Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: RENDER & CONFESSIONS
Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang kamar kos yang lebih berantakan dari perasaan, proses editing yang penuh sumpah serapah, dan satu file tersembunyi yang seharusnya tidak pernah dilihat.**
---
Pukul 09.58. Kosan Ardi berubah menjadi medan perang pertahanan terakhir.
Dia telah berusaha. Benar-benar berusaha. Dia menyapu lantai (walau masih ada biji-biji keripik tersembunyi di sudut), menumpuk gelas kopi di satu tempat (menara yang goyah), dan menyembunyikan tumpukan kaos kotor di bawah selimut (seperti kuburan rahasia). Hasilnya? Kosan itu tetap terlihat seperti baru saja dijarah sekawanan lemur yang mabuk kafein.
Denting bel. Ardi menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.
Kinan berdiri di sana, membawa laptop MacBook nya yang mulus, tote bag rapi, dan ekspresi netral yang langsung berubah menjadi... amused disbelief saat matanya menyapu ruangan.
"Wow," ucapnya, satu kata yang penuh arti. "Ini... lebih authentic dari yang kubayangkan."
"Gue bilang juga," jawab Ardi, mempersilakannya masuk sambil berharap tanah menelannya. "Ini, eh, kursinya... ada di sini." Dia menyodorkan satu-satunya kursi kayu yang tidak penuh dengan barang.
Kinan duduk dengan hati-hati, seolah takut kursinya runtuh. Dia meletakkan laptop di atas meja kecil yang dipenuhi dengan kabel dan charger acak-acakan. "Oke. WiFi password?"
Setelah ritual koneksi yang melibatkan reset router murahan sebanyak dua kali, mereka akhirnya online. Kinan langsung masuk ke mode profesional, membuka Adobe Premiere (yang membuat laptop Ardi terengah-engah) dan memulai proyek baru.
"Kita buat dua versi," kata Kinan, matanya tajam menatap timeline kosong. "Versi pendek untuk TikTok/Reels, durasi 60 detik, pace cepat, musik upbeat. Versi panjang untuk YouTube, 8-10 menit, lebih storytelling, ada behind the scene."
Ardi duduk di sisi tempat tidur, mengamati Kinan bekerja. Jari-jarinya lincah di trackpad, memotong klip, menyesuaikan tempo, menambahkan teks dengan font yang cocok. Dia seperti konduktor orkestra digital. Dan Ardi... merasa seperti penonton yang takjub.
"Scene sambal level 10 ini harus kita pakai sebagai hook," Kinan berkomentar, memutar ulang adegan Ardi yang wajahnya merah padam. "Itu emas."
"Emas yang pedesnya nyiksa," balas Ardi sambil menggeleng.
Kinan tertawa. Itu tawa ringan, tanpa beban, yang jarang keluar di konten-kontennya. "Tapi itu bikin lo relatable. Orang-orang suka lihat orang lain menderita dengan pilihan bodoh mereka. Itu intinya."
Mereka bekerja selama dua jam. Kinan mengedit, Ardi memberikan masukan ("Jangan pakai scene gue nyanyi dangdut itu, please"), dan sesekali mereka terbahak-bahak melihat blooper di mana Ardi terjatuh dari angkot karena kaget melihat Pak Suryo muncul tiba-tiba dengan koper dadu.
Di tengah proses render yang memakan waktu, Kinan membuka tasnya dan mengeluarkan dua kotak makanan. "Nasi goreng. Gue beli di bawah. Daripada lo kelaparan dan kasur lo dimakan."
Ardi terkejut. "Lo... beliin gue makan?"
"Eits, jangan salah paham. Ini untuk efisiensi kerja. Otak yang lapar bikin edit jelek," Kinan membalas cepat, tapi ada senyuman kecil di ujung bibirnya.
Mereka makan di tengah kekacauan kamar. Saat itulah, pembicaraan mulai mengalir lebih dalam.
"Jadi, beneran nih, lo mau jadi penyanyi?" tanya Kinan, menyendok nasi goreng.
Ardi mengangguk, malu-malu. "Iya. Tapi... kayaknya konyol. Siapa yang mau dengerin orang kayak gue nyanyi?"
"Gue," jawab Kinan spontan. Lalu, seolah menyadari keterusterangannya, dia buru-buru menambahi, "Maksud gue, berdasarkan prinsip konten, suara unik itu bisa jadi selling point. Lo pernah rekaman?"
"Ada... beberapa demo di laptop. Tapi jelek banget."
"Boleh dengar?" permintaan Kinan tulus.
Dengan jantung berdebar, Ardi membuka folder tersembunyi di laptop lamanya, "Lagu-Lagu Malu". Dia memutar satu lagu: sebuah balada sederhana tentang tersesat di keramaian kota, direkam hanya dengan suara dan gitar akustik sumbang.
Kinan mendengarkan dengan serius, mata tertutup separuh. Saat lagu berakhir, dia membuka mata. "Itu... bagus. Beneran. Liriknya... jujur. Kayak chat lo waktu minta maaf ke gue."
Ardi tersipu. "Beneran nggak jelek?"
"Bukan genre yang gue biasa denger, tapi gue suka. Lo harus publikasiin."
"Di mana? Instagram? Ntar dikira cari perhatian."
"Di TikTok. Sebagai sound original. Kita bisa selipin di konten Dadu Champ besok, sebagai easter egg." Mata Kinan berbinar dengan ide. "Bayangin, orang pada cari sound itu, ketemunya ke lagu lo. Itu strategi organik."
Ardi tercengang. Kinan tidak hanya menerima sisi "penyanyi"nya, tapi langsung punya rencana untuk mempromosikannya. Perasaan hangat itu kembali, lebih kuat.
Render selesai. Kinan membuka versi final video pendek. Mereka menontonnya bersama. Musik catchy, teks lucu, perjalanan Ardi yang konyol, diakhiri dengan tagar #DaduChallenge dan ajakan Pak Suryo untuk "put your life on a roll".
"Itu... keren banget," gumam Ardi. "Gue kelihatan kayak orang yang fun."
"Lo memang fun," kata Kinan, menatapnya. "Cuma lo aja yang nggak sadar."
Saat itulah, laptop Kinan low battery. Dia mencari colokan. "Colokannya mana, nih?"
"Di bawah tempat tidur, kayaknya. Hati-hati, sarang laba-laba."
Kinan merangkak sedikit, menyambungkan charger. Saat dia menarik tangannya, tanpa sengaja, dia menyenggol flashdisk kecil yang tergeletak di lantai. Flashdisk itu jatuh dan meluncur ke bawah meja.
"Maaf," kata Kinan, mengambilnya. Flashdisk itu polos, tanpa label. "Ini punya lo?"
"Ah, iya. Isinya... file-file lama." Ardi berusaha santai, tapi ada alarm kecil di kepalanya. Flashdisk itu berisi arsip rekaman live instagram dan draft lagu-lagu paling cengengnya, termasuk satu folder bernama "untuk kinan" yang berisi lirik lagu yang terinspirasi dari feed nya, dibuat sebelum mereka bahkan berinteraksi.
"Boleh gue lihat? Mungkin ada asset audio yang bisa dipakai," tanya Kinan, sudah memasukkan flashdisk ke port laptopnya.
"JANGAN!" teriak Ardi, tapi terlambat.
Folder terbuka. Kinan, dengan rasa penasaran alami seorang content curator, membuka folder pertama yang dilihatnya. "untuk kinan".
Di dalamnya, ada dokumen teks. Lirik lagu. Judulnya: "Aesthetic yang (Mungkin) Palsu". Baris pertamanya: "Kutemukanmu di antara kotak-kotak sempurna, di balik filter Valencia..."
Kinan membeku. Matanya meluncur cepat ke bawah. Liriknya menceritakan tentang seseorang yang terpesona pada keindahan yang dikurasi, tetapi ingin mengetahui orang di baliknya. Itu... tentang dia. Jelas-jelas tentang dia.
Suasana berubah dari nyaman menjadi sangat, sangat sunyi. Hanya suara kipas laptop yang mendengung.
"Ardi," suara Kinan pelan, datar. "Ini... tentang gue?"
Ardi merasa seluruh darah di tubuhnya mengalir ke kaki. Dunia berputar. "Itu... itu cuma draft. Gaje. Waktu itu gue cuma... terinspirasi."
"Terinspirasi sebelum kita kenal? Sebelum accidental like?" Kinan menatapnya, matanya sekarang penuh dengan sesuatu yang bukan marah, tapi... kebingungan yang dalam. "Jadi... lo emang dari awal stalker? Semua ini... kecelakaan yang lo rencanakan?"
"TIDAK!" bantah Ardi, suaranya pecah. "Gue nulis itu... karena gue bosen aja. Gue lihat feed lo, dan gue penasaran kayak gimana sih orang yang beneran hidup kayak gitu. Itu cuma... eksperimen nulis! Gue sumpah!"
Kinan berdiri. Wajahnya sulit dibaca campuran dari terluka, malu, dan kecewa. "Jadi semua ini... mulai dari like, DM, sampe kolaborasi... lo melakukannya karena... lo udah punya fantasi tentang gue? Karena lo udah nulis lagu tentang gue?"
Ardi tidak tahu harus berkata apa. Kebenarannya rumit. Ya, dia terpikat pada persona online Kinan. Tapi perasaannya sekarang, setelah mengenal Kinan yang sebenarnya yang bisa tertawa lepas, yang jago edit, yang beliin nasi goreng itu nyata. Tapi bagaimana menjelaskannya tanpa terdengar seperti pembenaran?
"Gue... gue nggak nyangka bakal ketemu lo beneran," akhirnya Ardi berkata, lemah. "Itu cuma... coretan iseng orang yang kepo. Setelah kenal lo yang sebenernya, semuanya beda. Kinan yang sekarang... nggak ada di lagu itu."
Kinan menatap flashdisk itu, lalu ke Ardi. Dia mengambil laptop dan tasnya. "Gue... butuh waktu. Video ini udah selesai. Lo dan Pak Suryo bisa upload tanpa gue."
"Kinan, tunggu"
"Jangan, Ardi." Kinan mengangkat tangan. "Gue perlu... memproses ini. Gue pikir lo awkward tapi jujur. Ternyata lo punya... arsip."
Dia berbalik, membuka pintu, dan menghilang di tangga tanpa menoleh.
Ardi terduduk di kasur, dikelilingi oleh kekacauan kamarnya yang tiba-tiba terasa seperti metafora yang sempurna untuk hidupnya. Dia melihat flashdisk yang masih tertancap di laptop Kinan dia lupa mencabutnya.
Dan di layar laptopnya, video final Dadu Challenge yang begitu ceria, bertolak belakang dengan perasaan hancur di dadanya.
---
Kinan berjalan cepat menyusuri jalan, tanpa tujuan yang jelas. Pikirannya berisik.
Dia menulis lagu tentangku. Sebelum kita bicara.
Apakah semua interaksinya hanya skenario?
Tapi... ekspresinya saat makan sambal. Tertawanya di warung kopi. Itu tidak bisa dipalsukan, kan?
Atau dia aktor yang sangat baik?
Dia membuka laptopnya di sebuah kedai kopi. Tanpa berpikir, dia membuka kembali folder itu. Membaca seluruh liriknya. Ada baris yang menyentuh: "Aku ingin tahu, apakah kau pernah menangis di balik quotes yang kau post setiap Senin?"
Itu terlalu spesifik. Terlalu... mengena.
Dia merasa terkelabui. Tapi di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang... tersentuh. Seseorang telah memperhatikannya dengan sangat saksama, hingga menangkap kelelahannya yang tersembunyi di balik aesthetic.
HP nya berdering. Pak Suryo.
"Kinan! Kabarnya gimana? Editannya sudah jadi? Kita mau launching jam 7 malam ini, prime time!"
Kinan menelan ludah. "Sudah, Pak. Tapi... saya mungkin tidak bisa terlibat lebih lanjut."
"KENAPA? Ada masalah?"
"Masalah... personal."
"Dengan Ardi?" tebak Pak Suryo dengan tajam. "Dia bikin masalah? Aku akan turunkan nilainya jadi E!"
"Jangan, Pak. Ini... lebih rumit." Kinan menarik napas. "Video nya bagus. Upload saja. Saya kirim."
Dia menutup telepon. Lalu, tanpa bisa menahan diri, dia membuka chat dengan Ardi. Terakhir, Ardi mengirim: "Maaf. Gue nggak bermaksud menyakiti lo. Gue beneran."
Kinan tidak membalas. Dia mengunggah file video ke cloud, mengirim link ke grup Dadu Champ Task Force, lalu menutup laptop.
Tapi sebelum pergi, dia melihat flashdisk Ardi masih tertancap. Di dalamnya, selain folder "untuk kinan", ada folder lain: "lagu paling malu". Dengan rasa penasaran yang mungkin akan dia sesali, dia membukanya.
Ada satu rekaman audio, judulnya "Setelah Kamu Nyata". Rekaman baru, berdasarkan metadata, dibuat semalam.
Dia memasang earphone, memutarnya.
Suara Ardi, lebih lembut dari biasanya, dengan iringan gitar sederhana. Liriknya berbeda. Bukan tentang persona online. Tapi tentang seseorang yang membuatnya gugup, yang melihat kekacauannya dan tidak lari, yang minum kopi bersamanya di warung tua. Liriknya berakhir dengan: "...dan aku berharap dadu itu salah / karena takdir terbaikku ternyata / tidak perlu diputuskan oleh nasib / tapi oleh keberanianku untuk bilang 'hei, mari kita coba'."
Kinan mematikan rekaman itu, matanya berkaca-kaca.
Dia keliru.
Ardi bukan stalker dengan fantasi. Dia hanya seorang yang culun, jatuh cinta pada ide, lalu berhadapan dengan kenyataan dan ternyata, kenyataannya lebih baik.
Tapi sekarang, dia telah melukai kenyataan itu. Dia telah pergi, meninggalkan Ardi dengan kesalahpahaman yang lebih besar daripada accidental like pertama mereka.
---
Di kosan, Ardi masih terduduk. HP nya berdering. Dari Pak Suryo.
"ARDI! VIDEO.NYA LUAR BIASA! KINAN SUDAH KIRIM! KITA UPLOAD JAM 7!"
"Oke, Pak," jawab Ardi datar.
"Ada apa? Suaramu seperti mayat."
"Gapapa, Pak. Saya siap."
"Baik. Besok kita rapat lanjutan untuk konten seri kedua! Dengan Kinan juga!"
Ardi ingin bilang Kinan mungkin tidak akan datang, tapi tidak ada suara yang keluar.
Malam itu, tepat pukul 19.00, video "24 JAM HIDUPKU DIATUR DADU | #DaduChallenge" tayang serentak di TikTok @suryo_daduchamp dan Instagram Dadu Champ.
Dalam 30 menit: 10k likes, 2k shares, 1.5k komentar.
Komentarnya beragam:
"Ini mahasiswa kampus gue! WKWKWK GILA SAMBAL LEVEL 10!"
"Dosennya epic! Jogetnya dimana?"
"Jadi pengen beli dadunya buat putusin pacaran atau nggak."
"Yang mainin itu siapa? Lucu banget ekspresinya!"
Tapi ada satu komentar yang membuat Ardi terpaku. Dari akun privat, tapi dia tahu itu Kinan.
@kinanstudies: "To the talent: sometimes the bravest roll is the one you make off camera. 🎲"
Itu bukan tagar. Itu pesan. Untuknya.
Ardi menatapnya lama. Lalu, dengan hati berdebar, dia membuka DM.nya. Dia harus membalas. Harus menjelaskan semuanya dari awal.
Tapi apa yang harus ditulis?
Dia mengambil dadu emas. Melemparkannya.
1: Send the song "Setelah Kamu Nyata".
2: Apologize again, simply.
3: Ask to meet.
4: Explain everything in a long voice note.
5: Say nothing. Wait.
6: Roll again.
Dadu berhenti di 3.
Ask to meet.
Dia mengetik, jari-jarinya dingin tapi pasti.
ardi.pras: ketemu lagi. please. di warung kopi kemarin. besok jam 5. gue bakal ada di sana. kalo lo datang, ya. kalo enggak... gue paham. tapi tolong dengerin gue. langsung. bukan lewat lagu atau apapun.
Dia kirim. Tidak ada tanda "read".
Ardi mematikan HP nya. Besok, dia akan menunggu. Dengan atau tanpa kepastian.
Sementara itu, di feed-nya, video Dadu Challenge terus viral. Pak Suryo sudah menerima 50 DM pesanan dadu. Rendra meminta agar di tag di setiap repost. Bima dan Farel sibuk mengemas dadu-dadu pesanan.
Kesuksesan sedang berjalan.
Tapi bagi Ardi, satu-satunya keputusan yang penting sekarang adalah apakah Kinan akan membaca pesannya, dan apakah dia akan datang.
Dia melemparkan dadu sekali lagi ke kasur, kali ini tanpa mau melihat angkanya. Biarkan kehidupan, untuk sekali ini, tidak ditentukan oleh plastik berwarna emas.
Biarkan ditentukan oleh sesuatu yang lebih tidak terduga: oleh hati manusia.
#ToBeContinued
(Besok: Sebuah Janji di Warung Kopi, Penjelasan yang Sudah Terlambat, dan Sebuah Keputusan yang Akhirnya Benar-Benar Milik Mereka.)