Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Yang Sebenarnya
27 tahun lalu di sebuah hotel di Itali. Hawari muda membawa istrinya masuk ke hotel setelah membayar taksi. Mereka baru saja pulang dari jalan-jalan sebentar di luar melihat indahnya kota Itali. Pria itu memandang istrinya Sarah yang masih tampak berduka karena kehilangan bayi mereka karena sakit. Untung saja Sarah muda mau diajak jalan-jalan keluar negeri bersamanya.
Di pintu masuk, Hawari merapikan jaket istrinya. Udara di luar mulai dingin karena sudah masuk musim gugur. "Apa kamu kedinginan, Sarah?"
"Tidak, Mas." Wajah ayu wanita cinta pertamanya itu berusaha tersenyum walau sendu masih menggelayuti wajah. "Kita ke kamar saja ya."
"Ya, sudah."
Saat masuk ke dalam lift, sebelum pintu tertutup, seorang wanita menyerobot masuk.
"Owh, Mam ...." Hawari hampir menahan napas karena wanita itu hampir terjepit.
Tubuh wanita itu sedikit gemuk dengan kacamata hitam dan topi yang menutupi raut wajahnya. Terdengar suara bayi merengek. Ternyata wanita itu menyembunyikan bayi di dalam jaketnya!
Hawari terkejut tapi tak ingin ikut campur. Ia menekan nomor lantai kamarnya pada tombol di dinding tapi wanita itu diam saja. Ia pikir wanita itu pasti punya kamar di lantai yang sama dengan mereka.
Ia melirik istrinya yang tengah memperhatikan bayi itu. Pasti Sarah sangat sedih karena setiap habis melihat bayi orang lain, Sarah akan diam-diam menangis. Karena itu, Hawari memeluk bahu istrinya. Apakah salah membawa Sarah jalan-jalan karena setiap saat ada saja yang membawa bayi, mereka temui di jalan.
Hawari menepuk-nepuk bahu Sarah berusaha menenangkan istrinya. Wanita itu mendongak menatap wajah suaminya. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca.
"Sebentar lagi kita sampai."
Sarah mengangguk pelan.
Saat sampai di lantai yang dituju, mereka turun. Wanita itu berjalan di belakang Sarah dan Hawari. Ketika Hawari membuka pintu kamarnya, wanita itu mendekat.
"Permisi ...." Wanita itu berbisik dalam bahasa Inggris.
Hawari dan Sarah terkejut.
Wanita itu melihat kiri kanan, seperti sedang takut ketahuan. "Apakah kalian bisa berbahasa Inggris? Bisakah kalian menolongku?"
"Apa?" Hawari yang bisa berbicara bahasa Inggris terkejut dan melihat sekeliling. "Orang ini sedang terlibat apa?" Namun, wanita ini tengah minta tolong padanya. Melihat bayi yang tersembunyi dalam jaket, Hawari bertekad menolongnya. "Ayo, masuk."
Di sofa, wanita itu membuat pengakuan. Ia membuka kacamata dan topinya agar Hawari tahu, dengan siapa ia bicara. "Aku minta tolong untuk menjaga anakku. Tolong. Aku tidak punya orang untuk tempat meminta." Wanita itu menyerahkan bayi itu pada Hawari, tapi Hawari tak segera merespon.
"Tolong cerita dulu, ada masalah apa?" Jujur, Hawari harus waspada, jangan sampai ia terlibat dengan jaringan penjualan anak-anak dan bayi. Ia sudah sering mendengar ini, karena itu ia waspada.
"Ini anakku, aku titip. Ada yang berusaha ingin membunnuhku, tapi aku tidak tahu siapa. Aku ingin anak-anakku selamat. Tolong. Ini hanya sementara. Aku sendiri akan bersembunyi tapi alangkah baiknya berpencar agar setidaknya salah satu dari kami selamat. Aku sudah minta tolong ayahku yang akan datang dari Amerika sedang suamiku sedang keluar kota, karena itu aku titipkan anakku ini padamu." Wanita yang ternyata cantik itu memohon.
Hawari bingung. Ia tidak bisa melibatkan keluarganya dalam bahaya, tapi ia juga tak bisa tinggal diam melihat wanita itu kesusahan.
"Kalau keadaan sudah aman, aku akan mengambil lagi anakku, tolong."
"Bagaimana kalau kamu tak kembali?"
"Bisakah kalian membesarkan anakku?"
Sarah yang sedari tadi melihat lidah bayi itu keluar, sudah merasa bayi itu kehausan. Mendengar cerita wanita itu, ia seketika iba pada sang wanita. "Bisakah Saya menyussuinya?"
"Eh, silakan."
Sarah mengambil bayi itu dari tangan sang wanita. Ia mencoba menyussui di depan keduanya. Ternyata bayi itu mau disussui Sarah. Sarah yang memang demam karena tak bisa menyussui, tersenyum lega. Wanita itu juga tersenyum walau dengan wajah sendu.
"Alessandro, bila kedua orang ini sanggup menyelamatkanmu, ibu rela, Nak. Ibu rela mati ditangan mereka." Wanita itu mengeluarkan sebuah kalung emas dengan bandul pendan dari jaketnya. Pendan itu dibuka dan terlihatlah foto dirinya. "Ini tanda pengenal bayi ini. Suatu saat bila ia ingin mencari ayahnya, suamiku pasti mengenali ini."
Hawari mengambil pendan itu. "Jadi, kamu takkan kembali?"
"Kalau aku tak kembali, tolong asuh anakku. Aku tak minta ia balas dendam, tapi kalau ia bisa melakukannya, aku pasti sangat bangga." Wanita itu tampak ingin menangis. Daddanya terasa sesak mengingat perpisahan yang sudah di depan mata dan mungkin nyawanya tak tertolong lagi. "Kalau aku tidak kembali dalam beberapa hari, tolong kembalilah ke negaramu menggunakan pesawat sewaan. Itu lebih aman."
Hawari merasa ada yang tak beres dengan kisah wanita itu tapi ia merasa harus menolong wanita malang ini. Setidaknya keturunannya. "Boleh aku tahu namamu?"
"Sophie. Sophie Arnold."
Keesokan harinya, wajah wanita itu menghiasi hampir semua surat kabar di Itali. Wanita itu terbunnuh dan jasadnya ditemukan di sungai dengan luka tembbak di kepala. Anaknya masih dalam pencarian padahal wanita itu adalah istri seorang mafia. Hari itu juga Hawari dan Sarah pulang ke Indonesia membawa bayi Sophie dengan pesawat sewaan.
***
"Jadi ... bagaimana?" Adrian datang dan langsung duduk di depan meja pria itu.
Seorang pria bertubuh kurus dengan rambut pirang sedikit gondrong, menatapnya. "Iya, kami menemukan seseorang yang pernah melihat nyonya memasuki sebuah hotel sehari sebelum ia ditemukan meninggal. Aku memeriksa catatan tamu-tamu hotel dan ternyata ada sepasang suami-istri yang pulang dengan membawa bayi. Padahal sebelumnya mereka datang tidak membawa bayi sama sekali. Pasangan ini kemudian pulang sehari setelah kematian nyonya tersebar di surat kabar. Besar kemungkinan, mereka membawa anak Anda, Tuan."
"Mmh ... darimana mereka berasal?"
"Indonesia, Tuan."
"Indonesia? Dan kamu mendapatkan alamatnya?"
"Segera, Tuan karena ternyata laki-laki itu adalah seorang pengusaha."
"Mmh, cepat saja! Aku sudah tak sabar bertemu dengan anakku." Adrian mulai tersenyum.
Dari ruang sebelah, Sophie mendengarkan percakapan mereka lewat stetoskop yang ditempel ke dinding. Ia terkejut mendengar nama Indonesia. "Indonesia? Apa di Jakarta? Aku tidak boleh melewatkan satu hal pun yang akan terjadi ke depannya, kalau tidak, kejadian waktu itu pasti terulang lagi. Kalau Alessandro dijemput, lebih baik aku menunggu di sini saja, memastikan dia Alessandro yang sesungguhnya, bukan hasil rekayasa Viviana."
***
Lana kembali dari kamar mandi sambil mengusap mulutnya. Wajahnya sedikit pucat.
Fian tampak khawatir. "Kamu tidak apa-apa?"
Lama menggeleng. "Aku hanya pagi-pagi aja, Mas, mualnya. Jadi gak bisa sarapan. Makan siang sama malam gak ada masalah." Ia duduk di sebelah sang suami.
"Tapi kamu harus periksa, Lana." Fian meraih tangan istrinya di atas meja. "Apa mau ku temani?"
Lana malah menarik tangannya. "Gak usah, Mas."
"Tapi kalau ada yang serius, gimana? Ini sudah beberapa hari, lho!"
"Ya sudah. Nanti aku periksa." Lana akhirnya mengalah.
"Iya, wajahmu sekarang sudah pucat, soalnya."
"Iya, Mas," jawab Lana lemah.
"Yakin bisa sendiri?" Fian masih memandangi wajah Lana yang tampak tak sehat.
"Mas, 'kan mau ke kantor ...."
"Ke kantor 'kan bisa ditunda dulu."
"Gak papa, Mas. Aku pastiin, nanti ke dokter."
Fian masih memandangi wajah istrinya. "Bener ya?"
"Bener, Mas."
"Ok."
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp