NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Bisikan Pengkhianat

​Gema pintu yang terbanting di Ruang Resonansi masih berdenging di telinga Aethela. Ia berdiri mematung di belakang Valerius, merasakan sisa-sisa kehangatan sihir mereka yang kini menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk dari kehadiran Raja Malakor. Ruangan yang baru saja menjadi saksi penyatuan jiwa yang indah itu, kini berubah menjadi ruang interogasi yang menyesakkan.

​Baru saja ia merasakan secercah harapan bahwa ia bukan sekadar alat, namun kenyataan pahit kembali menghantamnya. Ia melihat wajah para Tetua Dewan yang berkerut penuh kebencian—mata mereka tidak melihat seorang Putri, melainkan melihat ancaman penyusup yang telah mencuci otak Pangeran mereka.

​"Bawa Putri ini kembali ke Menaranya! Segel pintunya dengan sihir obsidian!" perintah Raja Malakor, suaranya tidak menerima bantahan.

​"Ayah, jangan!" Valerius melangkah maju, tangannya mengepal di samping tubuh. "Dia baru saja menstabilkan sihir jantung gunung melalui aku. Kau merasakannya, bukan? Getaran tanah ini menjadi lebih tenang!"

​"Yang kurasakan adalah putraku yang kehilangan akal sehatnya karena seorang wanita Solaria!" Raja Malakor mendekat, auranya yang masif menekan atmosfer ruangan. "Kau melakukan ritual penyatuan jiwa—ritual yang hanya boleh dilakukan dengan pasangan naga sejati. Kau telah menodai darahmu, Valerius."

​Dua pengawal bertubuh raksasa maju dan mencengkeram lengan Aethela.

Ia ingin melawan. Sihir bulannya bergejolak, ingin meledak keluar untuk melindungi dirinya dan Valerius. Namun, ia melihat tatapan Valerius—sebuah isyarat halus agar ia tetap tenang. Jika ia menyerang sekarang, itu hanya akan membuktikan tuduhan para tetua bahwa ia adalah penyihir jahat.

​"Jangan sentuh dia dengan kasar!" bentak Valerius pada para pengawal. Matanya yang emas berkilat merah sesaat, menunjukkan naga di dalamnya yang sedang murka.

​Aethela ditarik paksa keluar dari ruangan. Saat ia melewati Valerius, jari mereka bersentuhan sedetik saja. Sebuah bisikan tanpa suara merambat melalui sisa ikatan sihir mereka: Tunggu aku.

​Valerius berdiri di tengah Ruang Resonansi, dikelilingi oleh ayahnya dan para Tetua Dewan. Keheningan yang menyusul kepergian Aethela terasa lebih berat daripada beban gunung di atas mereka.

​Kemarahan yang dingin dan frustrasi yang mendalam. Ia tahu politik di Obsidiana sangat kejam, namun ia tidak menyangka ayahnya akan langsung menyerang saat bukti keberhasilan sudah ada di depan mata.

​"Apa yang kau inginkan, Ayah?" tanya Valerius, suaranya rendah dan tajam. "Aku melakukan tugas yang kau berikan. Aku membawa kedamaian. Aku meredam kegelapan yang hampir membunuhku."

​"Kau membawa musuh ke dalam tempat tidurmu, Valerius," sahut Tetua Krow, pria bermata satu yang paling vokal. "Kami menerima laporan. Putri itu menyelinap ke Perpustakaan Kristal malam tadi. Dia mencari catatan tentang kelemahan kita. Dia bukan alat penyembuh, dia adalah mata-mata yang dikirim untuk menghancurkan kita dari dalam."

​"Dia mencari kebenaran tentang perang seratus tahun lalu!" bela Valerius. "Dia tahu apa yang dilakukan bangsanya, dan dia memilih untuk membantuku membayar hutang itu!"

​"Atau begitulah yang dia inginkan agar kau percaya," Raja Malakor melangkah ke arah altar kristal yang kini redup. "Valerius, kau adalah pewaris takhta ini. Jika kau lebih memilih seorang wanita manusia daripada martabat rasmu, maka kau tidak layak memimpin pasukan kita."

Pernyataan itu adalah ancaman langsung pada hak warisnya. Di Obsidiana, tanpa takhta, ia tidak akan memiliki kekuatan untuk melindungi Aethela. Ia menyadari bahwa ia terjebak dalam jebakan catur yang rumit.

​Di Menara Barat, Aethela mondar-mandir seperti singa betina yang terperangkap. Pintu kamarnya kini dijaga oleh empat pengawal, dan segel sihir obsidian yang hitam mengilap melintang di bingkai pintu, memutus hubungannya dengan energi bulan di luar.

​Tiba-tiba, sebuah suara halus terdengar dari balik tirai tempat tidurnya.

​"Putri yang malang. Terjebak di sarang naga yang mulai kelaparan."

​Aethela berputar, tangannya bersiap mengeluarkan sihir. "Siapa di sana? Tunjukkan dirimu!"

​Seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang dan mata yang berkilat seperti batu safir muncul dari balik bayangan. Ia mengenakan gaun sutra gelap khas bangsawan Obsidiana.

​"Namaku Lady Seraphina," ucap wanita itu dengan senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku adalah tunangan yang seharusnya dipilih Valerius sebelum kau datang dan mengacaukan segalanya."

​Rasa cemburu yang singkat muncul, namun segera digantikan oleh kewaspadaan. Seraphina memancarkan aura yang berbeda—ia berbau seperti mawar yang membusuk dan sihir kuno yang berat.

​"Apa yang kau inginkan?" tanya Aethela dingin.

​"Aku datang untuk memberimu peringatan," Seraphina melangkah mendekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang berbisa. "Jangan percaya pada perlindungan Valerius. Saat ini, dia sedang bernegosiasi dengan Dewan. Mereka menawarkannya kesepakatan: biarkan kau dieksekusi sebagai pengkhianat, dan dia akan mendapatkan kekuatan penuh untuk memimpin perang melawan Solaria. Menurutmu, apa yang akan dipilih oleh seorang Pangeran Perang yang ambisius?"

Hatinya terasa seperti diremas. Meskipun ia baru saja merasakan kedekatan jiwa dengan Valerius, keraguan mulai menyelinap. Bukankah Valerius selalu menekankan bahwa dia adalah orang yang pragmatis? Bahwa dia tidak pernah gagal dalam tugasnya?

​"Kau berbohong," desis Aethela.

​"Benarkah?" Seraphina tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Lihatlah segel di pintumu. Itu bukan segel perlindungan. Itu adalah segel penguras sihir. Saat kau melemah, mereka akan membawamu ke alun-alun dan menunjukkan pada dunia bahwa sihir bulanmu adalah racun."

​Seraphina mendekat ke wajah Aethela. "Jika kau ingin hidup, larilah malam ini. Aku bisa membantumu keluar dari benteng ini. Kembalilah ke Solaria, Putri. Tempat ini akan memakanmu hidup-hidup."

​Kembali ke rumah, ke matahari, jauh dari tatapan emas yang membingungkan itu. Namun, ia teringat pada memori Valerius yang ia lihat—anak kecil yang kesepian itu. Ia teringat janji yang ia buat di perpustakaan.

​"Kenapa kau ingin membantuku?" tanya Aethela penuh curiga.

​"Karena aku ingin Valerius kembali," jawab Seraphina dengan nada posesif. "Dan kau... kau hanyalah gangguan yang tidak diinginkan."

​Setelah Seraphina menghilang kembali ke dalam bayangan, Aethela berdiri diam di tengah ruangan yang semakin dingin. Ia merasa sihirnya perlahan-lahan ditarik keluar oleh segel di pintu, membuatnya lemas.

​Pengkhianatan ada di mana-mana. Di Solaria, ksatria setianya mencoba membunuhnya. Di Obsidiana, calon suaminya mungkin sedang mempertaruhkan nyawanya demi takhta. Namun, di tengah keraguan itu, Aethela merasakan sesuatu di dalam dadanya—sebuah sisa resonansi dari ritual tadi. Ia tahu jiwa Valerius. Pria itu tidak mungkin mengkhianatinya secepat itu.

​"Aku tidak akan lari," bisik Aethela pada dirinya sendiri, meskipun tubuhnya semakin lemah. "Jika aku harus mati, aku akan mati sebagai pengantin naga, bukan sebagai pengecut yang melarikan diri."

​Tanpa ia ketahui, di koridor luar, Valerius sedang berdiri menatap segel obsidian itu dengan tangan berdarah karena mencoba menghancurkannya secara diam-diam. Perang di dalam benteng baru saja dimulai, dan musuh mereka bukan lagi hanya jarak dan waktu, melainkan bisikan-bisikan pengkhianatan yang bisa menghancurkan kepercayaan yang baru saja tumbuh.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!