Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Visit
Kunjungan Nael ke kediaman Joice dan Anne Rodriguez pada hari Minggu itu bukan sekadar kunjungan keluarga biasa. Bagi publik, ini adalah pernyataan bahwa Nael telah diterima sepenuhnya ke dalam silsilah keluarga paling berpengaruh di New York. Meskipun Nael sempat bertemu dengan Joice dan Anne di kapel saat pernikahan rahasia yang terburu-buru itu, suasananya jauh berbeda. Kali ini, ia datang sebagai cucu yang disambut secara resmi.
Mansion keluarga Rodriguez di jantung kota New York tampak berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, namun di dalamnya, Anne telah sibuk sejak fajar menyingsing.
"Joice, pastikan kue cokelatnya tidak terlalu manis. Anak-anak biasanya tidak suka dark chocolate yang terlalu pekat," seru Anne sambil mengatur vas bunga di ruang tengah.
Joice, yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil membaca laporan pasar, hanya mendongak sekilas. "Anne, tenanglah. Kau bersikap seolah-olah kita akan menyambut presiden. Dia hanya anak kecil berusia lima tahun."
"Dia bukan hanya anak kecil, Joice. Dia anak Pablo, dan sekarang dia cucu kita. Aku ingin kesan pertamanya di rumah ini sangat sempurna," balas Anne dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar di halaman depan. Pablo, Freya, dan Nael telah tiba.
Pintu mahoni besar itu terbuka, dan Freya melangkah masuk dengan senyum cerah, menggandeng tangan kecil Nael. Pablo berjalan di belakang mereka, membawa tas kecil berisi mainan favorit Nael—sebuah tanda bahwa Pablo tetap waspada jika anaknya merasa tidak nyaman.
"Grandpa Joice! Grandma Anne!" seru Nael. Meskipun awalnya ia pemalu, keramahan Freya selama dua hari terakhir telah memberinya keberanian.
Anne hampir berlari menghampiri bocah itu. Ia berlutut, mengabaikan gaun sutra mahalnya yang menyentuh lantai, lalu memeluk Nael dengan lembut. "Halo, Sayang. Selamat datang di rumah Grandma ."
Joice berdiri dari kursinya, mendekat dengan tangan di saku celana. Ia menatap Nael, lalu menatap Pablo. Ada sebuah pengakuan tanpa kata di antara kedua pria itu—sebuah rasa hormat karena Pablo telah membawa keluarga ini ke arah yang lebih jujur.
"Kau tampak lebih tinggi dari terakhir kali kita bertemu di kapel, Nael," ucap Joice sambil mengacak rambut Nael dengan kaku namun penuh kasih.
Mereka pindah ke ruang makan formal, namun Anne sengaja meminta pelayan untuk tidak terlalu kaku. Suasana dibuat lebih santai. Di tengah meja, tersedia berbagai hidangan yang disukai anak-anak namun tetap berkelas.
"Jadi, Nael," Joice memulai pembicaraan saat mereka menikmati hidangan utama.
"Daddymu bilang kau sangat pintar matematika. Apa itu benar?"
Nael mengangguk dengan semangat sambil mengunyah kentang tumbuknya. "Daddy mengajariku berhitung dengan koin. Katanya, kalau aku pintar berhitung, aku bisa menjaga uang Mommy Freya nanti."
Ruangan itu seketika dipenuhi tawa. Pablo hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis, merasa sedikit malu namun bangga.
"Dia benar, Daddy," sela Freya sambil melirik Pablo. "Pablo sudah mulai mengajarinya konsep investasi dasar. Dia bilang Nael harus siap menghadapi dunia luar."
Joice menatap Nael dengan pandangan yang lebih dalam. Ia melihat potensi besar di mata bocah itu. "Bagus. Keluarga Rodriguez butuh pikiran-pikiran tajam. Setelah makan siang, Grandpa akan menunjukkan perpustakaan rahasia di lantai atas. Ada banyak koleksi koin kuno di sana."
Setelah makan siang, sementara Joice membawa Nael dan Pablo ke ruang kerja untuk "obrolan pria", Anne dan Freya duduk di teras belakang sambil menikmati teh.
"Aku tidak menyangka kau akan mengadakan perjamuan seperti ini untuk menyambut Nael Mom" ucap Freya tulus.
Anne menyesap tehnya, matanya menatap ke arah taman. "Awalnya aku takut, Freya. Takut akan skandal, takut akan apa yang dipikirkan orang. Tapi saat melihat bagaimana anak itu menatapmu... dia melihatmu sebagai dunianya. Dan aku menyiapkan acara seperti itu karena aku sudah menganggap dirinya sebagai cucuku sendiri."
Anne menggenggam tangan Freya. "Terima kasih telah berani, Sayang. Kau hebat dan benar apa yang dikatakan Nael saat itu bahwa kau wanita dewasa yang baik dan hebat.
Kau mengajari kami sesuatu tentang arti keluarga yang sesungguhnya."
Di dalam ruang kerja yang penuh dengan aroma kayu cendana dan cerutu, Nael sedang asyik melihat koleksi koin emas milik Joice di bawah pengawasan ketat ayahnya.
"Dia anak yang baik, Pablo," ucap Joice dengan nada rendah. "Dia punya ketenangan yang kau miliki, tapi punya kehangatan yang mirip dengan Freya. Itu kombinasi yang berbahaya di New York."
"Aku hanya ingin dia memiliki masa kecil yang tidak pernah aku miliki, Joice," jawab Pablo jujur. "Tanpa rahasia, tanpa rasa takut."
Joice mengangguk. "Kau punya dukunganku sekarang. Sepenuhnya. Dante Valerius sudah mulai merasakan akibatnya. Pagi ini, tiga bank utamanya menarik dukungan untuk proyek di New Jersey. Dia akan sibuk menyelamatkan dirinya sendiri sehingga tidak punya waktu untuk mengganggu anak ini."
Sore itu, sebelum mereka pulang, Joice melakukan sesuatu yang sangat simbolis. Ia membawa sebuah kotak kecil berwarna beludru biru dan memberikannya kepada Nael.
"Ini apa, Grandpa ?" tanya Nael.
"Itu adalah pin lambang keluarga Rodriguez. Hanya anggota keluarga inti yang memilikinya," jelas Joice. "Simpan ini. Suatu hari nanti, ini akan mengingatkanmu bahwa kau punya dua keluarga besar yang akan selalu menjagamu."
Nael memeluk Joice dengan erat, sebuah tindakan yang membuat pria tua yang kaku itu tampak sedikit berkaca-kaca.
Saat mobil Pablo mulai meninggalkan halaman mansion Rodriguez, Freya menoleh ke belakang, melihat orang tuanya berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan. Hari itu, bukan hanya rahasia yang berakhir, tetapi sebuah penerimaan yang tulus telah lahir.
Nael tertidur di kursi belakang, memegang kotak pemberian Joice. Pablo merangkul Freya, mencium keningnya di tengah kemacetan New York yang biasanya bising, namun sore itu terasa begitu damai bagi mereka.
"Mereka mencintainya," bisik Freya.
"Tentu saja," jawab Pablo. "Siapa yang tidak akan mencintai bagian dari kita?"
Keluarga Freya dari dulu sudah menerima Nael sepenuhnya sebagai anggota keluarga tapi kali ini adalah acara resmi yang diadakan untuk menyambut hangat Nael di keluarga Rodryguez.
Kebahagian selalu datang di waktu yang tepat, sebuah keluarga kecil. Terdiri dari Pablo, Freya dan Nael. Keluarga kecil yang hangat, pemberani, pintar dan baik.