NovelToon NovelToon
Keturunan Pendekar

Keturunan Pendekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Anak Yatim Piatu / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pusaka Sisik Naga Emas

Sementara semenjak berpisah dengan Raka Anggun kembali ke perguruannya, ia berlatih dengan serius mendalami jurus pamungkas dari perguruannya. Di bawah bimbingan Dewi Mayang, Anggun semakin pesat kemajuannya tenaga dalam dan kelincahan geraknya juga semakin sempurna.

Namun walau berada di perguruan kabar dari dunia persilatan tak terlewatkan

" Guru! izinkan aku pergi , aku ingin ke jurang Neraka mencari Raka Guru" rengek Anggun saat mendengar Raka terjatuh ke dalam Jurang,

Dewi Mayang menghela napas panjang

" Muridku, setahuku jarang ada yang keluar dengan selamat jika masuk ke dalam Jurang Neraka, sudah beberapa pendekar yang mencoba masuk tetapi tak ada kabar beritanya lagi" sahut Dewi Mayang

" lalu bagaimana dengan nasib Raka guru?" Anggun berkata sambil menangis,

" Kita berdoa saja, semoga Raka mendapat keajaiban dan selamat " sahut Dewi Mayang." Sekarang kau berlatih dengan keras untuk membalas kematian ayahmu dan juga pada orang orang yang sudah membuat Raka terperosok ke dalam jurang" lanjut Dewi Mayang berkata

" Baik guru! aku akan berlatih dengan keras" sahut Anggun dengan dendam membara, baru saja ia bertemu dengan Raka dan menyusun rencana untuk membalas dendam pada Hantu berkabut, kini malah mendengar Raka terperosok ke dalam Jurang Neraka sebelum mereka berhasil membalaskan dendam pada Hantu Berkabut.

Semenjak Hari itu, Anggun berlatih bagai tak ingat waktu, ia hanya berhenti saat makan, waktu tidurnya pun dia isi dengan semedi meningkatkan tenaga dalamnya.

Di puncak Gunung Kunyit. Tiga iblis begitu sampai langsung beristirahat dan mengobati luka luka mereka

" Kakang, mengapa aku merasa khawatir jika anak itu selamat " Sunar berkata sambil memegangi pundaknya yang baru di obati dan di balut.

" Pemikiran dari mana itu, apa kau pikir setelah terjatuh dari ketinggian seperti itu masih bisa selamat!" Badra menjawab dengan sedikit keras

" memang tapi entah mengapa aku merasa was was saja jika belum melihat mayatnya" sahut Sunar.

" Sudah sudah, kita sembuhkan dulu luka luka kita nanti kita akan cari anak itu!" Ludira yang sedari tadi diam ikut berbicara.

Badra dan yang lainnya masuk ke dalam kamar mereka masing masing guna menyembuhkan luka mereka.

stelah sembuh mereka kembali mendatangi Bibir Jurang neraka, namun setelah melihat kedalaman jurang mereka yakin Raka tak akan selamat karena sangat curam dan dalam dasarnya juga tak terlihat

" Ha ha ha sudah ku bilang dia tak akan selamat jatuh dari jurang ini!" seru Badra tertawa senang

" Ha ha ha, ayo kita rayakan dengan minum tuak!" Ludira juga tertawa dengan gembira hanya Sunar yang masih mengernyitkan dahi seperti berpikir keras

" Tetapi aku masih was was saja, kita minum di Puncak Gunung Kunyit saja " lanjut Sunar berkata

" He di kotaraja saja aku sudah lama tidak kesana , kita bisa bersenang senang dengan wanita cantik di sana" Ludira yang memang suka bermain wanita mengusulkan ke kotaraja

" Baiklah kita ke kotaraja saja" sahut Badra. ketiganya dengan cepat melesat ke arah kota raja, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, mereka baru berjalan seperti biasa saat dekat dengan gerbang ibukota

Badra berjalan paling depan dengan tangan bersedekap, sementara Ludira dengan senyum mesumnya terus memperhatikan setiap wanita cantik yang lewat

"Sudah kukatakan, tempat ini jauh lebih baik daripada puncak gunung yang dingin itu," celetuk Ludira sambil menunjuk sebuah kedai besar berlantai dua yang sangat mewah bernama Kedai Candra Kirana.

Kedai itu terkenal sebagai tempat berkumpulnya para pendekar kelas atas, pejabat korup, hingga pedagang kaya yang mencari hiburan malam. Suara musik kecapi dan gelak tawa wanita penghibur terdengar hingga ke jalanan.

"Ayo, hari ini aku yang menjamu kalian! Kita rayakan mampusnya bocah sombong itu dengan arak kualitas terbaik!" Badra berseru sombong.

Di dalam kedai, Tiga Iblis Gunung Kunyit duduk di meja paling besar di sudut ruangan. Botol-botol arak kosong mulai menumpuk. Ludira sudah merangkul dua wanita cantik di sisi kiri dan kanannya, sementara Sunar menenggak araknya dengan rakus, seolah ingin menghapus bayangan kegagalan mereka melumpuhkan Raka secara bersih.

"Glek... glek... ah!" Sunar menghapus sisa arak di dagunya. "Tapi Kakang Badra, jika diingat-ingat kembali, jurus pedang bocah itu benar-benar menggiriskan. Siapa sebenarnya Jaya yang kau sebutkan tadi? Mengapa ilmunya bisa sehebat itu?"

Badra yang sudah sedikit mabuk, matanya memerah, meletakkan cawannya dengan keras. "Jaya... dia adalah kakek tua bangka yang dulu pernah mengalahkah ku . Dia memiliki Jurus Pedang Kilat yang melegenda. Aku tidak menyangka bocah itu adalah muridnya. Tapi, sehebat apa pun gurunya, jika muridnya sudah jadi santapan ulat di dasar Jurang Neraka, apa gunanya?"

"Ha ha ha! Benar! Murid Pedang Kilat kini terkubur dalam jurang!" Ludira menimpali sambil tertawa terbahak-bahak.

Namun, di tengah keriuhan itu, telinga Badra yang tajam menangkap bisik-bisik dari meja di belakang mereka. Di sana duduk empat orang pendekar berpakaian serba cokelat yang tampak sedang membicarakan sesuatu yang sangat rahasia.

"Kudengar, Pusaka yang berada di gunung Api akan keluar" bisik salah satu pendekar itu. "Gunung Api itu sudah mulai bergetar sejak tiga hari lalu."

"Benar. Pusaka Sisik Naga Emas yang melegenda itu... konon tersimpan di dasar Kolam Naga. Siapa pun yang mendapatkannya, tenaga dalamnya akan meningkat seratus tahun secara instan!" sahut rekannya yang lain.

Badra seketika terdiam. Ia memberi isyarat pada Sunar dan Ludira untuk berhenti berisik.

"Gunung Api... Kolam Naga?" gumam Sunar lirih. "Bukankah gunung di sebelah tenggaa Gunung Kunyit?"

Badra mendengarkan lebih saksama. Salah satu pendekar di meja belakang kembali berucap, "Tapi masalahnya bukan hanya panasnya air kolam itu. Konon, pusaka itu hanya muncul saat bulan merah tiba, dan saat itulah naga penjaga kolam tersebut akan melemah. Banyak pendekar dari aliran hitam dan putih sudah mulai bergerak menuju lereng Gunung Api."

Ludira melepaskan rangkulan wanitanya, wajahnya kini berubah serius. "Kakang, jika kabar ini benar, Pusaka Sisik Naga Emas itu adalah kunci bagi kita untuk menguasai dunia persilatan. Kita tidak perlu lagi tunduk pada siapapun, dan akan menjadi Raja di rimba persilatan" Ucapnya bersemangat

"Jika kita mendapatkan pusaka itu, Kita bisa membalas pada para pendekar yang telah menjatuhkan kita dulu" ucap Badra dengan nada rendah yang mengancam. "Kita tidak boleh keduluan oleh pendekar lain. Besok fajar, kita berangkat menuju Gunung Api!"

" Kakang baiknya kita berhati hati, semua pendekar pasti akan berebut demi pusaka itu" Sunar berkata mengingatkan

" Ya , kita kesana dan lihat keadaan terlebih dahulu, jika kekuatan yang memperebutkan itu sangat banyak kita bergerak belakangan" sahut Badra

" Maksudnya kakang?" tanya Ludira yang tak mengerti

" jika pusaka itu keluar, semua pasti berebut, kita bersembunyi saja saat mereka sudah lelah baru kita akan mengambil pusaka itu" jawab Badra

" Ha ha ha, kakang rencanamu pintar sekali, aku setuju" sahut Sunar senang

" KIta berangkat sekarang saja , agar bisa mencari tempat bersembunyi di sana" sahut Ludira

" ayo" jawab Badra dan Sunar berbarengan. ketiganya buru buru mengahabiskan arak mereka , lalu pergi ke Gunung Api

1
Was pray
baru aja muncul si raka tokan sama saka repe udah tenggelam.... 🤣🤣
angin kelana
untuk kesaktian ajian,jurus,pusaka agar di berinama agar menjiwai novel silat indonesia.
angin kelana
lanjuuuutt
angin kelana
awal yg menarik lanjuuuuttt..
Redy Ryan Little
Bagus
Hendra Yana
ditunggu up selanjutnya
Was pray
kasihan di Raka, isoh ngambang Ra isoh nyuling, isoh nyawang Ra lisoh nyanding.. sengsara membawa luka
Hendra Yana
lanjut
Hendra Yana
semangat
Dewi kunti
smg tidak terpecah belah
Was pray
wah saka dikasih hati minta jantung, Raka nasibnya gak pernah mujur, ibarat berakit-raki ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu sengsara kemudian, 😄😄
Blue Angel: ha ha ha
total 1 replies
Hendra Yana
di tunggu up selanjutnya
Blue Angel
kembali ke jaman dulu
Blue Angel: inbok aja
total 2 replies
Dewi kunti
hadeeeeehhh tegang bacanya
Batsa Pamungkas Surya
👍🙏lanjutkan💪
Dewi kunti
kayak kurang tepat ya kalimatnya "berguru di pada Ki geni"
Blue Angel: ha ha ha, untung sunar nya udah di bikin koit yah
total 6 replies
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mantaaaap
Hendra Yana
up lagi dong
anggita
ikut dukung like👍 iklan👆👆, untuk novel laga lokal. moga lancar novelnya.
Blue Angel: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!