cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJENGUK SANDI YG KOMA DI RUMAH SAKIT
BAB 31 ..
RUMAH SAKIT — PAGI
Cahaya pagi merayap masuk lewat celah tirai. Bau antiseptik masih menggantung, tenang namun dingin.
Langkah sepatu berhenti di depan pintu ruang rawat.
Seorang pria berseragam lapangan berdiri di ambang pintu. Rambutnya dipotong rapi, bahunya tegap—jejak perjalanan jauh masih menempel di wajahnya. Sersan Bima.
Ia mengintip ke dalam.
Amelia duduk di sisi ranjang, fokus menyeka wajah Sandi dengan kain hangat. Gerakannya pelan, penuh perhatian, seolah dunia di luar ruangan itu tak ada.
Bima berdehem pelan.
“Permisi…”
Amelia menoleh. Sedetik terkejut, lalu matanya membesar.
“Mas Bima?”
Bima mengangguk singkat. Pandangannya langsung jatuh ke Sandi—pucat, kurus, kabel monitor melilit tubuhnya.
Ia masuk dan berdiri di samping ranjang.
“Lu kenapa, bro?” katanya setengah bercanda, setengah tak percaya.
Sandi membuka mata perlahan. Sudut bibirnya naik tipis.
“Ah… lu ya. Ribet amat nyari waktu buat nengokin.”
Bima mendengus. “Jawab yang bener.”
Sandi menarik napas pendek.
“Aku kecapean. Bertarung sampe kehabisan tenaga. Telat makan. Badan ngedrop.”
Amelia melirik Sandi. Tatapannya lembut, tapi jelas tahu kalimat itu tidak sepenuhnya jujur. Ia memilih diam.
Bima menyipitkan mata. Naluri militernya bekerja.
“Kecapean biasa nggak bikin orang masuk ruang rawat intensif, San.”
Sandi mengalihkan pandangan ke jendela.
“Versi sipilnya aja itu.”
Hening sejenak.
Bima menghela napas panjang, lalu duduk di kursi kosong.
“Gue baru pulang tugas negara,” katanya pelan. “Ngawal Menlu RI ke Palestina.”
Amelia menoleh lagi, terkejut.
“Serius?”
Bima mengangguk. “Baru mendarat. Belum sempat tidur.”
Ia menatap Sandi lagi. “Di tengah tugas, Amelia ngabarin… katanya lu sakit parah, patah, dirawat di RS Dumai. Gue pikir—” suaranya tertahan sejenak, “—gue hampir ninggalin pos.”
Sandi terdiam. Wajahnya melunak.
“Maaf bikin lu khawatir.”
“Lu sahabat gue,” jawab Bima tegas. “Wajar.”
Ia melirik Amelia. Nada suaranya turun.
“Makasih udah jagain dia.”
Amelia mengangguk. “Dia keras kepala. Tapi… dia berjuang sendirian terlalu lama.”
Bima tersenyum tipis. “Iya. Itu penyakit lamanya.”
Sandi terkekeh pelan, lalu terbatuk kecil. Amelia refleks membantunya mengatur posisi, menepuk dada Sandi perlahan sampai napasnya stabil kembali.
Bima berdiri. Tangannya mengepal sebentar—menahan emosi yang jarang ia tunjukkan.
“Dengar ya, San. Negara bisa nunggu. Musuh bisa nunggu. Tapi badan lu nggak.”
Sandi menatapnya. Untuk pertama kalinya, tanpa bercanda.
“Iya.”
Di luar, langkah perawat mendekat. Waktu bergerak pelan.
Dan di ruangan itu, di antara dua sahabat dan seorang perempuan yang memilih bertahan,
sebuah alur baru mulai terbentuk—
lebih sunyi, lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya jika diabaikan.
RUMAH SAKIT — SIANG
Pintu ruang rawat kembali terbuka.
Kali ini bukan satu langkah, melainkan ramai.
Sersan Eren muncul paling depan, diikuti beberapa anggota rombongan. Di belakangnya: Pak Kades, Mbah Klowor, Pak Dosen Deden, Nurdin, serta Santi dan Sinta yang menenteng kantong besar berisi buah-buahan segar—jeruk, apel, pir, anggur.
Suasana yang semula hening berubah hangat.
“Assalamu’alaikum…”
“Pagi, Bang Sandi…”
“Gimana kabarnya sekarang?”
Sandi tersenyum lemah. “Wah… kayak rapat desa pindah ke rumah sakit.”
Eren terkekeh. “Lu pikir cuma lu doang yang punya jaringan?”
Nurdin sudah lebih dulu membuka kantong plastik. Ia mengambil satu jeruk manis, mengupasnya cepat, lalu—
hap.
“Eh, Din—itu buat Sandi!” protes Sinta.
Nurdin mengunyah santai.
“Huh, dasar manja lu, San. Mau nya dirawat sama Amel. Dikasih jeruk manis ga mau.”
Ia mengangkat sisa jeruk di tangannya.
“Yaudah, gue abisin aja ya.”
Serempak semua bersuara,
“Huuuuuu!”
Amelia tertawa kecil, lalu menepuk lengan Nurdin.
“Dasar rakus lu.”
Nurdin nyengir, mulut masih penuh. “Bagi hasil penderitaan.”
Tawa kecil memenuhi ruangan. Bahkan monitor Sandi berdetak lebih stabil, seolah ikut menikmati suasana.
Mbah Klowor melangkah maju. Tongkat kayunya menyentuh lantai pelan.
“Cukup dulu ramainya,” katanya tenang.
Semua otomatis memberi ruang.
Mbah Klowor duduk di sisi ranjang, meletakkan dua jarinya di pergelangan tangan Sandi. Mata tuanya terpejam.
Napasnya diatur—dalam, pelan, teratur.
Udara di ruangan terasa berubah.
Hangat. Sunyi.
Detak monitor yang semula naik-turun perlahan menjadi rata.
Mbah Klowor mengalirkan tenaga dalamnya, lembut namun presisi—bukan untuk memaksa, melainkan menetralkan.
Menutup celah yang robek. Menenangkan gelombang yang masih bergolak di dalam dada Sandi.
Sandi mengerang pelan, lalu napasnya menjadi lebih panjang.
Wajahnya tak lagi setegang tadi.
Beberapa saat kemudian, Mbah Klowor membuka mata.
“Tidak boleh dipaksa lagi,” katanya tegas. “Tubuhnya sedang belajar pulang.”
Bima dan Eren saling pandang.
“Selama dia dirawat,” kata Bima, “urusan lapangan biar gue sama Eren yang pegang.”
Eren mengangguk mantap.
“Kebetulan lagi cuti dinas seminggu. Sukabumi. Resmi.”
Pak Kades tersenyum lega. “Berarti desa juga aman.”
Pak Dosen Deden menambahkan, “Dan yang paling penting—dia tidak sendirian.”
Amelia menggenggam tangan Sandi lebih erat.
Sandi membuka mata sedikit, menatap wajah-wajah di sekelilingnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa kehilangan peran.
Karena saat ia terbaring,
peran itu diteruskan—oleh orang-orang yang memilih berdiri di sisinya.
Di luar, matahari siang menyinari jendela rumah sakit.
Dan di dalam, harapan tidak lagi berdiri sendiri.
RUMAH SAKIT — SIANG (LANJUTAN)
Beberapa menit setelah aliran tenaga dalam Mbah Klowor dihentikan,
senyum di wajah Sandi perlahan memudar.
Napasnya masih ada—teratur—
namun kesadarannya menjauh.
Kelopak matanya bergetar, lalu tertutup sepenuhnya.
Monitor berbunyi pelan, stabil… terlalu stabil.
Amelia langsung berdiri.
“Bang…?”
Tidak ada jawaban.
Mbah Klowor menempelkan telapak tangannya di dada Sandi sekali lagi, singkat.
Ia menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan.
“Bukan memburuk,” katanya tenang. “Tubuhnya menarik rem darurat. Ia masuk tidur dalam.”
Bima menegakkan badan. “Koma?”
“Ya,” jawab Mbah Klowor jujur. “Koma pemulihan. Kesadarannya ditarik paksa agar organ dalamnya bisa bekerja tanpa gangguan.”
Pintu terbuka.
Dokter Farhan masuk dengan map di tangan. Tatapannya cepat memindai monitor, posisi tubuh Sandi, lalu wajah Amelia.
“Tekanan sudah turun,” katanya. “Tapi sistem sarafnya masih kelelahan.”
Ia menyiapkan suntikan.
“Ini obat tidur dosis rendah. Bukan untuk menidurkan… tapi menjaga agar ia tidak terbangun sebelum waktunya.”
Amelia mengangguk, menelan cemas. “Silakan, Dok.”
Jarum masuk perlahan. Cairan bening mengalir.
Beberapa detik kemudian, napas Sandi menjadi lebih dalam. Dadanya naik-turun pelan, damai.
Wajahnya kini benar-benar tenang.
Dokter Farhan merapikan alat.
“Dia harus istirahat total. Tidak boleh rangsangan berlebihan. Kita beri waktu tubuhnya menyusun ulang dirinya sendiri.”
Mbah Klowor berdiri. “Ia akan pulang… tapi tidak sekarang.”
Amelia menatap wajah Sandi lama. Lalu mengusap rambutnya sekali, lembut.
“Tidur yang bener ya, Bang,” bisiknya. “Aku di sini.”
LUAR RUANG RAWAT — SIANG
Pintu tertutup perlahan.
Di lorong rumah sakit, suasana berubah lebih cair.
Pak Kades duduk di bangku, menghela napas panjang. “Deg-degan juga tadi.”
Pak Dosen Deden mengangguk. “Ilmu modern dan ilmu tua… jarang bisa berjalan sedamai itu.”
Eren menyender ke dinding. “Yang penting sekarang, dia aman.”
Nurdin membuka plastik buah lagi.
“Jadi… jeruknya boleh lanjut?”
Santi langsung menepuk kepalanya. “Lu tuh ya—”
Bima tersenyum tipis, menatap pintu ruang rawat yang tertutup.
“Sekarang giliran kita yang jaga garis depan.”
Mbah Klowor berdiri agak menjauh, menatap ujung lorong.
“Dalam sunyi terdalam,” gumamnya, “seringkali seseorang dipaksa memilih—
bangun dengan cara lama,
atau kembali sebagai dirinya yang baru.”
Di balik pintu, Sandi terlelap.
Dan waktu—akhirnya—memberinya kesempatan untuk bernapas tanpa beban.
KANTIN RUMAH SAKIT — SIANG
Suara sendok beradu dengan piring. Bau sop hangat dan nasi baru mengepul.
Di salah satu sudut kantin, Pak Kades, Pak Dosen Deden, Sersan Bima, dan Sersan Eren duduk berhadap-hadapan.
Makan siang berlangsung sederhana—
namun pembicaraannya tidak.
Pak Kades membuka suara lebih dulu, menurunkan nada.
“Sejak beberapa bulan terakhir, desa kami tidak lagi tenang. Ular cobra muncul di tempat-tempat yang mustahil—kebun karet, gudang kosong, bahkan dekat sekolah.”
Eren berhenti mengunyah. “Cobra biasanya menghindari keramaian.”
“Betul,” sahut Pak Dosen Deden. “Itu yang aneh. Perilakunya berubah. Lebih agresif. Lebih… terarah.”
Bima menyeka mulutnya, lalu mencondongkan badan.
“Racunnya?”
Pak Dosen mengangguk. “Dimodifikasi. Efek neurotoksinnya meningkat. Tapi ada komponen lain—bukan alami. Seperti dicampur zat sintetis.”
Eren bersiul pelan. “Berarti ini bukan alam.”
Pak Kades menghela napas berat.
“Kami khawatir ini bukan serangan acak. Ada yang sedang menguji sesuatu… dan desa kami dijadikan ladang.”
Bima dan Eren saling pandang. Bahasa tanpa kata.
Pengalaman lapangan bertemu data.
“Kalau begitu,” kata Bima akhirnya, “ini bukan sekadar pengendalian hama.”
Eren mengangguk. “Ini operasi.”
Ia mengambil tisu, mulai menggambar kasar dengan pulpen—peta desa sederhana.
“Ada jalur masuk. Sungai kecil. Perkebunan. Gudang tua.”
Pak Dosen menunjuk. “Di sini. Beberapa warga melihat kotak pendingin malam hari.”
Bima mengetuk meja pelan.
“Kita buat tiga lapis pengamanan.”
Ia menyebut satu per satu:
“Pertama, early warning. Warga dilatih mengenali pola gerak cobra yang tidak normal.”
“Kedua, zona steril malam hari di titik rawan.”
“Ketiga,” ia menatap Eren, “penelusuran sumber. Siapa pun yang memodifikasi racun itu.”
Eren tersenyum tipis. “Cuti seminggu cukup.”
Pak Kades menatap mereka, campur harap dan cemas.
“Kami tidak mau desa jadi medan perang.”
Bima menjawab tenang. “Justru karena itu kami turun sebelum perang terjadi.”
Dari kejauhan, suara ambulans melintas.
Di lantai atas, Sandi terlelap dalam koma pemulihan.
Dan di meja kantin rumah sakit itu,
sebuah rencana lahir—
sunyi, rapi, dan siap menghadapi sesuatu yang tidak lagi bisa disebut alami.
Percakapan mereka terhenti oleh suara tergesa di lorong.
“Ular! Digigit ular!”
Beberapa perawat berlari mendorong brankar. Seorang pria paruh baya terbaring di atasnya—wajah pucat, keringat dingin mengucur deras. Kakinya dibalut kain seadanya, darah merembes dari dua titik kecil di betisnya.
“Cobra!” teriak keluarga pasien. “Waktu di ladang!”
Bima dan Eren berdiri hampir bersamaan.
Mata mereka langsung bekerja—
bukan sebagai pengunjung rumah sakit,
melainkan veteran medan krisis.
“Lihat matanya,” kata Eren cepat. “Pupilnya tidak sinkron.”
Bima menunduk sedikit, mengamati napas pasien.
“Napasnya teratur… terlalu teratur untuk korban neurotoksin akut.”
Pasien mulai kejang, namun pola kejangnya aneh—datang, berhenti, lalu muncul lagi seolah ada jeda yang disengaja.
“Ini bukan reaksi standar gigitan cobra,” gumam Bima.
Pak Kades dan Pak Dosen Deden menyusul dari belakang.
Wajah Pak Dosen langsung tegang.
“Polanya sama,” katanya lirih. “Dengan yang sebelumnya.”
Dokter jaga berteriak memberi instruksi. Brankar dibelokkan menuju ruang IGD.
Eren melangkah di sampingnya. “Pak Dok, izinkan kami ikut observasi.”
Dokter melirik cepat, lalu mengangguk. “Selama tidak mengganggu tindakan.”
Di depan IGD, pasien kembali kejang—kali ini disertai kedutan di rahang, sesuatu yang jarang muncul pada gigitan biasa.
Bima berbisik ke Eren, “Di konflik luar negeri, gue lihat pola ini di korban racun campuran.”
Eren mengangguk. “Zat pemicu kejang ditambahkan. Biar efeknya dramatis… dan mematikan.”
Pak Kades menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
“Syukur… kalian ada di sini.”
Pak Dosen Deden menambahkan pelan, “Pengalaman kalian jauh melampaui teori.”
Bima menepuk bahu Pak Kades. “Tenang, Pak. Kita tidak buta lagi.”
RUANG RAWAT SANDI — SIANG
Sunyi kembali berkuasa.
Sandi terbaring tanpa gerak. Monitor berdetak stabil.
Di kursi samping ranjang, Amelia duduk dengan buku tebal di pangkuannya—buku kedokteran, penuh catatan kecil dan lipatan halaman.
Matanya menyusuri istilah-istilah rumit: neurotoksin, sinaps, sistem saraf otonom.
Sesekali ia menatap wajah Sandi, lalu kembali membaca.
“Tahan ya,” bisiknya. “Aku belajar… supaya bisa jaga kamu.”
Ia membalik halaman.
Di luar ruangan, krisis bergerak cepat.
Di dalam, seorang perempuan memilih menunggu dengan pengetahuan.
Dan dua dunia itu—
medan perang dan ruang rawat—
perlahan mulai saling mendekat.
IGD RUMAH SAKIT — SIANG
Pintu IGD tertutup. Lampu indikator menyala merah.
Dokter Farhan berdiri di depan monitor pasien gigitan cobra itu. Grafik denyut jantung naik-turun tidak wajar. Kejang datang bergelombang—bukan liar, tapi berpola.
“Ini tidak normal,” gumamnya.
Bima berdiri di sisi kiri, tangan terlipat. Eren di kanan, mata tajam mengamati setiap perubahan kecil.
“Dok,” kata Bima tenang, “di medan konflik, kami lihat korban racun campuran begini. Ada fase tenang palsu sebelum kolaps.”
Dokter Farhan menoleh cepat. “Artinya?”
“Racun utamanya bukan untuk membunuh cepat,” sambung Eren. “Tapi untuk menguji reaksi tubuh. Seolah ada yang mencatat dari jauh.”
Pak Dosen Deden yang baru masuk mengepalkan tangan.
“Jadi desa kami benar-benar… laboratorium?”
Tidak ada yang langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup.
Dokter Farhan memberi instruksi cepat. “Siapkan antidot standar dulu. Kita stabilkan. Sampel darahnya amankan.”
Bima mencondongkan badan. “Kalau boleh, saya sarankan isolasi ringan. Jangan biarkan pasien ini dipindahkan tanpa pengawasan.”
Dokter Farhan mengangguk. “Saya setuju.”
Di luar IGD, Pak Kades duduk terdiam. Wajahnya campur aduk antara takut dan lega.
“Kalau tidak ada kalian…” ucapnya pelan.
Eren menepuk bahunya. “Bapak tidak sendirian sekarang.”
LORONG RUMAH SAKIT — SORE
Bima dan Eren berjalan berdampingan.
“Kita butuh jejak,” kata Eren. “Siapa yang bisa memodifikasi racun sebanyak ini?”
Bima menjawab pelan, “Bukan pemburu liar. Ini orang berpendidikan… dan punya jaringan.”
Eren berhenti melangkah. “Seperti Nakata?”
Bima tidak langsung menjawab. “Atau sisa-sisanya.”
Mereka saling pandang. Rencana di kepala mulai mengeras—bukan lagi asumsi.
RUANG RAWAT SANDI — SORE
Cahaya matahari sore jatuh miring ke lantai.
Amelia masih di sana. Buku kedokteran kini terbuka di bagian neurotoksikologi. Ada stabilo, ada catatan kecil di pinggir halaman.
Ia berhenti membaca saat monitor berbunyi pelan—irama napas Sandi berubah, lebih dalam.
Bukan bangun. Tapi lebih masuk.
Amelia menggenggam tangan Sandi. Hangat.
“Aku nggak ke mana-mana,” bisiknya. “Kamu istirahat. Biar yang lain bertarung.”
Ia kembali membaca—kali ini dengan lebih fokus.
Bukan sekadar menunggu, tapi bersiap.
IGD — SENJA
Pasien gigitan cobra mulai stabil. Kejang berhenti. Namun dokter Farhan mengerutkan kening melihat hasil awal.
“Kadar ini… aneh,” katanya pada Pak Dosen Deden. “Ada senyawa yang tidak seharusnya ada di racun ular.”
Bima yang mendengar dari belakang berkata pelan,
“Berarti benar. Ini buatan.”
Senja turun di Dumai.
Satu orang terlelap dalam koma pemulihan.
Satu orang baru saja selamat dari eksperimen hidup.
Dan di antara lorong rumah sakit itu,
garis antara penyembuhan dan perang baru semakin tipis.
DI SALAH SATU RUMAH MEWAH DI DESA GRENJENG SUKABUMI ADA RUANG KANTOR EKSEKUTIF — MALAM
Lampu kota berkilau di balik dinding kaca.
Di dalam ruangan, suasana mendidih.
Sebuah tablet terlempar ke meja marmer.
“Dieliminasi.”
Suara Mr. Nakata rendah, bergetar menahan amarah. “FIFA menolak kualitas rodok bola mereka—dan justru memilih model hybrid lokal Kim.”
Di layar, headline internal masih menyala:
FIFA — Quality Review: PT. Korean Industry Passes Pilot Phase
Nakata berdiri, menekan telapak tangannya ke meja. Rahangnya mengeras.
“Kim Jong Un itu selalu berpura-pura bersih. Kolaborasi lokal… keberlanjutan… omong kosong.”
Seorang manajer produksi menelan ludah. “Tapi, Tuan… standar FIFA—”
“Standar bisa diatur,” potong Nakata dingin. “Orang-orangnya juga.”
Ia berbalik ke arah jendela. Bayangannya terpantul—tajam, tak sabar.
“Kalau kualitas tidak bisa dijatuhkan dari atas,” lanjutnya, “kita jatuhkan dari dalam.”
Manajer itu terdiam. “Maksud Tuan…?”
Nakata tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah membawa kabar baik.
“Tenaga kerja. Jam produksi. Rantai pasok.”
Ia menoleh. “Dan ular-ular itu sudah siap.”
RUANG LAB TERSEMBUNYI — MALAM
Lampu putih menyilaukan. Kandang kaca berjejer.
Cobra-cobra bergerak gelisah—sisik mengilap, mata waspada.
Seorang teknisi mengenakan sarung tangan khusus. “Batch terbaru stabil. Racun sudah dimodifikasi. Efeknya tertunda—gejala awal ringan, lalu kolaps.”
Nakata mengangguk. “Bagus. Jangan ada kematian cepat.”
Ia menatap seekor cobra yang mengangkat kepala. “Aku ingin ketakutan. Kepanikan. Produksi terhenti.”
“Target?” tanya teknisi.
“Karyawan pabrik Kim.”
Nada Nakata datar. “Mulai dari shift malam. Area gudang. Jalur distribusi.”
Teknisi ragu sejenak. “Keamanan mereka meningkat.”
Nakata terkekeh pendek. “Ular tidak perlu izin masuk.”
RUMAH MEWAH DI TENGAH DESA GRENJENG SUKABUMI DI KANTOR PT. KOREAN INDUSTRY — MALAM
Mr. Kim menatap laporan keselamatan kerja. Angkanya hijau—untuk saat ini.
Park berdiri di sampingnya. “Kami sudah menambah penerangan dan patroli.”
Kim mengangguk, tapi alisnya berkerut.
“Ancaman tidak selalu datang dengan surat.”
Ia menatap layar CCTV: buruh keluar-masuk pabrik, rutinitas yang rapuh.
“Perintahkan inspeksi tambahan. Dan hubungi pihak lokal. Aku tidak suka firasat ini.”
DUMAI — RUMAH SAKIT — MALAM
Di ruang rawat, Amelia menutup bukunya. Ia menatap Sandi yang terlelap.
Monitor berdetak stabil.
Di lantai bawah, Bima dan Eren menerima pesan singkat—kode singkat, satu baris.
Eren menghela napas. “Ada pergerakan.”
Bima mengangguk. “Dan Nakata tidak pernah berhenti di satu front.”
Malam menebal.
Di satu sisi, penyembuhan berjalan pelan.
Di sisi lain, ular-ular dilepas—bukan oleh alam,
melainkan oleh tangan yang memilih sabotase sebagai senjata.