Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Plak...
Suara adu gesek telapak tangan dan pipi terdengar menggema keras di dalam ruangan.
Kedua mata pria terlihat saling menghunus tajam.
Namun bukannya melawan. Brian yang menerima tamparan keras dari tangan Zadith hanya terlihat diam dan pasrah dengan amarah meledak yang saat ini tengah Zadith luapkan padanya.
Karena Brian tahu. Jika ia memang pantas untuk mendapatkan semua ini.
Mengingat jika semua keturunan dari keluarga mereka tak pernah melakukan perselingkuhan. Seperti tindakan bejat yang saat ini tengah ia lakukan bersama Anita di belakang Inara.
" Sudah berapa lama? " dengan segenap tenaga menekan emosi jiwa yang siap meledak lagi, Zadith pun mulai bicara.
Gamparan keras yang baru saja ia lakukan terhadap Brian, seolah belum cukup puas untuk meredakan amarah yang saat ini tengah menyelimuti hatinya.
Bahkan bukan hanya sebuah gamparan saja yang ingin ia layangkan ke wajah tampan putra kandungnya itu.
Melainkan bogeman mentah. Yang mungkin saja akan membuat wajah tampan milik Brian berubah hancur tak berbentuk jadi babak belur karena ia hajar begitu keras.
Namun tidak..
Zadith tak akan melakukan hal gila itu. Mengingat jika posisi Brian saat ini adalah pemimpin perusahaan.
Jadi tentu saja wajah pria itu tak boleh terlihat cacat sedikit pun , mengingat jika sosok putranya itu selalu bertemu dengan para investor langsung. Dan juga para wartawan yang juga kerap kali mewawancarainya karena sosok Brian yang memang cukup terkenal di kota mereka.
" Katakan padaku Brian!? Sudah berapa lama kau menjalin hubungan kembali dengan wanita itu? " teriak Zadith dengan tatapan bengis. Seolah ingin membunuh Brian dalam detik itu juga.
Sementara Brian sendiri.
Pria itu terlihat berusaha tenang. Dan menarik nafas sejenak. Sampai pria itu berkata dengan jujur. Sebab Brian pikir, saat ini sudah tak perlu ada yang di tutup tutupi lagi.
Mengingat jika Zadith sudah melihat semuanya secara langsung dengan menggunakan mata kepalanya sendiri.
" Semenjak aku tak sengaja bertemu dengan Anita lagi pa."
Kepala Zadith langsung menengadah ke atas, Dengan kondisi nafas kasar yang pria itu juga keluarkan secara berulang kali dari dalam hidung.
Sedari dulu Brian adalah sosok putra membanggakan di mata Zadith.
Dari memenangkan semua perlombaan di sekolah, menjadi juara satu di sekolah. Bahkan ketika dewasa pun. Pria itu menjalankan perusahaan mereka dengan sangat baik. Bahkan bisa terbilang menjadi lebih maju. Ketika Brian yang memegangnya.
Tapi kini Zadith sadar..
Bahwa di dunia ini tak ada yang sempurna.
Begitu pula dengan Brian yang ia lihat sekarang.
Pria yang ia lihat selalu tampak sempurna itu ternyata memiliki sebuah kekurangan besar.
Kesetiaan..
Ya.. Pria itu tak memiliki hal berharga itu. Hingga rasa bangga Zadith terhadap Brian pun jadi langsung berkurang banyak.
Mengingat jika ia memegang keyakinan teguh sebagai sosok pria sejati.
Tak ada wanita lain di dalam hidupnya selain Melisa. Sampai maut memisahkan mereka berdua dengan kematian.
" Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan sekarang Brian? "
Kini giliran Brian menarik nafas dalam. Dan dengan tatapan tegas menatap ke arah Zadith yang saat ini juga tengah menatap ke arahnya.
" Ya.. Aku yakin ayah. Bukankah ayah tahu jika dari dulu aku sangat mencintai Anita sementara Inara...."
" Cukup Brian. Jika memang itu keputusanmu. Maka silahkan teruskan."
Brian tertegun sejenak dan menatap Zadith dengan tatapan tak percaya.
" Apa pria itu benar - benar sudah menyetujui keputusannya untuk hidup bersama Anita? "
" Ayah menerima kehadiran Anita? " Brian bertanya kembali. Seolah sedang memastikan, jika kedua telinganya tak salah dengar akan kalimat yang Zadith katakan padanya.
" Menerima wanita itu? " mata elang Zadith terlihat semakin menajam.
Dengan sedikit tertawa iblis. Zadith pun membalas pertanyaan Brian yang ia anggap sebagai sebuah pertanyaan konyol.
Menerima wanita yang dulu hampir saja mempermalukan mereka karena kabur dari pesta pernikahan?
Jangan mimpi.
Sampai mati pun ia tak akan pernah ikhlas untuk menerima wanita itu kembali masuk kedalam keluarga besar mereka.
" Jangan mimpi Brian. Sampai kapan pun. Wanita yang di akui sebagai menantu di keluarga besar Atalarich hanyalah Inara seorang. Tidak untuk wanita lain. Apalagi wanita plinplan dan murahan itu. Camkan itu."
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra