NovelToon NovelToon
KETULUSAN HATI ELINA

KETULUSAN HATI ELINA

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Henny

Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelahiran Anak Susi

Wajah Elina terlihat sedih. Ini adalah kunjungan nya yang pada dokter kandungan. Namun Okan lagi-lagi tak bisa menemaninya. Saat yang kunjungan kedua, ibu tiba-tiba mengajak Okan ke Surabaya. Dan saat ini, Susi kembali merasa sakit. Elina tahu kalau sebentar lagi Susi akan melahirkan. Rasa sakit yang sering dialaminya sangatlah wajar. Dari pada melihat ibu yang marah-marah tak karuan, Elina memilih pergi sendiri. Dan entah kenapa,. dokter Arkan selalu menemaninya.

"Makasi ya, dok." ujar Elina saat keduanya sudah berada di luar klinik dokter Kirana.

"Aku nggak mau kamu sedih, Elina. Sebagai temanmu, aku ingin menemanimu saja." ujar Arkan dengan wajahnya yang selalu tersenyum.

"Kau selalu memberikan aku proyek kue yang banyak. Kau juga yang selalu menemani aku ke dokter Kirana. Aku sungguh berterima kasih memiliki sahabat sepertimu."

Arkan hanya menepuk pundak Elina. Ia lalu membukakan pintu mobilnya untuk Elina. "Kamu ke sini naik taxi kan? Ayo masuk, biar ku antar pulang."

Elina tak mampu menolak. Hari ini memang ban mobilnya kempes saat ia berada di toko kuenya. Elina pun naik taksi. Dia merasa sangat lelah. Lelah dengan semua persoalan yang ada dan lelah fisik karena hari ini harus menyiapkan kue yang banyak.

"Baiklah. Maaf sudah merepotkanmu."

"Aku tak merasa direpotkan" Kata Arkan sambil mempersilahkan Elina masuk.

Keduanya pun mengobrol banyak hal sepanjang perjalanan dari klinik dokter Kirana ke rumah Okan. Elina merasa senang karena Arkan sangat mudah diajak mengobrol apa saja. Termasuk tentang bisnis kue yang Elina jalani.

Akhirnya mereka tiba di rumah. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Okan yang berdiri di teras rumah baru saja hendak menelpon Elina, saat dilihatnya mobil Arkan yang memasuki pekarangan rumahnya. Arkan turun dan segera membukakan pintu mobil untuk Elina.

"Selamat malam Okan!" Sapa Arkan.

"Selamat malam, dok." sapa Okan mencoba menekan rasa cemburu yang ada di hatinya.

"Aku pulang dulu ya? Elina nanti kita saling telepon lagi mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan 2 Minggu depan. Okan, aku permisi dulu ya?" Arkan melambaikan tangan sebelum dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

"Kenapa dokter itu yang mengantarmu?" tanya Okan setelah mobil Arkan menghilang dari pandangan.

"Setiap kali aku periksa ke dokter Kirana, Arkan ada di sana, mas. Dia hanya ingin tahu mengenai perkembangan kandunganku. Kebetulan rumah sakitnya menjalin kerja sama dengan klinik dokter Kirana."

Okan menarik napas panjang. Ia merasa kalau Arkan menyukai Elina. Sebagai lelaki ia dapat melihat itu. "Jangan terlalu akrab dengannya sayang. Aku nggak suka."

Elina melingkarkan tangannya di lengan Okan. "Jangan cemburu, mas. Arkan hanya menganggap aku sebagai sahabatnya. Apalagi aku. Kau tahu sejak pertama melihatmu, hanya kamu lelaki yang ada dalam hatiku."

Okan menyentuh wajah Elina. Sebagai lelaki, ia tahu kalau kecantikan Elina menarik perhatian banyak pria. Apalagi dengan bentuk tubuh Elina yang nyaris sempurna. Okan seakan tak rela setiap kali melihat pandangan iri para pria saat Okan menggandeng Elina. "Aku hanya takut kau berpaling dariku, sayang."

Elina tersenyum. "Kau tahu hatiku, mas. Mungkin jika kau menyakiti aku, aku akan pergi."

"Aku tak akan pernah menyakitimu, sayang."

Elina memeluk Okan. Okan menyambut pelukan istrinya sambil mencium puncak kepala Elina secara berulang-ulang.

"Mas, ayo masuk. Aku sudah lapar."

Okan melingkarkan tangannya di bahu Elina. "Aku juga sudah lapar."

"Aku juga sudah lapar."

Keduanya masuk ke dalam sambil bergandengan tangan. Tepat di saat itu Susi keluar dari kamar dan Zeki menuruni tangga.

"Ibu ke mana, mas?" tanya Elina.

"Ada pengajian. Mungkin pulangnya jam 8 malam." jawab Okan.

"Mas, aku ingin makan." ujar Susi sambil mendekat.

Elina langsung melepaskan tangannya yang memegang tangan Okan karena Susi langsung melingkarkan tangannya di lengan Okan.

"Aku siapkan meja ya?" Pamit Elina sambil mempercepat langkahnya.

"Kakak ipar, aku akan membantu." Zeki ikut berlari menyusul langkah Elina.

"Duduk saja di meja makan. Kan ada bi Ina." kata Elina sambil menunjuk bi Ina yang sudah siap di dapur.

"Bibi duduk saja. Biar aku yang membantu kakak ipar." Kata Zeki lalu segera mengambil peralatan makan yang ada di tangan bi Ina. Perempuan berusia 50 tahun itu hany tersenyum sambil mengangguk.

Susi yang duduk di sebelah Okan, meminta Okan untuk mengusap punggungnya.

"Masih sakit, mas." ujarnya memelas lalu menyandarkan kepalanya di bahu Okan.

Elina yang melihat sikap manja Susi itu berusaha memakluminya. Ia tahu kalau Susi pasti sedang ingin bermanja-manja dengan Okan.

Okan menatap Elina. Ia melihat istrinya itu terlihat biasa saja. Ia bahkan terlihat fokus dengan Zeki.

Selesai makanan di atur di atas meja makan, Okan langsung memimpin doa untuk makan.

"Mas mau makan apa?" tanya Susi membuat tangan Elina yang sudah siap mengambil makanan untuk Okan terhenti di udara.

"Biar aku sendiri saja. Pinggangmu kan sedang sakit." ujar Okan.

"Aku ingin melayanimu, mas." kata Susi bersikeras.

"Kakak ipar, aku mau sup jagungnya." ujar Zeki. Elina mengangguk. Ia mengambil sup untuk Zeki.

Okan merasa perasaannya menjadi tak tenang. Selera makannya tiba-tiba saja hilang. Namun ia berusaha untuk tak meninggalkan meja makan. Tatapan lembut Elina membuatnya meraih garpu dan sendok dan mulai memasukan makanan di mulutnya.

******

Hari-hari pun berlalu dengan sangat cepat. Okan hampir setiap malam ada di kamar Susi karena perempuan itu selalu mengeluh sakit pinggang. Pernah beberapa kali, saat jadwal Okan untuk bersama Elina di malam hari, Larasati sering mengetuk pintu kamar Okan, memintanya agar segera menemani Susi. Elina berusaha untuk mengerti walaupun sebenarnya ia ingin menikmati malam bersama Okan, apalagi jika masa suburnya tiba.

Zeki selalu berusaha membuat Elina tertawa. Ia seakan mengerti dengan perasaan Elina yang sering menahan sakit hati karena perlakuan tak adil dari ibu Larasati.

Seperti pagi ini. Elina dan Okan baru saja menuruni tangga dan siap untuk beraktivitas. Zeki bahkan sudah ada di meja makan sambil membaca beberapa hal di tabletnya.

Susi dan Larasati yang juga sudah berada di meja makan, terlihat tak suka saat Okan memeluk pinggang Elina dengan posesif. Zeki yang melihatnya pun jadi tak suka dengan tatapan mata Susi dan Larasati.

"Kakak ipar, toko kue mu ada di ulasan tentang makanan di acara Chef Juna yang terkenal itu. Mereka membahas tentang semua kue buatanmu yang sangat enak dan juga mengatakan kalau pemilik tokonya sama manisnya dengan kue buatanny." ujar Zeki berusaha membuat suasana di meja makan jadi lain suasananya.

"Oh ya?" Okan yang lebih dulu berkomentar. Ia mengambil tablet Zeki. "Wah sayang, kau benar-benar cantik di foto ini." Okan menunjukan ulasan Chef Juna di acara salah satu stasiun TV swasta.

"Aku nggak tahu kalau mereka membahas tentangku." Elina terlihat senang.

"Kau memang beruntung kak Okan. Sudah punya istri cantik, baik hati dan pintar juga mencari uang." Zeki memuji Elina.

Okan menatap Elina dengan bangga. "Ya. Aku memang beruntung."

Susi menahan dongkol di hatinya. Tiba-tiba ia merasa perutnya sakit. "Ah, sakit...!"

"Kenapa Susi?" tanya Larasati khawatir.

"Perutku sakit, Bu. Sakitnya sampai ke pinggang." Keluh Susi.

"Apakah kamu akan melahirkan? Tapi kan menurut analisa dokter masih 2 Minggu lagi." Larasati langsung berdiri. Ia mendekati Susi yang masih duduk di kursinya. Wajah perempuan itu sudah berkeringat dingin.

"Ah....sakit, Bu." keluh Susi lagi.

"Mungkin Susi akan melahirkan." Elina berdiri. Ia akan mendekati Susi namun perempuan itu justru menatap Okan.

"Mas Okan...., sakit!" teriak Susi.

Okan berdiri dan mendekati Susi. Perempuan itu sepertinya sudah sangat kesakitan.

"Kita ke rumah sakit saja, Okan. Susi sepertinya akan melahirkan." Kata Larasati.

Okan menatap Zeki. Mereka ada meeting penting pagi ini.

"Pekerjaannya biar aku saja yang tangani." Seakan mengerti dengan maksud tatapan kakaknya, Zeki mengucapkan kalimat itu.

"Bi Ina, tolong ambilkan koper Susi yang berisi bajunya dan baju bayinya." ujar Larasati. Ia bergegas ke kamarnya untuk ganti pakaian. Susi sudah memeluk Okan sambil sesekali mencengkeram tangan Okan saat rasa sakit itu datang.

"Susi, ayo mba bantu!" Ujar Elina sambil mengulurkan tangannya.

"Nggak. Aku hanya mau mas Okan." Kata Susi tegas. Okan sedikit terkejut melihat reaksi Susi. Ia ingin menegur Susi namun Elina menggeleng sambil matanya memberikan tatapan permohonan.

Akhirnya mereka pun berangkat ke rumah sakit. Elina membawa mobilnya sendiri karena tak ada tempat baginya di mobil Okan.

Zeki terlihat juga sangat menyesal karena tak bisa menemani Elina di rumah sakit.

Susi langsung di bawa ke ruang melahirkan saat mereka tiba di rumah sakit. Selesai dokter memeriksa, Susi sudah pembukaan 2.

Dari balik kaca, Elina melihat bagaimana Susi kadang meringis menahan sakit. Ia terus memegang tangan Okan.

"Sakit, mas. Sakit sekali....!" itulah kata-kata yang kadang keluar dari mulut Susi.

Elina memilih untuk duduk di kursi tunggu. Hatinya galau. Dalam hati ia terus berdoa. Memohon agar Susi diberikan kelancaran.

2 jam kemudian, anak yang dikandung Susi akhirnya lahir. Elina ikut bahagia mendengar tangis bayi itu. Tak lama kemudian, dia melihat Okan menggendong anaknya. Wajah Okan terlihat juga bahagia. Wajahnya tak pernah berpaling menatap anaknya yang ada dalam gendongannya.

Ya Allah, andai aku juga bisa memberikan kebahagiaan bagi mas Okan dengan memberikan seorang anak baginya. Aku begitu ingin menjadi ibu.

Tanpa sadar air mata Elina mengalir. Ia memegang perutnya yang sangat ratah. Hasratnya untuk menjadi seorang ibu semakin mengebuh-gebuh.

Ponsel Elina berbunyi. "Hallo.."

"Apakah ini dengan nyonya Elina Yilmas?"

"Ya. Dengan siapa ya?"

"Saya Monika, asistennya Chef Juna. Nyonya diundang untuk boleh hadir di acara masaknya Chef Juna dan membuat satu jenis kue."

"Kapan?"

"Lusa. Syutingnya akan dilaksanakan di pulau Bali. Semua biayanya akan ditanggung oleh pihak managemen."

"Aku minta ijin pada suamiku dulu ya. Nanti aku kabari selanjutnya."

"Ok."

Elina merasa senang sekali. Ia berdiri dan mencari Okan di ruangan melahirkan. Kebetulan Okan baru akan keluar dari ruangan.

"Sayang, maafkan aku mengabaikanmu." Kata Okan dan langsung memeluk Elina.

"Nggak masalah. Selamat ya mas. Kamu akhirnya menjadi papa."

Okan memegang kedua pipi Elina. "Makasi sayang. Satu yang harus selalu kamu ingat kalau aku tetap mencintaimu."

Elina hanya mengangguk. Ia kemudian memberitahukan mengenai undangan untuk hadir di acara Chef Juna.

"Itu kesempatan yang baik, sayang. Aku akan menemanimu ke Bali."

"Jangan, mas. Kasihan Susi baru selesai melahirkan. Aku akan mengajak Anita dan Dewi."

Okan mengangguk. "Penuhilah mimpimu sayang. Kembangkan bakat yang kau miliki. Percayalah, aku selalu ada untuk mendukungmu."

Elina mengangguk. Ia bahagia karena Okan mendukungnya.

*******

Selama 3 hari Elina dan teman-temannya ada di Bali. Zeki bahkan sempat menyusul mereka ke Bali.

Zeki yang sangat pintar menciptakan suasana yang menyenangkan, membuat Elina dan teman-temannya merasa senang saat bersama Zeki.

Okan setiap hari meneleponnya. Ia bahkan selalu mengungkapkan kerinduannya pada Elina.

Akhirnya mereka pun kembali ke Jakarta. Saat Elina memasuki kamarnya, ia terkejut melihat Susi ada di sana. Sedang menyusui anaknya.

"Susi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elina .

"Maaf, mba. Ibu...." Kalimat Susi terhenti saat Okan keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat Elina yang sudah ada.

"Sayang, kau sudah datang?" tanya Okan sambil mendekati Elina.

"Apa maksudnya ini, mas?" tanya Elina.

"Ibu yang memindahkan Susi ke kamar ini. Kamar Susi kecil. Nggak baik untuk bayinya. Barang-barangmu sudah dipindahkan ke kamar Susi yang dulu." ujar Larasati yang baru saja masuk kamar.

Elina menatap Okan dengan mata terluka. "Mas, kenapa tidak meneleponku? Apakah aku sudah tidak punyak hak apapun di rumah ini?"

"Sayang, aku juga kaget saat pulang rumah sakit dan ibu sudah memindahkan semua barangmu ke kamar Susi."

Elina sungguh tak suka. Kali ini ia menganggap ibu mertua dan Okan sudah keterlaluan.

"Permisi!" Elina langsung meninggalkan kamar lamanya. Ia menuruni tangga sambil menarik kopernya dengan kesal. Okan menyusulnya.

"Elina!" Panggil Okan.

Elina tak memperdulikannya. Ia bahkan mempercepat langkahnya. Tak peduli dengan kopernya yang akan rusak. Zeki yang ada di dapur, kaget melihat Elina yang turun.

"Ada apa?" tanya Zeki.

Elina menatap Zeki. "Zeki, tolong antarkan aku ke toko rotiku."

"Sayang....!" Okan menahan tangan Elina.

"Lepaskan!" Elina menarik tangannya dengan kasar. Emosinya benar-benar memuncak.

"Aku kecewa denganmu, mas. Sekarang aku mengerti Susi akan menjadi istri pertamamu dan aku yang menjadi istri keduamu." Kata Elina sedikit sinis.

"Sayang, bukan seperti itu. Aku mohon bersabarlah. Rumah kita hampir selesai." Kata Okan. Ia terlihat frustasi.

Elina menatap Zeki. "Zeki, ayo kita pergi!" ajak Elina sambil melangkah.

"Sayang....!" Okan menahan tangan Elina.

"Aku benci kamu, mas." Kata Elina membuat Okan melepaskan pegangan tangannya.

Dengan cepat Elina melangkah keluar. Zeki mengambil koper dari tangan Elina.

Saat mobil Zeki meninggalkan halaman rumah, tangis Elina pecah.

*********

Guys, Elina yang asli bertanya, apakah keputusannya untuk pergi adalah sesuatu yang salah?

1
Hr sasuwe
👍
pipi gemoy
vote Thor ✌🏼
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼🙏🏼🌹
pipi gemoy
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
balas. Eli jgn terlalu polos 👻🌹
pipi gemoy
beh Okan, padahal bisa langsung talak Susi kan nikah siri juga tapi ajak kongkalikong spy ibu mu tak tahu👻👻👻👻👻👻👻
pipi gemoy
gemes nya gue sama si Eli 👻😑
pipi gemoy
congrats Eli n Okan 🌹
pipi gemoy
hadir lagi Thor ☝🏼
Dewa Rana
teknik arsitektur, Thor, bukan teknik arsitek
Dewa Rana
bagus Thor
fitri
bagus banget ceritanya...
karyanya memang keren²...
fitri
nyesek bangetttt....😭😭😭
Retna Tri Tunjung
akhirnya happy buat Elina dan Okan..
Retna Tri Tunjung
aku baru baca novel ini, sp maraton bacanya, di part ini sp menangis aku....
Ari Peny
aq baca lg novelmu thor kangen kemesraan keduanya
keke global
part termewek 😭😭
keke global
novel novelnya ga ad yg gagal
Elsye Nurhayati
Luar biasa
🇬 🇪 🇧 🇾
hai ak baru Nemu kisahnya ellina,mba ellina kamu hebat,
mas okan juga hebat otthornya juga hebat

Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!