NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetaplah di Sini

Hari Jumat datang seperti algojo yang membawa kapak.

Malam ini adalah malam perdana Opera Gala. Acara sosial terbesar musim ini. Dan yang lebih penting, ini adalah debut publik Ciarán Vane dan Vittoria Russo sebagai "pasangan serasi".

Aku berdiri di koridor lantai dua, menatap pintu ganda suite Ciarán yang sedikit terbuka.

Ruang kerja adalah satu hal. Di sana, aku bisa berdalih membawakan kopi atau buku. Itu adalah zona netral di mana dia bekerja. Tapi kamar ini... ini adalah tempat di mana dia tidur. Ini adalah benteng terdalam dari privasinya. Ciarán tidak pernah mengundangku ke sini. Dia bahkan mungkin akan membunuhku jika tahu aku berani melanggar batas suci ini saat dia ada atau tidak di dalamnya.

Namun, pintu itu tidak tertutup rapat. Mungkin pelayan yang baru saja mengantar jasnya lupa menutupnya, atau mungkin Ciarán terlalu arogan untuk peduli siapa yang mengintip.

Celah kecil itu memanggilku.

Logika di kepalaku berteriak: Berhenti. Ini pelanggaran. Jika kau masuk, tidak ada jalan kembali.

Tapi hatiku berteriak lebih keras: Dia akan pergi. Dia akan menjadi milik Vittoria malam ini.

Keputusasaan itu menelan rasa takutku. Dengan napas tertahan dan tangan gemetar, aku mendorong pintu itu. Aku melangkah masuk, menyadari sepenuhnya bahwa aku sedang berjalan ke dalam kandang singa tanpa membawa senjata apa pun selain perasaanku yang hancur.

Aku berdiri di ambang pintu kamar ganti Ciarán, bersandar lemah pada kusen pintu.

Di dalam, Ciarán berdiri di depan cermin setinggi badan. Dia sedang mengancingkan manset kemeja putihnya. Gerakannya tenang, presisi, dan mematikan.

Dia mengenakan tuksedo hitam pekat yang dijahit khusus di Savile Row. Lapel satinnya berkilau di bawah lampu. Celananya jatuh sempurna di atas sepatu kulit paten yang mengkilap.

Dia terlihat... dewa.

Dia terlihat seperti pangeran kegelapan yang siap menaklukkan dunia.

Tapi dia tidak berpakaian untukku. Dia berpakaian untuk Vittoria.

Rasa sakit di dadaku bukan lagi sekadar cemburu. Itu rasa sakit fisik. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku sampai berdarah. Aku membayangkan Vittoria nanti malam, dengan gaun mahalnya, menggandeng lengan Ciarán, tersenyum pada kamera, mengklaim pria ini sebagai miliknya.

Dunia akan melihat mereka dan berkata: "Sempurna."

Sementara aku? Aku hanya rahasia kotor yang disembunyikan di loteng.

"Ciarán," panggilku. Suaraku serak, kecil.

Ciarán menatap pantulanku di cermin. Dia tidak berbalik. Dia sedang memasang bow tie-nya.

"Ada apa?" tanyanya datar.

Aku melangkah masuk. Kakiku terasa berat.

"Jangan pergi," pintaku.

Tangan Ciarán berhenti bergerak sejenak di lehernya, lalu lanjut menyimpul dasi kupu-kupu itu dengan rapi.

"Jangan mulai, Elara," katanya tanpa nada. "Ini kewajiban. Bukan pilihan."

"Penting untuk siapa?" tanyaku, suaraku mulai naik, bergetar oleh kepanikan yang tak tertahankan. "Untuk ayahmu? Untuk sahammu?"

Aku melangkah maju, nekat. Obsesiku selama ini membuatku menghapal setiap detail kecil tentangnya, termasuk hal-hal yang dia benci.

"Kau tidak menyukainya, Ciarán! Aku pernah melihatmu membuang tiket opera pemberian klien ke tempat sampah di ruang kerjamu. Kau bahkan tidak suka opera!"

"Aku suka keuntungan," jawab Ciarán dingin. Dia berbalik menghadapku.

Tampan. Ya Tuhan, dia begitu tampan sampai rasanya menyakitkan untuk dilihat.

"Aliansi dengan Russo akan mengamankan posisiku di Eropa selama sepuluh tahun ke depan. Aku tidak akan membuang kesempatan itu hanya karena kau sedang moody."

Dia berjalan melewatinya, menuju meja rias untuk mengambil jam tangannya.

Aku mengejarnya. Aku meraih lengannya, mencengkeram kain mahal jasnya dengan putus asa.

"Tetaplah di sini," kataku. Suaraku tercekat.

Kata-kata itu terasa seperti pecahan kaca di tenggorokanku. Harga diriku, satu-satunya hal yang kujaga mati-matian selama dua belas tahun, satu-satunya hal yang membuatku bertahan saat diinjak-injak Isabella, saat ini berteriak protes. Jangan merendah, Elara! Jangan jadi pengemis lagi!

Tapi bayangan Vittoria tersenyum di sampingnya... bayangan Ciarán yang menatap wanita itu dengan setara... itu membakar logikaku menjadi abu. Ketakutan akan ditinggalkan, ketakutan akan kembali menjadi hantu tak terlihat, jauh lebih mengerikan daripada hilangnya harga diri.

Aku meremas jasnya lebih erat, buku-buku jariku memutih. Persetan dengan harga diri. Aku tidak bisa membiarkannya pergi.

"Tolong..." Lanjutku, suaraku pecah menjadi bisikan putus asa. "Jangan pergi ke sana. Jangan bersama dia. Tetaplah di sini bersamaku. Kita bisa... kita bisa minum kopi. Aku akan memijatmu. Apapun."

Ciarán berhenti. Dia menatap tanganku yang meremas lengannya, lalu menatap wajahku yang sembap.

Ada kilatan kejengkelan di matanya. Bukan amarah, tapi kelelahan menghadapi anak kecil yang rewel.

Dia melepaskan tanganku dari lengannya. Gerakannya tidak kasar, tapi tegas. Penolakan yang mutlak.

"Ini bisnis, Elara," katanya, menepis pelan seolah membersihkan debu dari jasnya. "Duniaku tidak berputar di sekelilingmu. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan."

Kekanak-kanakan.

Kata itu menampariku.

"Aku harus pergi," lanjutnya, mengecek jam tangannya. "Sopir sudah menunggu. Tidurlah. Jangan menungguku."

Dia berbalik dan berjalan keluar kamar, meninggalkan wangi parfumnya yang tertinggal di udara sebagai satu-satunya hal yang tersisa untukku.

Aku berdiri mematung di tengah kamar ganti yang mewah itu.

Ditolak. Diabaikan. Ditinggalkan.

Rasa sakit itu berubah bentuk. Dari kesedihan menjadi sesuatu yang lebih tajam. Lebih dingin.

Jika kata-kata tidak bisa menahannya... jika permohonanku tidak berarti apa-apa baginya...

Maka aku butuh bahasa lain. Bahasa yang pasti dia mengerti. Bahasa yang tidak bisa dia abaikan.

Mataku tertuju pada sebuah gelas kristal berisi air di atas nampan di meja rias. Gelas yang tipis, bening, dan rapuh.

Sama sepertiku.

Sebuah ide gila, gelap, dan menggoda berbisik di telingaku.

Buat dia melihatmu. Buat dia peduli. Buat dia kembali.

Suara langkah kaki Ciarán terdengar menuruni tangga utama. Tak. Tak. Tak.

Setiap langkah menjauh membawanya semakin dekat ke Vittoria.

Aku menatap gelas kristal itu.

Kapan terakhir kali Ciarán menatapku dengan intens? Kapan terakhir kali dia menyentuhku tanpa rasa jijik?

Di gang sempit itu. Saat aku berdarah. Saat aku terluka. Saat aku tidak berdaya.

Saat itu, dia menggendongku. Dia memberiku jasnya. Dia membawaku pulang.

Logika itu menyambar otakku seperti kilat.

Sakit = Perhatian.

Darah = Kepedulian.

Jika aku baik-baik saja, aku diabaikan. Tapi jika aku rusak... dia akan memperbaikiku. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memperbaiki asetnya yang rusak.

Tanganku terulur. Aku mengambil gelas kristal itu.

Tanpa ragu sedetik pun, aku membantingnya ke lantai marmer kamar mandi en-suite yang terbuka.

PRANG!

Suara pecahan kaca itu memuaskan. Tajam dan nyaring. Serpihan kristal menyebar di lantai seperti berlian yang mematikan.

Aku tidak berhenti di situ. Aku berjongkok. Aku memungut satu pecahan yang paling besar dan paling tajam. Ujungnya bergerigi, berkilau di bawah lampu.

Aku mengangkat gaun tidurku, menelanjangi betis kananku yang pucat.

Tanganku tidak gemetar. Anehnya, aku merasa sangat tenang. Seperti seorang ahli bedah yang akan melakukan operasi penyelamatan nyawa. Nyawa cintaku.

Aku menempelkan ujung kaca tajam itu ke kulit betisku.

"Jangan pergi," bisikku pada bayangan Ciarán di kepalaku.

Aku menekan kaca itu. Dan aku menariknya. Panjang. Dalam.

Sreeeet.

Rasa perih yang menyengat langsung menyambar, tapi aku menahannya dengan menggigit bibir. Kulit putih itu terbelah. Garis merah cerah muncul, lalu melebar. Darah segar mulai mengalir keluar, deras, hangat, dan kental.

Darah itu menetes ke lantai marmer putih.

Tes. Tes. Tes.

Warna merah di atas putih. Kontras yang indah.

Sakit. Tentu saja sakit. Tapi rasa sakit di kakiku jauh lebih bisa kutanggung daripada rasa sakit ditinggalkan sendirian di kamar ini. Rasa sakit fisik ini nyata. Ini validasi bahwa aku masih hidup.

Aku membuang pecahan kaca berdarah itu ke wastafel.

Sekarang, tahap selanjutnya.

Aku tidak akan berteriak minta tolong. Itu terlalu murahan. Itu terlalu "Isabella".

Aku akan berjalan.

Aku akan berjalan keluar dari kamar ini, menuruni tangga, dan membiarkan darahku yang berbicara.

Aku mulai melangkah. Kaki kananku yang terluka terasa panas dan nyeri setiap kali menapak, tapi aku memaksanya.

Darah mengalir turun ke tumitku, meninggalkan jejak merah di karpet mahal kamar ganti. Jejak merah di lantai kayu lorong.

Aku berjalan menuju tangga utama.

Di bawah sana, Ciarán pasti sudah berada di pintu depan.

Aku akan membuatnya melihat. Aku akan membuatnya berbalik. Dan malam ini, dia tidak akan pergi ke opera. Dia akan sibuk menjahit lukaku.

1
Fauziah Rahma
bertahan hidup seperti parasit, parasit mutualisme, semoga saja
Sha_riesha
aku tak pernah mau baca novel yang masih on going tapi entahlah novel ini punya magnet kuat banget yang bikin aku bolak balik ngecek udah up lagi apa belum 😍
Sha_riesha: 😭 sebenernya aku gak suka banget dibuat penasaran. nungguin up nya mana lama lagi 😭😭😭
total 2 replies
Sha_riesha
❤️🙏
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!