Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 memperbaiki atap rumah
" terimakasih pak Masrul , saya pasti akan membantu anda menjaga dagangan agar laris dan sukses " mata Yasir berbinar, ia segera memberikan koin sen kepada pria yang tampak berusia tiga puluh lima tahunan .
" oke oke terimakasih... " Pria paruh baya itu tertawa senang dan membungkus kain yang telah di beli oleh Yasir .
Setelah urusan selesai, Yasir berencana untuk kembali pulang, ia masih harus memikirkan tentang keadaan kondisi rumah yang masih belum layak untuk menjadi tempat tinggal.
Karena barang yang di belinya cukup banyak , ia meminta tali dan juga bambu dari ketua pasar ,guna untuk membawa barang yang sudah dia beli .
Ia akan memikulnya dengan mudah dan juga itu merupakan hal praktis bagi dirinya yang memiliki badan kekar dan tangguh .
Walaupun di kehidupan sebelumnya, ia terkenal dengan perbuatan buruknya , tapi fisik dan staminanya tidak kalah dengan para tentara di kota .
" tari kamu bawa ini " Yasir menyerahkan sebungkus makanan, " ayo kita segera kembali , takutnya umi dan halimah menunggu kita makan siang " ucapnya dengan nafas teratur.
" iya mas ..!"
Kedua pasangan muda itu berjalan menuju ke arah timur , cuaca di siang hari terlihat begitu mendung , matahari tidak mau memperlihatkan keajaibannya ke bumi .
Karena musim sawah sedang berlangsung, di jalanan tampak sepi , hanya ada beberapa anak kecil yang membawa sabit atau tali.
Yasir tidak bisa tidak mengagumi kegigihan anak anak zaman dahulu, ia teringat dengan anak zaman tahun 2020 an ,yang di mana sangat malas dengan ponsel di tangan, terlebih lagi musim covid 19 dari china datang menyebar ke seluruh dunia, dan Indonesia menjadi negara yang memiliki kasus yang sangat banyak.
" mas apakah ini tidak boros , " lestari bertanya pelan ke arah pemuda yang sedang memikul barang di pundak .
" tidak , semua ini untuk kita semua gunakan , kamu dan Halimah harus banyak makan ,agar sehat dan kuat untuk bekerja " ucapnya tersenyum tipis.
" ya ,tapi kami sudah terbiasa, biasanya makan satu kali satu hari , dan sekarang makan setiap hari , aku merasa tidak enak mas .." katanya menunduk .
" tidak apa apa , santai saja , mungkin 10 tahun lagi keadaan lebih parah dari tahun ini ,kita sekarang ada di zaman normal , tidak ada kasus kelaparan masal dan juga cukup baik juga pemerintah negara memberi kita kehidupan " ucapnya menoleh ke arah sawah sawah yang penuh dengan orang bekerja keras.
" umhh ..!"
Yasir hanya bisa menghela nafas pelan, ia harus memberikan pengetahuan tentang membaca dan menulis kepada kedua istrinya, karena sebagai seorang pria satu satunya ia merasa berkewajiban melakukan hal tersebut .
Sampai di rumah , hujan secara tiba tiba datang dan mulai membasahi halaman rumah yang penuh dengan rumput rumput segar.
Pemuda itu segera memasukan barang belanjaannya, ia meletakkannya di dalam kamar, karena hanya kamar tempat yang paling aman dan kering .
Ia melihat bahwa antara jarak kamar dan dapur hanya beberapa meter saja , pemuda berkulit coklat itu hanya bisa menahan air mata kesedihan.
" aku akan membangun tambahan ruangan dan juga memperbaiki atap " gumamnya menatap ke arah daun rumbia yang menjadi atap bagi rumah sederhana yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.
" mas , aku akan panggil umi dan Halimah untuk kembali pulang " Lestari tidak tahu apa yang harus dilakukannya, ia berinsiatif meminta izin .
" memangnya umi bekerja apa ?"
" umi membersihkan halaman ladang pak Wahid , satu hari bisa dapat tepung satu wadah , "
" baiklah, hati hati di jalan " Matanya menatap ke atas, di mana langit mulai terlihat dan hujan sudah reda.
" aku akan mencari daun aren ..." gumamnya.
Dengan cepat ia berjalan menuju ke arah pohon aren yang ada di belakang kediaman , ia merasa heran dengan pohon aren yang cukup besar dan banyak buah yang sudah matang berjatuhan .
Tiba tiba senyum di wajah Yasir terpancar jelas, matanya berbinar " hehehehe cuan lagi , aku bisa menggunakan aren ini untuk menghasilkan gula merah dan bisa menjual dengan harga lumayan di pasar " ucapnya tersenyum tipis..
Dengan keahlian panjat pinang yang mahir , ia dalam waktu singkat sampai ke pucuk pohon aren dan mulai memotong satu demi satu dahan aren.
Setelah di rasa cukup , ia segera turun dan membawa pelepah aren ke halaman rumah , lalu mulai memisahkan antara daun dengan batangnya , setelah itu ia menganyam pelan dan rapi daun aren yang sudah dipisahkan itu .
" mas sedang membuat apa ?" Dari samping kanan ,gadis muda berusia lima belas tahunan datang dengan air hangat , lalu memberikannya kepada Yasir yang sedang menganyam daun nipah.
" ini atap rumah, sudah banyak yang lapuk ,bila tidak di tambal , hujan datang dan menyeruak masuk ,"
" mas bisa membuat atap, itu bagus , " mata gadis muda itu berbinar dan terus menatap ke arah atap yang sudah jadi , dan matanya terus fokus ke arah pekerjaan yang sedang dilakukan oleh pemuda yang menjadi suaminya itu .
" ya , ini sangat sederhana , andai saja ada genteng ,lebih aman ...tapi karena pondasinya hanya bambu ,takutnya nanti malah ambruk ,jadi untuk sementara pakai daun aren saja " kata Yasir terus menganyam.
Proses menganyam membutuhkan waktu dua jam dan hari sore sudah tiba , dengan datangnya wanita paruh baya dengan seorang gadis muda yang sedang menuntunnya.
" nak Yasir , kamu sedang membuat apa ?"
" umi , aku membuat atap , lihat di sana banyak yang bocor dan rapuh dan tidak kuat untuk menahan air hujan yang terus menerus berdatangan " katanya tersenyum. " umi apakah sudah makan ?" Tanyanya .
" tadi di ladang pak Wahid , ohhh iya nak , tadi saat di jalan bertemu dengan ketua kampung , beliau memberikan ini " di tangan keriputnya selembar kertas kuning terlipat rapi.
Yasir membacanya, matanya menyipit tajam .
" keterlaluan, mereka seenaknya menguasai ladang almarhum kedua orangtuaku "
" umi kalau lelah bisa mandi dan makan sore, aku masih belum selesai ini " ucapnya tersenyum.
" iya nak , jangan di buat lelah nak !" Ada nada khawatir saat melihat ekspresi pemuda di depannya yang berubah serius dan muram.
" tenang saja .. ada tari yang membantu .." ucap Yasir tenang...
Karena hanya menganyam daun aren, pekerjaannya selesai tepat saat matahari mulai meninggalkan dunia dengan tenggelam di ufuk barat.
" fuihh sangat melelahkan, tari kamu mandi dulu , nanti giliran aku ,"
" iya mas .. !"
Dengan wajah memerah , gadis muda itu patuh ,lalu masuk ke kamar mandi yang ada di bawah rumah, tepatnya di antara aliran air menuju sungai kecil di bawah.
Mata pemuda itu terlihat melirik ke bawah, matanya yang sedikit nakal melihat ke arah gadis muda yang tampak sedang membersihkan diri .
" tidak ada sabun, tidak ada peralatan untuk sikat gigi , apakah aku harus ke kota kecamatan " gumamnya.
" juga aku harus memperbaiki tempat mandi itu , banyak lubang, tidak baik bila ada orang lain yang melihat wanitaku mandi dalam keadaan dinding bolong " gumamnya mengalihkan pandangannya ke arah hutan lebat di timur.
" dasar preman kampung tidak tahu diri , besok siang aku akan memberikan perhitungan dengan mereka semua "