"Sekarang Kau sudah berani membangkang padaku! Aku ini masih suamimu!" Raungan amarah seorang Pria terdengar menggelegar di sebuah penjara bernama HAREM.
"Mulai sekarang kau bukan istriku! Aku akan menceraikanmu!"
LAZARUS... Tuan muda pewaris Perusahaan Corporation Foundation. Dingin, Angkuh, serta tidak boleh ada seorang pun yang boleh menolak semua kemauannya.
"Kau tau Lazarus?! Aku saat ini sangat luar biasa bahagia, hanya mendengarmu akhirnya akan melepaskanku darimu dan dari belenggu rantai rumah ini! Haha... " Angela dengan puasnya tertawa seakan dunia kembali padanya, sampai membuat Lazarus yang mendengar tawanya begitu murka.
NERAKA... Satu kata kehidupan yang selama ini Angela lalui.
Yuk ikuti ceritanya yang menguras emosi dan ketegangan, THE POWER OF WOMEN~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Angela mengikuti langkah kepala pegawai kediaman Lazarus, ia mengenalnya dulu pernah beberapa kali bertemu dengannya saat dirinya seorang Nyonya Lazarus.
Sekarang ia bukan Nyonya Lazarus. Dengan wajah yang berubah dan beridentitas orang lain tapi itu semua demi anak-anaknya. Ia kembali bukan hanya karena ada yang memerintahkannya tapi juga memang ada kepentingan untuk dirinya sendiri.
"Masuk, ini kamarmu sekarang. Karena salah satu penjaga yang merekomendasikanmu, aku menerimamu, tapi ingat setelah bekerja bukan karena kau punya orang dalam, tapi karena kerja kerasmu. Disini semua harus mematuhi aturan, aturan lainnya kau bacalah kertas yang ada ditanganmu!" nona Debora kepala pengurus pegawai wanita menjelaskan.
"Baik," Angela mengangguk mengerti.
"Katamu namamu Kristine, mereka bertiga adalah teman sekamarmu, akurlah dengan mereka."
Debora sekali lagi menatap penampilan Kristine, lalu berbalik badan keluar dari kamar pegawai wanita.
Kedua penghuni kamar langsung mendekati Angela yang sudah berganti nama menjadi Kristine.
"Hai Kristine, panggil aku Nana. Nama dia Almeta panggil dia Meta. Selamat datang di kediaman Tuan Lazarus." Nana mengenalkan dirinya dan teman sekamar lainnya, ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Angela tersenyum ramah, menyambut uluran tangannya. Matanya tertuju kepada teman sekamarnya satu lagi yang terlihat cuek bahkan tak mau melihat dirinya yang baru datang.
"Jangan hiraukan dia, namanya Elisa, penjilat para Nyonya disini. Jangan dekat-dekat dengannya. Ayo sini taruh barangmu di lemari kosong, setelah selesai tidurlah waktunya kita istirahat. Tapi kau bacalah dulu sebentar aturan-aturan di rumah ini, waktu kerja kita dimulai pukul empat pagi." Nana menarik lengan Angela dan membantunya merapikan barang bawaannya.
Tengah malam tiba, semua orang di dalam rumah Lazarus sudah terlelap tidur, kecuali Irene yang sedang melancarkan rencananya.
Irene melihat penjaga pintu ruang kerja Lazarus tertidur, ia tadi memasukkan obat tidur saat menyuruh pelayan wanita memberikan minuman pada penjaga. Dengan perlahan ia membuka pintu ruang kerja, berjalan masuk mendekati kamar tidur Lazarus.
Lazarus gelisah dalam tidurnya, dalam mimpinya melihat tubuh Angela dan anaknya yang bersimbah darah. Nafasnya seketika sesak, merasa seseorang sedang mencekiknya. "Tidak Angela!!!"
Lazarus terbangun, tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya berdenyut cepat, nafasnya terputus putus. "Haaahh... hahhhh... Angela."
Tangan Irene yang baru saja akan memeluk tubuh berbaring Lazarus, seketika terjatuh ke atas ranjang, memeluk ruang kosong. Matanya menatap tubuh Lazarus yang bangkit duduk dengan sorot mata kesal. Tapi dengan cepat ia ikut bangun dari pembaringannya, mendekati Lazarus dari belakang. Lingeri seksi menempel di tubuhnya yang bahkan tidak bisa menutupi apapun. "Sayang... " tangannya mengelus lembut punggung Lazarus, menggoda dengan ujung kuku telunjuknya bergerak kesana kemari.
Melihat Lazarus diam tak menolaknya, Irene merasa senang, ia menempelkan tubuhnya di punggung Lazarus, kedua tangannya melewati bawah lengan Lazarus mengarah ke depan, ia memeluknya dari belakang. Sebelah wajahnya ia sandarkan di punggung Lazarus. "Sayang... kau tau aku sudah lama menunggu saat seperti ini. Semenjak aku masuk, kau tak pernah menyentuhku. Kita bahkan sudah mempunyai seorang Putra, apalagi yang menghalangi kita. Ayo sayang, aku malam ini akan memuaskanmu~~~" tangannya di depan mengelus dada Lazarus dengan agresif.
"Kau ingin memuaskanku? Benarkah? Kau mampu?" suara Lazarus terdengar aneh di telinganya, tapi Irene tak menghiraukannya terus melancarkan aksinya membangkitkan nafsu Lazarus.
"Tentu sayang, kau ingin aku puaskan bagaimana. Ayo katakan, hem~~~" membuat suaranya seseksi mungkin.
Tiba-tiba Lazarus menjauhkan tubuhnya, turun dari ranjang, berdiri menghadap Irene yang tergolek di atas ranjang. Ia menatap tubuh seksi Irene yang mengundang, di tubuhnya hampir tak memakai apapun. "Cobalah, aku memberimu satu kali kesempatan. Jika kau gagal memuaskanku, apa kau mau tanggung hukumannya?"
Irene sedikit bergidik mendengar nada suara Lazarus yang dalam, tatapan matanya bukan tatapan tergoda tapi seperti ingin membunuhnya. Menahan rasa ketakutannya, ia harus menjadi Nyonya sah demi dirinya sendiri meskipun perintah kepadanya tidak menyuruhnya.
Ia mengangguk, lalu merangkak mendekati tubuh Lazarus yang berdiri gagah. Ia menarik tubuhnya ke atas, jari-jari tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Lazarus, menarik lepas kemejanya, kini tubuh bagian atas Lazarus menjadi polos.
Jari-jari tangannya meluncur turun ke bawah, membuka dengan terampil sabuk celana Lazarus. Sabuk celana terlepas, ia membuka reseletingnya dengan perlahan ke bawah. Semua pakaian bawah Lazarus terlepas, teronggok dilantai. Akhirnya menyuguhkan seluruh tubuh polos Lazarus bak pahatan patung t3lanjang dari Yunani.
Irene terperangah melihat tubuh polos Lazarus, nafsunya semakin menjadi. Ia merangkak berdiri, dengan perlahan menciumi tubuh polos Lazarus dari dada sampai ke bawah. Matanya melirik senjata milik Lazarus yang masih belum terbangun, ia tak pantang menyerah.
Tangannya melancarkan serangannya kembali, dengan lihai merangsang senjata milik Lazarus, menggenggamnya lalu mengelus-ngelusnya lembut. Melihat hasilnya nihil, ia melakukan aksi selanjutnya membuka lebar mulutnya, memasukkan senjata milik Lazarus ke dalam mulutnya. Waktu berlalu tapi milik Lazarus tetap saja tak membesar sesenti pun, rasa panik menyerangnya.
Saat dirinya masih berusaha, rasa sakit di kepala meyerangnya. Lazarus menarik rambutnya kasar ke belakang, memaksa dirinya mau tak mau melepaskan senjata milik Lazarus.
"Kau sudah puas?! Bagaimana? Bukankah sekarang kau harus mendapat hukumanmu?!!!" Lazarus melempar kasar tubuh Irene ke atas ranjang.
Irene benar-benar ketakutan, memundurkan tubuhnya menempel di kepala ranjang.
Lazarus dengan perlahan memakai kembali celananya, menarik sabuknya dari celananya. Memegangnya di tangannya, mendekati Irene dengan matanya yang memerah karena amarah. "Kau pikir aku menerimamu disini karena kau membawa anakmu! Kau hanya wanita murah4n yang memakai trik padaku sampai mengandung anakku! Jika bukan untuk kepentinganku apakah kau pikir masih bertahan disini! HAH!!!"
"Bahkan anak yang kau bawa aku sangat membencinya, anak yang lahir dari wanita sepertimu kau pikir aku akan menyayanginnya! Aku menerima kalian untuk ambisiku, kau tau kenyataannya! Hanya karena anak itu seorang lelaki dan berdarah sama denganku, aku hanya butuh itu! Jadi sekali lagi jangan pernah berpikir kau akan diterima disini! Sekarang ENYAH KAU DARI HADAPANKU ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!!"
Irene dengan cepat turun dari ranjang, melupakan jubah tidurnya yang tergelak di lantai. Ia lari keluar dengan wajah yang sudah seperti akan mati, tanpa menoleh ke belakang terus berlari.
"Arggggghhhh!!!!!!" Lazarus meninju kepalan tangannya ke dinding.
Brakkk! Brakkk! Brakkk!!!
Semua penjaga dan penghuni seisi rumah terbangun mendengar suara keributan dari ruang kerja.
Albert yang terlelap tidur menempati kamar pegawai khusus, ia terbangun mendengar suara ketukan keras di pintu kamarnya.
"Tuan Albert! Bangun Tuan. Tuan Lazarus sedang mengamuk!!" suara seseorang menggedor pintunya.
Mata ngantuk Albert seketika terjaga, dengan cepat mengambil kacamatanya di nakas meja samping. Membuka pintu, berlari menuju ruang kerja Tuannya. Saat sampai pintu ruang kerja sudah terbuka lebar, melihat Nyonya Michelle sedang berdiri di dekat meja menatap ke kamar tidur tak berani mendekat. "Nyonya."
Michelle memandang Albert. "Entah kenapa lagi dia, kau urus lah."
"Baik Nyonya." Albert melangkahkan kakinya masuk ke kamar tidur, terperangah melihat kekacauan disana. Matanya tertuju pada jubah tidur wanita yang teronggok di lantai, lalu matanya melihat ke sekeliling, pecahan kaca berserakan, darah dimana-mana berceceran. Tatapan mata berkelilingnya berhenti di ranjang yang sudah Tuannya hancurkan. Albert menatap Tuannya yang sedang bersimpuh di lantai, dengan tubuh bagian atas polosnya yang berdarah. "Tuan!"
Albert berlari menghampiri Lazarus, telinganya langsung mendengar suara gumaman Tuannya.
"Angela sayang, maafkan aku. Ranjang ini adalah tempat pelukan terakhirku padamu, sudah tak ada lagi... tak ada lagi... hilang semua. Kamar ini sudah ternoda, maafkan aku."
Albert tak kuasa menahan sedihnya, mengambil jubah tidur dari lemari memakaikannya kepada tuannya yang sudah kehilangan kesadaran akan sekelilingnya.
cucok sm babang laz