Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
Sroooottt...sroootttt
Rena sedang mengelap ingus entah sudah yang keberapa kalinya
"Sudah, makan dulu tuh baksonya, Re, sayang dianggurin!" Bu Genti yang sudah menyelesaikan makannya beranjak ke dapur, dekat ruangan UKKB untuk mencuci mangkok.
Sementara Rena masih saja mengaduk-aduk bakso yang sekarang sudah dingin. Satu suap dua suap hingga akhirnya bakso tandas, berpindah dari mangkuk ke dalam perutnya.
"Sudah enakan?" Bu Genti kembali mendekatinya. "Sudah jangan terlalu dipikirin, percaya sama Ibu, nanti malam Banu pasti pulang, dia juga perlu waktu, Re untuk menerima semua ini. Itu tandanya dia sangat mencintaimu." Bu Genti mengusap pundak Rena.
"Tapi dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, Bu! Dan aku juga tidak melakukan apapun yang tidak senonoh, aku benar-benar kecewa dengan Mas Banu. " Rena menundukkan kepalanya. "Seharusnya dia menanyaiku, bukan meninggalkanku!" Ucapnya parau.
Air mata yang sudah dia tahan akhirnya lolos, membasahi pipi mulusnya yang langsung diusapnya sebelum terjun bebas membasahi baju.
"Ibu kemarin pernah bilang bahwa yang namanya berumah tangga ada saja masalahnya, dan itu ada bukan tanpa sebab. Masalah yang ada itu harus kita lalui, bukan kita hindari. Kenapa? karena itu semua merupakan proses pembelajaran hidup, proses pendewasaan diri. Sejauh apa kita dapat melaluinya, sekuat apa kita dapat menerimanya, dan itu bukan hanya terjadi padamu, tapi kepada setiap kehidupan rumah tangga. Hanya, mungkin masalahnya yang berbeda, Re. Percayalah semua akan baik-baik saja. " Bu Genti memberi nasihat dan wejangannya kepada Rena.
"Iya, Bu." Rena hanya menjawab singkat kepada Bu Genti.
"Dan sekarang sudah siang, waktunya pulang, yuk?" Bu Genti membereskan buku dan tasnya.
Sementara Rena men-shut down laptop yang masih menyala dengan terlebih dahulu mengeluarkan aplikasi yang sedang dia gunakan.
Mereka berdua berkemas tanpa ada obrolan apa pun lagi. Hingga akhirnya mereka berjalan keluar sekolah dan berpisah di pertigaan ujung gang.
"Sampai jumpa hari esok, Re, semangat ya, salam buat si gembul!" Bu Genti melambaikan tangannya. Sementara Rena menyebrang jalan kemudian menaiki sepedanya, mengendarainya dengan pikiran yang entah kemana.
Sampai di rumah Rena langsung memasukan sepedanya ke dalam garasi. Kemudian dia mencuci tangan dan kakinya melalui kran yang berada di sebelah timur garasi.
Rena berjalan menuju dapur, mengambil gelas di rak piring paling atas, kemudian menuangkan air putih untuk menuntaskan dahaganya baru kemudian dia memasuki kamar.
Hampir saja dia berteriak ketika melihat seorang lelaki sedang tidur memeluk bocah gembul, memunggungi pintu!
Oh Tuhan
Ternyata suaminya sudah pulang dan sedang tertidur sambil memeluk Hizam. Seperti ada beban berat yang hilang dari hatinya ketika melihat suaminya berada di rumah, didalam kamarnya, sedang memeluk sang anak, buah hati mereka.
Kenapa tadi tak terlihat si Suprayitno ya, atau mataku yang sliwer asal masuk rumah saja.
Rena tersenyum melihat pemandangan di depannya, mungkin hal biasa bila keadaan rumah tangganya sedang baik-baik saja. Tapi kali ini berbeda, ada banyak hal yang perlu diluruskan. Ada banyak hal yang musti dibicarakan. Berdua... Rena dan Banu..
Rena beranjak keluar kamar, menuju ke kamar Hizam, mengganti seragam sekolah dengan seragam kebesarannya di rumah, daster.
Baru setelahnya merebahkan diri, meluruskan pinggang dan mulai berpikir bagaimana awal yang baik atau bagaimana memulai cerita dengan suaminya nanti. Hingga akhirnya dia pun terpejam, menenangkan hati yang sehari semalam ini terasa nyeri.
Entah sudah berapa lama Rena terpejam, hingga dia merasakan ada sesuatu yang hangat dan keras sedang menopang kepalanya, dan terasa menempel di pipinya. Detak jantung yang terdengar sangat jelas di telinganya, membuat dia segera sadar. Sosok laki-laki yang sedari kemarin dia rindukan, berada di pelukannya. Sejak kapan?
"Sudah bangun? " Suara berat yang berasa lama sekali tak dia dengar tiba-tiba menyapa gendang telinga.
Sungguh berlebihan
Sementara Rena yang masih menata degup jantungnya hanya mendongakkan kepalanya, menghadap ke atas, memandang wajah suaminya, Banu.
"Cup!" Sebuah kecupan mendarat di keningnya.
"Maaf, Maafkan aku!" Banu semakin memperdalam kecupannya dan memeluk Rena lebih erat.
Sementara Rena, terus menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya sambil menangis terisak.
"Maafkan aku, tidak seharusnya aku berbuat seperti ini, seharusnya aku mendengar penjelasanmu, tidak langsung pergi dengan segala emosi dan asumsi pikiranku sendiri, maafkan aku!" Banu mencium rambut panjang Rena dengan lembut.
"Kamu jahat!" Hanya kata itu yang terucap dari bibir Rena, dengan memundurkan kepalanya dan mencoba melihat manik mata suaminya.
Sambil menelusuri wajah oval dengan dahi yang luas, mata sipit bibir tipis hidung mancung dan rahang yang keras, tangannya terus menyentuh setiap lekuk wajah Reno. Sementara sang empunya wajah hanya diam dan memejamkan matanya. Mungkin sedang menikmati sentuhan Rena, atau bisa saja dia mencoba berpaling dari pandangan menghujam Rena.
" Perlu kamu ketahui, Aku sama sekali sudah tidak mempunyai hubungan apapun dengan Sholeh. Aku juga tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan dia, Aku tidak pernah menyangka dia masih seberani itu mendekati aku yang sudah jelas-jelas bersuami dan mempunyai anak. Aku sudah berkali-kali berbicara padanya, untuk menjauh, melupakan ku. Aku memang salah tidak berterus-terang kepada mu, tapi Aku punya alasan sendiri. Aku tidak mau kalau kamu berpikir macam-macam ke Aku, Aku gak mau nambah-nambahin pikiran kamu. Sudah hanya itu!" Rena semakin terisak. Meluapkan segala isi hatinya kepada sang suami.
"Sstt.**... **, sudah.. Sudah, maafkan Aku juga ya, Aku yang langsung emosi saat membaca pesan-pesan dari dia dan meminta mu untuk menemuinya, terus terang aku cemburu. Aku takut kalau kamu akan berpaling, aku hanya takut. Takut. Itu saja" Banu kembali menciumi kepala sang istri. Berharap tangisan istrinya akan reda.
Namun sepertinya usahanya sia-sia, Rena masih terus saja menangis, menyalahkan diri sendiri dengan segala asumsinya.
"Dan perlu kamu ketahui ya, seribu Sholeh di luaran sana yang mencoba dekati aku, aku tidak akan pernah berpaling dari kamu! Apapun itu. Seharusnya kamu tau itu. Tanpa aku berbicara seperti ini seharusnya kamu tau, kaku tahu aku melebihi aku sendiri. Tapi kenapa malah sekarang seperti ini?" Rena beranjak duduk dan memukuli dadanya sendiri.
Banu yang terkejut dengan gerak cepat Rena hanya bisa memeluknya, menghentikan gerak tangan Rena yang semakin melemah dengan suara isakan yang semakin berkurang.
"Maafkan aku.. Maaf.. "
..........................
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor