NovelToon NovelToon
Jodoh Ku Sepupuku

Jodoh Ku Sepupuku

Status: tamat
Genre:Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ann,,,,,,

Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.

Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.

Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.

Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ya Allah selamat kan wajahku

Kulihat wajah Anna seketika memerah. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat. Aku hanya menunduk—bukan karena takut, tapi karena sedang berpikir: setelah ini apa?

Apakah Anna akan menghajar ku? Atau mengusirku sekalian?

Entahlah.

“Lif, ikut aku. Kita perlu bicara.”

Nada suaranya dingin. Bukan dingin yang biasa—ini dingin yang menahan amarah. Aku melirik paman dan mace. Keduanya diam, tidak bergerak, tidak mencegah. Seolah tahu, ini bukan wilayah mereka lagi.

Dalam hati aku berdoa cepat. Ya Allah, selamatkan wajah tampanku… kayaknya sebentar lagi bakal lecet.

Anna berjalan lebih dulu, menuju pintu samping dekat dapur. Aku mengikutinya dari belakang, langkahku otomatis melambat. Begitu kami sampai di halaman samping, Anna sudah berdiri menghadapku.

Posturnya tegak. Tatapannya tajam.

Seperti singa yang sedang mengunci mangsa.

Aku berhenti dua langkah darinya.

Tunggu.

Berarti… mangsanya aku?

Aku menelan ludah. “Oke, sebelum mulai—gue mau klarifikasi dulu,” ucapku refleks, mencoba tetap santai walau jantungku sudah mau loncat. “Kalau lo mau mukul, kabarin dulu. Biar gue siap pasang muka kiri atau kanan.”

Kesunyian.

padahal masih pagi tapi hawanya sudah cukup panas, menggerakkan ujung jilbab Anna sedikit. Matanya menyipit, bukan geli—tapi menahan ledakan.

“Alif,” katanya pelan, sangat pelan, “lo tahu gak barusan lo ngapain?”

Aku mengangkat bahu setengah. “Nyelametin diri sendiri?” gumamku.

Detik berikutnya, tangan Anna mencengkeram kerah kaosku.

Bukan ragu. Bukan main-main.

Dan saat itu aku sadar— ini bukan duel fisik yang harus ku takuti.

Ini perang batas. Dan Anna tidak pernah kalah di medan itu.

“Anna, tenang dulu, oke. Kita bisa diskusikan baik-baik,” ucapku, berusaha menahan situasi.

Tapi jawabannya bukan kata-kata.

Dorongannya cukup kuat sampai aku mundur dua langkah. Kakiku hampir kehilangan keseimbangan.

“Oke, kita bicara,” katanya dingin, sangat dingin.

“Tapi sebelum itu—lo lawan gue dulu.”

Aku mengernyit, yakin barusan salah dengar.

“Apa?”

“Apa yang lo denger.”

Anna merapikan jilbabnya perlahan, rapi, presisi. Seolah sedang mempersiapkan diri bukan untuk bertengkar—tapi bertanding.

“Gue gak mau lo diem bego,” lanjutnya.

“Kalau gue pukul, lo balas. Kalau gue tendang, lo jangan cuma ngindar. Jangan jadi pengecut sok baik.”

Aku terdiam.

Ya Allah… ini apaan.

Masa iya aku harus berantem sama perempuan? Kalau orang lihat—habislah harga diri gue. Kalau gue balas—gue laki-laki brengsek. Kalau gue gak ngelawan—dia makin murka.

Serba salah.

“Anna,” kataku pelan, kali ini tanpa nada bercanda,

“lo sadar gak yang lo minta itu apa?”

Dia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua.

Matanya berkaca, tapi rahangnya tetap keras.

“Gue sadar, Lif,” katanya lirih tapi tajam.

“Gue lagi nahan diri biar gak lebih parah. Jadi jangan ceramahin gue sekarang.”

Tangannya mengepal.

“lo pikir Lo siapa,? sok soan masuk di hidup gue,” sambungnya, “jangan berdiri sebagai orang suci. Berdiri sebagai laki-laki yang berani lawan gue… sama marah gue.”

Dadaku terasa sesak.

Bukan karena takut dipukul. Tapi karena akhirnya aku paham.

Ini bukan tentang adu fisik. Ini tentang Anna yang kehilangan kendali atas hidupnya—dan butuh seseorang yang tidak lari saat dia hancur.

Aku menghela napas panjang, lalu membuka langkah kaki. Bukan menyerang. Bukan kabur.

“Gue gak akan mukul lo,” ucapku mantap. “Tapi gue juga gak akan ninggalin lo.”

Anna mendengus kecil, getir. “Dasar keras kepala.”

Dan detik berikutnya— tendangannya meluncur cepat ke arah kakiku.

Refleks tubuhku bergerak.

Bukan untuk menghindar sepenuhnya.

Tapi untuk menahan tendangan nya.

“Lawan gue, bego!” umpatnya saat aku hanya menahan setiap serangan.

Aku bahkan belum sempat membuka mulut.

Satu kepalan tinju cepat menghantam sudut bibirku.

Plak.

Rasanya asin langsung menyebar di mulut. Aku refleks menjilat bibir—darah.

Anna sudah kembali mengambil ancang-ancang. Lututnya terangkat, siap meluncurkan tendangan berikutnya.

Dan sebelum sempat mengenai tubuhku—

“Cukup.”

Satu suara membuat udara di halaman itu membeku.

Aku menoleh.

Paman Pardi sudah berdiri di antara kami. Tegap. Tapi auranya seperti tembok baja. Tatapannya tidak keras—lebih berbahaya dari itu: kecewa.

“Kalian,” katanya pelan, tapi nadanya menusuk,

“sampai kapan mau adu kekuatan?”

Anna terdiam. Napasnya masih naik turun. Tangannya gemetar, bukan karena lelah—tapi karena emosi yang belum turun.

“Kamu, Anna,” lanjut paman, kini menatap keponakan kesayangannya itu,

“kalau mau marah, marah sama paman juga.”

Anna menelan ludah.

“Paman yang minta sepupumu untuk menjagamu,” kata paman tanpa berkelit.

“Bukan karena kamu lemah. Tapi karena paman memikirkan masa depanmu, terutama anak-anakmu.”

Beliau menoleh sebentar ke arahku, lalu kembali ke Anna.

“Lusa paman pulang.”

“Sementara Alif—kalau dia sudah balik ke Singapura juga…”

Nada suaranya turun, berat.

“Kamu mau apa, Nak?”

Pertanyaan itu bukan tuduhan.

Itu kekhawatiran seorang orang tua.

Anna akhirnya menunduk. Bahunya yang tadi tegang perlahan jatuh. Tangannya membuka dari kepalan, lalu menggenggam ujung bajunya sendiri, seolah mencari pegangan.

“Aku…” suaranya serak.

“Aku gak minta dijagain, Paman.”

Paman menghela napas panjang.

“Paman tahu.”

“Tapi pikiran anak-anakmu.”

Anna terdiam.

Aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya. Bukan marah—tapi benteng terakhir.

“Bian sama Ayyan butuh figur laki-laki yang stabil,” lanjut paman, lebih lembut sekarang.

“Bukan ayah yang pengecut. tapi ayah yang hadir di sisi mereka.”

Anna mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, tapi tidak menangis.

“Dan Alif…” paman melirikku sekilas,

“dia satu-satunya yang paman percaya gak akan memanfaatkan lukamu.”

Aku membuka mulut, ingin bicara—tapi Anna lebih dulu bersuara.

“Paman…”

“aku capek.”

Satu kalimat pendek. Tapi penuh.

“Aku capek diatur,” lanjutnya pelan.

“Capek disuruh mikir jauh. Capek disuruh nerima bantuan seolah aku gak mampu.”

Aku melangkah maju satu langkah, refleks.

Paman mengangkat tangan—memberi isyarat agar aku diam.

“Kuat itu bukan kamu bisa melakukannya semua sendiri, Nak,” kata paman tenang.

“Dan menerima bantuan bukan berarti kamu kalah.”

Anna menutup mata sebentar. Saat membukanya lagi, matanya jatuh padaku.

Tatapan itu bukan marah.

Lebih seperti… takut.

“Lo berdiri di sini,” katanya lirih padaku,

“bikin gue ngerasa dunia gue udah berubah.”

Dadaku mengencang.

“Dan gue belum siap.”

Aku mengangguk pelan.

“Gue gak maksa,” jawabku jujur.

“Gue cuma gak mau lo sendirian.”

1
WDY
ya udah lho lif kalau memang dah cocok jadikan saja istrimu. toh anak anaknya juga dah cocok dengan kamu
WDY
aduh gimana anak anak anna dah terlanjur dekat sama alif. Thor pleaseee donk jadikan ayah sambung mereka segera
Icha sun
mungkin hidupnya terlalu sempurna jadinya bosen, makanya Rian nyari2 perkara sendiri dgn selingkuh
Icha sun
Anna kayaknya lagi ngurus surat cerai, Lif. tolonglah dampingin dia
GreenForest
Kurang apa coba Alif 🤭
GreenForest
harusnya support keluarga tuh kaya gini. Tapi apakah zaman sekarang masih ada?.😭
Meee
Untungnya mereka enggak berpisah dalam keadaan bermasalah ☺
Meee
Kalau mau pergi, pamit aj dulu bang. Daripada nanti Anna ngira kamu pergi ninggalin dia tanpa pamit
D'Mas0712
apa anna juga memiliki rasa ya sama alif?
D'Mas0712
gass nikah .. tp apa anna juga mau?
Addb_Rh
seperti ada perasaan yg sulit di jelaskan antara dua manusia dewasa ini😌
Addb_Rh
kalo gk mau di tinggal, suruh jadi bapak mu aja bian. drpd nanti kamu nangis.
Meee
Anaknya ternyata sangat open untuk posisi ayah baru, mungkin karena ayah kandung mereka gak peduliin mereka, ya 🙈
Meee
Ketakutan pamannya bisa dimengerti. Tapi keknya emang kecepetan deh 🙈 bru juga ketuk palu
WDY
Tawuran receh itu yang bagaimana thor🤭🤭🤭🤣🤣🤣
WDY
Jangan pergi donk lif. gak kesian sama anna tah
Icha sun
Om Alif sayang banget sama mama kalian. yuk, doain biar mereka bisa jadi suami istri dan jadi papa kalian
Icha sun
hangat banget sih, udah kayak rumah tangga yang harmonis 🤭
D'Mas0712
singa betina juga butuh perlindungan singa jantan lif.. 🤣🤣
D'Mas0712
kamu tidak kalah ann.. kamulah pemenangnya karena kamu mampu bertahan sampai akhir. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!