Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Langit tidak lagi runtuh; ia sudah luluh lantak menjadi debu di bawah kaki Jihan. Setiap langkahnya kini adalah usaha untuk menyeret bangkai dunia yang telah menolaknya. Jalan setapak yang familier terasa asing, seolah setiap kerikil dan akar pohon di bawah kakinya ikut berbisik, mencemooh kegagalannya.
Di tengah langkahnya yang berat itu, sebuah suara serak dan getir lolos dari bibirnya… bukan isakan, melainkan tawa.
“Aku bekerja… sampai tulangku terasa retak… hanya untuk menyembuhkan Ibu,”
“Setiap jalan telah kucoba. Tapi Langit…”
Langkahnya terhenti. Ia mendongak, menantang langit yang bisu dan tak bersahabat itu. Matahari yang menggantung tepat di puncak terasa seperti mata raksasa yang tanpa ampun. Cahayanya yang membakar bukan lagi sekadar panas, itu adalah hujaman ribuan pisau tak terlihat yang menembus kelopak matanya, mengirimkan rasa perih yang menjalar turun hingga menghimpit dadanya.
Dan di balik silau yang membutakan itu, Jihan bisa merasakannya. Senyum sinis Langit yang tak berbentuk, yang menikmati penderitaannya.
Ia kembali tertawa, kali ini tanpa suara, sebuah getaran sunyi di tubuhnya yang lelah.
“…selalu punya cara untuk menutup setiap jalanku.”
Bahkan udara yang ia hirup kini terasa beracun. Setiap tarikan napas tidak lagi membawa kesejukan, melainkan menyeret kembali serpihan-serpihan penghinaan yang baru saja ia alami.
Di dalam kepalanya, tiga hal terus berputar tanpa henti: gema tawa keji Gading yang menusuk telinga; tatapan jijik dan sinis dari para penduduk desa yang kini memandangnya seperti wabah; dan yang paling menghancurkan dari semuanya, vonis dingin tanpa ampun dari Penatua Wira. Kata-kata sang Penatua itu terasa seperti mantra kutukan, memadamkan setiap sisa harapan di jiwanya.
Langkahnya kini tak lagi berat oleh beban, melainkan kosong dan mekanis, seperti mesin tanpa jiwa. Kakinya bergerak maju secara otomatis, menendang debu dan daun kering tanpa ia sadari. Ia melewati deretan gubuk tetangganya.
Jihan bisa melihatnya dengan jelas dari sudut matanya, pintu-pintu yang tadinya terbuka kini ditarik tertutup saat ia mendekat. Tirai-tirai jendela disibak sedikit, lalu ditutup kembali dengan cepat. Tatapan yang sempat ia tangkap bukan lagi iba, melainkan campuran antara jijik dan ketakutan yang dingin.
Bisikan-bisikan mengikuti punggungnya seperti hantu yang tak terlihat. Kabar tentang ‘anak pembawa kutukan’ menyebar lebih cepat dari api di rumput kering. Namun, anehnya, semua itu tidak lagi terasa menyakitkan.
Jihan sudah terlalu hampa untuk peduli.
Langkahnya yang mekanis akhirnya terhenti saat ia tiba di depan gubuknya. Tempat ini, satu-satunya sauh pelindung yang ia miliki di dunia, simbol kehangatan dan tempatnya berpulang, kini terasa berbeda. Pintu kayu di hadapannya tidak lagi terlihat seperti gerbang menuju perlindungan. Kini, itu terasa seperti sebuah dinding tinggi yang tak bisa ia tembus.
Tangannya terulur untuk mendorong pintu, namun berhenti gemetar di udara, hanya beberapa senti dari permukaan kayu yang usang. Ia tidak sanggup. Tidak sanggup masuk dan menatap wajah ibunya yang pasti masih menyimpan harapan dari janji mereka semalam.
Jihan memejamkan mata. Napasnya terasa berat dan sesak, seakan udara di sekelilingnya ikut menghimpit dadanya. Ia harus melakukannya. Ia harus kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk wanita yang menunggunya di dalam.
Dengan sisa-sisa keberanian yang berhasil ia kumpulkan, tangannya yang gemetar akhirnya menyentuh kayu pintu dan mendorongnya perlahan.
Pintu itu berderit pelan, sebuah suara keluhan yang seolah menyambut Jihan masuk ke dalam ruangan yang kini terasa seperti panggung penghakimannya sendiri. Udara di dalam gubuk terasa dingin dan pengap, kontras dengan terik matahari yang baru saja ia tinggalkan.
Di dalam, di atas pembaringan kayu yang sederhana, Wulandari menunggunya. Saat mendengar derit pintu, wajahnya yang pucat pasi terangkat dengan seberkas antisipasi yang begitu kentara hingga terasa menyakitkan. Setitik harapan yang rapuh sempat mekar di dadanya.
Namun, harapan itu layu bahkan sebelum sempat mekar sepenuhnya.
Ia tidak perlu bertanya. Jawaban atas segalanya terpahat dengan kejam di postur tubuh putranya. Di bahunya yang terkulai seolah tak sanggup lagi menopang beban. Di wajahnya yang tertunduk dalam, menghindari tatapannya. Dan yang paling menghancurkan, di matanya yang biasanya menyala penuh tekad, kini kosong dan kehilangan cahayanya. Harapan yang baru kemarin mereka rajut bersama dengan air mata bahagia, kini telah terkoyak menjadi serpihan sunyi.
“Jihan…”
Wulandari berbisik. Bukan pertanyaan, bukan pula keluhan, melainkan hanya bisikan nama putranya, sarat akan duka yang ia rasakan untuknya.
Jihan tidak sanggup menatapnya. Ia hanya bisa menggeleng pelan, sebuah gerakan kecil yang membenarkan ketakutan terburuk ibunya. Tanpa sepatah kata pun, ia berjalan melewati pembaringan itu menuju sudut ruangan yang paling gelap. Di sana, ia merosot ke lantai, memeluk lututnya, dan menyembunyikan wajahnya dari dunia… dari tatapan ibunya yang ia tahu tidak akan pernah menghakimi, melainkan hanya akan dipenuhi kasih. Dan justru itulah yang paling tidak sanggup ia hadapi saat ini.
Wulandari tidak mengatakan apa-apa lagi. Hatinya hancur, bukan karena harapan kesembuhannya yang pupus, tetapi karena melihat putranya hancur, Bagaimana pun ia masihlah anak berusia 13 tahun. Ia mengerti. Tidak ada kata-kata penghibur yang bisa menjembatani jurang keputusasaan tempat Jihan kini terperosok.
Maka, ia hanya berbaring di sana, dalam keheningan gubuk yang remang. Satu-satunya suara adalah tarikan napasnya sendiri yang pendek dan dangkal. Setiap embusan napas itu terdengar seperti lonceng pengingat, itulah alasan Jihan berjuang begitu keras, dan kini, suara itu pulalah yang membuat gema kegagalannya terasa ribuan kali lebih menyakitkan.
Dan hari itu, tak ada janji yang diperbarui, tak ada impian yang dibicarakan. Hanya ada keheningan tebal yang menyelimuti dua jiwa yang sama-sama hancur, terpisah oleh duka meski berada di dalam satu ruangan kecil yang sama.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Jihan tidak lagi memimpikan fajar.
…
Semburat fajar berwarna jingga perlahan merayap masuk, sinarnya menembus seperti belati-belati tipis melalui celah dinding gubuk yang reot. Udara pagi yang sejuk dan bersih seharusnya membawa serta kedamaian. Namun bagi dua jiwa yang hancur di dalamnya, pagi itu hanyalah pengingat bisu akan hari baru yang harus mereka hadapi dengan harapan yang telah mati.
Di sudut gubuk yang gelap, Jihan tidak beranjak dari posisinya. Sejak ia pulang dari alun-alun kemarin, ia hanya terduduk di sana, memeluk lututnya dan bersandar di dinding dingin, seolah mencoba membuat dirinya sekecil mungkin, menghilang dari dunia.
Seluruh harapannya telah hancur. Lenyap.
Pikirannya berputar-putar tanpa henti pada ironi yang kejam itu. Perjuangannya yang mati-matian. Kekuatan baru yang ia dapatkan dari Pil Penguat Roh. Semua terasa seperti lelucon pahit sekarang. Untuk apa semua kekuatan ini, jika akar spiritualnya saja sudah rusak? Jika jalan untuk menyembuhkan ibunya tertutup untuk selamanya?
Semuanya… sia-sia.
Keheningan di dalam gubuk terasa absolut, hanya dipecah oleh tarikan napas Jihan yang dangkal dan kosong. Ia tidak bergerak, tidak bersuara, hanya ada di sana, sebuah arca penderitaan di sudut ruangan yang gelap.
Namun, di seberang ruangan, di atas pembaringan, sepasang mata tidak pernah lepas darinya. Wulandari menatap punggung putranya yang ringkih, setiap getaran kecil di bahunya terasa seperti sayatan di hatinya sendiri. Ia tidak sanggup melihatnya seperti ini. Tidak sanggup melihat api di mata putranya padam menjadi abu yang dingin.
Dengan pengerahan tenaga yang luar biasa, yang seolah menarik setiap sisa kehidupan dari tubuhnya yang lemah, Wulandari mendorong dirinya untuk duduk. Kakinya yang gemetar ia turunkan dari pembaringan, menapak lantai tanah yang dingin. Ia menggunakan dinding kayu yang rapuh sebagai penopang, setiap langkahnya adalah sebuah perjuangan melawan rasa sakit dan pusing yang mendera.
Ia terhuyung, nyaris jatuh, namun ia terus bergerak maju. Selangkah demi selangkah, ia melintasi ruangan kecil itu, sebuah perjalanan yang terasa lebih jauh dari ujung dunia.
Akhirnya, ia tiba di belakang Jihan. Tangannya yang kurus dan gemetar terulur, lalu mendarat dengan lembut di atas kepala putranya.
Sentuhan itu, yang begitu familier dan penuh kasih, adalah hal pertama yang berhasil menembus benteng kehampaan yang dibangun Jihan di sekelilingnya. Tubuhnya sedikit tersentak.
“Lihat Ibu, Nak.”
Suara Wulandari lirih, serak, namun mengandung kekuatan yang tak terduga.
“Ibu tahu itu menyakitkan untukmu,”
“Tapi, coba pikirkan lagi, Nak. Apakah perjuanganmu benar-benar sia-sia?”
Ia berhenti sejenak, membiarkan pertanyaannya meresap.
“Kau masuk ke dalam Hutan sendirian, yang dipenuhi oleh ancaman binatang buas.”
“Kau berjuang melawan Gading dan teman-temannya, bukan untuk dirimu sendiri, tapi karena mereka menghina Ibu.”
“Dan kemarin, saat satu jalan tertutup karena pil itu habis, kau tidak menyerah dan pulang dengan tangan hampa. Kau menemukan jalan lain. Kau membuka gerbang yang baru.”
“Perjuangan seperti itu,” bisiknya, “tidak akan pernah bisa disebut sia-sia, Jihan.”
Kata-kata itu perlahan meresap, seperti air yang menetes di atas batu yang paling keras sekalipun. Jihan perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang merah dan bengkak akhirnya bertemu dengan tatapan ibunya yang teguh.