Karena ingin dapat uang yang banyak tanpa ribet dengan keharusan punya keterampilan khusus, Asha akhirnya mau jadi tukang cuci pada sebuah keluarga kaya. Padahal dia punya ijazah SMA yang memungkinkan dia punya pekerjaan yang lebih baik dari sekedar tukang cuci.
Banyak kejadian yang terjadi selama dia menyembunyikan pekerjaan dari orangtuanya yang ada di kampung. Juga harus tetap cool saat ada teror menggemaskan dan nakal dari Arga, tuan muda di rumah majikan yang sedang patah hati karena tunangannya berselingkuh. Apalagi teror ciuman sesaat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paris yang emosional
"Tidak perlu seperti itu. Dia hanya melaksanakan perintahku," tegur Arga ke Chelsea.
"Ya? Memangnya aku sedang melakukan apa..." kata Chelsea merasa tidak melakukan kesalahan.
"Bekal itu bukan punya Asha. Dia hanya membawakannya. Bunda sengaja menyuruhnya membawakan untukku," jelas Arga yang membuat Chelsea lagi-lagi tertegun.
"Di sini jadi gerah, Kak. Bisa lebih di tambah suhu ac-nya? Panas. Bisa meledak nih." Paris mengipaskan tangannya di depan wajah dengan kuat. Entah dia lagi belajar menggunakan majas ironi atau memang merasa sedang kepanasan. Chelsea melirik ke Paris.
"Saya besarin Ac-nya ya?" tanya Asha menuruti kemauan anak majikannya yang ternyata hanya menyindir saja. Asha tahu itu. Makanya dia juga sengaja menanyakannya. Paris tersenyum sambil menggoyangkan kelima jarinya menolak bantuan Asha.
"Tiba-tiba saja menjadi dingin." Paris menjawab pertanyaan Asha. Lalu Asha diam lagi.
"Cepat makan, makananmu." kali ini Arga menegur Asha yang masih diam memandang Chelsea yang masih mencoba membuka tempat bekal itu. Maksudnya dia khawatir mungkin saja Chelsea tidak bisa membukanya, jadi dia akan melakukannya. Bukan tertegun atau sakit hati karena tugasnya diambil oleh Chelsea, tapi dia takut kalau tuan mudanya merengut karena tidak bisa segera makan dikarenakan Chelsea tidak bisa membuka tutup bekal itu. Sementara itu adalah tugasnya.
"Baik." Lalu Asha makan dengan perlahan. Sepertinya Chelsea sudah bisa membukanya dengan baik. Entah kenapa Asha merasa lega. Chelsea yang melakukan hal itu tapi Asha yang senang.
Acara makan lumayan sepi. Arga fokus ke makanan yang di buat bundanya. Chelsea makan sambil memperhatikan Arga. Paris juga tidak mengeluarkan sindiran-sindiran dari mulutnya. Mungkin karena dia sudah kenyang jadi lelah untuk melakukan hal semacam itu lagi. Sementara Asha sibuk memperhatikan kotak makannya yang terasa istimewa karena itu menu yang di pilih oleh tuannya.
"Aku ke kamar kecil dulu, Arga." ijin Chelsea yang sudah menyelesaikan makannya. Arga mengangguk. Bibir Paris mencebik. Ini sudah mulai lagi nih Paris. Gelagatnya sudah kelihatan.
"Memangnya bayi mau ke kamar kecil harus ijin, huh." Tuh benar kann... Asha melebarkan mata sambil melirik Paris yang terus saja mencemooh wanita itu. Padahal orangnya masih ada, dan Paris memang sengaja memancing.
"Aku hanya bersikap sopan. Ada yang salah dengan itu?" balas Chelsea yang sudah berdiri hendak keluar jadi terhenti karena mulut Paris.
"Tidak perlu mendengarkan perkataan Paris, Chelsea. Pergilah...," Arga melerai mereka. Chelsea pun pergi keluar setelah melirik tajam ke anak kecil itu.
"Paris, kendalikan mulutmu itu," hardik Arga yang tidak ingin adiknya terus menerus menggerutu soal Chelsea.
"Aku tidak suka Chelsea."
"Kalau begitu, segera pulang," paksa Arga.
"Enggak mau. Aku ingin di sini," kata Paris bebal dan menjengkelkan bagi Arga.
"Kalau begitu tolong diamkan mulutmu. Walau bagaimanapun Chelsea lebih tua dari kamu."
"Aku tidak peduli. Dia tetap menyebalkan," Paris sangat bersiteguh dengan pendiriannya.
"Jangan kekanak-kanakan Parisss.." Desis Arga merasa sangat geram. Perdebatan dua kakak adik ini lumayan bising jadi membuat Asha terabaikan. Namun itu jadi kebahagiaan tersendiri bagi Asha. Dia tidak harus terus dipindai oleh mata tuan muda itu.
"Aku bukan orang dewasa. Aku memang hanya masih anak-anak." Arga menggeram kesal sambil beranjak berdiri. Paris masih saja dengan sikapnya yang tidak peduli.
"Asha! cepat beri dia nasehat!" perintah Arga tiba-tiba yang membuat asha tersentak kaget.
"Hah, saya?" Mata Asha membulat tidak percaya. Dia tidak menduga akan dapat perintah memberi nasehat kepada nona muda yang tak lain adalah anak majikannya. Dan yang menyuruh adalah tuan muda yang juga majikannya.
Bagaimana bisa tuan itu menyuruhku menasehati Paris.
"Asha! Cepat lakukan!" perintah Arga lagi dengan berteriak. Aargghh! Asha berteriak dalam hati.
Kenapa sih dia seperti itu.
"Paris, kamu tidak boleh seperti itu kepada yang lebih tua...," kata Asha dengan nada bicara di buat sebijaksana mungkin dan di ucapkan pelan-pelan agar terdengar lebih meyakinkan.
"Begitu ya. Meskipun dia adalah orang yang menyebalkan?" tanya Paris memasang wajah polos. Heh? Ini anak sengaja memperpanjang acara penasehatan ini. Dia tahu Asha hanya mematuhi perintah kakaknya. Jadi Paris mendengarkan Asha dengan tenang. Malah sengaja mengatakan dengan gaya serampangan.
Asha mau menghentikan wejangan konyol ini. Namun mata Arga masih menatap tajam menyuruh Asha untuk melanjutkan perbincangan ini dengan dagunya. Grrrr...
Sebenarnya bukan isi wejangan yang konyol tapi karena pembicara itu adalah Asha yang seharusnya pantas diam karena dia adalah pelayan orang-orang ini. Oke, lanjut!
"Kita harus lebih sabar dalam berbicara dengan orang yang berkarakter seperti itu. Lebih baik jangan jadi seperti orang itu juga.." Bwehhh! Asha sendiri merasa merinding mendengar mulutnya bicara. Benar itu! Karena mungkinkah Asha juga bisa melakukannya.
"Walaupun dia sudah menyakiti salah satu keluarga kita?" tanya Paris di luar dugaan. Asha merasa menyebalkan harus terus saja melanjutkan percakapan ini. Sebal! Sebal!
"Namun kita juga jangan membalas menyakitinya..." jelas Asha geregetan. Paris sadar atau enggak sih diri Asha sedang dalam posisi tidak nyaman? Dia mengalah dikit kek!
"Walaupun dia selingkuh saat pesta pertunangan kakakku dengannya sebentar lagi?" Mata Asha membulat. Paris sudah ngelantur. Pertanyaan semakin merebak kemana-mana. Paris sudah tidak terkontrol.
"Pariss!" sergah Arga.
Asha mengkerjap-kerjapkan mata. Lalu geleng-geleng kepala merasa tidak mampu lagi meneruskan ini. Terserah.
"Maaf, Tuan," ujar Asha menyerah. Tuan muda mau marah juga terserah! Dia langsung diam sambil menghela nafas dan menunduk. Arga paham.
"Aku begini itu karena aku benci, orang yang sudah di cintai kakakku tiba-tiba saja mengkhianatinya. Aku begini bukan karena aku ingin. Aku juga malas kalau harus selalu membenci Chelsea. Memangnya dia siapa patut terus menggangguku!" Paris emosional. Dia ingin menunjukkan betapa sayangnya dia ke Arga.
"Kalau seandainya dia tahu diri dan mundur tanpa harus bersikap seolah dia masih jadi milikmu, aku paham. Aku juga akan tahu diri. Tidak mungkin aku bersikap kurang ajar seperti tadi. Tapi perempuan itu masih saja seperti nyonya besar." Arga menghela nafas dan mengusap wajahnya.
"Terima kasih kamu peduli pada kakakmu ini. Tapi soal Chelsea biar aku yang menuntaskan. Kamu tidak perlu ikut campur soal ini..."
"Karena kakak masih cinta sama dia?" Paris berhasil skak mat! Pertanyaannya di luar dugaan Arga. Netra lelaki berperawakan tinggi dengan wajah tirus dan hidung tidak mancung ataupun pesek itu membesar terkejut. Dia tidak menyangka Paris langsung menanyakan soal perasaan itu di sini. Saat ini.
Mata itu panik sambil mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Bukan, bola mata itu langsung menatap ke arah perempuan muda itu. Arga menatap cemas ke arah Asha. Bagaimana responnya dan berbagai perasaan semacam itu tiba-tiba saja menggelayutinya.
Sementara Asha merapalkan sesuatu karena tidak ingin mendengarkan perdebatan yang seharusnya tidak ada dia di sana. Dia tidak tahu Arga sedang menatapnya.
"Aku kembali," kata Chelsea yang masuk saat suasana sudah mereda. Untung saja Paris sudah mengatupkan rahangnya. Mata Chelsea melihat masing-masing raut muka mereka yang terasa aneh.
Cklek! Rendra juga muncul yang menambah ke anehan di dalam ruangan. Rendra tersentak kaget melihat Chelsea yang berdiri di depannya tapi lebih kaget lagi saat melihat Paris dan pelayannya di sofa. Karena dia mengira mereka sudah pulang.
"Saya kembali tuan," kata Rendra membungkukkan badan.
"Ya. Aku akan membereskan bekal makananku dan kita akan kembali bekerja. Chelsea maaf, aku minta kamu untuk pulang sekarang karena aku punya banyak pekerjaan." Chelsea mendesah kecewa tapi menuruti kemauan Arga. Kakinya menuju sofa untuk mengambil tas.
"Saya saja yang membereskan ini, nona" Asha berinisiatif saat Chelsea menatap kotak makanannya.
"Oh, baiklah. Terima kasih," Chelsea hendak mendekat ke Arga untuk berpamitan dan memeluknya tapi Arga segera memberi kode untuk tidak melakukannya.
"Baik. Aku pergi dulu, Arga." Chelsea mengucapkannya dengan lembut. Arga mengangguk.
"Rendra antar dia sampai depan,"
"Baik Tuan. Mari Nona." Chelsea melangkah pergi tanpa berpamitan dengan Paris karena anak itu sudah tidak melihatnya, dia sedang membuang muka ke arah lain dengan malas.
Kalau minum air putih 8 gelas sehari, itu sama saja kekurangan Cairan. Kalau misalnya nih, kita haus, terus jatah minum air putih sudah 8 gelelas, terus gimana? sementara kita haus nih 😁
Jadi lebih baik Minum Air putih sesuai kebutuhan tubuh saja kak, jika haus minum. Udah gitu Saja sih 😂😂😂
Sekarang, hanya boleh di Sebut "Kental Manis" saja. Tantapa embel-embel kata "Susu" di dalamnya. ini benar nih. 🙏🙏🙏😁