Cerita cinta seorang duda dewasa dengan seorang gadis polos hingga ke akar-akarnya. Yang dibumbui dengan cerita komedi romantis yang siap memanjakan para pembaca semua 😘😘😘
Nismara Dewani Hayati, gadis berusia 20 tahun itu selalu mengalami hal-hal pelik dalam hidupnya. Setelah kepergian sang bunda, membuat kehidupannya semakin terasa seperti berada di dalam kerak neraka akibat sang ayah yang memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Tidak hanya di situ, lilitan hutang sang ayah yang sejak dulu memiliki hobi berjudi membuatnya semakin terpuruk dalam penderitaan itu.
Hingga pada akhirnya takdir mempertemukan Mara dengan seorang duda tampan berusia 37 tahun yang membuat hari-harinya terasa jauh berwarna. Mungkinkah duda itu merupakan kebahagiaan yang selama ini Mara cari? Ataukah hanya sepenggal kisah yang bisa membuat Mara merasakan kebahagiaan meski hanya sesaat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCSD 22 : Apakah Ini Cinta?
Mara, gadis belia itu terus berlari untuk bisa menghindar dari Dewa. Pada akhirnya ia memilih untuk kembali ke kamar dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Ia bersandar di dinding kamar mandi sembari berupaya untuk menetralisir kembali degup jantungnya yang terasa sudah tiada beraturan.
Jemari tangannya menyentuh bibir. "Ya Tuhan, tuan Dewa menciumku? Meskipun ini adalah kali kedua aku merasakan sentuhan bibir tuan Dewa namun mengapa rasanya masih sama? Sama seperti saat tanpa sengaja bibir kami bertemu ketika aku lompat dari pohon. Aku kembali merasakan degup jantung yang tiada terkendali seperti ini."
Berkali-kali Mara membuang nafas kasar. Sembari mengacak rambutnya. "Perasaan apa yang aku rasakan ini Tuhan? Sebuah perasaan asing yang sama sekali belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan terlebih ini tentang sebuah gejolak perasaan kepada makhluk bernama laki-laki yang sama sekali belum pernah menyentuh ruang hatiku."
Mara menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Tatapannya seakan kosong dan menerawang. Apa yang baru saja ia alami seolah memaksanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. "Tuhan, apakah ini cinta?"
Mara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada tuan Dewa. Ini semua mungkin hanya sebuah kebetulan saja. Kebetulan karena kita sama-sama larut dalam sebuah kebersamaan. Dan pastinya tuan Dewa melakukan itu juga hanya karena ia larut dalam kebersamaan ini."
Mara menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Tapi bagaimana jika memang aku memiliki perasaan khusus terhadap tuan Dewa? Aku merasa begitu nyaman dan tenang ketika berada di samping tuan Dewa. Dan seakan aku merasa aman ketika berada di dekatnya. Apakah ini yang disebut dengan cinta? Atau hanya sebuah setitik kerinduan karena sedari dulu aku tidak pernah merasakan diperhatikan se lekat ini oleh makhluk bernama laki-laki? Ya Tuhan, aku harus bagaimana jika nanti kembali bertemu dengan tuan Dewa? Apa yang harus aku lakukan?"
Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Karena sama sekali tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam dirinya sendiri. Akhirnya ia memilih untuk melepaskan semua pakaiannya, menghidupkan shower dan mulai membersihkan tubuhnya.
***
Sementara itu, di samping kamar milik gadis belia yang tengah berada di bawah guyuran air shower, terlihat seorang pria dewasa juga tengah berendam di dalam bathtub. Dengan luapan busa beraroma aromaterapi seakan membuat pikiran pria itu sedikit lebih rileks. Ia menggosok-gosok seluruh bagian tubuhnya dengan pikiran yang sedikit menerawang.
Seutas senyum manis terbit di bibir pria berusia hampir empat puluh tahun itu tatkala ia mengingat bibirnya menyentuh bibir sang gadis. Meskipun tidak ada respon sama sekali dari sang gadis, namun ia merasakan ada sebuah kehangatan yang mengaliri aliran darahnya.
"Hahaha lihatlah bagaimana ekspresi wajah gadis itu ketika aku menciumnya tadi. Dia terlihat sangat polos sekali dan bahkan tidak bisa membalas apapun."
Dewa terbahak mengingat apa yang terjadi diantara dirinya dengan Mara. Lelaki itu tanpa berpikir panjang langsung memberikan sebuah kecupan untuk Mara yang benar-benar membuat gadis itu terkejut.
"Mengapa dia polos sekali? Apakah ciuman yang aku berikan tadi merupakan ciuman pertamanya? Aaaaaahhh jika memang benar, aku sangatlah beruntung mendapatkannya."
Pikiran Dewa kembali menerawang. Ia ingat kembali bagaimana awal pertemuannya dengan gadis itu yang sungguh bisa mengalihkan semua perhatiannya. Semua yang ada di dalam diri Mara seakan menjadi sebuah medan magnet yang membuat pikirannya selalu tergoda untuk memikirkan gadis itu.
Dewa terkesiap tatkala merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di bawah sana. Dan benar saja, pisang tanduknya memberikan sebuah respon. Lelaki itupun hanya bisa membuang nafas kasar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh Tuhan... Bahkan ketika aku tidak sedang bersamanya dan hanya memikirkan dia dalam anganku saja milikku ini tetap memberikan respon untuk turn on. Apakah hanya bersama gadis itu aku bisa merasakan ini semua? Jika memang benar, apakah aku harus berusaha untuk mendapatkan hatinya? Namun apakah aku tidak seperti seorang pedofil yang menyukai anak-anak di bawah umur jika sampai aku menjalani hubungan dengannya? Karena memang jarak usiaku dengan gadis itu terlampau jauh."
Dewa mengelus-elus pisang tanduknya yang seperti meminta untuk dimanjakan. "Seharusnya setelah kamu pulih dari koma, kamu bisa segera masuk ke dalam sarangmu namun sayang karena sarangmu sudah dimasuki oleh ular yang lain. Jadi mau tidak mau saat ini kita bermain solo menggunakan sabun terlebih dahulu. Aaaahhhhh...."
Dewa terus saja melakukan aksi solo nya. Keadaan seperti ini terasa kian menyiksa. Sebuah hasrat yang seharusnya bisa ia tuntaskan dengan adanya lawan main, kali ini terpaksa harus ia lakukan sendiri dengan bantuan sabun.
***
Tok....Tok... Tok....
Suara pintu yang terdengar diketuk dari luar membuat Mara sedikit terperanjat. Ia yang tengah menikmati salah satu sajian acara TV gegas membuka pintu kamarnya, dan terlihat ada salah seorang pelayan resort yang mendatangi kamarnya.
"Nona Mara?"
Mara menganggukkan kepalanya. "Iya Mbak, saya Mara. Hemmmm ada perlu apa ya Mbak?"
Pelayan itu hanya mengulas sedikit senyumnya sembari memberikan sebuah paper bag ke hadapan Mara. "Ini dari tuan Dewa, Nona. Tuan Dewa meminta Anda untuk memakai pakaian yang ada di dalam paper bag ini dan setelah itu Nona diminta untuk mendatangi tuan Dewa yang sedang berada di tepi pantai."
Dahi Mara sedikit mengerut. "Di tepi pantai? Malam-malam seperti ini? Memang apa yang dilakukan oleh tuan Dewa? Apakah mungkin ia sedang mencari wangsit di tepi pantai?"
Pelayan itu hanya tergelak lirih. Namun sebisa mungkin ia menghentikan gelak tawanya, ia khawatir jika dianggap sebagai pelayan yang tidak memiliki etika dalam bekerja. "Tuan Dewa ingin mengajak Nona untuk makan malam. Nona pastinya sudah sangat lapar bukan? Oleh karena itu, tuan Dewa mengajak Nona untuk makan malam di tepi pantai."
Mendengar ucapan pelayan resort ini membuat Mara sedikit berdecak. Logikanya seakan ditarik paksa untuk memahami apa maksud pria dewasa itu mengajaknya makan malam di tepi pantai. "Mengapa harus di tepi pantai? Apa tuan Dewa tidak takut jika tiba-tiba ada tsunami menerjang? Yang membuat kita tidak sempat untuk menyelamatkan diri? Aaaahhh benar-benar aneh tuan Dewa itu."
Cicitan lirih yang keluar dari bibir Mara semakin membuat pelayan resort ini terkikik geli. Ia tidak menyangka jika masih ada wanita polos seperti wanita di depannya ini. Seorang wanita yang biasanya begitu bahagia diajak dinner romantis di tepi pantai dengan menampakkan binar-binar bahagia di wajahnya, wanita di depannya ini justru sebaliknya. Wajah wanita ini terlihat sedikit pias sambil memikirkan tentang tsunami yang tiba-tiba menerjang. Benar-benar wanita langka.
"Nona tidak perlu risau akan hal itu. Sekarang Nona bersiaplah, setelah itu akan saya antar Nona ke tempat tuan Dewa menunggu."
Mara sedikit membuang nafas kasar. Ia tatap lekat paper bag di tangannya ini. "Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan ganti baju terlebih dahulu."
.
.
. bersambung...
mengecewakan😡