Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Mobil mewah itu akhirnya melintasi gerbang sebuah villa megah bergaya modern tropis di kawasan Uluwatu.
Suara deburan ombak dari balik tebing terdengar jelas, menciptakan suasana yang seharusnya romantis bagi pasangan pengantin baru. Namun, di dalam kabin mobil, udara tetap terasa beku.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian adat Bali yang rapi, Niluh, sudah berdiri di depan pintu utama.
Senyumnya terkembang ramah menyambut kedatangan sang majikan.
"Selamat datang, Tuan Abi... Nyonya Liana," sapa Niluh dengan sopan sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
Liana, yang wajahnya masih terlihat pucat dan tertutup sebagian rambutnya, hanya menganggukkan kepalanya perlahan tanpa mengeluarkan suara.
Ia tidak memiliki energi lagi untuk bersikap ramah, meski ia tahu Niluh tidak tahu apa-apa tentang penderitaannya.
"Niluh, tolong bawakan koper-koper ke kamar utama. Kami ingin segera istirahat," perintah Abi singkat.
Ia mencoba merangkul pinggang Liana untuk membantunya masuk, namun Liana dengan halus namun tegas menggeser tubuhnya, menghindari sentuhan itu.
"Baik, Tuan. Kamar sudah disiapkan dengan wewangian aromaterapi dan bunga-bunga segar seperti yang Tuan minta," sahut Niluh sambil mulai mengangkat koper besar yang disiapkan Genata tadi pagi.
Mereka melangkah masuk ke dalam villa yang luas itu.
Lantai marmer yang dingin terasa kontras dengan kulit Liana.
Niluh segera membawa koper tersebut ke dalam kamar dan membukanya untuk membantu merapikan pakaian Liana ke dalam lemari.
"Nyonya, saya bantu ganti baju atau—" Kalimat Niluh terputus.
Mata Niluh membelalak saat tangannya menarik sepotong gaun sutra berwarna putih dari dalam koper.
Ia terperanjat melihat gaun itu memiliki robekan-robekan kasar di bagian dada dan punggung, seolah baru saja dicabik-cabik dengan benda tajam.
Liana yang berdiri tidak jauh dari sana ikut melihatnya.
Ia melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah isi koper yang kini dibongkar Niluh satu per satu.
Gaun malam, baju tidur, hingga blus cantik yang ia bawa, semuanya dalam kondisi yang sama: robek dan compang-camping akibat guntingan yang sengaja disembunyikan di balik lipatan.
Liana terdiam sejenak, lalu tawa getir yang lirih keluar dari bibirnya. Ia sudah menduga ini. Ia tahu siapa pelakunya.
"Luar biasa..." bisik Liana dingin.
"Mbak Genata benar-benar ingin aku tidak memakai apa pun di depan suaminya."
Abi, yang baru saja masuk ke kamar setelah memarkirkan mobilnya di depan, tertegun melihat pemandangan itu.
Ia menghampiri koper tersebut dan meraih salah satu baju yang sudah hancur.
Wajahnya seketika berubah merah padam karena amarah sekaligus rasa malu.
Liana menatap Niluh yang masih terpaku dengan wajah pucat.
"Niluh, tolong keluar sebentar. Biarkan saya sendiri di sini," ucap Liana dengan suara yang sangat datar, namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.
Niluh menunduk dalam, merasa ngeri dengan atmosfer di dalam kamar itu.
"B-baik, Nyonya. Saya permisi."
Setelah pintu tertutup rapat, Liana berbalik menatap Abi yang masih memegang potongan kain sutra yang hancur.
Tanpa ragu, Liana meraih ritsleting gaun yang ia kenakan sejak pagi dan menurunkannya.
Gaun itu merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin, meninggalkan Liana hanya dalam balutan pakaian dalam yang tipis.
Liana mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu, melewati cermin-cermin besar yang memantulkan tubuhnya yang dipenuhi lebam kebiruan.
Ia tidak peduli pada hawa dingin pendingin ruangan yang menusuk kulitnya.
Abi yang melihat pemandangan itu dari sudut matanya langsung terperanjat.
Ia segera melepaskan jasnya dan menghambur menghampiri Liana, mencoba menutupi tubuh istrinya yang terbuka.
"Liana! Apa yang kamu lakukan? Pakai bajumu kembali!" seru Abi dengan suara yang bergetar antara panik dan amarah.
Ia berusaha melingkarkan jasnya ke bahu Liana, namun Liana terus bergerak menghindar.
"Kenapa, Paman? Apa yang salah?" Liana berhenti melangkah dan menatap Abi dengan sorot mata yang menantang.
"Paman ingin aku ganti baju? Tapi lihatlah koper itu. Tidak ada satu pun benang yang tersisa untuk menutupi tubuhku."
"Liana, tenanglah. Aku akan menyuruh Niluh membelikan baju baru sekarang juga. Tolong, jangan seperti ini," bujuk Abi, tangannya gemetar saat mencoba merapikan jas di bahu Liana.
Liana tertawa, suara tawanya terdengar sangat mengerikan di kesunyian kamar itu.
"Biar saja aku begini, Paman. Biarkan aku telanjang bulat di villa mewah ini. Bukankah itu yang diinginkan istri kesayanganmu? Dia merobek semua bajuku agar aku tidak punya pilihan lain."
Liana mendekatkan wajahnya ke dada Abi, menatap suaminya dengan tatapan yang menghujam jantung.
"Lagi pula, untuk apa aku memakai baju? Aku kan hanya pelacur yang kamu beli dari Mamaku. Pelacur tidak butuh baju di depan tuannya, bukan? Aku hanya mesin yang butuh terbuka agar kamu bisa mengambil apa yang kalian mau."
"Cukup, Liana! Jaga bicaramu!" bentak Abi, matanya memerah menahan tangis dan amarah yang bergejolak.
"Kenapa? Apa kenyataan itu terlalu menyakitkan untuk telinga sucimu, Paman?" bisik Liana lirih, air mata mulai mengalir namun bibirnya tetap menyeringai pahit.
"Mbak Genata sudah menyiapkan skenarionya dengan sangat baik. Dia merusak pakaianku, dan Paman merusak jiwaku. Kalian pasangan yang sangat serasi."
Liana mendorong dada Abi dengan segenap tenaga yang tersisa, membuat pria itu terhuyung ke belakang.
Tanpa memedulikan jas Abi yang sempat tersampir di bahunya jatuh ke lantai, Liana berlari keluar kamar.
Ia menerjang pintu kaca yang menuju ke area private pool di balkon villa tersebut.
"Liana! Berhenti!" teriak Abi panik.
Liana tidak mendengarkan. Ia berlari tertatih, rasa nyeri yang hebat berdenyut di betis dan pergelangan kakinya saat kakinya menghantam lantai dek kayu yang keras.
Setiap langkahnya adalah siksaan fisik, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan bara yang membakar dadanya.
BYURRR!
Liana melompat ke dalam kolam renang. Air dingin Uluwatu di malam hari seketika membungkus tubuhnya yang hampir polos.
Dinginnya air yang menusuk itu justru terasa melegakan, seolah mampu memadamkan api amarah yang menyulut jiwanya. Namun, saat air itu menyentuh luka lebam dan bekas garis merah di kakinya, rasa perih yang luar biasa menyerang hingga ia nyaris kehilangan kesadaran di dalam air.
Liana muncul ke permukaan, terengah-engah dengan rambut yang menempel di wajahnya yang pucat.
Ia tidak berenang dan hanya membiarkan tubuhnya mengambang di pojok kolam, menatap langit malam Bali yang gelap tanpa bintang.
"LIANA!" Abi menyusul, ia langsung berlutut di pinggir kolam.
Wajahnya dipenuhi ketakutan yang nyata. "Keluar sekarang juga! Airnya sangat dingin, lukamu bisa infeksi!"
Liana tertawa pelan, suaranya berbaur dengan kecipak air.
"Biarkan saja, Paman. Biarkan luka ini membusuk, sama seperti hatiku. Bukankah air dingin ini bagus untuk meredam panasnya tanganmu saat menamparku tadi?"
"Liana, aku mohon. Jangan hukum dirimu sendiri karena kesalahanku dan Genata," suara Abi pecah, ia hampir menangis melihat istrinya yang tampak begitu rapuh di tengah kolam luas itu.
"Hukum diriku?" Liana menoleh, menatap Abi dengan mata yang merah.
"Aku sedang merayakan kebebasanku, Paman. Di sini, di dalam air ini, aku tidak merasa kotor karena sentuhanmu. Di sini, aku merasa tidak ada Mbak Genata yang sedang mengintip dan merancang kehancuranku."
Liana kemudian menenggelamkan seluruh tubuhnya kembali ke dalam air, membiarkan dirinya tenggelam ke dasar kolam.
Ia sengaja menguji seberapa jauh Abi akan mengejarnya ke dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.