NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: alviona27

Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia

Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Ulang tahun Lala

“Saya sumpah bosen ngeliat kamu setiap hari kesini,” ujar Kakek jengah saat melihat Langit lagi-lagi sudah berada di hadapannya dan mencium punggung tangannya.

Langit hanya terkekeh, lama-lama dia terbiasa mendengar celotehan serta gerutuan Kakek Adista.

“Ah Kakek bisa aja, kalo memang rindu bilang aja Kek, gak usah ditahan. Berat,” ucapnya.

“Emang kalian mau kemana?” tanya Kakek saat Adista sudah keluar dari rumah dan melihat Kakek sudah menceramahi Langit.

“Biasa Kek, mau beli album Oppa,” ujar Adista sambil terkekeh.

Langit hanya tersenyum simpul, setelah berpamitan dengan Kakek dan sekali lagi disemprot ucapan pedas Kakek Adista, Langit hanya bisa mengangguk dan tersenyum mengiyakan ucapan dan ceramahan Kakek Adista.

“Kita ke mall aja ya, sekalian mau lihat-lihat,” ucap Adista, Langit hanya mengangguk.

Hanya untuk hari ini, Langit membebaskan Adista untuk membicarakan Oppa sepuasnya dan membeli barang tentang Oppanya semaunya. Alasannya simpel, Langit hanya mau melihat Adista tertawa dan tersenyum lebar.

“By, kapan-kapan mau ke taman bermain gak?” tanya Langit sambil menggenggam tangan Adista berjalan di menuju pintu masuk mall.

Adista tersenyum. “Tentu.”

Langit tersenyum lebar, menautkan tangannya, Langit mengacak pelan rambut Adista yang dijawab gerutuan Adista

yang mengatakan kalau Langit harus menghentikan kebiasannya ini.

Adista dan Langit berjalan sambil berpegangan tangan, melewati semua barang-barang yang Adista inginkan. Dia

sudah menabung, dan sekarang tujuannya adalah membeli album Oppanya dan tidak membeli yang lainnya.

“By, kenapa sih kamu mau beli ini?” tanya Langit sambil menjunjung album SHINee yang sudah dia beli barusan. “Harganya gak murah lagi.”

“Lang ... Oppa itu berusaha buat nyenengin fansnya, dia nyanyi, ngedance. Apa gak capek? Mereka bahkan

sampe gak tidur, datang ke negara-negara untuk menemui fansnya, dan semuanya butuh usaha, dan usaha fans adalah membeli album mereka, memberi mereka dukungan agar mereka tetap bisa berindustri di dunia musik.”

Langit diam, seberapa jelas pun Adista menjelaskan Langit tidak akan mengerti perasaan itu, yang dia mengerti hanyalah perasaan Vivin, Lala, Adista, dan Libert.

“Kamu gak lupa kan besok ulang tahun Lala?” tanya Adista, Langit menggaruk tengkuknya dan menyengir. “So pasti, Abang yang gak sayang Adeknya,” cibir Adista.

“Bukan gitu Dis, aku lupa. Untung kamu ingetin, beli kado apa untuk Lala?”

“Lala cewek, tapi gak suka barang cewek,” gumam Adista. “Dia sukanya boneka mirip Oppa kali.”

“Emang ada Dis? Jangan aneh-aneh deh.”

“Aku serius, Lang,” ucap Adista. “Cari aja boneka yang ada di drama-drama Korea , dia juga suka kok.”

Langit mengangguk dan menggenggam tangan Adista, membawanya untuk mencari boneka yang memang dimaksudkan Adista itu, kalau memang benar-benar ada.

Adista dan Langit melihat-lihat boneka yang ada disana, yang kebanyakan berisi bonek beruang besar dan sejenisnya mungkin.

“Dis kamu suka ini?” tanya Langit sambil menunjukkan boneka beruang besar dengan banyak bulu. Adista mundur beberapa langkah menggaruk hidungnya yang mulai gatal kemudian dia bersin. Langit langsung menaruh boneka itu di tempatnya dan menghampiri Adista.

“Sorry By, aku lupa kalo kamu alergi bulu boneka,” ucap Langit khawatir, Adista menggeleng.

“Enggak, itu boneka yang mirip di drama Korea, kamu beli itu aja,” ujar Adista sambil menunjuk boneka yang berada di drama Korea Goblin.

Langit mengangguk dan mengambil boneka itu sesudah menyuruh Adista untuk menunggunya di luar saja.

“Adis,” panggil Langit sambil menyuapkan makanannya.

“Kenapa?”

“Aku mau cerita,” ujar Langit, Adista menaruh sendok dan garpunya di atas piring, mengelap bibirnya dengan tisu dan menatap Langit.

“Cerita apa?” tanya Adista yang sudah siap mendengarkan cerita Langit.

Langit sudah membuat keputusan kalau dia akan bercerita tentang Regan kepada Adista, hanya garis besarnya dan tidak seluruhnya, Langit belum bisa menceritakan hal yang lalu secara detail kepada Adista. Bukan hari ini

saatnya, nanti. Dia akan cerita.

“Soal Regan kemarin, aku rasa aku harus cerita sama kamu,” ucap Langit, Adista mengangguk. “Kita dulu temenan, aku udah kenal dia dari SMP dan saat SMA kita pisah, tapi kita sering datang ke basecamp. Dan satu hal terjadi, membuat Regan gak suka sama aku dan aku harus menjauh dari dia.”

Adista mengernyit. “Satu hal yang kamu maksud?”

Langit terdiam, enggan untuk memberikan jawabannya kepada Adista.

Adista tersenyum. “Kalo kamu belum bisa cerita yang lain, gak apa-apa. Aku masih bisa tunggu, setidaknya kamu udah cerita garis besarnya aja.”

Langit membalas senyuman Adista, merasa bersyukur cewek yang ada di hadapannya ini adalah pacarnya, tidak mungkin Langit bisa melepaskan cewek sebaik dan sesebar pacarnya. Langit tidak mau dan tidak mungkin terjadi.

* * *

Adista dan Vivin sudah menyiapkan kue ulang tahun spesial untuk Lala, serta Langit dan Alfian sudah mendekor kamar Lala untuk dijadikan tempat surprise untuk Lala karena saat ini Lala sedang berada di rumah temannya.

Temannya juga sudah diberi tahu oleh Vivin secara diam-diam agar Lala jangan pulang sebelum Vivin memberikan kabar kepada mereka.

“Semuanya sudah siap, kan?” tanya Vivin kepada Langit yang dijawab anggukan. “Kuenya nanti aja saat Lala masuk ke kamarnya atau kita di kamarnya, Dis?”

“Menurut Adis sih Tan, lebih baik kita di kamarnya aja.”

Vivin mengangguk dan kemudian melenggang masuk ke dapur untuk mengambil kue. Vivin sudah kembali dengan kuenya, dan tiba-tiba saja wanita paruh baya itu berteriak histeris karena Lala sudah berada di jalan menuju ke rumah.

“Bun, biasa aja. Rumah Tata ke sini agak jauh,” ujar Langit.

“Iya sih, kan Bunda gugup aja gitu,” ucap Vivin sambil terkekeh. “Kita masuk ke kamar Lala yuk Yah,” ajaknya sambil menggandeng tangan Alfian.

Adista terdiam menatap Vivin dan Alfian sudah berjalan masuk ke dalam kamar Lala sambil bergandengan tangan. Adista mana pernah melihat kedua orang tuanya seperti itu, tidak pernah sekalipun Adista melihat orang tuanya yang bermesra-mesraan yang Adista harapkan.

Apalagi dibuat surprise seperti ini! Mana pernah Adista mendapatkan surprise kalau bukan dari Kakek dan Mamanya, yang Adista mau yaitu Papa dan Mamanya meskipun Kakeknya juga penting dalam hidupnya.

Langit memperhatikan Adista sambil memegang kameranya, membidik Adista yang tengah menatap kedua orang tuanya, Langit tidak tahu harus dengan cara apa agar Adista bisa berbaikan dengan Papanya, bahkan cewek itu belum menceritakan masalahnya kepada Langit, jadi Langit ragu dan takut Adista menjadi marah kepada Langit karena telah mencampuri urusan keluarganya.

Langit tahu, meskipun mereka pacaran. Mereka bisa menjaga aib keluarga masing-masing tanpa perlu menceritakannya kepada pasangannya, setiap orang juga butuh privasi sekalipun mereka adalah sepasang kekasih.

“Dis, lihat sini deh,” ucap Langit. Adista menoleh dan Langit langsung memotret Adista.

“Langit, pasti muka aku aneh,” ucap Adista yang hendak mengambil kamera dari tangan Langit. “Siniin Lang, mau lihat. Muka aku gimana.”

“Cantik kok Dis, percaya deh sama aku.”

Adista mengerucutkan bibirnya merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja Langit ucapkan.

“Adis, Langit. Buruan kesini, Lala sebentar lagi sampe!” teriak Vivin membuat Langit dan Adista berlari kecil

menuju kamar Lala.

“Gila, bener-bener tuh cowok, untung gue masih sabar, kalo enggak udah gue habisin beneran. Bikin sensi aja, untung muka mirip-mirip Oppa,” gerutu Lala terdengar dari kamarnya, Adista menggeleng mendengarkan celotehan cewek itu.

Sumpah, Adista tidak tahu dari mana berasal mulut pedas yang selalu berkoar-koar itu. Adista bahkan tidak habis

pikir, Lala tidak mengenal cewek atau cowok, kalau sudah membuatnya kesal ... sudah, habislah dia.

“Lala ngomongin orang mulu,” ucap Adista sambil berbisik.

“Seberapa kali aku ngomong sama Lala, dia gak bakal dengerin aku kalo bukan Ayah yang ngomong.”

Adista lagi-lagi terdiam, Ayah, Papa. Adista ingin seperti itu. Katakanlah dia aneh, tapi dia memang ingin di marahin

oleh Evan dalam segala bentuk apapun. Adista ingin merasakan yang namanya kena marah oleh Papanya.

Langit menelan ludahnya, dia lagi-lagi berbicara yang membuat Adista terdiam. Salah memang Langit mengusulkan akan membantu Papa Adista, lihat sekarang belum mulai membantu saja Langit sudah membuat Adista terdiam.

“Orang rumah pada kemana? Sepi amat,” cibir Lala.

“Sebentar lagi,” bisik Vivin. “Satu, dua, tiga ... SURPRISE!!”

“SURPSRISE!!”

Lala terdiam di depan pintu kamarnya melihat seisi kamarnya dan semua orang yang dia sayangi berada di hadapannya. Lala dengan mulut pedasnya telah berhenti dan digantikan dengan isakan tangis bahagia dari bibirnya.

Adista hanya tersenyum dan meringis pelan saat Lala memeluknya dan menangis di dalam pelukan Adista. Selama ini, Adista belum pernah dipeluk segitu eratnya sama orang lain.

“Ayo dong, buruan,” seru Langit kepada teman bermainnya yang sedang bermain PS. Adista duduk di atas sofa memotong kue ulang tahun Lala yang berada di piring menjadi kecil-kecil untuk disuapkan ke mulut Langit.

“Udah deh mainnya, kalo mau makan-makan dulu,” ujar Adista, Langit mengabaikan.

Cowok yang ada di sebelah Langit hanya bisa mangut-mangut melihat Adista dan Langit, cowok itu yang katanya teman Lala datang setelah Lala selesai nangis.

“Iya Bang. Udahan aja, gue mau ngobrol sama Lala sebentar,” kata cowok bernama Genta yang sering Lala cibir dan dikatakan mirip Oppa.

Astaga ... Adista tidak habis pikir, darimana wajah Genta dikatakan mirip dengan Oppa. Jelas saja dengan kulit

sedikit gelap dan manis. Tunggu ... sedikit gelap dan manis. Mingyu?

“Bilang aja lo takut kalah dari gue, iya kan?” tanya Langit menantang, Genta menggeleng. “Alah, darimananya sih Adek gue bisa suka sama lo?”

Genta yang medengar ucapan Langit hanya terdiam menatap Langit tidak lama setelah itu dia melirik Adista yang tidak hentinya menatap Genta.

“Kenapa ya Kak?” tanya Genta bingung melihat Adista yang tidak lepas dari wajah Genta.

Langit hanya mendesah kesal saat mata Adista sudah berbinar dengan penuh fangirling disana, tidak lama lagi dia akan menyerocos tentang Oppa yang dia kenal kepada Genta.

“Mingyu, kan?” Adista bertanya dengan binar matanya, Genta menatap Adista dengan bingung. “Kamu Mingyu, kan?” tanya Adista sekali lagi.

Genta menatap aneh Adista, melirik ke arah Langit dan Langit menyuruhnya mengangguk saja. Alhasil, Genta mengangguk membuat Adista tersenyum lebar.

“Wah ... boleh minta nomornya gak?” tanya Adista.

Langit melotot, apa-apaan. Melihat Genta dengan lama saja Langit sudah menahan marah dan cemburunya, apalagi meminta nomor Genta di depan Langit pula. Langit rasa, saat ini Adista tidak merasa kalau Langit berada di samping Adista dengan tatapan horornya.

Genta tersenyum kikuk. “Maksud Kakak nomor handphone aku?”

Adista mengangguk, Genta menoleh ke arah Langit dan Langit memberikan kode untuk menggeleng.

“Enggak bisa Kak, nomor aku udah banyak yang punya,” ucap Genta.

“Yah ...,” desah Adista sedih. “Lala sini deh!” ucap Adista memanggil Adista untuk mendekat.

“Kenapa Kak?”

“Ini si Mingyu, gak mau ngasih nomor handphone,” ujar Adista. Lala hanya terdiam menatap keduanya dengan tatapan canggung. Melihat Langit yang tengah kesal karena Adista dan melihat Genta yang tengah bingung dengan apa yang terjadi.

“Ini Genta Kak, bukan Mingyu.”

“Tapi kan lo bilang, dia mirip Oppa. Gue pengen foto-foto sama dia,” ucap Adista. Lala hanya menggaruk tengkuknya dan mendekati Adista untuk membisikkan sesuatu.

“Masalahnya, dia itu gebetan Lala dan Bang Langit lagi mau marah besar,” bisik Lala membuat Adista terdiam. Dia bahkan sampai lupa kalau ada Langit berada di samping Adista.

Adista menoleh dan mendapati Langit yang menatap Adista dengan tatapan kesal dan marahnya. Adista terkekeh canggung, medekat ke arah Langit dan mencubit pipi Langit.

“Jangan marah ya,” ucap Adista masih mencubit pipi Langit mencoba membuat cowok itu tidak marah.

Bagaimana bisa Langit marah kalau Adista menggodanya seperti ini!

Langit diam menatap datar Adista mencoba untuk tidak termakan godaan Adista yang menyuruhnya untuk tidak marah.

“Alaric ...,” panggil Adista dengan nada dimanja-manjakan, Langit terdiam dan menepuk pelan kepala Adista membuat Adista tersenyum lebar.

“Lala ....”

Lala yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh melihat cewek yang berdiri dengan kado di tangannya serta senyuman yang lebar dari bibirnya.

“Gila! Bisa-bisanya si ungu datang ke sini,” cibir Lala dan berjalan menghampiri cewek yang dipanggil si ungu oleh

Lala.

Adista menatap Langit yang diam, kemudian matanya beralih kepada cewek berambut ungu yang juga memperhatikan Langit.

“Langit,” panggilnya membuat Langit mendongak dan tersenyum. “Gue datang cuman buat ngasih kado dan ngucapin Lala ulang tahun.”

Langit berdiri dan menarik tangan Adista untuk ikut juga berdiri. “Gak apa-apa. Kenalin, cewek gue Adista. Dis, ini temen aku, Geandra.”

Adista tersenyum kaku dan menyodorkan tangannya. “Adista.”

Geandra hanya diam tapi setelah itu dia tersenyum. “Geandra.”

“Gak mau makan dulu Kak?” tanya Lala. “Udah ketemu sama Bunda belum?”

Geandra menggeleng. “Nanti aja deh, gue masih ada urusan. Gue pulang dulu ya La, Lang, Dis.”

“Iya Kak, hati-hati di jalan.”

Langit hanya tersenyum dan segera duduk di sofa bersandar di pundak Adista yang juga mengikutinya duduk di sofa.

“Kayaknya aku harus cerita lagi tentang Geandra sama kamu.”

TBC

1
CandycaneMissy
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
Alya_Kalyarha
semangat nulisnya kk, udah aku like ya
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Alfi Nurdiana
semangat kak 😊

Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!