NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Berdamai

Sesampainya di rumah, kedatangan mereka sudah di sambut oleh Gunawan. Bukan sambutan meriah, melainkan tatapan penuh intimidasi yang di tujukan pada Bastian.

"Papa,," Keisya bergumam pelan. Dia cukup takut melihat ekspresi Papanya sekarang.

"Kei kamu masuk" perintah Gunawan dengan suara tegas.

Keisya menatap Bastian sebentar sebelum berjalan gontai memasuki rumah.

Di halaman, Gunawan dan Bastian berdiri berhadapan.

"Apa yang mau kamu jelaskan tentang ini semua?"

"Seperti yang kamu tahu, tidak perlu di jelaskan lagi kan?" Bastian tidak terlihat gugup sedikitpun. Dia tenang saat menjawab, karena sudah memprediksi hal ini sejak awal.

Gunawan menghembuskan napasnya panjang. "Kenapa harus membawa Keisya?"

"Karena kalau saya mengajak kamu. pasti dikira gay"

Ekspresi Gunawan tampak tercengang, "Serius Bas?" dia tidak mempercayai jawaban yang di dengarnya.

Apakah Bastian sedang mencoba melawak, dengan raut wajah datarnya itu?

Bastian terkekeh pelan. "Jangan terlalu sering marah-marah. nanti kamu cepat tua" seperti orang tua pada anaknya, Bastian menasehati. Tangannya menepuk pundak Gunawan dua kali, "Kamu tenang saja, Keisya baik-baik saja selama disana. Saya cuma malas dengan ucapan belum move on"

"Jadi memanfaatkan Keisya?" Gunawan menepis tangan Bastian, "Kurang ajar"

"Tidak sepenuhnya memanfaatkan, Keisya pun tidak keberatan saya ajak."

Benar juga. Itu yang membuat dia heran. Kenapa Keisya setuju begitu saja di ajak pergi oleh Bastian? Sepertinya Bastian sudah tahu kelemahan putrinya ada pada ajakan traktiran, kemudian memanfaatkan itu untuk membawanya pergi.

Tawaran yang di berikan Bastian pasti membuat putrinya itu tergiur.

Padahal uang saku yang dia berikan sangat cukup.

Ingin marah, tapi tidak tega saat melihat wajah Keisya yang tampak sangat ketakutan tadi.

"Sudahlah, yang penting Keisya baik-baik saja" Gunawan mendesah pasrah, toh semuanya sudah terjadi, "Tapi ingat, jangan sampai ada masalah nantinya, apalagi dengan mantan istri kamu."

"Ya, ya. Kamu tidak berencana mengajak saya masuk?" dia kan masih ingin melihat gadisnya, apalagi saat diperjalanan tadi, mereka lebih banyak diam. Termasuk dirinya.

Bastian hanya sedang mengendalikan emosinya pada wanita yang sudah berani memprovokasi Keisya, dengan tidak menanggapi perkataan gadisnya.

"Pergi sana" usirnya langsung sebagai penolakan.

Bastian tidak menanggapi. Dia berbalik, tapi suara Gunawan kembali terdengar.

"Kamu melakukan ini untuk memprovokasi mantan istri kamu kan?"

Bastian kembali berbalik, "Jangan asal bicara"

Gunawan mengangkat bahunya, "Kamu tahu sendiri orang orang yang datang tadi pasti sebagian besar teman lama mantan kamu. Terus kamu datang dengan wanita lain, tujuan kamu memang untuk itu kan?"

"Kamu. berharap apa, Bas? Berharap dia kembali setelah tahu kamu bersama wanita lain?" cecar Gunawan mengungkapkan berbagai spekulasi dalam pikirannya. "Itu artinya kamu masih mencintai dia kan? Kamu belum sepenuhnya move on dari dia?"

"Atau jangan-jangan wanita yang kamu sukai sekarang ini juga sebagai bentuk pelampiasan atas kegagalan kamu melupakan dia? Benar begitu, Bas?"

Gunawan tidak memberikan jeda untuk Bastian menyela, dia pun kembali berbicara, "Saranku sebagai teman lama, jangan memposisikan kamu seperti mantan istri kamu. Begitupun sebaliknya. Membiarkan wanita lain merasakan bagaimana jadi kamu dulu, aku rasa itu bukan hal yang baik. Kamu sangat tahu rasanya. Cukup sampai di kamu, Bas, jangan libatkan perasaan orang lain."

Gunawan selesai. Namun Bastian masih larut dalam keterdiaman nya. Itu bertahan sampai seseorang yang menguping di balik pintu, memilih pergi. Sudah cukup baginya mengetahui semuanya.

Mulai sekarang, Keisya akan menjauhi Bastian untuk apapun alasannya. Sekalipun apa yang dilakukan kepada Bastian terbongkar, dan dia di marahi Papanya, ia tidak akan peduli.

Jika keadaan memaksa, dia tidak keberatan jika harus kembali ke tempat dirinya tinggal dulu sekalipun.

Dia memang tidak yakin dengan perasaannya, namun ia tak pernah berniat memiliki hubungan dengan orang yang belum selesai dengan masalalunya. Entah itu orang lain, atau Bastian sekalipun.

Dan apa tadi katanya? Bastian sedang menyukai orang lain?

Sudah cukup.

Jika itu berpotensi membuatnya sakit hati, ia akan tinggalkan.

\=\=\=\=\=

Entah bagaimana ceritanya, saat dia tiba, bukan hanya ada Sisi, melainkan ada Haikal dan Vincent yang duduk satu meja dengan temannya tersebut.

Keisya sempat berhenti melangkah, memastikan jika dia tidak salah melihat.

Barusan sebelum berangkat, Sisi mengatakan jika mereka akan menghabiskan waktu libur berdua. Tapi sekarang apa?

Kehadirannya langsung di sadari oleh ketiganya. Sisi tampak meringis, dan menggelengkan kepalanya seolah mengatakan jika bukan dirinya yang mengundang mereka.

Karena sudah seperti ini, Keisya akhirnya memilih bergabung. Tidak mungkin juga dia putar badan dan pergi begitu saja. Lagipula orang yang ingi. dia temui adalah Sisi, bukan Vincent, apalagi Haikal.

"Hai Kei" Sapa Vincent.

Keisya mengangguk sebagai respon.

"Kita kebetulan liat Sisi sendirian, jadi ikut gabung. Kamu ga keberatan kan?" akunya.

Entah benar atau tidak, Keisya tidak mungkin mengatakan iya kan?

"Engga, santai aja"

"Kei" kali ini giliran Haikal.

Tidak hanya Keisya yang namanya di panggil, namun Vincent dan Sisi pun ikut menoleh ke arahnya.

"Bisa kita bicara sebentar, berdua?" Haikal langsung to the point. Dia sepertinya ingin memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.

Keisya menggeleng, namun sebelum dia menolak, Haikal kembali berbicara, "Aku janji ga bakal macem-macem. Kalau kamu mau. kita tetap disini, cuma pindah ke meja yang disana" Haikal menunjuk meja kosong di ujung ruangan.

"Sebentar, aku janji"

Posisi Keisya kembali berada dalam ketidakmampuannya untuk menolak. Bahkan Sisi pun mengangguk, memintanya untuk memberikan Haikal kesempatan.

Dan disinilah mereka sekarang, dengan Haikal yang tampaknya begitu terburu-buru untuk menjelaskan yang terjadi.

"Aku rasa kamu sudah tahu tentang perasaan aku, jadi aku ga akan menyangkal kalau aku sempat gelap mata dan berniat mengambil kesempatan buat cium kamu. Tapi aku benar-benar menyesal, apalagi setelah tahu kalau kamu anaknya temen Ayah"

Keisya menyerit heran, "Kamu hanya menyesal karena itu?"

"Aku ada salah lain sama kamu?" Haikal ikut bingung. Kesalahan fatal yang ia lakukan hanya itu dalam kurun waktu singkat setelah dia mengenal Keisya.

Keisya diam, dia tengah berpikir. Melihat dari respon Haikal, kenapa ia merasa jika pelakunya bukan dia yah?

Apa dia salah sangka.

"Kei, ada apa sebenarnya?"

"Bukan kamu yang ngasih minuman itu?"

Haikal semakin tidak mengerti. Dan mulai paham setelah Keisya menceritakan semuanya.

Tidak semuanya. Pada bagian yang melibatkan kontak fisik dengan Bastian, Keisya melewatkannya.

Gila saja jika dia ikut menceritakannya.

"Jadi kamu mikir pelakunya itu aku?"

"Maaf" sesalnya.

"Ga masalah, yang penting kesalahpahaman kita selesai. Aku juga tetap salah sama kamu"

Mereka saling memaafkan. Namun tetap serius dalam pembahasan tersebut.

"Berarti selain aku, kamu ga ada gambaran pelakunya?" Haikal bertanya kembali.

"Ga ada sama sekali. Interaksi aku cuma sama Papa, kamu, sama Om Bastian. Aku juga ga ada menyinggung siapapun" Berbeda dengan acara reuni sekolah Bastian, malam itu Keisya tidak melakukan apapun.

"Aku paham. Kalau kamu mau cari tahu pelakunya, aku bisa bantu. Bagaimana pun kamu di rugikan disini. Bahkan kalau mau menempuh jalur hukum pun sangat bisa. Beruntung kamu ketemu Ayah, kalau orang lain, ga tahu gimana nasib kamu malam itu"

Benar.

Keisya bahkan belum benar-benar berterimakasih pada Bastian. Dia justru sering menganggap pria itu memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya. Padahal Bastian juga korban atas tindakan tak terkendalinya. Jika bukan Bastian, mungkin nasibnya akan jauh lebih buruk.

"Kalau kamu mau, aku bisa minta bantuan Ayah. Dia pasti bisa nemuin pelakunya dengan cepat"

Tanpa tahu jika 'pelaku' yang mereka bicarakan adalah Bastian sendiri..

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!