NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Uncle Noah

Terjerat Cinta Uncle Noah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Si Mujur / Tamat
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan Buta

"Bagaimana menurutmu?" Noah menyodorkan foto Sarah kepada Julian. Mata Julian seketika membelalak, terkejut sekaligus kagum.

"Cukup cantik, dan seksi," sahutnya sambil memperhatikan foto itu dengan seksama, seolah mencari setiap detail yang mungkin terlewatkan.

"Apa aku harus menemuinya?" tanya Noah, nada suaranya terdengar ragu. Julian membelalakkan mata, tak percaya dengan keraguan sahabatnya.

"Tentu saja! Apa kau sudah gila?" sahut Julian dengan nada serius, menatap Noah seolah sahabatnya itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.

"Aku menyukai gadis lain," celetuk Noah, suaranya pelan dan bimbang.

"Siapa? Gadis kecil itu?" Julian bertanya dengan nada kesal yang kentara. Noah hanya mengangguk kecil, menatap Julian dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sarah lebih masuk akal dibandingkan anak kecil yang baru masuk kuliah," ucap Julian, sorot matanya tajam dan menusuk.

Entah mengapa, Julian merasa bahwa Noah dan Ninda tidak akan pernah cocok. Selain perbedaan usia yang sangat jauh, Noah memiliki jiwa bebas seperti kebanyakan orang Eropa, sementara Ninda, dengan latar belakangnya dari Indonesia, terlihat sangat kolot. Julian berpendapat bahwa hubungan mereka tidak akan berhasil, hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

"Menurutmu begitu?" tanya Noah, tampak heran dengan penilaian Julian. Julian mengangguk dengan yakin, seolah tak ada ruang untuk bantahan.

"Dia seorang dokter, cantik, seksi. Ayahmu pasti akan menyukainya," Julian mengingatkan Noah akan keinginan ayahnya, yang sangat ingin Noah memiliki hubungan serius dan segera memiliki anak.

Awalnya, Noah tak terlalu mempedulikan pendapat Julian. Namun, semakin Julian banyak bicara, Noah semakin yakin untuk mengenal Sarah terlebih dahulu. Mungkin Julian ada benarnya, pikirnya.

"Usiamu sudah matang, kau harus menentukan pasangan yang serius. Kau sudah tak punya waktu untuk main-main dengan gadis kampus," Julian menambahkan, berusaha menyadarkan Noah akan realita yang ada di depan mata.

Noah merenung sejenak. Setelah dipikirkan baik-baik, masa depan Ninda masih panjang. Dia tak ingin merusak masa depannya dan menghalangi kesempatannya bertemu dengan orang lain karena dirinya. Dia merasa berat, sebetulnya, harus menghilangkan kemungkinan Ninda menjadi pasangannya. Dia merasa bahagia bersama gadis itu, tapi perasaan saja tidak cukup, pikirnya dalam hati.

"Jadi, harus kujawab apa?" tanya Noah sambil menunjukkan pesan yang Sarah kirimkan kepadanya. Julian menatap Noah dengan sedikit kesal.

"Berikan ponselmu," kata Julian. Tanpa berpikir panjang, Noah memberikan ponselnya kepada Julian. Dengan cepat, Julian mengetik balasan untuk Sarah.

"Sudah kubalas, kau tinggal menunggu balasannya," kata Julian sambil melempar ponsel Noah ke atas sofa. Tak butuh waktu lama, suara notifikasi ponsel Noah berbunyi.

Julian segera meraih ponsel Noah dan membacanya. Dia tampak antusias dan berteriak ke arah Noah, "Jam 8 di Restoran Italia bernama Ad Hoc!"

Julian langsung membalas pesan Sarah, "Oke, aku akan menjemputmu."

"Kenapa aku harus menjemputnya? Bukannya lebih efisien kalau kita bertemu di tempat yang ditentukan?" tanya Noah, merasa sedikit keberatan.

"Dia akan merasa kau laki-laki gentle kalau kau menjemputnya," sahut Julian. Noah hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Julian.

Julian tampak senang. Dia menepuk bahu sahabatnya itu, memberikan semangat agar Noah mau mengenal Sarah dan bertemu dengannya.

"Sekarang, cepat pulang! Masih ada waktu sekitar 2 jam untuk mempersiapkan dirimu sebaik mungkin," ungkap Julian sambil tersenyum ke arah Noah. Noah termenung, tatapannya kosong.

Beberapa menit berlalu, Noah masih berdiam diri mematung di tempat itu. Julian, yang sudah tampak kesal, kemudian mendorong tubuh Noah agar segera pergi dari hadapannya. Noah masih terlihat ragu, namun Julian terus meyakinkannya.

"Enyahlah dari hadapanku! Temui Sarah!" kata Julian sambil terus mendorong tubuh Noah sampai ke depan pintu.

"Apa kau sudah tak menginginkanku lagi?" ucap Noah dengan nada bercanda.

"Aku sudah muak melihatmu!" ungkap Julian dengan wajah datar.

"Ternyata hubungan kita tidak spesial," sahut Noah, masih bercanda.

"Jangan pernah datang ke tempatku kalau belum berhasil tidur dengannya! Enyahlah dari hadapanku, pacaranlah dengan perempuan!" ungkap Julian sambil membuka pintu dan memberi isyarat dengan gerakan tangannya agar Noah segera pergi dari hadapannya. Noah pun keluar perlahan dari apartemen Julian.

"I love you much," ungkap Noah. Julian, yang tampak jijik, langsung membanting pintu tanpa membalas kata-kata mesra Noah.

Noah pun beranjak dari tempat itu sambil tersenyum-senyum sendiri, mengingat raut wajah Julian yang tampak kesal saat dia mengucapkan kata-kata maut itu.

Noah sampai di apartemennya dan mengikuti saran Julian untuk berpakaian rapi. Dia memakai jas berwarna gelap karena dia akan makan malam di restoran Italia yang sangat formal.

Dan akhirnya, Noah datang menjemput Sarah malam itu di apartemennya. Sarah adalah wanita yang sangat cantik, pintar, dan seksi. Rambutnya pirang panjang, matanya biru, pinggangnya ramping, dan dadanya cukup besar untuk ukuran wanita Eropa.

Mereka memutuskan untuk makan malam romantis di restoran Italia, menikmati sampanye dan pasta.

"Kamu suka pasta?" tanya Sarah sambil tersenyum ke arah Sarah.

"Ya, aku suka pasta," ucap Noah, membalas senyum Sarah.

"Syukurlah, aku tak salah memilih tempat," ungkap Sarah, Gigi putihnya tersusun rapi, menambah kecantikannya

Noah tersenyum sambil menatap Sarah yang sangat mempesona malam itu dengan gaun berwarna hitam.

"Ini sudah cukup bagus, aku menyukainya," katanya lagi, meyakinkan Sarah

Kemudian, seorang pelayan membawa sebotol sampanye dan menyiapkan dua gelas di hadapan mereka. Mereka berbincang sambil menikmati hidangan pembuka.

"Apa pekerjaanmu, Noah?" tanya Sarah, mulai penasaran dengan profesi Noah.

"Aku mantan atlet sepak bola, dan sekarang menjadi pelatih sepak bola," sahut Noah, sedikit menjelaskan profesinya.

"Ya, aku bisa melihatnya. Badanmu bagus, aku pikir kau memang seorang atlet," sahut Sarah, sedikit memberi pujian kepada Noah. Hal itu membuat Noah tersanjung.

"Bagaimana denganmu? Walaupun sebetulnya aku sudah tahu sedikit tentangmu," ungkap Noah, menegaskan bahwa dia sudah tahu profesi Sarah sebelum bertemu dengannya.

"Hmm, aku seorang dokter gigi," sahut Sarah singkat.

"Aku tahu kau seorang dokter, hanya saja aku tidak tahu kau dokter gigi," ungkap Noah lagi.

"Datanglah ke klinikku bila waktumu senggang," kata Sarah lagi.

Sarah seketika tertawa kecil mendengar ucapan Noah, "Mungkin kau bisa datang selain ke tempatku bekerja," ungkap Sarah menggoda Noah.

"Ke mana?" tanya Noah sambil tersenyum ke arah Sarah.

"Apa yang kau pikirkan?" Sarah balik bertanya.

Noah hanya tersenyum mendengar perkataan Sarah. Seketika, rasa bersalahnya terhadap Ninda hilang begitu saja ketika melihat pesona Sarah yang tampak dewasa dan matang. Lagi pula, dia merasa dia masih lajang dan masih ada kemungkinan untuk bertemu dengan wanita lain yang menurutnya lebih baik.

Makan malam ini bukan pertemuan yang terakhir.

Selama beberapa minggu ini, Noah dan Sarah sudah semakin dekat dan mereka memutuskan untuk mengenal lebih dekat. Di malam minggu ini, Noah akan memperkenalkan Sarah kepada keluarganya, yaitu ayah dan kakak perempuannya.

"Sarah, terima kasih kau sudah mau makan malam di tempatku," ucap Jonathan sambil tersenyum lebar.

"Tuan, saya merasa terhormat karena Anda mengundang saya. Begitu pun dengan Deborah yang sudah jauh-jauh dari Jepang sudah menyempatkan diri menemui saya," ungkap Sarah, menatap satu per satu orang yang ada di sana.

"Ya, suatu kebetulan, aku sedang berkunjung dan Noah membawa pacarnya ke rumah," sahut Deborah sambil tersenyum.

Sarah tampak senang. Dia tersenyum menatap Noah. Noah pun membalas senyuman Sarah sambil menganggukkan kepalanya, memberikan tanda bahwa dia sudah mengakuinya sebagai pacar.

"Sarah, minggu depan aku akan mengadakan pertemuan keluarga. Aku secara resmi mengundangmu untuk datang," ungkap Jonathan sambil tersenyum ke arah Sarah.

"Ya, ayah ingin mengadakan pesta ulang tahun, sekaligus dia ingin sekali berkumpul dengan kerabatnya," ungkap Noah.

"Ya, tentu saja aku akan datang," sahut Sarah, tampak senang.

"Itu alasan aku jauh-jauh pulang karena Ayah memaksaku," ucap Deborah, diikuti tawa Jonathan.

"Apa Billy dan Hilda tidak akan datang?" tanya Noah, mempertanyakan kehadiran keponakan dan kakak iparnya.

"Besok malam mereka akan tiba di Holand. Mereka datang terlambat karena suamiku harus menyelesaikan pekerjaan. Kau tahu kan, di Jepang tidak bisa sembarangan izin," ungkap Deborah panjang lebar menjelaskan.

"Ya, ya, mereka sangat disiplin dan berkomitmen dengan pekerjaan," ungkap Sarah, diikuti Noah yang mengangguk menanggapi ucapan kakaknya.

Makan malam itu berakhir dengan menyenangkan. Ayah dan saudara perempuan Noah tampak sangat menyukai Sarah. Akhirnya, Noah memutuskan untuk mengantar Sarah pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!