"Azzelia Qaireen, kau milikku, wanitaku, istriku. Tak ada yang lain selain dirimu di hatiku. Bahkan aku rela memberikan nyawaku ini, ketika kehidupanmu terancam karena kedatanganku, Sayang."
~Frans Federick Knight
***
Demi sang papa, Azzelia Qaireen rela melakukan apa saja termasuk menikah dan menjadi istri dari seorang Frans Federick Knight. Pria yang dikenal sebagai rekan kerja papanya dan merupakan pebisnis kaya raya di negara tempat tinggalnya.
Namun, siapa sangka. Di balik wajah tampannya. Frans memiliki sejuta rahasia dan sisi gelap yang tak diketahui oleh Zelia. Kehidupan yang penuh cinta perlahan mulai dipenuhi darah. Ketika sebuah rahasia mulai terungkap, maka sebuah pengorbanan kembali terjadi dan membuatnya bertemu dengan masa lalunya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Frans dan Zelia ketika masa lalu hadir di antara mereka dan sebuah rahasia terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JBlack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap
...Terkadang kenyataan itu datang diluar ekspektasi kita. Namun, setelah harapan tinggi kita gantungkan akankah kekecewaan lagi yang didapat. ...
...~JBlack...
...***...
"Thank you," Kata Zelia setelah menerima pesanan miliknya.
Dia lekas membawa kantong plastik yang berisi tespek itu keluar dari apotik. Matanya menatap sekeliling hingga tanpa sengaja dia melihat salah satu kedai es krim yang buka di pinggir jalan.
Entah kenapa rasanya dia ingin memakan es krim itu. Hingga mau tak mau, Zelia lekas berjalan ke arah sisi kanan. Apalagi matanya tanpa sengaja menatap ke arah supir yang merangkap menjadi bodyguardnya terlihat seperti sibuk menghubungi seseorang.
Dia tak peduli apapun. Di mata Zelia saya ini, es krim melebihi segalanya.
"Aku menginginkan coklat satu," Kata Zelia memesan saat dia berhasil menyebrang jalan dan melewati beberapa kedai yang masih buka.
"Oke, Nona. Duduklah terlebih dahulu," Ujar pelayan es krim yang melayaninya.
Zelia mengangguk. Dia memesan es krim untuk dibawa pulang. Matanya menatap jam yang menempel di dinding.
"Apa Frans sudah sampai rumah?" Gumamnya pada dirinya sendiri.
Wanita itu meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. Dia mengecek sesuatu hingga tak lama bibirnya tersenyum saat melihat satu notifikasi pesan dari sosok yang ia yakini tak pernah telat mengiriminya kabar.
"Jangan lupa makan malam dan jangan telat pulang, Sayang. Hati-hati dijalan dan aku mencintaimu selalu," Kata Zelia membaca pesan yang tentu membuat dirinya selalu merasa dihargai.
"I love you too, Frans," Kata Zelia sambil membayangkan wajah Frans yang manja padanya.
Dia lekas memasukkan ponselnya lagi lalu tak lama pesanannya datang dan dia lekas menerimanya.
Saat dia baru saja meninggalkan kedai es krim dan melewati beberapa kedai. Tak lama telinganya mendengar sesuatu. Sebuah suara yang mungkin samar tapi dia sangat tahu suara ini milik siapa.
Tubuhnya tegak. Dia menatap ke arah lorong gelap yang berada di antara bangunan. Kepalanya menatap ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun. Dia meneguk ludahnya sendiri seakan bingung harus kemana.
Namun, saat dia mencoba untuk melupakan tentang suara itu. Suara bentakan lebih terdengar dan membuat rasa penasarannya semakin tinggi. Dia akhirnya semakin mendekat.
Berjalan begitu pelan sampai akhirnya dia berhenti di ujung lorong itu. Kepalanya menyembul dan akhirnya dia melihat dua orang pria yang sepertinya cekcok.
Wajahnya tak terlihat tapi dari gerakan tubuhnya Zelia melihatnya. Daerah yang lumayan gelap dan hanya sedikit temaram. Membuatnya kesusahan untuk mencari tahu siapa disana.
Hingga saat Zelia mencoba berpikiran positif. Sebuah suara kembali dia dengar dan membuatnya seakan memilih bertahan disana.
"Ada kata yang ingin kau sampaikan?"
Jantung Zelia mencelos saat mendengar suara itu lebih dekat. Ya meski wajahnya tak tampak, Zelia tahu siapa pemilik suara ini.
Meski mereka baru saja tinggal bersama. Meski mereka masih dalam hitungan jari tinggal serumah. Namun, Zelia yang mudah menghafal gerak gerik pasangannya, bau tubuhnya dan suaranya tentu sangat mudah mengingatnya.
"Frans!" Lirihnya dengan pelan.
Hingga suara tembakan membuat Zelia menutup mulutnya terkejut. Matanya terbelalak dengan jantung berdegup kencang. Bahkan tanpa sadar dia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri meski wajah mereka tak terlihat.
"Frans… dia… "
Zelia mampu melihat tubuh pria yang berdiri dan menembak sosok yang terjatuh di depannya. Zelia mengenali bentuk tubuh itu. Tanpa sadar hal itu membuat air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.
"Nyonya," Panggil suara seorang pria dan menepuk pundak Zelia.
Wanita itu terkejut. Bahkan Zelia sampai mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh.
"Nyonya anda baik-baik saja?" Tanya bodyguard itu dengan lekas memegang tangan istri majikannya.
Zelia merasa bingung. Namun, kepalanya lekas mengangguk. Dia perlahan menegakkan tubuhnya dengan jantung yang masih berdegup kencang.
"Kenapa Anda ada disini?"
Wajah Zelia terkejut. Dia terlihat seperti kucing ketahuan. Dirinya menatap ke bawah sampai matanya melihat bingkisan yang dia beli.
"Aku membeli es krim dan kakiku sakit dibuat jalan," Kata Zelia beralasan.
Bodyguard itu terlihat menatap sekeliling. Zelia berusaha menormalkan wajahnya. Dia tak mau terlihat mencurigakan sedikitpun.
"Apa Anda membutuhkan bantuan? Atau… "
"Tidak perlu!" Ujar Zelia menolak. "Ayo kita pulang sekarang. Aku akan berjalan pelan-pelan menuju mobil."
Akhirnya Zelia berjalan kembali ke mobil dengan pikiran melanglang buana. Dia benar-benar masih terngiang jelas suara yang sangat ia yakini jika itu Frans dan bentuk tubuhnya.
Dia menyandarkan punggungnya di kursi mobil. Kepalanya sakit dan ia merasa lelah. Zelia sangat ingat jelas suara tembakan itu. Sampai akhirnya terlalu lelah berpikir tanpa sadar mata yang terpejam langsung terlelap dalam tidur indahnya.
...***...
Zelia merasa dia baru saja memejamkan matanya. Namun, dia merasa terusik saat wajahnya seperti dikecup oleh seseorang. Sampai akhirnya sebuah suara membuat matanya langsung terbuka dan dia mundur.
"Sayang, ada apa?" Tanya sosok pria yang membuat Zelia kesusahan berbicara.
Frans, pria yang sejak tadi menjadi bahan pikirannya sampai dia tertidur. Pria yang dia lihat membunuh seseorang di depan kepalanya sendiri.
"Sayang?"
Kepala Zelia menggeleng. Untuk berbicara saja rasanya bibir Zelia tak mampu. Dia seakan menyimpan banyak pertanyaan di dalam otak kecilnya.
"Sayang," Panggil Frans lagi sambil memegang tangan Zelia yang terasa dingin. "Kamu kedinginan?"
Zelia menggeleng. Dia menarik tangannya dari genggaman tangan Frans dan meriah kantong plastik yang diletakkan di sampingnya.
"Aku ingin ke kamar mandi," Katanya yang membuat Frans mengangguk.
Dia menarik tubuhnya keluar. Saat Frans menjulurkan tangannya. Zelia tak menerima dan langsung keluar sendiri lalu meninggalkan Frans.
Jujur Zelia ingin menangis rasanya. Bahkan rasanya bersikap seperti tadi membuat dirinya sakit. Rasa cinta pada Frans yang begitu besar tentu membuatnya ingin terus berada di dekatnya. Namun, kenyataan pahit yang baru saja dia temukan membuat Zelia berada dalam ketakutan.
Dia lekas masuk ke kamar dan menyembunyikan tespek yang ia beli di dalam lemari. Setelah itu dirinya mengambil baju tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Air mata itu akhirnya mengalir dengan bebas. Zelia melepas semua bajunya dan dia membiarkan tubuhnya basah dengan air. Mulutnya ditutup dengan tangan. Dia benar-benar mengeluarkan semua air matanya secara langsung.
"Papa," Lirihnya saat bayangan wajah papanya terlintas dalam benaknya. "Kenapa pria pilihan Papa harus serumit ini?"
Zelia ingin menjerit dengan keras. Dia mungkin masih terkejut dengan kenyataan ini. Apalagi dengan mata kepalanya sendiri dia melihat suaminya membunuh orang lain.
"Sayang, kamu mandi malam-malam begini?" Tanya Frans dari balik pintu kamar mandi yang membuat kepala Zelia menoleh.
"Sayang?"
Zelia tak menjawab. Dia bahkan tak berniat mematikan air yang membasahi tubuhnya.
"Jangan mandi terlalu lama. Nanti kamu sakit. Mandilah dengan air hangat, Sayang. Oke?"
Zelia mencoba menutup kedua telinganya. Dia benar-benar bahagia suaminya perhatian padanya. Namun, bayangan suara tembakan dan sosok yang ia cintai membunuh orang. Tentu membuat dirinya merasa sakit seakan tertipu oleh pandangan pertama.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus meninggalkan Frans sebelum perasaan ini lebih besar untuknya?"
~Bersambung
Maaf yah dua hari gak update tapi aku udah kasih kabar ke story instagram aku. Aku demam kemarin bahkan aku sampai libur kerja juga. Baru hari ini badanku enakan dan alhamdulillah bisa update.
Maafin aku yah. Aku usahain semoga bisa update rutin lagi. Beberapa bulan ini badanku emang lagi ngedrop banget. Apalagi aku juga masih pengobatan mangkanya gampang sakit sekarang.
kenapa?