Memet dan Bety telah menikah. Dan mereka menikmati kehebohan menjalani bahtera rumah tangga karena menikah muda.
Keduanya kerab kali cek-cok mempermasahkan hobi Memet yang suka main game online.
Sementara Bety, ia sangat kesal diabaikan oleh suaminya itu.
Suatu ketika Bety membuat rencana, memberi obat pada minuman Memet, sehingga lelaki itu mabuk tak sadarkan diri.
Bety memutuskan untuk pergi meninggalkan Memet setelah malam pertama mereka.
Tak ada angin tak ada hujan, di saat Memet pusing memikirkan istrinya, sembilan bulan kemudian tiba-tiba saja orang mengantarkan bayi laki-laki kepadanya. Orang itu mengatakan kalau Bety telah meninggal setelah melahirkan anaknya.
Lima tahun kemudian Bety kembali dari luar negeri. Ia menyamar dengan dua anak kecil berumur lima tahun.
Ia melakukan itu untuk menghindari Memet, ia yakin kalau Memet masih marah kepadanya karena telah berani membohonginya.
Tetapi penyamarannya terbongkar, ia ketahuan oleh Memet, hingga membuat lelaki itu murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kulid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tipu muslihat Bety
Semakin kesini Bety mulai bosan menjalani pernikahannya. Setiap kali dan setiap saat ia selalu dihadapkan pada kecanduan Memet bermain game online, sementara Bety sudah tak ada cara lagi untuk melarang hobi suaminya itu.
Seperti saat ini, ia sedang duduk di kursi tamu, dan Memet pun duduk berseberangan dengannya. Bety hanya menatap malas acara televisi yang membosankan. Dan yang lebih mengganggu pendengarannya adalah, suara game yang menginstruksikan jalannya permainan.
Melihat gaya duduk Memet yang menganggkang tanpa etika, membuat Bety ingin sekali melempar lelaki itu dengan bantal. Atau botol-botol kaca tempat makanan itu juga bisa menjadi senjata untuk melempar kepalanya, agar otak lelaki itu bisa berpikir relatif.
Memang Memet sudah mulai bekerja, tetapi jika sudah pulang, lelaki itu akan buru-buru berganti baju dan mulai mencari posisi nyaman untuk bercinta dengan game kesayangannya.
Dengan malas Bety mengganti siaran televisi, pilihannya jatuh pada drama rumah tangga yang mengisahkan penderitaan istri yang selalu ditindas dan dimadu. Ah! Rasanya itu seperti pembodohan baginya. Atau ia bisa mengusulkan judul cerita seperti "suamiku diperbudak game online".
Lengkap sudah kejengkelannya saat ini. Dari sepanjang pagi hingga petang ia akan membereskan semua pekerjaan rumah tangga, jika di sore hari ia akan menikmati waktu menonton serial drama sambil menemani Memet bermain game.
Rasanya sudah seperti patung saja dia di rumah itu. Walau mereka sekarang sudah tinggal di rumah sendiri, tetapi perasaan Bety tak pernah nyaman di sana. Rumah itu dibelikan oleh mertuanya, bergaya minimalis dan cocok untuk pasangan muda seperti mereka.
“Memet, kamu jangan main game terus dong. Aku bosan kalau begini terus. Dari pagi nggak ada teman ngobrol, sekarang kamu sudah pulang kerja, malah kamu sibuk terus sama handphon. Terus sama aku kapan!” kata Bety menatap Memet kesal.
Rasanya sudah mau meledak isi di dalam hatinya. Kalau tahu akan seperti ini rasanya setelah menikah, lebih baik dia tidak menerima lamaran lelaki itu.
Memet bergerak, meluruskan posisi duduknya menatap pada Bety.
“Kenapa sih? Aku kan sudah cepat pulang kerja, sekarang kamu ngomel-ngomel. Mau kamu apa? Di kantor aku sudah capek seharian bekerja, belum lagi mau pulang jalanannya macet. Sekarang, aku main game buat menenangkan pikiran saja tidak boleh. Hah!” jawab Memet menatap Bety dengan wajah lelah.
“Ya, setidaknya kamu tolong beri aku perhatian sedikit saja. Aku butuh teman ngobrol, bukan teman dalam status kartu nikah saja! Lama-lama kalau begini terus, aku lebih baik pergi saja dari sini, Memet. Muak aku melihat kamu lebih pentingin game daripada aku. Kenapa tidak menikah saja sama animasi yang ada di dalam game kamu itu. Dengan begitu kamu bisa memainkannya setiap saat!” kata Bety dengan suara meninggi.
Memet terperangah. Ia bisa melihat raut wajah Bety yang telah berubah marah. Mungkin ia tidak terlalu peka karena hobinya, sehingga Bety terabaikan. Tetapi hanya itu satu-satunya tempat ia mengalihkan pikirannya setelah lelah bekerja. Jika Bety mau berhubungan seperti suami-istri lainnya, mungkin itu akan membantunya. Tapi, wanita itu masih bersikeras tidak akan melakukan itu sebelum dia siap. Sampai kapan ia menunggu? Apakah sampai teman-temannya sudah mempunyai cucu.
“Terserah kamu saja lah. Aku sudah capek mendengar omelanmu setiap hari, Bety. “ Memet membanting bantal yang berada di sebelahnya ke lantai, lalu ia meninggalkan Bety dan pergi ke kamar.
Bety tersintak melihat Memet. Lelaki itu marah karena dilarang bermain game, dan baru saja ia juga memperbolehkan Bety untuk berlaku semaunya. Melihat punggung Memet yang telah hilang di balik pintu kamar, perlahan air mata Bety jatuh. Sedih rasanya jika diabaikan oleh orang yang kita cinta. Apalagi mereka baru menikah, harusnya saat ini mereka menikmati momen keromantisan bersama. Bukan adu mulut, memperkarakan masalah yang remeh temeh seperti ini.
Dengan cepat bety menghapus air matanya dengan kasar, lalu ia bangkit, berjalan ke dapur. Ia harus bertindak cepat. Setelah memikirkan dengan matang selama dua hari ini, ia bertekad akan mengakhiri kehidupan rumah tangga yang membosankan ini.
Lima belas menit kemudian. Di dalam kamar.
“Sayang!” Bety memanggilnya dengan lembut, berdiri dengan sopan di pintu.
Memet yang sedang memegang dokumen di tangannya, terkejut mendengar kata ‘sayang’ dan secara spontan ia menoleh, menatap tajam kepada Bety.
Baru setengah jam yang lalu mereka berdebat, sekarang wanita itu telah berubah seratus delapan puluh derajat, berubah baik. Apakah setiap wanita di dunia ini penuh teka-teki, atau mereka mempunyai banyak wajah? Memet tidak pernah menyangka Bety akan secepat ini berubah lembut.
“Ya?”
“Ini kopi untukmu. Aku harap kau menyukainya saat ini,” kata Bety meletakkan cangkir kopi di dekat Memet.
Lelaki itu menyesap kopi buatannya. Mungkin itu akan menjadi kopi terakhir untuk Memet. Entahlah, mari kita lihat perubahan apa dari lelaki itu setelah meminumnya. Mata Bety tertuju pada cangkir kopi itu, wajahnya tiba-tiba berubah sangar dan penuh ambisi jahat.
Dalam waktu satu bulan bersama Memet, ia sudah merasakan banyak perubahan di setiap harinya. Banyak hal-hal manis yang dijanjikan dulu berubah bualan semata. Apakah itu kata merayu agar ia terjatuh pada perangkapnya. Sekarang adalah waktu yang tepat mengatasinya.
Cintanya kepada Memet tidak akan pernah padam. Lelaki itu telah berani singgah di hatinya dan tidak memberikan celah untuk ia bisa keluar lagi. Selamanya akan menjadi suami dan lelaki yang bertahta di hatinya.
“Mari kita berhubungan,” kata Bety.
“Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku janji tidak akan banyak meminta apa pun. Tapi setelah ini kamu harus berubah, ya?” walaupun Bety berbicara lembut, Memet bisa menangkap kenekatan dalam kata-kata Bety.
Matanya membelalak terkejut.
“Bety, kau? Apakah kau dan aku?” Memet menatap tak percaya pada perkataan Bety.
Bety tersenyum. Ia telah memperkirakan waktu dan dosis yang ia gunakan untuk membubuhi kopi itu. Sebentar lagi obatnya akan segera bekerja.
“Iya, lagipula kita adalah suami dan istri,” kata Bety.
Dalam hati ia berkata, jika semua ini akan berakhir, aku rasa aku berhak mendapatkan sesuatu! Ia memejamkan matanya dan menegakkan punggungnya. Sikapnya berubah percaya diri dan berani.
“Bety, jangan main-main denganku. Aku sudah berusaha untuk menghargai keputusanmu. Jika kau seperti ini, jangan salahkan aku!” ancam Memet memandang serius.
“Jangan banyak bicara. Nikmati saja.”
“Apa?” Memet tersentak aneh di saat tubuhnya tiba-tiba berubah panas dan tak nyaman.
“Bety, kau berani memberikan obat?” Memet menatap tak percaya atas yang ia rasakan saat ini. Wanita itu nekat memberinya obat.
Wajah tampan Memet tiba-tiba saja memerah. Hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya mulai terangsang naik ke ubun-ubun. Sesuatu yang terkunci di dalam dasar jiwanya ingin segera keluar.
Sementara Bety tampak tenang dan tidak mengatakan apapun. Ia tersenyum sinis, kemudian berjalan mendekati Memet. Secara perlahan ia melepaskan semua pakaiannya. Tanpa tergesa-gesa ia duduk di samping Memet dan bersandar pada dada bidang lelaki itu.
Memet tentu saja ingin menghindar, tetapi ia tidak bisa menolak kebutuhan badannya, dan dengan cepat ia menarik Bety kepelukannya.
Sesuatu yang liar di dalam tubuhnya berteriak untuk dibebaskan segera. Akhirnya mereka berbagi malam yang indah bersama. Menikmati malam pertama sebagai pasangan. Dan mungkin itu malam pertama dan terakhir.
ayo promo thor, jangan biarkan karya anda terbengkalai