Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa kasihan
Nanang keluar dan menemui para tamu,sedang Sari melanjutkan kegiatannya memasak untuk mereka semua.
tak butuh waktu lama, mie ayam sudah jadi dan dia membawanya keluar.
Fendi sebenarnya tadi melihat apa yang di lakukan Nanang pada istrinya.
dia sangat marah dan Ingin menghajar Nanang karena melukai Sari.
tapi Sari mengeleng pelan,dan Fendi pun hanya bisa pergi begitu saja, dia tak berdaya meski sudah melihat segalanya.
"wah ... kelihatanya,mie ayamnya sangat enak nih," kata Yuni dan yang lainnya.
"tentu dong,siapa dulu yang masak, sudah ayo di makan," kata Sari.
"selamat makan," kata semua orang.
Sari duduk di samping Nanang dan Fendi karena Yuni yang menahan pria itu saat akan pindah tempat.
Nanang kali ini tak marah karena itu keinginan adik perempuannya, Dian melihat Sari yang menuang sedikit sambal.
"kamu tumben Sari kok makan sambel dikit, bukannya kamu penyuka pedas?" tanya Dian heran.
"aku sedang program hamil jadi mengurangi pedas, sudah nikmati saja," jawab Sari.
Yuni sudah mewanti-wanti ketiga temannya itu agar tak memancing sesuatu yang mengarah ke pembahasan tentang anak.
karena Nanang kebanyakan menaruh sambal, dia pun tersedak karena pedas.
reflek Dian yang ada di samping Nanang pun mengulurkan minuman ke arah pria itu bersamaan dengan Sari.
tapi yang membuat heran, bukan mengambil gelas milik Sari, Nanang malah langsung mengambil gelas dari tangan Dian.
Nanang pun minum terburu-buru, dari pun menaruh gelasnya lagi, Sari tetap tenang sambil menepuk pelan punggung suaminya.
"mas Nanang ini sudah besar kok makan saja sampai bisa keselek sih." ledek Dian.
"iya sepertinya aku kebanyakan menambahkan sambal," kata Nanang sambil berusaha tersenyum ramah
Sari merasa iri, dia yang sebagai istri pun terluka, karena selama ini Nanang tak pernah tersenyum seperti itu kepadanya.
"ambil punya ku mas,aku belum memakannya, lagi pula sambalnya masih sedikit," kata Sari.
Nanang pun mengambil makanan milik Sari, dan dengan tenang sari mulai makan seperti biasa.
tapi meski dia berusaha menunjukkan dia baik-baik saja di depan semua orang.
tapi Fendi tau jika gadis itu tengah tak baik-baik saja, terlihat dari begitu sikap was-was dan tatapan mata yang sedikit berkaca-kaca
setelah itu semuanya mulai kembali bercerita tentang sekolah, Sari pun membereskan semua mangkok kotor.
sedang Fendi tadi pamit ke kamar mandi, "Tunggu Sari, ini untuk mu, semoga bisa membuat mood mu membaik," kata Fendi memberikan permen ting-ting kacang pada wanita itu.
"beli dimana?" tanya Sari dengan antusias.
"aku jual di toko kok, kalau mau kamu bisa ambil besok saat antar kue ya," kata Fendi.
"siap mas, terima kasih ya," kata Sari.
"iya, dan ingat besok ada pesanan dua puluh nasi bakar ayam loh," kata Fendi.
"siap kok mas," jawab Sari tersenyum.
setidaknya sekarang Sari sudah tak sedih, dia pun menaruh semua perkakas kotor di tempat cuci piring.
dia kembali ke depan setelah Fendi yang pergi duluan, ternyata sekarang Nanang, Dewi dan Zahra sedang main ular tangga.
sedang Yuni terlihat berbincang dengan Fendi di ayunan, "yah kalian semua main gak ngajak-ngajak sih,"
"habis kamu lama di dalam, tapi seru loh main seperti ini dan ternyata mas Nanang pintar main ular tangga ya," kata Dian.
"hei Dian, kamu gak takut aku cemburu mendengar ucapan mu itu, bagaimana pun dia itu suamiku loh," kata Sari ingin temannya itu sedikit peka.
"ayolah kenapa harus cemburu,aku sudah punya kekasih kok, lagi pula aku tak berniat menjadi perusak rumah tangga sahabatku," jawab Dian.
mendengar itu Nanang pun merasa marah, karena Sari lagi-lagi merusak kesenangannya.
"memang siapa kekasih mu?" tanya Sari penasaran.
"ada deh, kamu kepo," kata Dian.
setelah puas bermain, akhirnya mereka semua pamit pulang, Yuni akan mengantarkan Zahra dulu karena tadi mereka satu sepeda motor.
Sari sudah di dalam ingin cuci semua bekas makan tadi, tapi Nanang menariknya ke dalam kamar.
"mas mau apa? aku mohon ini sudah sore," kata Sari yang sudah tau jika suaminya itu marah.
dia ingin lari tapi Nanang menahan tubuh istrinya, "bisakah kamu diam!!" bentaknya sambil menampar sari hingga jatuh ke ranjang.
"aku salah apa lagi mas?" tanya Sari yang sudah tak bisa menahan kesal.
"brengsek, kamu berani meninggikan suaramu padaku hah! berani!!" kata Nanang yang menekan paha Sari dengan lututnya.
bahkan rambut sari juga di Jambak dengan kasar, "kamu itu di jual bapak mu, lihat sekarang dia bisa mengelola semua pemberian ayah ku, jadi jangan berani meninggikan suaramu padaku, ngerti itu goblok!" bentak Nanang yang sudah terlanjur emosi.
Sari pun tak bisa melawan terlebih tenaganya kalah besar dengan suaminya.
Nanang pun merobek baju Sari dan langsung memperlakukan istrinya itu dengan kasar.
bahkan saat marah pun Nanang akan menikmati tubuh istrinya itu, tapi dengan cara sadis.
dia akan mengigit dan mencakar serta melakukan apapun yang dia sukai untuk menuntaskan amarahnya.
bahkan sore itu akan menjadi sore terkelam bagi Sari, karena dia di perlakukan seperti pelacur oleh suaminya sendiri, hingga tak sadarkan diri.
Nanang pun langsung meninggalkan istrinya itu begitu saja dan memilih untuk ke rumah orang tuanya.
Sari baru sadar saat mendengar suara adzan magrib, dia pun terkejut melihat kondisinya.
bahkan rumah juga masih gelap, dia pun dengan tertatih menahan semua rasa sakit mulai menyalakan lampu rumah.
setelah itu dia pun mandi dan setelah itu mengoleskan obat ke seluruh luka yang dia alami.
"kamu kuat Sari, kamu kuat... kamu tak boleh membuat orang tua mu sedih dan malu," katanya sambil menangis.
"tapi aku lelah seperti ini, kenapa sudah dua tahun, aku juga bukan gadis yang mandul seperti yang di bilang orang-orang, dan jika aku belum punya anak memang salahku ya...."
seseorang datang ke rumah, suara ketukan pintu terdengar, sari pun buru-buru mengambil jaket agar tak ada yang curiga.
"iya siapa?" saut sari dari dalam.
"ini saya mbak Sari mau nganter jamu," kata mbak Wati.
"iya mbak tunggu sebentar," kata sari yang kemudian membuka pintu.
"loh mbak Sari kenapa? sakit ya?" tanya mbak Wati khawatir.
"tidak kok mbak, hanya masuk angin dan kelelahan sepertinya, mbak masuk dulu ya," kata sari yang membawa jamu itu kedalam dan mengambilkan uang.
"owalah begitu ya, tapi mas Nanang ini aneh, istrinya sakit malah ngajak semua orang lembur," kata mbak Wati.
"apa? ya Allah saya tak tau mbak,nanti biar saya ngomong ke mas Nanang biar mereka semua tak lembur ya, padahal ini malam Jum'at kan," kata sari berusaha tersenyum.
"aduh mbak Sari ini memang terbaik pokoknya, sudah kalau begitu saya minta maaf, kalau begitu saya pamit ya," kata mbak Wati.