"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Menunjukkan Kemampuan.
Di bawah teriknya mentari yang menyinari bumi, ketegangan tengah menyelimuti ruang kerja yang Tuan Marlan tempati. LR Corp, perusahaan yang sudah ia kelola sejak lama.
Tuan Marlan duduk di kursi kerjanya dengan pandangan terkunci pada sang istri yang tiba-tiba datang sebelum jam makan siang, mengajukan pertanyaan yang sukses membuat emosinya terpatik.
"Apa salahnya Papa mempercayakan urusan perusahaan pada Evan sekarang? Dia mampu," ucap Nyonya Melani.
"Evan belum mampu," jawab Tuan Marlan.
"Sampai kapan dia hanya menjadi bawahan ayahnya sendiri?" tanya Nyonya Melani tidak terima.
"Sampai dia siap," jawab Tuan Marlan.
"Apa maksud Papa mengatakan itu? Papa meragukan kemampuan putra Papa sendiri?" Nyonya Melani meninggikan suaranya.
"Aku lelah membahas ini, tidak bisakah kamu berhenti?" sergah Tuan Marlan mulai jengah.
"Berapa kali aku harus menjelaskannya padamu jika Evan belum siap mengurus perusahaan. Dia masih perlu banyak belajar, dia juga perlu belajar apa itu rasa tanggung jawab, itulah mengapa aku meminta dia untuk menikahi Rieta."
"Mereka sudah menikah sejak lama. Dua tahun, apakah itu masih kurang lama?" sanggah Nyonya Melani.
"Dan Evan masih belum menerima sepenuhnya pernikahan ini. Pernikahan mereka juga masih ditutupi, kuharap kau tidak lupa tentang itu," sahut Tuan Marlan.
"Kamu juga harus ingat, perusahaan kita tidak dalam keadaan baik-baik saja, sedikit saja salah langkah LR Corp akan bangkrut. Kita juga masih bergantung pada Arlan untuk membuat LR Corp tetap berdiri, jadi lebih baik kamu jangan banyak bertingkah."
"Tapi ..." Nyonya Melani kembali menyanggah, tetapi segera dipotong cepat oleh Tuan Marlan.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin mencelakai putraku sendiri, aku juga tidak ingin mengorbankan siapapun."
"Aku hanya berharap, setelah ini, setelah Evan pulih, dia bisa bekerja lebih baik." Tuan Marlan menambahkan.
.
.
.
"Apakah ini yang Rihana ajarkan padamu? Laporan apa yang kamu buat ini?"
Suara setengah membentak Arlan diikuti dengan menghempaskan laporan yang baru saja Rieta selesaikan cukup untuk membuat Rieta memejamkan mata dengan kepala tertunduk.
"Apakah kau tidak memikirkan apa konsekuensi dari laporanmu ini?" ucap Arlan lagi.
Kepala Rieta masih tertunduk guna mengatur napasnya sejenak, suara keras pertama yang ia dapatkan dari Arlan membuat ia terkejut. Memang benar ia bekerja belum genap sebulan, tetapi ia tahu apa yang ia lakukan, dan alasan itulah yang membuat dirinya tidak merasakan takut akan bentakan yang baru saja ia terima.
Setelah beberapa saat, Rieta mengangkat wajahnya, membuat tatapan keduanya bertemu. Baru kali ini Rieta rasakan sorot tajam itu, aura kepemimpinan yang begitu kuat terlihat begitu jelas.
"Maaf, Tuan. Saya akan perbaiki jika memang ada kesalahan ..." kalimat Rieta terpotong saat Arlan mengetuk meja dengan satu ketukan.
Tidak teralu keras, tetapi cukup untuk menghentikan Rieta melanjutkan kalimatnya.
"Jika ada kesalahan?" ulang Arlan dengan senyum sinis. "Jadi kamu masih merasa dirimu berada diposisi benar?"
"Beri saya sedikit waktu untuk menjelaskan, Tuan," jawab Rieta dengan kepala tegak.
"Saya akui, metode yang saya lakukan sedikit berbeda dengan yang Nona Rihana ajarkan," Rieta kembali berbicara setelah melihat Arlan menatapnya tanpa kata.
"Semua angka yang saya cantumkan sedikit berbeda, tapi memiliki hasil akhir yang sama. Anggaran biaya yang saya ajukan sudah termasuk biaya kontingensi dan biaya operasional. Saya sudah konsultasikan ini pada Nona Rihana, saya juga berkonsultasi pada Tuan Liam agar lebih meyakinkan pemikiran saya."
"Begitukah?" sambut Arlan dengan alis terangkat.
"Kalau begitu, buktikan jika aku salah. Atau ..." Arlan bangun dari duduknya, mengambil dokumen yang ia hempaskan ke meja, dan melangkah mendekati Rieta.
"Pemikiranmu itu benar." lanjutnya seraya meletakkan dokumen itu ke dada Rieta. "Waktumu sepuluh menit."
"Apa?!" Rieta membelalakan mata.
"Waktu sudah berjalan," ujar Arlan lagi sambil menunjuk jam tangannya.
Kedua tangan Rieta terkepal di sisi tubuhnya, menatap manik mata sang paman sejenak, lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan dengan setengah berlari.
Arlan terpaku di tempatnya berdiri, menyembunyikan senyum puas di bibirnya. Sebenarnya ia juga sudah paham tanpa dijelaskan. Ia hanya ingin membuat Rieta memahami bahwa dunia bisnis tidak selalu memiliki jalan mulus, ia juga ingin melihat bagaimana cara Rieta menyikapi sebuah masalah.
Sementara Rieta yang hanya mendapatkan waktu singkat berlari menuju lift, menekan tombol lantai dimana meja kerjanya berada dan menunggu pintu terbuka dengan gelisah sembari terus menatap jam tangannya.
Ting.
Suara pintu lift terbuka menggema, Rieta kembali berlari menuju meja kerjanya, membuka salah satu laci meja mengambil beberapa lembaran kertas, dan kembali berlari kembali ke ruangan Arlan dengan membawa lembaran kertas itu.
Tak lama kemudian, Rieta tiba di ruang kerja Arlan, mendapati pria itu tengah berdiri dengan posisi setengah bersandar pada meja kerja pria itu.
"Ini..." ucap Rieta sembari menyodorkan lembaran kertas yang ia bawa dengan napas terengah. "Ini file mentahnya.Tuan bisa memeriksa semua angka yang tercantum."
"Tepat waktu," Arlan berkomentar sambil menatap jam tangannya.
Arlan menerima lembaran kertas itu tanpa kata, menelisik tiap kata dan angka yang tertera, lalu tersenyum samar. Jujur, ia takjub dengan pemikiran Rieta yang berbeda. Metode yang Rieta gunakan lebih efisien dari yang biasa ia gunakan, cara Rieta menekan biaya anggaran proyek pun memberikan keuntungan dan meminimalkan kerugian, dan sosok seperti Rieta-lah yang ia cari.
"Bagus," ucap Arlan singkat, tetapi tidak menutupi senyum puas di wajahnya.
"Kamu menunjukkan kemampuanmu, aku mengakuinya." lanjutnya sembari memberikan tandatangan pada laporan yang Rieta berikan sebelumya. "Kamu bisa kembali bekerja. Terima kasih." sambil memberikan kembali laporan yang sudah ia tandatangani.
Rieta tertegun sejenak, sikap Arlan kembali berubah, tetapi kali ini ia bisa melihat sikap menghormati yang Arlan perlihatkan.
"Baik." Rieta menerima laporan itu, membungkukkan badan dan berbalik pergi dengan senyum puas.
Rieta kembali ke meja kerjanya dengan kelegaan luar biasa menyirami hatinya, tersenyum kala mengingat bagaimana sikap Arlan terhadapnya. Arlan tidak seburuk itu, pria itu adalah sosok pemimpin sejati yang tidak ragu mengakui kemampuan bawahannya, bukan menekan bawahannya. Itulah yang Rieta pikirkan.
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu membuat Rieta tersentak ringan, hanya untuk menyadari Rihana sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Bagimana hasil laporannya?" Rihana mengulang pertanyaannya.
Rieta tersenyum lebar sambil mengangkat kedua tangan dengan ibu jari dan jari telunjuk disatukan. "Sukses dan sudah ditandatangani."
"Benarkah?" Rihana tersenyum antusias yang segera mendapatkan anggukan dari Rieta.
Tapi di balik senyum itu, Rihana menutupi rasa tidak senangnya. Ia ingat Rieta berkonsultasi dengannya sebelum lapoan itu dibawa ke ruang atasan, dan ia melihat data yang Rieta buat memiliki angka berbeda dengan perhitunganya.
"Bagaimana mungkin? Harusnya Tuan Avalon marah besar padanya karena laporannya tidak sesuai," batin Rihana tidak terima. "Tapi kenapa?"
. . . .
. . . .
To be continued...