Anara Putri, gadis delapan belas tahun yang harus mengandung benih lelaki yang merupakan Kakak iparnya, atas kecelakaan di sebuah hotel tanpa kesengajaan. Padahal saat itu Anara baru saja lulus sekolah menengah kejuruan.
Bagi sang ayah, Anara hanyalah anak pembawa sial. Oleh sebab itu, dia begitu di benci oleh keluarganya sendiri. Bahkan, Anara harus menutup rapat identitas ayah dari bayi yang di kandungnya karena tidak mau menyakiti hati sang Kakak.
Lantas, akankah Anara mendapat kebahagiaannya? Bagaimana dengan Anara ketika semua rahasia itu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal di rumah Aldi
Selama di perjalanan, Anara hanya diam. Dia menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik jendela mobil. Sesekali Aldi melirik Anara. Namun dia tidak mengatakan
apa pun.
Tak lama, mobil yang di kendarai oleh Aldi sudah sampai di tempat tujuan.
Anara menatap rumah yang sangat mewah dari dalam mobil. Dia mengikuti Aldi yang sudah turun duluan. Dia hanya mengekor di belakang Aldi.
"Aduh," Anara memegangi keningnya yang bertabrakan dengan punggung Aldi. Kebetulan Aldi menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Aldi hanya tersenyum menatap Anara, lalu dia melanjutkan langkahnya.
Anara begitu takjup melihat keindahan rumah Aldi. Bahkan lebih bagus dari rumah Pak Indra.
"Kita mau kemana?" Anara mengikuti Aldi memasuki lift khusus yang ada di rumah itu.
"Ke lantai paling atas, kamar kita ada disana," ucap Aldi.
Kamar kita? Apa jangan-jangan..." Anara mencoba menepiskan pemikirannya yang tidak-tidak.
Aldi memencet tombol lift, lalu dia berdiri di sebelah Anara.
Ting
Pintu lift sudah terbuka. Anara masih mengikuti langkah Aldi. Hingga kini mereka berhenti di depan sebuah ruangan.
Cklek
Aldi membuka pintu kamar itu, lalu dia menoleh menatap Anara.
"Ini kamar kamu, masuk saja! Kamarku ada di sebelah," ucap Aldi, lalu dia pergi ke kamar sebelah.
"Baiklah," kata Anara sambil menatap kepergian Aldi.
Anara masuk ke kamar itu. Dia begitu tercengang melihat kamar yang begitu mewah seperti kamar sultan.
Wah indah sekali, bahkan banyak boneka dan dekorasi kamar ini kok seperti kamar perempuan. Apa mungkin ini kamar adiknya Pak Alvin." batin Anara
Anara langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Rasanya sangat nyaman sekali. Karena kebetulan dia merasa lelah, jadi dia ketiduran di atas kasur.
Aldi membuka pintu kamarnya. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan boxer dan kaos pendek. Kebetulan dia habis mandi karena merasa gerah. Aldi menatap pintu kamar Anara yang terbuka. Dia melihat ke dalam, ternyata Anara sedang tidur di atas kasur.
Aldi mendekati Anara, dan sekarang dia duduk di pinggiran ranjang. Aldi membelai wajah cantik Anara. Sesekali dia mengambil kesempatan dengan men*cium bibir Anara.
Aku bukanlah lelaki baik, tapi untuk mencari pendamping, aku harus mencari wanita yang baik. Aku akan menghapus jejak lelaki itu. Lelaki yang sudah membuat wanitaku menanggung beban berat." batin Aldi
Aldi hendak membuka kancing seragam kerja Anara, Namun dia urungkan saat mendengar ponselnya berbunyi.
Stt, kenapa aku bawa ponsel segala." batin Aldi.
Aldi mengangkat panggilan masuk dari temannya. Ternyata temannya mengajaknya nongkrong di tempat biasa. Namun Aldi menolaknya.
°°°
Vanesa melangkahkan kakinya memasuki cafe milik Aldi. Dia menatap kanan kirinya. Niatnya dia datang untuk mengerjai Anara.
"Kak Vanesa," ucap Dinda dari arah belakang.
"Eh kamu, Nara mana?" tanya Vanesa.
"Aku juga tidak tahu, tadi siang di ajak pergi oleh Kak Aldi. Tapi dia belum kembali sampai sekarang." ucap Dinda.
"Apa mereka menjalin hubungan?"
"Aku juga tidak tahu," ucapnya.
"Ya sudah, kalau Nara tidak ada, aku juga mau pulang lagi."
"Sekalian pisahin mereka berdua, Kak." pinta Dinda.
"Itu sih pasti," ucap Vanesa.
Vanesa kembali melangkahkan kakinya keluar dari cafe itu. Dia hendak membuka pintu mobilnya. Namun ada yang memeluknya dari belakang.
"Aku sangat merindukanmu, kenapa akhir-akhir ini susah di hubungi?" tanya Kenzo, yang kini sedang memeluk Vanesa.
"Lepasin! Aku mau pulang, lagian ini tempat umum. Kalau ada orang yang aku kenal dan melihat kita, nanti bisa gawat." ucap Vanesa sambil mencoba untuk melepaskan dirinya.
"Tidak semudah itu kamu lepas dariku, Vanesa sayang." ucap Kenzo.
"Baiklah, sekarang lepasin, dan kamu masuk ke mobilku. Kita bicara di jalan saja." ucap Vanesa.
Kenzo langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Vanesa segera mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat itu.
Di sepanjang jalan, Vanesa melotot ke arah Kenzo. Karena tangan Kenzo tidak mau diam.
Vanesa terpaksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kamu bisa diam tidak sih!" ucap Vanesa sambil menatap Kenzo yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak akan bisa diam kalau belum mendapat servismu," Kenzo mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan sekarang, aku sedang hamil," kata Vanesa.
"Hamil? Kamu hamil anakku?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu," ucapnya.
"Baiklah, aku akan melakukan yang lain," Kenzo langsung memulai aksinya.
Saat ini mereka berdua berpindah duduk ke belakang. Vanesa hanya menikmati semua perlakuan Kenzo. Selama itu tidak menyakiti anaknya.
"Ternyata punya kamu semakin wangi, kamu merawatnya?" tanya Kenzo sambil memakaikan kembali kain tipis yang menutupi bagian bawah Vanesa.
"Iya, aku ini wanita yang sudah bersuami. Jadi harus merawatnya biar suami betah."
"Aku cemburu nih," ucap Kenzo.
"Mau cemburu atau tidak, kamu pasti akan tetap memaksaku."
Kini mereka kembali duduk di depan. Kenzo yang mengemudikan mobilnya, karena Vanesa terlihat lelah setelah selesai melakukan kegiatan panasnya.
°°°
awas andika punya saingan 😂😂😂😂😂