Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 ( Kelulusan )
🎒
🎒
🎒
🎒
🎒
Icha pun membalikkan tubuhnya, Mommy Aqila, Cyra, dan yang lainnya tampak tersenyum ke arah Icha.
Mommy Aqila langsung memeluk Icha membuat Icha merasa canggung dan salah tingkah.
"Apa kamu pacarnya Edrik, sayang?" tanya Mommy Aqila.
Icha menoleh kepada Cyra dan teman-temannya yang tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"I--iya tante."
"Jangan gugup, tante juga pernah muda kok. Kamu harus sabar karena Edrik pasti kembali."
"Iya Tante."
"Yuk, kita pulang."
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, telah mereka lalui. Tidak terasa sudah satu tahun Edrik meninggalkan Indonesia, dan tidak pernah sehari pun Edrik tidak menghubungi Icha.
Walaupun LDR-an tapi mereka tetap berhubungan dengan baik.
"Cha, apa lo sudah belajar?" tanya Riana.
"Sudah dong."
"Entar bagi jawabannya ya."
"Iya kali gue kasih jawaban sama lo, gue duduk dimana lo dimana."
"Gimana dong, gue takut ga lulus kalau gue ga lulus, gue bisa dikawinin sama Mama dan Papa," keluh Riana.
"Harus optimis dong jangan pesimis, ayo tunjukan kalau lo bisa. Pokoknya kita semua harus lulus dengan nilai yang bagus, SEMANGAT," ucap Icha dengan mengepalkan tangannya memberi semangat.
"Gue ga yakin, Cha."
"Sudah sana duduk di meja lo, sebentar lagi pengawas datang."
Hari ini adalah hari pertama Icha dan teman-temannya melaksanakan ujian nasional, semua siswa tampak serius mengerjakan soal-soal yang diberikan.
Seminggu ke depan mereka akan melaksanakan Ujian nasional, tidak ada yang main-main mereka bekerja keras supaya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.
***
Seminggu sudah, mereka melaksanakan ujian nasional dan saat ini Raka dan yang lainnya sedang kumpul bersama di Caffe milik Louise.
"Aduh, gue deg-degan tahu nungguin hasil ujian mudah-mudahan hasilnya memuaskan," seru Riana.
"Amin," sahut semuanya bersamaan.
"Kalian mau lanjutin kuliah kemana?" tanya Juna.
"UI lah, kita harus sama-sama masuk kesana," sahut Raka.
"Jurusan Bisnis kan?" tanya Fiko.
"Yoilah, memangnya mau jurusan apa lagi," seru Juna.
"Oh iya, Icha mau lanjutin kemana ya? Cha, sini sebentar," teriak Riana.
"Iya, ada apa Ri?"
"Duduk sebentar, lo mau lanjutin kuliah kemana?" tanya Riana.
"Maunya sih ke UI, mudah-mudahan saja bisa keterima."
"Pasti keterimalah, lo kan anak pintar sama kaya si Raka," sahut Juna.
"Kita juga semuanya mau kuliah disana," seru Raka.
"Wah seriusan? kita jadi bisa bareng-bareng lagi. Tapi-----"
"Tapi kenapa Cha?" tanya Raka.
"Kalian enak, tinggal masuk kesana karena orangtua kalian banyak uang, lah aku kan masuk kesana lewat jalur beasiswa belum tentu bisa masuk juga," seru Icha dengan raut wajah yang sedih.
"Hei, semangat jangan menyerah pasti lo keterima disana," sahut Riana memberikan semangat.
"Memangnya lo mau ngambil jurusan apa?" tanya Raka.
"Gue mau ambil jurusan kedokteran."
"Serius lo mau ambil jurusan kedokteran?" tanya Fiko.
"Iya Fik, gue memang sejak kecil ingin sekali menjadi seorang dokter makannya selama ini gue nabung sedikit demi sedikit buat biaya kuliah gue, secara fakuktas kedokteran kan mahal mana paling lama lagi waktunya juga, makannya gue bakalan kuliah sambil kerja juga."
"Kita bangga loh punya teman kaya lo, apalagi Bang Edrik pasti bangga banget lo bisa jadi seorang dokter," sahut Raka.
"Kayanya gue bakalan sering sakit nih biar bisa diperiksa sama Icha," goda Juna.
"Silakan saja kalau lo berani, tapi lo harus siap-siap mendapat amukan dari Bang Ed," sahut Riana.
"Cha, sumpah cowok lo itu reseknya minta ampun."
"Memangnya kenapa Jun?"
"Tiap malam dia gangguin tidur gue hanya untuk nanyain kabar lo," ketus Juna.
"Lah, ke gue juga sama tiap malam," sambung Fiko.
"Sama gue juga," sahut Riana.
"Masa sih?"
"Bang Ed posessif banget, gue yakin pas pulang nanti pasti lo langsung dilamar sama Bang Ed," seru Riana.
"Apaan sih lo, sudah ah gue mau lanjut kerja lagi takutnya si Mister marah-marah lagi, kan doi lagi berantem sama pacarnya," bisik Icha.
"Astaga Bang Louise berantem mulu kerjaannya."
"Hallo semuanya!!" teriak Cyra.
"Busyet dah calon manten suaranya nyaring banget kaya toa mesjid," ledek Juna.
"Ih Juna nyebelin," ketus Cyra.
"Pak Dokter tampannya mana? kok ga ikut?" tanya Riana.
"Biasalah dia lagi ada jadwal operasi, makannya ga bisa ikut."
"Kak Cyra keren ih, dapetin calon suami seorang dokter tampan, kenalin dong satu buat Riana kali aja Riana juga dapat calon pacar dokter," seru Riana.
"Huuuu ngarep lo," ledek Juna dengan menoyor kepala Riana.
"Biarin."
"Iya, entar Kak Cyra kenalin sama temannya Mas Rizky, tapi kayanya teman Mas Rizky kebanyakan yang sudah berumur loh Ri, memangnya kamu mau gitu sama om-om?"
"Tidak apa-apalah Kak, yang penting dia bukan milik orang lain karena pantang buat Riana merebut milik orang lain, no way," sahut Riana.
"Bagus."
Raka mengacungkan jempolnya tepat dihidung Riana yang pesek.
"Ah lo nyebelin Rak, sudah tahu hidung gue mancung ke dalam lo tambahin lagi, makin tenggelam kan hidung gue," keluh Riana.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, tibalah pengumuman kelulusan. Icha dan yang lainnya tampak harap-harap cemas mudah-mudahan saja ada nama mereka tertera disana.
Perlahan kelima anak muda itu menghampiri papan pengumuman, dilihatnya secara teliti nama-nama yang tertera disana, dan ternyata hasilnya...
"Wuhhhhuuuu...nama gue ada," teriak Juna.
"Aaaa...nama gue juga ada," Riana tak kalah hebohnya.
"Alhamdulillah, Allohuakbar, Lailahailalloh, nama gue tertulis cantik disini," seru Fiko.
Ketiganya tampak sangat heboh, sedangkan Icha dan Raka hanya tersenyum karena kalau nama mereka sudah jelas terpampang nyata dipaling atas.
Icha dan Raka sama-sama anak yang cerdas dan kali ini Icha kembali mendapat juara umum dan beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi.
Icha duduk termenung dikursi taman sekolah, memperhatikan teman-temannya yang saat ini sedang merayakan kelulusan mereka dengan saling mencorat-coret seragam mereka.
"Gue bahagia akhirnya bisa lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, tapi gue bakalan semakin bahagia kalau ada lo disini, gue kangen banget sama lo Bang bule," batin Icha.
"Woi, malah ngelamun," seru Riana dengan menepuk pundak Icha.
"Lo ngagetin saja."
"Lo kenapa Cha?"
"Gue kangen sama bule gila gue."
"Cie..cie..ada yang kangen nih, sabar bu, Bang Ed pasti akan kembali."
***
Malam pun tiba...
Waktu menunjukkan pukul duabelas tengah malam, Perbedaan waktu yang lumayan lama yaitu Sebelas jam membuat komunikasi Edrik dan Icha sedikit susah.
Saat ini di Amerika menunjukkan pukul satu siang, waktunya Edrik istirahat dan bisa memegang ponsel. Makannya Edrik kebanyakan sering hubungi teman-temannya karena tidak mau mengganggu istirahat Icha.
Ponsel Icha berbunyi tanda ada panggilan videocall dari Edrik, Icha yang sudah tahu itu dari siapa dengan cepat merapikan rambutnya dan menggeser tombol hijau.
"Hallo.." sapa Icha dengan melambaikan tangannya.
"Hai, pasti sudah tidur ya? maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa, justru gue sedang nungguin telpon dari lo."
"Hah masa? kenapa emangnya ditungguin? kangen ya," goda Edrik.
"Iyalah kangen masa enggak."
"Ciee..ciee..ada yang kangen nih."
"Ih, Bang bule apaan sih malah ngeledek, ya sudah gue matiin saja ponselnya," ancam Icha.
"E..ee..eeh jangan dong sayang, baru aja digodain kaya gitu sudah marah. Gue senang banget mendengar lo kangen sama gue, berarti bukan gue saja yang merasakan tapi lo juga merasakannya."
Icha tersenyum begitu pun dengan Edrik...
"Kata Raka, lo mau ambil jurusan kedokteran ya?"
"Iya."
"Wah hebat, berarti nanti calon istri gue seorang dokter dong, wuidih keren," seru Edrik.
"Apaan sih lo."
"Tapi ingat, jangan dekat-dekat dengan cowok lain apalagi nanti di tempat kuliah pasti banyak banget tuh yang deketin kamu, secara kamu kan cantik."
"Astaga, yang jauh lebih cantik daripada gue itu banyak loh jangan berlebihan deh, lagipula siapa juga yang suka sama cewek miskin kaya gue, hanya lo seorang matanya yang siwer mau jadiin gue pacar."
"Hai kok gitu ngomongnya, kalau gue mau cari cewek cantik, kaya, ngapain pacarin lo sudah aja cari diluaran sana banyak. Gue itu cinta sama lo tanpa syarat apapun, ngerti," ucap Edrik yang sedikit tegas membuat Icha merasa bersalah juga.
"Iya deh, maaf," lirih Icha.
"Ya sudah, sudah malam lo tidur gih maaf sudah ganggu lagipula gue juga mau masuk lagi, I love you."
"Love you too."
Icha menyimpan ponselnya kembali, tiba-tiba cairan bening itu keluar entah kenapa akhir-akhir ini Icha menjadi wanita yang cengeng.
"Baru aja satu tahun, sudah nyesek kaya gini apalagi kalau bertahun-tahun," gumam Icha.
Icha pun kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.
🎒
🎒
🎒
🎒
🎒
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU