Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Di anggap pacar
Pukul 21.00, Anindia dan Keanu sudah tiba di rumah setelah menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan sepanjang hari ini. Rasa senang juga terlihat jelas di raut wajah keduanya.
Mereka langsung berjalan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, setelah sebelumnya sempat berbincang sejenak dengan ayah dan ibu Keanu. Kedua orang tuanya begitu senang ketika melihat putra tunggalnya bisa berubah dan semakin akrab dengan Anindia.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian tidur, Anindia dan Keanu duduk di tepi tempat tidur. Mereka berdua saling bertukar pandang, seakan saling mengucapkan rasa terima kasih untuk hari ini.
"Keanu, makasih banyak ya untuk hari ini? Aku benar-benar seneng banget hari ini," ujar Anindia dengan mata yang berbinar-binar.
"Apapun yang bikin kamu senang aku bakal lakuin itu, thanks juga ya buat hari ini," ujar Keanu dengan seutas senyum.
Anindia menganggukkan kepalanya, tanpa aba-aba ia pun langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Keanu. Hal itu jelas saja membuat jantung Keanu berdegup kencang seketika.
Keanu yang deg-degan, hanya bisa membelai kepala Anindia dengan seutas senyum. Entah mengapa Keanu bisa merasa bahwa bersama Anindia membuatnya merasa sangat nyaman, suatu hal yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Sekarang tidur lagi ya, istirahat. Besok hari Senin kita harus kembali ke realita," ujar Keanu di sela-sela keheningan.
"Iya, ayo." Ujar Anindia dengan seutas senyum dan anggukan singkat.
Anindia pun langsung berpindah posisi ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Keanu menyelimuti Anindia lalu berbaring di sebelahnya, ia sengaja memiringkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya dengan satu tangan. Bahkan, ia menatap Anindia dalam dengan senyum paling tampan yang ia punya.
"Selamat beristirahat, my wife," ujar Keanu dengan suara yang terdengar manja, lalu ia mengecup kening Anindia sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.
Anindia hanya tersenyum salah tingkah, ia pun langsung memejamkan matanya tanpa menjawab perkataan suaminya. Seperti biasa, Keanu memeluk Anindia erat, seakan ia tidak ingin jauh-jauh dari istrinya itu meski hanya sedetik saja.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Pagi harinya, di ruang makan keluarga Bramantyo, Anindia dan Keanu yang sudah siap dengan seragam putih abu-abu nya kini duduk bersama untuk menikmati sarapan pagi. Pagi itu terlihat berbeda, pasalnya bukan hanya tentang perubahan penampilan Keanu saja, melainkan juga sisi romantis yang terang-terangan Keanu tunjukkan di depan kedua orang tuanya.
Perhatian itu mungkin kecil, seperti menuangkan air minum untuk Anindia dan juga menyeka sisa makanan di bibirnya. Tapi, hal itu berhasil membuat kedua orang tuanya tersenyum melihat tingkah Keanu yang tidak seperti biasanya. Mereka merasa bahwa Keanu benar-benar menerima Anindia sebagai istrinya sekarang.
"Aduh-aduh romantisnya anak dan mantu Mama," goda ibu Keanu.
"Uhukk... Uhuukk..."
Keanu tiba-tiba saja tersedak ketika mendengar perkataan ibunya, ia merasa malu ternyata ibunya memperhatikannya sejak tadi. Sementara Anindia hanya tersenyum malu-malu menanggapi perkataan ibu mertuanya, ia merasa santai dengan keluarga Bramantyo.
"Hati-hati Keanu, minum dulu nih," ujar Anindia yang membantu suaminya untuk minum.
Keanu pun langsung meminum air yang diberikan Anindia, setelah beberapa saat ia merasakan sedikit lega di tenggorokannya. Ia hanya menatap Anindia tanpa kata, seakan melontarkan kata tak terucap kepada istrinya itu. Sementara Anindia hanya mengangguk samar, seolah memahami tatapan Keanu.
"Ma, Pa kami berangkat dulu ya," ujar Keanu mengalihkan perhatian sembari melirik jam tangannya.
"Iya sudah, hati-hati di jalan. Jangan kebut-kebutan," ujar ayah Keanu dengan suaranya yang tenang.
"Iya Pa, assalamualaikum." Ujar Keanu sembari mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Nindi sama Keanu berangkat dulu ya Ma, Pa... Assalamualaikum," ujar Anindia yang juga mencium takzim tangan keduanya.
"Waalaikumsalam," sahut keduanya yang masih duduk di meja makan.
Anindia pun langsung melangkahkan kakinya mengikuti Keanu. Saat tiba di depan pintu, Anindia bisa melihat jelas bahwa Keanu sudah menunggunya di sebelah mobilnya.
"Silahkan masuk tuan putri, hamba akan mengantarkan tuan putri ke tujuan dengan selamat," ujar Keanu sembari membuka pintu mobil dengan gaya seperti seorang supir ala kerajaan.
Anindia hanya terkekeh menanggapinya, ia tidak menyangka bahwa Keanu ternyata bisa humoris juga seperti ini. Ia pun langsung berjalan dan masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, sayang," ujar Anindia lembut dan berhasil membuat Keanu langsung menggeleng salah tingkah.
Keanu pun menutup pintu dan langsung berbalik arah ke sisi kemudi. Ia tertawa kecil merasa geli sendiri dengan aktingnya tadi.
"Gimana udah cocok gak jadi aktor?" Canda Keanu sembari melajukan mobilnya.
"Hmm udah sih, kayaknya," ujar Anindia yang terkekeh juga.
"Kayaknya... Berarti gak cocok ya?" Ujar Keanu kemudian.
Anindia hanya terkekeh menanggapinya, sementara Keanu hanya tersenyum ketika melihat Anindia yang ceria seperti itu. Tak ada perbincangan apapun di antara keduanya, mereka hanya menikmati kebersamaan satu sama lain.
Mobil itu pun terus melaju membelah jalanan, menuju ke sekolah mereka. Beberapa menit berlalu, tibalah mereka di tempat parkir sekolah. Seperti biasa, Anindia berjalan lebih dulu menuju ke kelasnya.
Saat berjalan di koridor, tiba-tiba saja Anindia di hadang oleh dua murid laki-laki dari kelas lain. Anindia merasa risih, terlebih ia tidak mengenali kedua murid itu.
"Nindi dari kelas XII IPA-2, kan?" Tanya salah satu dari mereka.
"Iya, ada apa ya?" Ujar Anindia menimpali.
"Gak ada sih, cuma pengen deket aja. Boleh minta nomor WA nya?" Ujar seorang lagi menimpali.
"Ekhem! Sayang..."
Saat itu tiba-tiba saja suara Keanu terdengar berjalan menghampiri, membuat dua pemuda itu langsung berlari ketika melihat tatapan tajam dan menusuk dari Keanu. Anindia merasa sedikit lega karena dua pemuda itu tidak berhasil mengganggu nya, namun di lain sisi ia merasa heran mengapa tiba-tiba saja Keanu memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Hal itu jelas saja membuat Anindia berpikir bahwa mungkin Keanu akan mengakui pernikahan rahasianya.
"Keanu?" Ujar Anindia ketika Keanu berhenti tepat di sampingnya.
"Tenang aja, pernikahan kita aman kok. Kalo di rumah kita suami istri, di sekolah boleh kan aku anggap kamu pacar aku?" Ujar Keanu dengan suara yang pelan, berharap tidak ada yang mendengarkan kata-katanya selain Anindia.
Anindia ragu-ragu sejenak, namun pada akhirnya ia pun mengangguk menyetujui. Ia berharap bahwa Dara bisa berhenti menyukai Keanu, terlebih Dara merupakan sahabatnya sendiri.
"Kalo gitu ayo ke kelas," ujar Keanu sembari mengulurkan tangannya kepada Anindia.
Dengan ragu-ragu, Anindia pun menerima uluran tangan dari Keanu. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa keputusan ini adalah keputusan yang tepat agar Dara berhenti menyukai suami rahasianya itu. Sementara Keanu hanya menyunggingkan seutas senyum, dengan harapan tidak ada yang mengganggu istrinya lagi selama di sekolah.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke dalam kelas. Banyak pasang mata yang langsung tertuju pada keduanya, dengan tatapan yang berbeda-beda tentunya. Anindia sendiri merasa serba salah, ia tidak yakin bagaimana reaksi teman-temannya nanti. Terlebih mereka pun tahu bahwa Anindia tidak pernah berpacaran sebelumnya.
Setibanya di kelas, semua mata langsung tertuju pada mereka. Semua teman-temannya terkejut melihat kedekatan Anindia dengan Keanu. Dua insan yang memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda bahkan tidak pernah akur sebelumnya, namun kini terlihat sangat dekat seperti orang yang berpacaran. Hal itu jelas saja membuat teman-teman sekelasnya terkejut dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Tak terkecuali teman-teman dekat Anindia, terutama Dara. Mereka bertiga langsung membelalakkan matanya dengan pemandangan pagi itu.
"Semangat belajarnya, sayang," ujar Keanu sembari mengacak pucuk kepala Anindia sejenak sebelum akhirnya berlalu ke arah tempat duduknya.
"Sayang?!" Ujar Dara lirih bahkan tatapan matanya terlihat jelas bahwa ia kecewa dengan Anindia saat ini.
"Pagi guys," sapa Anindia dengan seutas senyum, mencoba untuk terlihat seperti biasanya.
Braakk!
Saat Anindia menghampiri ketiga temannya, tiba-tiba saja Dara memukul meja dan langsung beranjak pergi meninggalkan kelas. Yudhi dan Edo yang terdiam di tempat pun langsung tersentak kaget dengan dentuman meja itu.
Anindia menarik nafas panjang, ia menoleh ke arah Dara yang sudah berlalu. Ia tidak mengerti mengapa Dara tiba-tiba saja bersikap seperti itu, tidak seperti biasanya. Ia berharap bahwa Dara menerima kenyataan bahwa dirinya dan Keanu sudah terikat dalam sebuah hubungan. Namun tanpa di duga, Dara justru bersikap sebaliknya.
Sementara Keanu, ia langsung mengernyitkan dahinya ketika melihat sikap arogan Dara. Setahunya, Dara tidak pernah semarah itu dengan Anindia. Keanu merasa bahwa Dara cemburu melihat sikapnya untuk Anindia tadi, terlebih ia pun tahu bahwa Dara memang menyukai dirinya.
"Udah abaikan aja. Emang pagi ini moodnya kayak berantakan banget, kesel gue liatnya," ujar Yudhi kepada Anindia.
"Emang tadi dia juga gitu?" Ujar Anindia memastikan.
Edo hanya menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Anindia. Anindia kembali menoleh ke arah pintu yang kosong setelah dilalui oleh Dara sebelumnya. Ia merasa bahwa mungkin Dara sedang memiliki masalah lain yang membuatnya jadi seperti ini.
"Eh Nindi, btw lo pacaran sama Keanu? Wah, bener-bener main rahasiaan lo. Jadi bener kan lo berbunga-bunga kemarin karena seseorang?" Ujar Yudhi di sela-sela keheningan.
"Iya, gue pacarnya."
Belum sempat Anindia mengatakan apa-apa, tiba-tiba saja Keanu langsung menjawab perkataan Yudhi. Hal itu jelas saja membuat satu kelas heboh dan bersorak 'eeaa', karena akhirnya ada seseorang yang meluluhkan hati Keanu. Meskipun sebagian dari mereka merasa iri karena Anindia lah yang menjadi pemenang di hati Keanu.
"I-iya, Keanu pacar aku," ujar Anindia sedikit gugup.
"Ciee first love nih," ujar Edo sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Wah gila! Pantesan aja Keanu berubah, ternyata karena lo. Tapi okelah, gue dukung. Lagian di antara kita berempat cuma lo yang gak pernah cinta-cintaan. Gue ngira malah lo gak normal sebagai cewek!" Ujar Yudhi dengan niat bercanda, namun seperti biasanya, Edo langsung memberikan pukulan karena perkataan Yudhi yang tidak beretika.
"Wah, sama-sama cinta pertama kayaknya nih. Nindi juga sebelumnya paling anti kan sama yang namanya cinta. Eh tapi serius deh, kalian berdua cocok! Moga langgeng ya sampe pelaminan," ujar seorang gadis di kelas mereka.
Anindia hanya tersenyum menanggapinya, meskipun ia sedikit canggung dengan pengakuan Keanu tadi. Sementara Keanu hanya tersenyum miring, seakan sedang mengatakan sesuatu yang hanya dirinya dan Anindia saja yang paham artinya.
Anindia masih memikirkan sikap Dara tadi, ia hanya berharap bahwa Dara bisa mengerti. Dan ia juga berharap agar persahabatannya dengan Dara akan baik-baik saja, terlebih ia pun tahu bahwa Dara benar-benar menyukai Keanu.
Saat itu, bel masuk pun berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera berlangsung. Dara pun terlihat kembali ke kelas dengan ekspresi wajah kecewa yang bisa Anindia rasakan, diikuti seorang guru yang berjalan di belakangnya.
Dara langsung duduk di bangkunya, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Anindia. Sejujurnya Anindia merasa tidak nyaman dengan sikap Dara yang seperti ini. Ia pun memutuskan untuk berbicara empat mata dengan sahabatnya itu saat jam istirahat nanti. Anindia merasa bahwa ia harus mengatakan sejujurnya kepada Dara, agar Dara juga bisa memahami situasinya. Tapi, apakah itu mungkin?
^^^Bersambung...^^^