Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Lomba Cerdas Cermat & Detak Jantung Tak Teratur
Untuk meningkatkan moral staf yang sempat anjlok gara-gara drama investor, Dr. Bambang mengadakan acara "Citra Harapan Medical Awards".
Hadiah utamanya bukan mobil atau liburan ke Bali, melainkan sesuatu yang sangat relevan dengan kondisi ekonomi Adrian saat ini: Voucher Belanja Supermarket Senilai 5 Juta Rupiah.
Mata Adrian langsung hijau.
"Lima juta," gumam Adrian saat membaca poster di mading. "Itu setara dengan stok deterjen cair, pewangi pakaian premium, dan daging sapi impor selama dua bulan."
"Lo mau ikut?" tanya Rania yang berdiri di sebelahnya sambil makan cilok. "Itu lombanya 'Cerdas Cermat Medis'. Lo lawan gue, lho."
Adrian menoleh, menatap Rania dengan tatapan bersaing. "Tantangan diterima. Persiapkan mental kamu untuk kalah, Rania. Saya hafal buku Harrison's Internal Medicine luar kepala."
"Halah. Teori doang. Di lapangan, gue yang raja," ledek Rania.
Siang itu, Aula RS disulap menjadi arena gladiator. Kevin didaulat menjadi MC dengan mic yang suaranya kadang cempreng kadang hilang.
Peserta lain sudah gugur di babak penyisihan (kalah mental duluan lawan dua monster ini). Kini tersisa Grand Final: Tim UGD (Rania) vs Tim Bedah (Adrian).
Skor sementara: Seri. 90 - 90.
"Pertanyaan penentuan!" teriak Kevin heboh. "Siapa yang bisa jawab ini, dia yang bawa pulang voucher 5 juta!"
Seluruh staf RS menahan napas. Suster Yanti memegang pom-pom dari tali rafia.
"Pertanyaannya adalah..." Kevin membaca kartu soal dengan dramatis. "...Sebutkan nama latin otot yang berfungsi untuk... senyum!"
Tangan Rania melesat memencet bel. Tet-tot!
"Zygomaticus Major!" teriak Rania.
"Salah!" Kevin menyeringai. "Kurang lengkap!"
Adrian memencet bel dengan elegan. Ting!
"Musculus Zygomaticus Major dan Minor, dibantu oleh Risorius untuk menarik sudut bibir," jawab Adrian lengkap dan presisi.
"BENAR! PEMENANGNYA ADALAH DOKTER ADRIAN!"
Aula meledak. Adrian mengangkat kedua tangannya ke udara seolah baru memenangkan Olimpiade. Wajahnya berseri-seri, senyumnya lebar sekali—senyum asli, bukan senyum estetika.
Rania mendengus kesal, tapi dalam hati dia tidak bisa tidak kagum. Adrian belajar keras. Dan melihat Adrian sebahagia itu hanya karena voucher belanja... membuat hati Rania hangat.
Keriaan itu melelahkan. Para staf mengerubungi Adrian minta traktir. Adrian yang kewalahan memberi kode mata pada Rania.
Kabur.
Mereka berdua menyelinap keluar lewat pintu samping, berlari kecil menuju tempat paling sepi di RS: Tangga Darurat Lantai 3.
Pintu besi berat itu tertutup di belakang mereka, meredam suara riuh dari aula.
Hening.
Hanya suara napas mereka yang terengah-engah.
Rania bersandar di dinding, tertawa kecil. "Gila lo, Ad. Ambisius banget. Padahal cuma voucher."
Adrian melonggarkan dasinya (yang dia beli di pasar loak kemarin, tapi tetap terlihat bagus). Dia mengipas-ngipas wajahnya dengan amplop voucher kemenangan itu.
"Ini bukan sekadar voucher, Rania. Ini adalah simbol kemandirian pangan," kata Adrian bangga. Lalu dia menyodorkan amplop itu ke Rania.
"Nih."
Rania bengong. "Buat gue?"
"Ambil. Saya tahu kamu nunggak bayar listrik kosan bulan ini gara-gara uangnya dipake buat bantuin pasien tebus obat," kata Adrian santai.
Rania tertegun. "Lo tau dari mana?"
"Saya tetangga kamu, Rania. Dinding kosan Pak Mamat itu tipis. Saya denger kamu ngomel-ngomel itung duit receh semalam."
Mata Rania memanas. Pria ini... si mantan pangeran manja ini... memberikan satu-satunya harta berharganya demi Rania?
"Gue nggak bisa terima, Ad. Lo butuh deterjen premium lo."
"Saya bisa pake sabun colek. Baunya... eksotis," Adrian tertawa pelan, lalu melangkah maju. Dia menyelipkan amplop itu ke saku jas Rania.
Jarak mereka kini sangat dekat.
Di bawah cahaya lampu tangga darurat yang remang-remang, suasana tiba-tiba berubah. Tawa mereka mereda. Adrenalin sisa lomba berganti menjadi detak jantung jenis lain.
Adrian menatap Rania. Rania menatap Adrian.
Rania melihat keringat kecil di pelipis Adrian. Dia melihat bibir Adrian yang sedikit terbuka.
"Lo..." Rania berbisik, suaranya hilang. "Lo kenapa liatin gue gitu?"
Adrian tidak menjawab. Dia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Rania, mengusap anak rambut yang berantakan.
"Rania," suara Adrian rendah, berat. "Kamu tahu otot apa yang bekerja paling keras sekarang?"
"Apa? Miokardium (jantung)?" tebak Rania gugup.
"Bukan," Adrian menggeleng. Dia mencondongkan wajahnya. "Orbicularis oris. Otot bibir."
Otak Rania berhenti bekerja. System error.
Adrian memiringkan kepalanya sedikit. Rania tidak mundur. Malah, tanpa sadar, Rania memejamkan mata.
Napas hangat Adrian menyapu wajahnya.
Bibir mereka bertemu.
Bukan ciuman nafsu yang menggebu-gebu. Itu ciuman yang lembut, hati-hati, seolah Adrian sedang menyentuh benda paling rapuh dan berharga di dunia.
Rania merasakan duniaya berputar. Bau tangga darurat yang apek berubah jadi wangi taman bunga. Dia mencengkeram kemeja Adrian, membalas ciuman itu dengan canggung tapi tulus.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik yang terasa selamanya.
Mereka baru saja akan memperdalam ciuman itu ketika...
BEEP-BEEP-BEEP-BEEP!
BEEP-BEEP-BEEP-BEEP!
Suara pager Rania dan Adrian berbunyi nyaring bersamaan, memantul di dinding tangga beton, sekeras sirine serangan udara.
Mereka meloncat mundur kaget. Rania hampir kepeleset anak tangga.
Adrian mengumpat. "Sialan."
Rania dengan tangan gemetar mengambil pagernya. Wajahnya memerah padam, napasnya tidak karuan.
"Code... Code Blue," Rania membaca layar pager dengan suara tercekat. "Di ICU."
Adrian meraup wajahnya dengan frustrasi, lalu menarik napas panjang untuk mengembalikan mode dokter-nya.
"Ayo," kata Adrian, meski matanya masih menatap bibir Rania dengan penyesalan mendalam. "Pasien butuh kita."
"O-oke," Rania mengangguk patah-patah.
Mereka membuka pintu tangga darurat dan berlari keluar. Kembali menjadi rekan kerja profesional.
Tapi saat mereka berlari berdampingan di lorong menuju ICU, tangan Adrian diam-diam menyenggol tangan Rania, lalu menggenggamnya erat sedetik sebelum melepaskannya lagi.
"Nanti kita lanjutin diskusinya," bisik Adrian tanpa menoleh.
Wajah Rania panas membara. "Diskusi apaan!"
"Diskusi anatomi Orbicularis oris."
Rania menggigit bibir bawahnya, menahan senyum. Dia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah ciuman di tangga darurat itu.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget