adik setrikakan seragam PDH abang? Abang mau ke dapur bikin kopi?" Suara Arkala yang meminta bantuan dengan nada rendah tapi menuntut, terpaksa menghentikan tangan Pala yang sedang memoles wajahnya dengan skin care.
Syapala menoleh, dia melihat Kala tengah memegang setrika yang sudah tersambung dengan aliran listrik.
Tatap mereka bertemu. Arkala mendesah pelan, dia terkenang kembali ciuman hangat di ruang tengah malam itu. Meskipun kemungkinan ciuman balasan yang diberikan Syapala merupakan ciuman terpaksa, dan bisa jadi justru sedang membayangkan berciuman dengan Erlaga. Namun, bagi Arkala malam itu merupakan ciuman yang paling indah dia rasakan.
Wajah Syapala beralih dan menghindari tatapan Arkala.
"Bisa tidak kamu tolong abang, sebentar saja. Abang ingin ngopi, mulut abang tidak enak," ujarnya lagi menatap Syapala yang tertegun.
Syapala menghampiri, dia bukan tidak bisa atau tidak pernah menggosok baju dengan setrika. Yang jadi masalah adalah, dia belum pernah menyetrika pakaian seragam dinas tentara, yang tentunya garis kain bekas setrika tidak boleh ada dua garis.
"Kenapa tidak minta setrikakan Bi Rinti?" Syapala malah mengalihkan pertanyaan lain.
"Bi Rinti bukan pembantu kita, tapi pembantu Mama. Kita tidak berhak memakai tenaganya sembarangan. Bi Rinti juga masih banyak pekerjaan," tukas Arkala sambil meletakan setrika yang sudah panas itu di tatakan besi.
"Gimana? Hanya sebentar saja. Ini hanya sentuhan baju, bukan fisik seperti malam itu," singgungnya.
Syapala terkejut, Arkala menyinggung kejadian malam itu di ruang tengah.
"Iya, saya setrikain. Tapi...saya nggak pandai setrika kain seragam seperti ini."
"Ikuti saja bekas garisnya. Dengan begitu, tidak akan ada garis lain yang muncul," aba-abanya seraya menghindar dari tempat itu dan memberikan ruang untuk Syapala.
Syapala terpaksa mengikuti permintaan Arkala. Dia sedikit ragu, karena memang belum pernah menggosok baju seragam milik Tentara.
Harum kopi sudah tercium memasuki kamar berukuran 5 x 8 itu. Syapala menghentikan gerakan setrikanya.
"Ini untukmu." Arkala menyodorkan secangkir coklat panas untuk Syapala. Tapi, kemudian ia letakkan di atas meja, karena ia melihat Syapala masih belum selesai menyetrika seragamnya.
"Abang sengaja buatkan coklat panas, karena nggak mungkin Adik minum kopi hitam," ujarnya.
Syapala tidak menyahut, dia masih sibuk menyelesaikan celana PDH agar rapi. Dia sangat hati-hati ketika menyetrika.
Arkala tersenyum, dia merasa puas dengan perjuangan Syapala menyetrika seragam PDH nya.
"Begini, ya."
Tiba-tiba Arkala sudah berada di belakang Syapala, mengambil alih setrika yang masih di pegang tangan Syapala.
Syapala terhenyak, tubuh Arkala menempel di belakangnya. Dia ketakutan kalau setrika yang masih panas itu mengenai kulitnya.
"Abang, tolong jangan seperti ini. Saya takut setrika itu mengenai kulit tangan kita," protesnya benar-benar ketakutan. Wajahnya menoleh ke belakang, dengan secepat kilat Arkala mampu membalik tubuh Syapala menghadap ke arahnya.
Posisi mereka kini berhadapan, tapi terlihat jelas wajah Syapala berada dalam ketakutan karena setrika itu masih dipegang tangan kanan Arkala, meskipun posisi telapaknya tidak menghadap ke arah Syapala.
"Kulit tangan abang tidak masalah, asal jangan kulit tangan Adik yang kena," tukasnya sambil melilitkan tangan kirinya ke belakang, menyentuh pinggang Syapala.
Mereka saling menatap, tapi Syapala jelas merasa terancam karena setrika itu.
"Tolong, jangan seperti ini. Saya takut setrika itu kena kita. Letakkan setrika itu," mohon Syapala.
Arkala menggeleng pelan, tatap matanya masih menancap tajam mata Syapala. Dia ingin membuat perempuan muda itu melakukan sesuatu.
"Kita bisa lakukan hal yang terjadi malam itu."
Syapala menggeleng, matanya berbinar penuh ketakutan. Namun, ketika tangan kanan Arkala yang tengah memegang setrika panas itu menyentuh tubuh Syapala, gadis itu sontak ketakutan.
"Kita bisa lakukan, anggap saja di depan kita ada Erlaga. Adik bisa memeluk abang seperti malam itu," ujarnya mengarahkan.
Syapala meletakkan kedua tangannya di pinggang Arkala, lalu wajah mereka perlahan saling mendekat dan semakin dekat.
Dan ciuman itu tidak bisa dielakkan. Keduanya memagut, di bawah pagi dalam ancaman sebuah setrika panas.
Degup jantung Syapala sangat kencang bagaikan detak jarum jam. Ada gemuruh yang berbeda di sana yang sedang terjadi.
Tangan Arkala semakin kuat mencengkram, dia tidak ingin melepaskan kesempatan itu begitu saja. Pagi ini hatinya sangat bahagia. Senyumnya merekah, karena dia berhasil menyatukan cintanya lewat ciuman bibir pagi ini.
"Tok tok."
Ketukan di daun pintu membuat Arkala dan Syapala menghentikan pagutannya. Arkala menjauh lalu meletakkan setrika panas itu di tatakan besi.
"Kita sarapan pagi, Mama sudah memanggil. Terimakasih banyak pagi ini, mungkin ini adalah sarapan pagi abang yang paling indah," ujarnya seraya menjauh dan meraih seragam yang sudah disetrika tadi oleh Syapala.
Syapala tidak menyahut, dia benar-benar melakukan itu hanya karena dalam ancaman setrika panas.
.
ud bng cari yg lain yg GK kyk pala yg keras kepala itu😓😓😓
ini yg bikin sakit thor
dan suatu saat pala mau memaafkan laga thooor
pangkat ,jabatan sekolah pekerjaan blum tentu mencermin kan semua juga baik
thooor meski laga ngeselin,penghianat,bodoh jangan sampe laga gugur disaat satgas papua thooor,kasih juga lah laga jodoh thoor biar dirasakan si dokter prita sakit hati