NovelToon NovelToon
Setelah Hujan

Setelah Hujan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:154.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restviani

Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?

Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

Daniar terkejut saat mendapati suara seseorang di belakangnya. Seketika dia menoleh untuk melihat sumber suara. Dan ternyata benar, Deni si biang kerok tengah berdiri di hadapannya sembari cengengesan.

"Loh, Deni! Ngapain lo di sini?" tanya Daniar.

Bukannya menjawab, Deni malah balik bertanya kepada Daniar. "Menurut lo?"

"Hmm, kalau nggak cuci mata, pasti lo lagi cari mangsa, wew!" ledek Daniar sambil menjulurkan lidahnya.

Deni langsung cemberut mendengar tuduhan sahabatnya itu.

"Apaan sih, Ni ... kejam banget ma sobat sendiri," gerutu Deni.

"Yeayy, lo lagi PMS, ya? Sensi banget," ledek Daniar.

Tak ayal lagi, bibir Deni pun semakin maju beberapa senti mendengar ledekan Daniar. Namun, jauh di lubuk hatinya Deni merasa senang melihat sikap Daniar. Saat gadis itu selalu menyahuti ucapannya, bisa dipastikan jika Daniar sedang baik-baik saja.

Deni melirik pria yang berada di samping sahabatnya. Hmm, apa mungkin Daniar kembali ceria gara-gara kehadiran pria ini? Tapi siapa dia? Apa kekasih barunya?

Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati Deni. Bibirnya terasa gatal untuk mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Daniar. Tetapi, Deni masih berusaha untuk menahan diri.

"Eh, lo nggak mau ngenalin cowok lo?" pancing Deni.

Daniar menonyor pelan bahu Deni seraya berkata, "Apaan sih lo Den, mana ada gua punya cowok."

Jawaban Daniar yang jujur sontak membuat Dadan membulatkan kedua bola matanya. Harapan Dadan, Daniar bisa mengakuinya sebagai pasangan hidup. Ish, gua emang belum jadian sama Daniar, tapi kenapa jawabannya bikin gua sesak ya. Huh, apa gua terlalu banyak berharap pada pertemuan ini? batin Dadan.

"Loh, lantas?" Deni kembali bertanya, kali ini diselingi kerutan di wajahnya. Rupanya jawaban Daniar semakin membuat pemuda itu penasaran.

"Dia ini Kak Dadan, putranya teman nyokap. Dan kebetulan, beliau juga kakak kelas gua saat di bangku SMA. Kak Dadan, ini adalah Deni. Sahabat Daniar di kampus. Ayo, pada kenalan dong!" jawab Daniar menyuruh kedua pria itu untuk saling mengenalkan diri.

"Deni!" kata Deni seraya mengulurkan tangannya.

Dadan menyambut uluran tangan laki-laki yang diakui Daniar sebagai sahabat. "Dadan," balasnya.

"Eh, jangan-jangan kalian korban perjodohan orang tua kalian, ya?" celetuk Deni yang mulutnya selalu bocor.

"Ish, Den! Lo jangan sekate-kate ye, kalo ngomong. Emangnya ini zaman Siti Nurbaya?" sahut Daniar.

"Ya, siapa tahu aja, Ni," jawab Deni dengan wajah tak bersalahnya.

Jujur, Dadan sendiri merasa jengah dengan sikap Deni yang so akrab. Dia kemudian menimpali pernyataan Daniar dengan jawaban yang berbanding terbalik.

"Kalau memang iya, apa Anda merasa keberatan?" jawab Dadan sinis.

Aih ni orang, kenapa mukanya nggak sedap dipandang gitu? wah kacau dah kalau Daniar berjodoh dengan orang baperan kek gini, batin Deni menelisik raut wajah Dadan yang mulai kecut.

Sedangkan Daniar hanya melongo mendengar jawaban Dadan. Apa dugaanku selama ini benar? batin Daniar.

"Ya sudah Ni, silakan nikmati waktunya. Gua pamit dulu ya!" ucap Deni yang mulai mencium roman-roman ketidaksukaan dari teman pria Daniar.

"Eh, lo mo ke mana?" tukas Daniar.

"Gua mo makan di foodcourt, Ni. Cacing di perut gua dah nggak bisa diajak kompromi, Nih. Laper banget!" seloroh Deni seraya mengusap-usap perut buncitnya.

Daniar kembali tertawa mendengar kelakar Deni. "Ya udah, lo bareng ma kita aja. Kebetulan kita juga mo makan, nih," tawar Daniar.

Kini kedua bola mata Dadan membulat sempurna mendengar ajakan Daniar kepada temannya. Dadan merasa tidak suka karena keberadaan pria di hadapan Daniar, telah mengganggu rencananya.

"Eh, nggak usah Ni, makanan di tempat ini nggak cocok sama isi saku celana gua," jawab jujur Deni yang dibarengi kekehan.

"Halah, tempat makan apa pun emang kagak ada yang pernah cocok sama isi kantong lo. Lah wong lo mintanya gretongan mulu," ejek Daniar.

Bukannya tersinggung, Deni malah tertawa terbahak-bahak mendengar ejekan sahabatnya.

"Nah itu, lo tahu," balas Deni.

"Ya udah, masuk yuk!"

Daniar mengajak Deni seraya menarik tangannya. Namun, melihat tatapan tajam Dadan, Deni pun mengurungkan niatnya. Dia sadar jika Dadan tidak suka dengan kehadiran dirinya di tengah-tengah mereka.

"Eh, nggak usah deh Ni. Kebetulan gua datang bareng temen kok. Lo masuk aja, gua mo balik lagi ke Gramed," kata Deni.

"Oh, jadi lo datang bareng temen? Ya udah, lo telepon aja temannya, sekalian gabung sama kita. Biar seru," usul Daniar.

"Tapi, Ni..."

Deni tampak ragu mendengar usulan Daniar. Bukannya apa-apa, dia merasa enggan melihat raut wajah Dadan. Kehadirannya saja membuat masam wajah pria itu, apalagi ditambah dengan kehadiran sahabatnya. Uuh, bisa kusut kek pakaian yang belum disetrika tuh wajah, gerutu Deni dalam hati.

Namun, saat Deni hendak menolak kembali ajakan Daniar. Tiba-tiba Yandri sudah berada di hadapannya.

"Kamu di sini, Den? Pantesan aku cari-cari di foodcourt nggak ketemu," tegur Yandri.

Daniar yang mendengar seseorang menegur Deni dari belakang, sontak membalikkan badan. Begitu juga dengan Dadan. Dia mengerutkan kening melihat seorang pemuda tengah berdiri di hadapannya.

Apa ini teman yang dimaksud si curut itu? batin Dadan melihat pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Laki-laki ini? Kenapa dia ada di sini? Terus, tadi dia menyapa si Deni, apa mungkin dia temannya Deni? batin Daniar, heran.

Mendapati tatapan heran dari kedua orang yang tidak dikenalnya, membuat Yandri menjadi salah tingkah. Buru-buru Yandri menghampiri sahabatnya.

Merasa diselamatkan dari situasi yang tidak meng-enakkan, akhirnya Deni menjadikan Yandri sebagai alasan untuk segera pergi dari hadapan Daniar.

"Eh, sohib gua dah nyusul nih. Gua pergi dulu ya, Ni. Byee!" pamit Deni seraya mencekal pergelangan tangan Yandri dan segera mengajaknya pergi.

"Eh, Den. Tunggu!" cegah Daniar.

Namun, Deni tidak menggubris perkataan Daniar. Dia masih tetap menyeret temannya hingga Yandri merasa kesulitan untuk berjalan.

Setelah mereka agak menjauh dari hadapan Daniar, Yandri menghempaskan pergelangan tangannya seraya mendengus kesal dengan sikap Deni. Dia kemudian menggerutu kepada sahabatnya itu. "Ish, kamu apa-apaan sih Den? Dikira gua kambing apa, lo seret-seret begini!"

"Hehehe, sorry Yan," ucap Yandri meminta maaf, "gua terpaksa lakuin ini. Gua nggak mau terjebak di antara mereka. Wajah cowoknya sangar banget, Yan," celoteh Deni melanjutkan kalimatnya.

"Memangnya siapa mereka? Kamu kenal sama mereka berdua?" tanya Yandri.

"Yang cewek namanya Niar, dia temen gua," jawab Deni

"Yang cowok?"

"Katanya sih, namanya Dadan."

"Pacarnya temen kamu?"

Deni hanya menggedikkan kedua bahunya menjawab pertanyaan Yandri.

"Ish, nggak jelas banget. Ya sudah, makan yuk. Tadi bilangnya lapar," ajak Yandri.

Deni tersenyum. "Kalau ini mah, gua kagak nolak, Yan. Yuk!" Deni menyahuti ajakan sahabatnya.

Kedua sahabat itu pun berjalan beriringan menuju foodcourt. Meskipun dalam hatinya, Deni merasa penasaran dengan sosok laki-laki yang bersama Daniar.

Hmm, semoga saja dia laki-laki baik yang bisa menyembuhkan luka di hati gadis itu.

1
Atik
emangnya ibu kamu, yg manfaatin anaknya buat kepentingan pribadi
Atik
sedih banget mikirin nasib bintang
Atik
gila nih orang!!
Atik
astaga, apa maunya nih nenek tua...
aarhh...bikin emosi aja
Atik
satu kata untuk ibu mertua. "Gila"
Atik
selamat jalan khadijah
Atik
aduh...gak tahan sama kelakuan habibah...uuuh
Atik
rasain...
ngeyel sih
Atik
ngeyel
Atik
dasar kk ipar gila. nimbrung aja kerjaannya
Atik
jangan nekat daniar
Atik
daniar terus yang disalahin. dasar mertua gak tau diri
Atik
ya elah, banyak gaya amat. kalo gak punya duit mah, diem bae napa
Atik
gedek lama" sama sikap mwryam
Atik
idih, dikasih hati minta jantung. gak tau malu banget
Atik
bini lu pengertian, tapi lu sendiri, bego...
Atik
nyusahin banget ni orang
Atik
ampun banget dah ma bu maryam itu. gak pernah bersyukur jadi orang
Atik
Sejauh ini, ceritanya masih ringan dibaca. Konfliknya berisi tentang keseharian hidup, jadi masih logis.
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya
Atik
astaga, Deni...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!