NOVEL PERTAMA YANG BELUM MENGENAL ILMU LITERASI. Harap maklum dan berkomentarlah yang positif. Masih tahap belajar sedikit demi sedikit.
Aku hanyalah lelaki yang hidup dari keluarga sederhana. Tak banyak yang bisa di harapkan dari ku. Sebuah tragedi mengharuskan aku merantau ke sebuah kota di pulau S.
Disanalah titik balik hidup ku bermula.
Disanalah aku bertemu dengan seseorang yang membuatku lebih berarti.
Walaupun aku hanyalah seorang supir, tapi dia mengubahku menjadi sosok menawan dan mencintai diri sendiri.
Ikuti kisahku, seorang MALIK JAYADI yang hanyalah seorang supir yang mampu menaklukkan kerasnya hidup..
harap bijak dalam memilih bacaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black_queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Insiden kecil
*
"Eh itu bukannya MJ ya? tumben bawa bocilnya dimari?" tanya mas Yanto.
"Tau dah mas, mending kita langsung aja susul
kesana, lagian juga dah waktunya makan siang." Sahut mas Udin.
"Kuy.....gercep kesana!" Memet yang baru
menghampiri mereka langsung berkata.
"Hussss.....ngagetin aja si Memet," Yanto
sambil mengelus dada.
"Ha...ha...ha...maaf ni mas, lagian ngeliatin
paan. Sampe aku ada di belakang, kalian kok
enggak ngeh," timpal Memet lagi.
"MJ tuh...bawa anaknya!" sahut mas Udin.
"Hah..tumben," Memet berekspresi heran
sambil membuka mulutnya.
"Woi....tuh mulut tutup ngapa! kagak balik
kapok!" Mas Udin menjitak kepala Memet.
"Aku lagi...aku lagi...kena bully mulu dah
perasaan." Ujar Memet.
"Kalian berdua nih kalo udah ngumpul.
Kebiasaan banget deh...ayuk ah! gercep
kesana!" suruh mas Yanto.
Mereka bertiga melangkah mendekati Malik
dan anaknya.
Tanpa basa basi mereka ngebanyol dan
memulai aksi gesreknya bersama.
...----------------...
Dikota seberang...tempat Toni berada
bersama Cindy.
"Mas...bentar lagi ya ...please...!" mohon Cindy
pada Toni.
"Hampir sejam aku tuh nungguin, masak
belom beres juga sih?" sungut Toni sebal.
"Nih udah cepet mas...beresinnya," kilah Cindy.
Toni mulai merasa kesal, sudah hampir sejam
dia menunggu Cindy pulang dari salon ini.
Cindy adalah seorang gadis kuliahan yang
bekerja sambilan di salon kecantikan.
Toni mengenalnya secara tak sengaja
disebuah bar. Tempat Toni biasa menjual
barangnya.
Cindy yang sedari awal memperhatikan Toni,
dan mulai mendekatinya. Hingga sekarang
bisa menjadi pacar Toni.
Dia melalui sebuah proses panjang untuk
meyakinkan hati Toni.
Sekarang sudah hampir 2 tahun mereka
berpacaran dan kuliah Cindy juga hampir
selesai.
Beruntung Cindy mendapatkan Toni. Uang
bulanan dari Toni dia manfaatkan untuk
biaya hidupnya sehari-hari.
Walaupun sikap Toni kasar kalau sudah
terbawa emosi. Seperti sekarang yang lama
menunggu.
"Fiuh...beres juga..akhirnya selesai mas,"
ucap Cindy lega.
"Ya udah .... aku tunggu di mobil!" sambil
berlalu keluar dari ruangan salon.
"Ayok mas...kita pulang!" senyum Cindy
mesra dan bergelayut manja pada lengan Toni.
"Okey...gaskeun!" sahut Toni yang terbawa
suasana.
Toni di depan orangtuanya memasang peran
yang penting yaitu pekerja keras. Padahal dia
hanya seorang makelar barang-barang haram.
Anggota keluarganya tidak ada yang tahu.
Selama ini dia menutup rapat mulutnya,
bahkan teman dekat nya juga tidak tau dia
berjualan sesuatu yang tidak pantas.
Dia cerdik menutupi semuanya, karena itulah
dia menargetkan kota ini dalam mencari
konsumen.
Seperti biasanya, Toni dan Cindy mulai
menikmati malam bersama. Mereka sudah
terbiasa melakukan dosa besar.
Mereka tidak peduli akan hukum alam yang
suatu saat akan memberi ganjarannya.
...----------------...
*
Ciiiitttttt......Bruaggghhhh.
sebuah motor bermanuver ke arah selokan
jalan. Motornya terperosok di dalam selokan
jalan kampung yang terbuka.
"Ya...Allah...gini amat ya!" sungut seorang
pengendara motor.
Orang yang melintas hanya tersenyum
melihat seseorang yang terperosok jatuh
kedalam selokan besar. wajahnya sudah tidak
bisa dikenali, saking hitamnya air selokan.
Baju yang dia pakai juga basah kuyup diiringi
bau yang menyengat.
Dia mengumpat akan kesialannya malam ini.
"Sue....pasti tadi aku ngantuk. Makanya gak
ngeh ada mobil didepan," sambil mengelap
wajah kotornya dengan baju yang dipakainya.
Dia meminta tolong pada orang yang melintas
untuk menarik motornya yang terperosok.
"Duh mas...baunya itu lho...gak nguatin," keluh
seorang pria paruh baya sambil menutup
hidung ketika motor sudah berhasi ditarik.
"Maaf mas..namanya juga kecelakaan, syukur
cuma nyemplung di parit gak ditabrak mobil,"
sahut pengendara motor.
"Makasih semuanya...semoga Allah yang
membalas kebaikan kalian. Kalau begitu...saya
pamit pulang pak-bapak," pamit pengendara
motor.
Dia melesatkan motornya kembali setelah
beberapa kali mencoba menghidupkan
mesin motor.
Selang 10 menit kemudian, sampailah dia
disebuah rumah sederhana.
Ckiittt....kleekk.
Kenop kunci berputar dan pintu terbuka.
Setelah mengucapkan salam dia memanggil
istrinya.
"Yanti....ambilkan sarung sekarang, cepaaat!"
pekiknya tak sabar.
"Bentar mas....," jawab Rosyanti dari dalam
kamarnya.
"I....ni-mas...," sambil tergagap akan seseorang
di depannya.
Rosyanti menahan tawanya ketika dia melihat
Andi, suaminya yang bermandikan air parit
yang hitam.
"Mas...kamu...kenapa?" tanya Rosyanti
sambil menahan tawanya.
"Kecemplung di got," jawab Andi malas.
"Kok bisa sih mas?," tanya Ros lagi.
"Ya bisa lah...namanya juga ngantuk," jawab
Andi ketus.
"Ambil ember...cepet...aku mau ganti diluar
pake sarung ini!" suruh Andi.
Rosyanti langsung berlari kearah kamar mandi
dan mengambil ember yang diminta suaminya.
"Nih.....," sambil menyerahkan ember.
Setelah membuka baju dan celananya di teras
rumah Andi memakai sarung dan beranjak
masuk kekamar mandi.
"Apes banget dah hari ini, padahal pulang
kerja capek. Pengen langsung
tidur. Eh...malah kecemplung di got,"
gumamnya seorang diri sambil berjalan.
"Lucu juga muka mas Andi kalo item kek gitu,
udah kayak dakocan....ha...ha...," tawa ros
keras.
"Yantiiiiii.....aku dengar kamu ngomong apa!"
teriak Andi dari dalam kamar mandi.
"Pfttt....," Rosyanti menahan tawanya dan
melangkah masuk sambil membawa ember
baju kotor dan bau tadi.
...----------------...
"Bu, Nissa malam ini tidurnya cepet ya."
Ucap Malik pada ibunya yang sudah
menidurkan anaknya.
"Capek dijalan mungkin nak, biasanya dia kan
belum pernah ikut kamu keliling. Ini pertama
kalinya. Jadi ...ya kecapean deh."
"Tadi siang dia juga sempet tidur bu." Timpal
Malik.
"Tuh anak...didalam angkot yang panas juga
bisa tidur ya...hebat," sahut ibu Malik.
"Oh ya nak...tadi kakakmu telpon, dia bilang
mau ngirim duit buat ibu dan bapak. Coba
besok kamu periksa rekeningmu. Siapa tau
udah masuk duitnya." Suruh ibu.
"Kakak siapa yang ngirim bu? Kak Pah apa kak
Ma?" tanya Malik penasaran.
"Pasti kak Pah lagi ya bu yang ngirim," sambung Malik lagi
yang menjawab pertanyaannya sendiri.
Ibunya hanya menghela nafas perlahan dan
menghembuskannya.
"Iya...nak, cuma Ipah yang selama ini ingat ibu
dan bapak. Kak Ma kamu nelpon aja jarang."
Jelas ibu dengan raut wajah sedihnya.
"Ada Malik disini bu...yang akan selalu
menemani ibu dan bapak!" ujar Malik yakin.
Ibunya hanya tersenyum mendengar penuturan
anaknya.
"Kita masuk saja bu...nemenin bapak nonton!
kasian sendirian didalem," sambil beranjak
dari duduknya di dipan teras rumahnya yang
mungil.
Ibu dan anak berjalan beriringan dan
menghampiri lelaki tua di depan televisi.
"Pak...serius amat nontonnya, mulutnya tutup
dikit pak," usil Malik pada bapaknya.
"Akh...ganggu aja kamu Lik," sahut bapaknya
yang tidak memandang Malik dan hanya
terpaku dengan layar kecil didepannya.
"Si bapak...acara ituuuu terus yang ditonton.
Gak bosen apa ya," sungut ibunya kesal.
"Ibu juga pengen nonton juga...tapi sinetron
yang ibu suka. Bukan acara nyanyian seperti
itu," lanjut ibu Malik masih dengan raut wajah
yang kesal.
"Bentar lagi juga udahan kok nyanyinya...tuh
jurinya dah mulai ngumumin," tunjuk bapak.
Malik hanya tersenyum kecil melihat ibu dan
bapaknya yang bertengkar mulut karena hal
sepele.
"Semoga kita akan terus bahagia seperti ini.
Walaupun kita hidup dalam dunia yang serba
cukup." Batin Malik.
SUNGGUH TRAGIS NSIB RUMAH TANGGA IPAH. DISELINGKUHI SUAMINYA DN DITELANTARKN.