Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Perang di Lembah Bayangan dan Evolusi Pedang Hitam
Jalur air bawah tanah itu berakhir di sebuah celah sempit yang mengarah langsung ke jantung Lembah Bayangan. Namun, pemandangan yang menyambut Jiangzhu bukanlah lembah hijau yang tenang, melainkan sebuah kawah raksasa yang tertutup kabut merah pekat. Bau amis darah yang menyengat jauh lebih tajam dari apa yang dibisikkan Li’er tadi membuat paru-paru Jiangzhu terasa seperti disiram air keras.
"Sial, kita terlambat," desis Yue. Ia menurunkan Dewi Ling'er dengan hati-hati ke balik bongkahan batu besar. "Klan Kelelawar Merah sudah memulai 'Ritual Pesta Darah'. Mereka sedang membantai penduduk asli lembah ini untuk memperkuat pemimpin mereka."
Jiangzhu mendongak. Di langit lembah yang remang-remang, ribuan bayangan hitam bersayap berputar-putar seperti badai gagak. Suara pekikan ultrasonik mereka begitu nyaring hingga membuat telinga Awan mengeluarkan darah segar.
"Pak Tua, pedang ini... dia bergetar," bisik Jiangzhu.
Ia mengangkat pedang hitamnya. Bilah pedang yang penuh retakan itu kini berpendar dengan cahaya merah tua yang berdenyut, seirama dengan detak jantung Jiangzhu yang menggila. Pedang itu seolah-olah memiliki nyawanya sendiri, haus akan esensi kehidupan dari makhluk-makhluk di atas sana.
Bocah, pedangmu sedang mengalami 'Haus Jiwa', suara Penatua Mo terdengar cemas. Dia menyerap sisa energi Cahaya Suci yang kau simpan di nadimu dan sekarang dia ingin menelan energi Iblis dari kelelawar-kelelawar itu untuk berevolusi. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, pedang itu akan menghisapmu sampai kering!
"Biarkan dia menghisap," jawab Jiangzhu sinis. "Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan selain kemarahan."
Tanpa peringatan, sesosok makhluk bersayap dengan tinggi dua meter menukik tajam dari langit. Cakarnya yang sepanjang pedang mengincar leher Jiangzhu.
SRAAAKK!
Jiangzhu tidak menghindar. Ia justru maju selangkah, membiarkan cakar itu menggores pundaknya, sementara pedang hitamnya menebas perut makhluk itu dalam satu gerakan horizontal yang brutal.
Darah hijau kental menyembur, tapi anehnya, darah itu tidak jatuh ke tanah. Darah itu tersedot masuk ke dalam retakan pedang Jiangzhu. Seketika, satu retakan pada bilah pedang itu menutup, berganti dengan ukiran garis merah yang bercahaya.
"Satu," gumam Jiangzhu.
Melihat kawan mereka jatuh, ratusan Kelelawar Merah lainnya mulai menukik turun. Lembah itu berubah menjadi pusaran maut. Yue mulai melemparkan belati-belatinya dengan akurasi mematikan, sementara Tabib Gu Mo menggunakan asap beracun dari botol-botolnya untuk menciptakan zona pelindung di sekitar Dewi Ling'er.
Namun, Jiangzhu adalah pusat dari badai tersebut. Ia tidak lagi bertarung seperti manusia. Setiap kali ia menebas, pedang hitamnya mengeluarkan raungan rendah yang mengerikan. Setiap nyawa yang ia ambil membuat lengannya yang tadinya lumpuh mulai mendapatkan kembali kekuatannya, meskipun kulitnya kini berubah warna menjadi hitam legam dengan sisik-sisik halus.
"Ayo! Datanglah padaku, tikus-tikus bersayap!" Jiangzhu meraung.
Ia melompat tinggi, menggunakan energi Iblis di kakinya untuk menciptakan pijakan di udara. Di tengah kerumunan kelelawar, ia memutar tubuhnya seperti gasing maut.
Evolusi Senjata: 40%...
Kapasitas Energi Iblis Meningkat...
Tiba-tiba, kabut merah di tengah lembah terbelah. Sebuah sosok raksasa dengan sayap selebar sepuluh meter muncul. Kulitnya berwarna merah darah dan di kepalanya terdapat mahkota yang terbuat dari tulang manusia. Inilah Raja Kelelawar Merah.
"Manusia kecil... kau berani mengganggu perjamuanku dengan besi berkarat itu?" suara Raja Kelelawar itu menggetarkan tulang-tulang Jiangzhu.
"Besi ini akan menjadi paku peti matimu," balas Jiangzhu.
Raja Kelelawar membuka mulutnya, melepaskan gelombang ultrasonik berwarna merah yang menghancurkan batu-batu di sekitarnya. Jiangzhu terhempas, tubuhnya menghantam dinding tebing hingga tertanam sedalam setengah meter.
"Kakak!" Awan berteriak, ia mencoba berlari keluar dari zona pelindung, tapi Yue menahannya.
Jiangzhu terbatuk, darah segar mengalir dari telinganya. Rasa sakitnya luar biasa, tapi di dalam ruang jiwanya, Li’er mulai tertawa. Tawa yang dingin, haus darah, dan penuh kegilaan.
Berikan... padaku... biarkan aku... makan... bisik Li’er.
"Diam!" bentak Jiangzhu dalam hati. "Aku yang memegang pedang ini, bukan kau!"
Jiangzhu memaksakan dirinya keluar dari dinding tebing. Ia menatap pedang hitamnya yang kini sudah 90% pulih retakannya. Hanya butuh satu jiwa lagi. Jiwa yang kuat.
Ia memusatkan seluruh sisa energi Langit dan Iblisnya ke ujung pedang. Bilah pedang itu mulai memanjang, berubah menjadi bentuk sabit raksasa yang dikelilingi oleh api ungu dan kilat perak.
Evolusi Selesai: Pedang Penghancur Tiga Alam - Tahap Awal.
"Seni Trinitas: Tebasan Penghenti Detak Jantung!"
Jiangzhu meluncur ke arah Raja Kelelawar seperti meteor gelap. Raja Kelelawar mencoba menangkis dengan sayapnya yang sekeras baja, tapi pedang baru Jiangzhu memotong sayap itu seolah-olah hanya gumpalan kapas.
SLASH!
Potongan sayap raksasa jatuh ke lantai lembah, menimbulkan debu yang pekat. Raja Kelelawar melengking kesakitan, tapi Jiangzhu tidak memberinya ampun. Ia mendarat di punggung makhluk itu dan menghujamkan pedangnya tepat ke jantungnya.
BUMMM!
Ledakan energi merah dan hitam terjadi. Seluruh sisa energi dari Raja Kelelawar dihisap habis oleh pedang Jiangzhu dan disalurkan kembali ke dalam tubuh Jiangzhu sebagai nutrisi kultivasi.
Selamat. Anda telah menembus Tahap Inti Emas - Tingkat 1.
Jiangzhu berdiri di atas bangkai raksasa itu sambil terengah-engah. Rambut peraknya kini lebih panjang, menyentuh pinggangnya. Aura yang ia pancarkan sekarang begitu menekan hingga sisa-sisa klan Kelelawar Merah terbang melarikan diri dalam ketakutan murni.
Ia menoleh ke arah teman-temannya. Yue menatapnya dengan mulut terbuka, tak percaya bahwa dalam waktu sesingkat itu, Jiangzhu telah melompat ke tahap Inti Emas sebuah pencapaian yang biasanya butuh waktu puluhan tahun bagi jenius sekalipun.
Namun, Jiangzhu tidak merasa senang. Ia menatap telapak tangannya yang kini dipenuhi tato garis merah permanen.
"Pak Tua... aku merasa... aku bukan lagi manusia," bisik Jiangzhu parau.
Penatua Mo terdiam cukup lama sebelum menjawab. Bocah, kau sudah melewati ambang batas. Kau adalah jembatan yang mulai retak. Sekarang, pilihannya hanya dua: kau yang mengendalikan kekuatan ini, atau kekuatan ini yang akan menjadikanmu boneka abadi.
Jiangzhu menyarungkan pedang barunya yang kini terasa sangat berat. Ia berjalan menuju ibunya, mengabaikan tatapan takut dari penduduk lembah yang selamat.
"Ayo pergi," kata Jiangzhu datar. "Raja Tikus Tanah sudah mendapatkan apa yang dia mau. Sekarang saatnya kita menagih janjinya."
Lembah Bayangan yang tadinya penuh pekikan kini menjadi sunyi, hanya menyisakan aroma kematian dan jejak langkah kaki seorang pemuda yang baru saja menukar separuh jiwanya demi kekuatan dewa iblis.
Jiangzhu berlutut di atas bangkai Raja Kelelawar yang masih mengeluarkan uap panas. Ia bisa merasakan sisa-sisa esensi kehidupan makhluk itu merayap naik melalui bilah pedangnya, masuk ke dalam nadinya seperti ribuan larva es yang lapar. Rasanya mual sebuah campuran antara kepuasan yang menjijikkan dan rasa sakit yang membuat pandangannya memutih.
"Berhenti menatapku seperti itu, Yue," desis Jiangzhu tanpa menoleh. Suaranya serak, bergetar dengan frekuensi rendah yang membuat kerikil di sekitarnya ikut berderik. Ia meludah, gumpalan cairan hitam kental mendarat di tanah, membakar rumput yang disentuhnya. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Aku butuh kau memastikan ibuku tetap bernapas."
Yue menelan ludah, tangannya yang memegang belati masih sedikit gemetar. Ia melihat rambut perak Jiangzhu yang kini berlumuran darah hijau kelelawar, tampak berkilau secara tidak alami di bawah cahaya merah lembah. "Kau baru saja menelan inti energi tingkat tinggi tanpa memurnikannya, Jiangzhu. Jika kau tidak segera menstabilkan Dantian-mu, kau akan meledak sebelum kita sampai ke perbatasan."
"Meledak?" Jiangzhu tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyakitkan. "Biarlah. Setidaknya aku akan membawa separuh lembah ini bersamaku."
Ia berdiri perlahan, bunyi sendi-sendinya yang bergeser terdengar sangat nyaring di kesunyian pasca-pertempuran. Ia menatap pedang hitamnya yang kini memiliki pola urat merah yang berdenyut seirama dengan nadinya. Pedang itu terasa lebih ringan, atau mungkin tangannyalah yang kini menjadi lebih kuat secara abnormal.
Bocah, kau mulai menyukai rasa kekuasaan ini, bukan? bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar penuh dengan peringatan yang suram. Ingat, setiap inci kekuatan yang kau curi dari iblis-iblis ini adalah satu inci kemanusiaan yang kau buang ke tempat sampah.
Jiangzhu tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju Awan yang menatapnya dengan mata biru yang penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Ia ingin mengusap kepala gadis itu, tapi ia melihat tangannya yang kini bersisik hitam dan berlumuran darah. Ia menarik tangannya kembali, menyembunyikannya di balik jubah yang sudah compang-camping.
"Ayo," gumam Jiangzhu datar. "Kita masih punya hutang nyawa yang harus ditagih pada Raja Tikus."
Lembah Bayangan itu kini benar-benar menjadi bayangan dari kehancuran yang ditinggalkan oleh sang Penghubung. Jiangzhu melangkah pergi tanpa menoleh, meninggalkan bau amis dan kematian yang akan menghantui wilayah itu selama puluhan tahun ke depan.