Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Langit sudah di selimuti warna jingga, dua gadis cantik nan ceria baru saya keluar dari dalam cafe keduanya tak langsung pulang ke kontrakan melainkan ingin mengobati rasa rindunya pada bayi tampan yang sudah tinggal bersama kakek dan neneknya.
"May, kita bawain apaan ya buat Al?" tanya Cintya, sambil garuk-garuk kepalanya yang nggak gatel.
"Iya ya, eummm ... risol mayo sama batagor aja, gimana?"
"Itu mah elu banget! Al mana bisa makan gituan, May! Dia baru setahun! Gak aman buat lambung nya!" sahut Cintya, udah pasrah. Nanya May sama aja kayak nanya Google translate bahasa alien, bukannya dapat solusi malah tambah pusing jadinya.
"Hehehe! Kirain Al doyan," May malah cengengesan tanpa dosa.
Cintya cuma geleng-geleng. "Udah lah, bawa badan aja sambil pasang muka tebel. Lagian, tuh bocah udah punya segalanya di sana. Mau minta bintang, tinggal petik!" cetusnya pasrah lalu gegas naik ke atas motor di susul May yang duduk di boncengannya.
Beberapa menit perjalanan akhirnya motor metik yang di kendarai Cintya berhenti tepat di depan gerbang besi yang menjulang tinggi, mansion Dimitri.
Gegas Cintya membuka kaca helm nya. "Sore Om, masih kenal sama saya, kan?" sapa Cintya ramah pada salah satu bodyguard yang sedang berjaga di sekitar pintu gerbang.
Bodyguard yang di sapa Cintya langsung waspada menatap Cintya dan May dengan tatapan menyelidik. Setelah memastikan keduanya aman, baru ia bersuara.
"Silahkan masuk Nona!" ucapnya datar kayak robot.
"Cin, ini beneran rumahnya Al sekarang? Ini mah bukan rumah tapi lebih ke istana di negeri dongeng? Pulang aja yuk! Pengawalnya body goals semua. Saingan gue di dunia per-halu-an!" bisik May, tapi mata tetep jelalatan kesetiap sudut halaman, ngeliatin rumah yang kayak scene di film Crazy Rich Asians.
"Ya namanya juga rumah sultan, May. Udah lah, santai. Nenek kakeknya Al baik banget. Nggak gigit kok," balas Cintya, ikut bisik-bisik. "Yang gigit justru yang model kulkas berjalan ..." bisik Cintya yang malah ngebayangin wajah datar Arkana.
Akhirnya keduanya masuk ke dalam mansion langsung di sambut ramah sama salah satu maid yang sedang menyiram tanaman di depan mansion.
"Sore Nona Cintya, pasti mau ketemu tuan Muda Alexie kan?" tebaknya tepat sasaran.
"Iya Bi. Apa Baby Al ada di dalam?" tanya Cintya sopan.
"Ada, Kok Nona, lagi main di taman belakang sama Tuan, dan Nyonya besar."
Gegas ia menyuruh mereka untuk menunggu sebentar, lalu ia melangkah cepat menuju taman belakang untuk melapor terlebih dahulu sama sang majikan.
Sampainya di taman belakang ia gegas menghampiri kedua majikannya yang sedang mengawasi sang cucunya yang sedang asyik bermain dengan dua kucing putih.
"Maaf Nyonya, di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan Muda Alexie!" beri tahunya sopan.
"Siapa?" tanya Laudya penasaran.
"Nona Cintya dan seorang wanita muda seperti nya sahabat dari Nona Cintya, Nya." jelasnya lagi.
"Oh! Cintya. Antar mereka ke taman aja ya!" titah Laudya sambil tersenyum kecil.
"Baik Nyonya."
Nggak lama kemudian, Cintya dan May tiba di taman belakang mansion. "Buda ... !" seru Al, langsung melepas bolanya lalu berlari dengan langkah kecilnya, merentangkan tangan kecilnya sambil tersenyum lebar.
"Eh! Jangan lari-lari, sayang. Nanti kamu jatuh," khawatir Cintya yang ikut berlari menangkap tubuh mungil Al. "Ya ampun, kangen banget bunda sama anak tampan ini!"
Al cuma cekikikan dalam gendongan Bundanya, tangan mungilnya langsung merangkul leher Cintya erat, seolah takut ditinggal lagi.
"Ekhem! Al curang! Masa Bunda aja yang dipeluk? Aunty May nggak disapa, nih?" ceplos May pura-pura merajuk dengan nada menggoda.
"Kapan ya, gue diginiin sama cowok ganteng ... hadeh, halu lagi deh gue!" lanjut May malah jadi traveling kemana-mana.
"Aty May, nanti Al peluk juga, tapi sabal, ya! Al masih lindu belat ma Bunda lho!" jelas Al dengan suara cadelnya sambil menatap sekilas May yang berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Kalau berat jangan rindu, Al. Biar Aunty aja. Al nggak akan kuat!" May mendramatisir dengan gaya lebaynya.
"Gini banget dah jadi yang kedua!" cibik May, memasang wajah cemberut dengan bibir udah kayak ikan koi.
Cintya dan Al saling pandang lalu cekikikan, menertawakan nasib May. "Dih, malah diketawain!"
Laudya dan Antony yang melihat pemandangan di depan matanya ikut terharu. Mereka tahu cucu mereka pasti butuh sosok ibu seperti Cintya.
Keduanya saling pandang lalu tersenyum penuh arti. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu apa yang ada di benak mereka.
Kedua kucing putih, yang tak lain adalah Alexander dan Anastasya, hanya menatap haru kedekatan Cintya dan putra mereka. Mereka bersyukur Al bertemu dengan orang baik seperti Cintya.
Lalu kompak mendekati Cintya sambil mengeong pelan. "Terima kasih, Cintya, sudah menjaga dan merawat Al dengan baik," ujar Anastasya. Tapi yang terdengar di telinga Cintya cuma ngeongan khas kucing.
Cintya ngelus lembut kedua kucing itu. "Wah, Pus, kalian so sweet banget sih! Udah jadian beneran nih? Mau gue jadi bridesmaid nggak?" goda Cintya, gemes banget. "Eh, tapi bentar. Kucing nikah emangnya pake baju apa ya?"
Alexander dan Anastasya cuma bisa pasrah. Pengen rasanya teriak, "Cintya! Kami udah nikah! Al itu anak kami!" Tapi, ya sudahlah.
Setelah mengobrol singkat di taman. Kini mereka pindah ke ruang tamu, lantai marmer putih yang mengkilap langsung menyambut mereka. Udara di dalamnya sejuk dengan aroma lilin wangi yang menyebar dari sudut ruangan, dan sofa kain bulu yang lembut bikin May langsung ingin tidur.
Laudya mengambil tangan Cintya lalu menggenggamnya dengan erat, matanya penuh dengan kesungguhan. "Jangan pulang dulu ya, sebelum makan malam bareng kita." ajaknya penuh harap.
Cintya dan May tidak bisa menolak, apalagi melihat wajah Laudya yang sangat tulus. Selain itu, mereka juga memang masih kangen banget sama si bocah tampan yang sekarang lagi asik bermain dengan ujung rambut Cintya.
_____&&______
Di luar mansion, sebuah mobil sport hitam mengkilap baru saja berhenti dengan suara mesin yang rendah dan kuat.
Devano langsung turun dari mobil. "Tunggu ini kan ... motor milik gadis cantik yang ketemu kita di jalan tadi pagi?!" seru Devano semangat, matanya melotot sempurna. "Warnanya, stiker boneka kucing di bagian belakang, pasti dia dong!" lanjutnya yakin.
Arkana hanya berdiri diam di sebelahnya, tangannya ada di saku celananya yang hitam pekat. Dia sudah tahu kalau Cintya datang, bodyguardnya sudah memberitahukannya jauh sebelum dia sampai di mansion.
Itu sebabnya dia menginjak gas lebih cepat dari biasanya. "Terus? Kamu mau apa?" Suaranya tegas, mata menyipit ke arah Devano. "Jangan coba-coba mengganggunya!" tegasnya.
"Iya-iya, gue tahu kok!" Devano mengangkat kedua tangan seperti menyerah, tapi senyumnya penuh dengan makna. "Tapi kalau kamu butuh bantuan buat 'mendekatinya', kayak jadi juru kunci, aku siap bantu lho!"
Devano tahu jika bos sekaligus sahabatnya itu sedang tertarik sama gadis itu, dan itu hal yang sangat langka. Dan ia semakin tak sabar ingin melihat bagaimana mode bucin seorang ketua mafia yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu jika di hadapan pawangnya.
Setelah memperingati Devano, tanpa berkata apa-apa lagi, Arkana masuk ke dalam mansion. Devano mengikuti dari belakang, kaki langkahnya lebih cepat kayak ingin segera melihat apa yang akan terjadi.
Dia langsung masuk ke ruang tamu tanpa basa-basi, dan dengan sengaja memilih duduk tepat di sebelah Cintya. Dia ingin tahu sejauh mana seorang Arkana bisa menahan diri.
Semua mata langsung tertuju pada dua pria tampan yang baru saja masuk.
"Hayyy! Kita ketemu lagi ya!" sapa Devano tersenyum lebar, matanya bersinar kilat.
"Jangan-jangan ini tuh jodoh yang udah diatur sama Tuhan sejak kita masih jadi sel darah merah ya?!" cerocosnnya lagi.
Arkana hanya menatap Devano dengan tatapan yang tajam kayak mata elang yang melihat mangsanya. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di atas pahanyanya.
Devano bukannya takut, malah semakin mendekat ke arah Cintya, tangannya mau menyentuh kepala Al yang lagi asik bermain. "Hay keponakan Om yang tampan. Persis kayak om masih bayi dulu," ujar Devano dengan gemas pada baby Al.
Arkarna yang punya kesabaran yang hanya setipis uang jajan Cintya di akhir bulan, akhirnya meledak. Tanpa berpikir panjang, dia berdiri dengan cepat, tangannya langsung mengambil alih Al dari pangkuan Cintya dengan lembut tapi pasti. Kemudian, kakinya menendang sedikit kaki Devano yang ada di bawah meja ,tidak terlalu kuat tapi cukup untuk memberi isyarat. "Pindah tempat."
Devano langsung pindah ke sebelah May, sambil mengangkat bahu penuh kemenangan. "Oke-oke, gue ngobrol sama yang satu ini aja yang tak kalah manis," ujarnya sambil merangkul bahu May sok akrab.
May tersentak kaget tapi tak menepis ia malah menikmati momen langka itu, kapan lagi coba di rangkul cowok tampan. batin May bersorak ria.
Sementara itu, Alexander dan Anastasya yang sedang duduk di atas sofa kecil melihat semua kejadian itu. Mereka saling pandang, kemudian mengangkat ekornya dengan perlahan. Senyuman muncul di wajah mereka yang berbulu putih nan lembut. Keduanya tersenyum penuh rencana terselubung yang hanya mereka yang tahu artinya.
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus