"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengincar Bella
Hari ini Bella akan ikut ke Italy bersama suaminya. Ia pun sudah berpamitan pada orang tuanya.
"Dad, please! Jangan nangis donk. Kan nanti Bella pulang lagi." Lirih Bella dengan berlinang air mata.
"Daddy khawatir sama kamu nak. Dariush, jaga anak ku satu satunya. Dia harta berharga dalam hidupku." Ucap Dave dengan wajah sendunya.
"Don't worry, dad. Aku akan menjaganya dengan nyawaku." Tutur Dariush.
Lorraine masih dengan isak tangisnya memeluk Bella. Ia tak ingin Bella pergi lagi. Tapi mau bagaimana lagi Lorraine sebagai mertua menghormati keputusan Dariush.
Sean tidak ikut pulang, ia memilih tinggal dengan Natasha. Bahkan Sean sudah meminta Jay mencarikan rumah untuk dirinya dan istrinya.
Mereka mengantar kepergian Bella dan Dariush ke bandara. Tentunya Fabio dengan setia mengikuti boss-nya.
"Mom, dad, kalian sehat sehat ya disini. Bella nanti pulang lagi. Jangan telat makan ya dad." Lirihnya.
"Iya sayang, kamu hati hati ya. Kabari mommy dan daddy." Ucap Lorraine.
"Pasti mom."
Bella dan suaminya, juga Fabio sudah berada di dalam pesawat. Ia menyandarkan kepalanya ke tubuh suaminya. "Ada aku untuk mu sayang." Tutur Dariush.
Fabio berlari dan membisikkan sesuatu pada Dariush. "Putar arah, kita ke Romania." Ucap Dariush pada Fabio.
"Ada apa?" Tanya Bella.
"Kita istirahat dulu, tidak ada apa apa. Semua akan baik baik saja selama kita bersama." Tutur Dariush meyakinkan istrinya.
Dengan sedikit ragu akhirnya Bella mempercayai suaminya. Ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Melihat ekspresi wajah suaminya yang menyeramkan seperti menahan amarah.
-
-
-
Lain halnya dengan Sean dan Natasha yang sudah kembali ke apartment. "Aku dan Dariush akan membuka cabang perusahaan di sini. Jay akan membantuku mencarikan pegawai yang kompeten." Ucap Sean.
Natasha datang membawa coklat hangat untuk suaminya yang tengah sibuk di depan laptop di meja makan. "Minum dulu masih hangat. Terima kasih, kamu mau mengalah untuk ku dan tinggal di kota ini." Kata Natasha lembut.
Tangan Sean menangkup wajah cantik istrinya. Ia bahagia bisa menikahi Natasha. Setelah permainan cintanya yang selalu gagal, kini ia melabuhkan hatinya untuk Natasha.
Ibu jari Sean membelai lembut pipi merah istrinya dan mengecupnya. "Harus! Tapi sesekali kamu harus ikut aku pulang. Aku akan kenalkan kamu dengan keluarga dari orang tua ku."
"Hmm aku mau Sean."
"Ck... Kita sudah menikah sayang! Kenapa kamu masih memanggilku dengan sebutan nama?" Keluh Sean.
Natasha tertawa sumbang melihatnya. "Iya iya maaf sayang. Aku belum terbiasa menyebut mu sayang. Kita saja baru beberapa hari kenal kan? Semoga kita tidak saling menyakiti dan hanya kebahagiaan yang datang." Lirih Natasha dengan wajah sendunya.
"Kita memang baru mengenal beberapa hari ini, tapi aku yakin dengan pilihan ku yaitu kamu sayang. Aku punya luka di masa lalu yang berusaha aku sembuhkan. Bertemu kamu adalah obatnya. Sepertinya aku akan mencintaimu lebih cepat daripada dugaanku." Kata Sean.
Perlahan Sean mulai memagut bibir istrinya lembut. Satu tangannya memeluk erat pinggang Natasha. Ia membawanya ke pangkuannya.
"Aahh ja-jangan di sini."
Sean langsung membawa istrinya ke kamar dan menguncinya. Ia melepaskan semua pakaiannya dan juga pakaian istrinya. Kini keduanya sudah sama sama polos.
Natasha melebarkan kedua kakinya membiarkan suaminya ini bermain liar di bawah sana. Lidah dan jari Sean mulai menyesap dan mengocok lembah surgawi itu.
Pengantin baru ini saling beradu mekanik menjajal setiap sudut apartment. Dengan kondisi yang sudah carut marut.
Sean terus memacu adrenaline-nya pada istrinya. Tubuh Natasha sangat candu baginya, dari belakang ia terus mendesak semakin dalam.
Punggung mulus dan putih itu menyegarkan mata Sean. Lain halnya dengan Natasha yang ikut menikmati pergumulan ini. Ukuran cacing suaminya membuat ia puas, dan juga durasinya yang lama.
"Jadi begini menikah dengan bule." Gumam Natasha di tengah desakkan suaminya.
"Apa sayang?" Tanya Sean, samar samar ia mendengar istrinya bicara namun tak jelas.
"Aaahh bu-bukan apa apa sayang. Aaahh faster please!" Rintih Natasha.
Cacing besar Sean semakin cepat memompa lembah surgawi istrinya, dan pertempuran mereka berakhir di sofa panjang di ruangan itu.
"Argh... Kamu nikmat sekali sayang. I love you."
DEG
Sontak Natasha tercengang atas perkataan suaminya ini. Ia tersenyum hangat dan mengangguk pelan. Keduanya terlelap malam itu tanpa ada penyatuan lagi. Sean mendekap erat tubuh Natasha yang kecil di pelukannya dan berselimut tebal.
-
-
-
"Beres boss!" Ucap seorang pria yang tengah menjalani perintah atasannya.
"Good job! Permainan di mulai Dave, sebentar lagi kamu akan kehilangan anak mu! Lalu...kamu dan Lorraine akan enyah seperti Damian juga Adelaine." Seringai Revaldi.
"Wow wow wow...kesepakatannya tidak seperti itu tuan Revaldi yang terhormat. Kau hanya berurusan dengan orang tuanya! Tidak dengan Arabella." Sahut seorang pria lainnya yang baru datang yaitu Dylan.
Revaldi menoleh ke arah pintu. Yah! Ia dan Dylan bekerja sama untuk melenyapkan Dave dan Lorraine. Ia sudah merencanakan sesuatu yang jahat pada Arabella di Italy.
Dan nampaknya Dylan tidak di libatkan dalam hal ini. Ia pun menanyakan apa rencana Revaldi. "Kau tidak perlu tahu anak muda, jalankan saja rencana yang sudah kita susun. Biarkan ini menjadi urusanku!" Ucap Revaldi dengan kesal.
BRAK
Dylan menggebrak meja di dalam ruangan itu. "Kalau sampai Bella terluka, kau yang akan ku bun*h!"
"Hahahaha aku tidak perduli, aku hanya melanjutkan apa yang sudah terjadi. Jika saja Dave tidak ikut campur mungkin sekarang kehidupan mereka baik baik saja." Kata Revaldi dengan santainya.
"Tidak dengan Bella. Dia tidak bersalah!" Sanggah Dylan.
"Yap! Kau benar Bella tidak bersalah, kita hanya memancing dia supaya Dave menyerahkan semua bukti yang Damian berikan."
Jelas saja Revaldi akan mendapatkan bukti itu dengan melakukan segala cara. Bahkan sebelumnya anak buahnya sudah menyusup masuk ke dalam rumah Dave dan Lorraine. Tapi mereka tak menemukan bukti apapun.
Hingga Dave dan Lorraine pindah ke kota besar dan memulai kehidupan baru disana. Saat Bella masih kecil. Rumah yang mereka tempati adalah rumah ketiga dimana mereka semua mencari tempat yang aman.
"Kau masih ingin di sini? Aku harus ke pelabuhan ada barang yang harus aku kirim." Ucap Revaldi.
Inilah bisnis seorang Revaldi, ia juga memperjual belikan obat obatan terlarang dan persenjat*an. Tentunya tanpa sepengetahuan istri dan anaknya.
Dylan pun pergi dari sana. Saat di mobil ia meminta anak buahnya menjaga dari jauh rumah Bella. Tanpa ia ketahui jika Bella sudah pergi dari sana.
"Brengsek Revaldi...rupanya dia bermain di belakang ku! Lihat saja, jika kau menyentuh seujung kuku Bella, aku yang akan membun*hmu brengsek!" Geram Dylan sambil menyetir.