"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Terbuka
"Aman? Bisa jalan? Perlu gue bantu?"
"Aman Ya, bisa sendiri. Dari kemarin gue juga sendiri," balas Devi melangkah pelan karena kakinya yang masih sakit. Dia tidak bisa menambah libur karena pekerjaan akan menumpuk apalagi dia rasa baik-baik saja, hanya sulit berjalan saja.
Yaya membantu Devi sampai wanita itu duduk di kursinya sendiri, baru setelah itu Yaya membeli kopi dan roti untuk sarapan mereka.
"Bagaimana liburannya?"
"Bagus sih tapi Lo tau enggak? Gue ketemu bule 'kan tapi baru pertama kali dia malah ngajak ke hotel. Ya kali gue mau."
Devi tertawa pelan dengan kepala menggeleng mendengar cerita Yaya, entah kenapa wanita itu selalu sial dalam mendapatkan cowok. Jika dihitung dalam sebulan mungkin Yaya sudah dekat dengan lima cowok dan semua itu berakhir kandas.
Bukan Yaya pemilih tetapi semua memang tidak jelas, "kalo bisa gue mau dapat spek Agnan."
Percakapan mereka berhenti sampai di sana karena dua orang itu fokus dengan laptop dengan tampilan pekerjaan masing-masing, Yaya kembali memijit kening karena pusing melihat angka-angka yang berputar di kepalanya.
"Mau ke mana?" tanya Yaya saat Devi terlihat berdiri.
"Kamar mandi, gue bisa sendiri!"
"Gue temani aja ya, takut kalo Lo tiba-tiba jatuh di kamar mandi!" Yaya membantu Devi.
Sekarang dua orang itu melangkah ke arah kamar mandi walau Devi sudah berulang kali mengatakan jika dia bisa sendiri tetapi Yaya menggeleng. Tidak membutuhkan waktu lama dua orang itu melangkah keluar.
"Devi, are you ok?"
"Pak Herry. Cuma kecelakaan kecil pak."
Herry menatap Devi dari atas sampai bawah lalu mengangguk setelah mendengar hal itu apalagi Devi berpamitan untuk pergi membuat Herry juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi selain mengizinkan dua orang itu pergi.
"Kalo dilihat-lihat pak Herry ganteng juga," bisik Yaya.
"Baru sadar?"
"Sebenarnya udah lama sih. Dari awal dia jadi pemegang saham perusahaan kita. Ganteng, kaya, berwibawa, idaman semua wanita. BTW, dia udah nikah belum ya?" Yaya membantu Devi duduk, sekarang tatapan wanita itu mengarah ke tempat mereka bertemu dengan Herry tadi, Devi sendiri hanya bisa menggeleng.
Apa yang dikatakan Yaya benar, Herry merupakan idaman semua orang hanya saja cukup mengherankan kenapa Herry bisa membeli saham mereka padahal pria itu terlihat tidak membutuhkannya. Perusahaan asli dia saja sudah cukup.
"Lo ngerasa enggak kalo pak Herry lebih sering berada di perusahaan kita?"
"Iya sih, mungkin dia punya banyak urusan," jawab Devi seadanya.
Dia bukan tipe orang yang terlalu memperhatikan orang lain sehingga ada atau tidaknya Herry tidak terlalu dihiraukan oleh Devi ditambah tidak ada yang aneh jika pria itu lebih sering ke sini.
"Gosipnya ya, pak Herry lagi ngincar karyawan kita, gosipnya kayaknya manager kita." Mata Yaya melirik ke ruang manager yang diikuti oleh Devi.
"Wajar aja sih, manager juga cantik. Udah gosipnya. Urus dulu angka-angka Lo!"
Yaya mendengus kesal karena Devi kembali mengingatkan dirinya mengenai angka-angka sialan ini, mau tidak mau Yaya kembali fokus dengan pikiran kacau.
Dua menit sebelum istirahat, Yaya sudah menutup laptop, dia bahkan menanyakan Devi mau makan apa membuat wanita itu menggeleng, jika seperti itu berarti Yaya memang sudah sangat buntu.
"Pengen makan katsu sih sekalian thai tea."
"SIAP!"
Yaya melangkah meninggalkan Devi yang masih fokus dengan pekerjaannya. Beberapa orang ikut meninggalkan perusahaan untuk mengisi perut dan menghirup udara segar.
"Devi!"
Kursi Devi tiba-tiba ditarik oleh seseorang membuat wanita itu melotot karena yang ada di hadapannya adalah AGNAN!
"Devi, kita perlu bicara!" Agnan menarik tangan Devi untuk berdiri tetapi dengan cepat ditepis oleh Devi, dia mundur beberapa langkah ke belakang, menghindar dari Agnan.
"Enggak ada yang perlu kita bahas, semua udah selesai," lirih Devi dengan suara pelan karena dia tidak mau membuat keributan sedangkan untuk melangkah pergi dari sana Devi tidak bisa, dia tidak mau Agnan tau mengenai kecelakaannya.
Agnan menyorotkan tatapan penuh marah, pria itu jelas tidak terima dan itu bisa Devi lihat dari mata pria itu. Mereka sudah mengenal dari lama dan mereka sudah saling mengerti satu sama lain.
"Aku enggak mau putus, papa merestui hubungan kita. Papa enggak akan nikah sama ...."
"Enggak!"
Jantung Devi berdetak sangat kencang, ini tidak boleh terjadi, dia harus berbicara dengan ayah Agnan. Ibunya sangat bahagia bersama ayah Agnan dan dia tidak mau merusak semua itu, kebahagiaan ibunya nomor satu, dia tidak akan rela semua itu rusak hanya karena hubungannya bersama Agnan.
"De ...."
Agnan kehilangan kata-kata saat Devi jelas mengatakan tidak. Wanita itu seakan memang tidak lagi menginginkan hubungan mereka. Tangan Agnan terkepal melihat Devi yang semudah itu melepaskan hubungan mereka padahal dia mencoba mempertahankannya.
"Ikut gue!" Agnan mencengkram lengan Devi dengan begitu kuat dan menarik wanita itu untuk melangkah membuat Devi berteriak kesakitan.
Tidak sampai di sana, saat Agnan melepaskan tangannya dan mengalihkan pandangan ke arah Devi lagi, Yaya malah berteriak memanggil nama Devi.
Darah mengalir dari lengan wanita itu, Devi langsung menarik lengan kemejanya ke atas, wanita itu sudah sedikit panik yang membuat Agnan juga terkejut melihat lengan Devi yang mengeluarkan darah.
"Darah, Vi ... Ayo kita ke rumah sakit!"
Tanpa mempedulikan Agnan, Yaya membantu Devi melangkah pergi dari sana membuat Agnan yang melihat kedua wanita itu kaget tidak bisa berkata-kata. Darah yang masih mengalir dan jalan Devi yang pincang menjadi tanda tanya untuk pria itu, apa yang telah terjadi?
Saat Agnan tersadar dan berlari ke arah Devi, di depan mata Agnan seorang pria sudah mengendong Devi dan melangkah lebar menuju ke arah mobil.
"Cepat pak!" teriak Yaya yang baru saja membuka mobil Herry, tidak menunggu waktu lama mobil itu bergerak meninggalkan perusahaan dengan Devi yang masih mencoba menekan lengannya pelan agar darah tersebut berhenti mengalir.
Mobil Agnan bergerak mengikuti mobil Herry, tidak ada rasa cemburu melainkan perasaan bersalah karena telah membuat Devi seperti itu, perasaan menyesal datang karena lamanya respon pria itu sehingga Herry yang datang menyelamatkan Devi, harusnya dia!
Rasa denyut yang semakin menyerang dengan kepala mulai terasa pusing yang Devi coba hilangkan dengan menggeleng, dia mencoba untuk masih tersadar karena matanya mulai berkurang-kunang.
"Dokter!" teriak Herry dan begitu juga dengan Yaya yang semakin panik dengan keadaan Devi.
Agnan sendiri langsung berlari ke arah brankar yang membawa Devi yang tidak sudah tidak sadarkan diri. Sebenarnya apa yang terjadi?"
...***...