NovelToon NovelToon
My Magic Room

My Magic Room

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irish_kookie

Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi

Pagi hari di restoran klasik yang ramai dengan para pelanggan, terlihat tiga orang yang biasanya berdekatan, kini tidak saling menyapa atau tersenyum.

Pemilik restoran menangkap pemandangan aneh dari ketiga karyawan mudanya itu, lalu memanggil mereka ke ruangannya.

"Jelaskan padaku, apa yang terjadi? Biasanya kalian saling back up kalau salah satu sedang sibuk atau melakukan kesalahan," kata Tom tajam.

Pria yang memiliki 3 restoran di pusat kota itu melipat kedua tangannya. "Hari ini kalian kacau! Pelanggan komplain dan semua pekerjaan kalian berantakan!"

Ketiga orang itu menundukkan kepala mereka dan terdiam. Sementara Tom masih terlihat ingin mengevaluasi ketiganya.

"Jemi, apa yang terjadi? Kai, kau koordinator kelompokmu, ceritakan padaku sebelum kalian aku berikan sanksi berupa skorsing," kata Tom lagi

Kai menceritakan apa yang terjadi tanpa mengungkap tentang ruang ajaib dan dia juga menceritakan tentang tuduhan Ashley kepada mereka.

Tom mendengarkan dengan seksama dan setelah Kai selesai bercerita, pria itu mengangguk-angguk.

Dia pun bertanya kepada Ashley dengan lembut, "Oke, jadi kau merasa tersisihkan?"

Ashley tidak bereaksi. "Aku hanya menggoda mereka."

"Tapi, kau tidak seperti biasanya, Ash." Jemima akhirnya ikut buka suara.

Tom berusaha menengahi mereka, lalu dia meminta ketiganya untuk diam. "Aku akan memberikan waktu kepada kalian sampai jam istirahat siang selesai."

"Selesaikan apa yang harus kalian selesaikan dan ketika nanti kita mulai lagi, aku tidak mau ada kejadian seperti sekarang ini! Mengerti?" tanya Tom.

Ketiganya mengangguk pelan dan mereka pun pergi ke ruang ganti karyawan sambil melepaskan apron mereka.

Di ruang itu, kekesalan Ashley langsung meledak. "Kenapa kau menemui Kai terlebih dahulu? Kenapa kau tidak mencariku, Jemi?"

Jemima pun menceritakan dengan sabar apa yang terjadi dan alasan mengapa dia mencari Kai.

Setelah bercerita, Ashley memberengut. Namun, rasa kesalnya perlahan menguap. "Cih! Tetap saja, kau bisa ceritakan itu kepadaku dulu! Lalu, apa rencanamu?"

"Entah. Mungkin aku dan Kai akan pergi ke rumah nenekku lagi hari ini," jawab Jemima.

Ashley menoleh cepat ke arahnya. "Lalu, aku? Kau tidak mengikutsertakan aku?"

Melihat Jemima kesulitan menjawab, Kai turun tangan. "Karena ini masalah keluarga dan aku ada hubungannya dengan nenek buyut Jemi, aku rasa kau tidak ikut campur dulu, Ash."

"Aku pasti akan menceritakan segalanya kepadamu kalau masalah kalung aneh ini sudah selesai," kata Jemima cepat-cepat. "Aku janji."

Air muka Ashley masih kesal dan dia masih ingin membantah, tetapi dia mempertimbangkan baik buruknya kalau dia ikut ke rumah Catherine.

"Baiklah, tapi berjanjilah padaku kalau kau akan menceritakan segalanya!" tuntut Ashley.

Jemima tersenyum. "Pasti, Ash. Kau tetap teman terbaikku."

Malam itu, Jemima kembali menghubungi Adrian dan meminta pria itu untuk menjemputnya di restoran sepulang kerja.

Tak beberapa lama kemudian, mobil hitam Adrian datang dan berhenti di depan restoran. "Nona Shadow."

Jemima mengangguk dan mengajak Kai bersamanya. "Hari ini aku mengajak temanku. Nenek marah tidak, ya?"

"Tentu saja tidak. Nenekmu justru akan senang karena rumah tidak sepi lagi," kata Adrian tersenyum sambil membukakan pintu untuk Jemima dan Kai.

Sepanjang jalan, mereka bertiga asik mengobrol. Terutama tentang nenek Catherine.

Tanpa mereka sadari, akhirnya mereka tiba di rumah Catherine. Aroma kayu oak mulai menyapa perlahan indera penciuman mereka.

Anehnya, nenek Catherine sudah mengetahui kedatangan Kai malam itu.

Dia sudah menyiapkan makanan serta pakaian ganti untuk pemuda itu.

"Darimana Nenek tau kalau Kai akan datang bersamaku?" tanya Jemima.

Catherine tersenyum. "Aku sudah dapat membaca apa yang akan kau lakukan, Jemi."

Lalu, nenek Catherine menoleh kepada Kai. "Boleh aku lihat kalungmu, Anak Muda?"

Kai melepaskan kalungnya dan memberikan kalung itu kepada Catherine.

"Bisakah kau ceritakan kepadaku bagaimana kau mendapatkan kalung ini?" tanya Catherine sambil memeriksa kalung Kai.

Dengan ragu, Kai menceritakan darimana dia mendapatkan kalung itu dan dia juga bercerita bagaimana cara dia masuk ke dalam ruangan aneh itu. "Aku berpikir, mungkin kalungku memiliki fungsi yang sama dengan kalung Jemi."

Catherine tidak tertarik tentang bagaimana kerja kalung itu, dia tertarik pada satu nama. "Golda? Apa itu nama nenekmu?"

Kai menggelengkan kepalanya. "Bukan, Nek. Nenek Golda itu tetanggaku, tapi dia baik sekali kepadaku. Kadang, nenek Golda memintaku menginap di rumahnya kalau ayah dan ibuku bertengkar hebat."

"Hmm. Menarik sekali. Andai aku bisa bertemu nenekmu itu, Kai," kata Catherine tersenyum kepada kalung opal perak milik Kai. "Tadi, kata kalian kalung opal Jemi tidak dapat masuk ke dalam sini?"

Jemima dan Kai saling berpandangan dan mengangguk bersamaan.

Lagi-lagi Catherine meminta kalung Jemima dan memeriksanya dengan teliti. Anehnya, wanita itu tidak memasukkan liontin kalung Jemima ke dalam kalung Kai.

"Hmmm, kalung ini terasa berat dan panas. Itu berarti, kalung ini harus segera dilepaskan," kata Catherine.

Kata-kata Catherine itu tidak dipahami baik oleh Jemima maupun Kai.

"Bagaimana maksud Nenek? Apa yang harus dilepaskan?" tanya Jemima.

Nenek Catherine menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Kalung kalian itu terhubung dan rahasia di balik ruang itu adalah jiwa-jiwa yang belum dilepaskan menunggu kalian di sana."

"Ruangan itu bertumbuh dan berkembang karena menyerap jiwa kalian. Otomatis, jiwa lemah yang lain akan tertarik dan meminta pertolongan kalian," lanjut Catherine lagi.

Jemima dan Kai kembali saling berpandangan tak paham.

Ruangan itu hening karena menunggu apa yang akan dikatakan Catherine lagi.

Sementara itu, degup jantung Jemima berpacu dengan cepat, nyaris tak bisa dikendalikan.

Berkali-kali, Jemima menghembuskan napasnya sambil melirik ke arah kalung miliknya dan nenek Catherine.

"Kalung ini seperti kunci untuk masuk ke dalam dunia lain dan tugasmu, Jemi, untuk menyembuhkan jiwa-jiwa lemah yang ada di kalung ini," kata Catherine.

Detik itu juga, napas Jemima seakan berhenti. Udara di sekitarnya seolah menguap dan meninggalkannya.

Nenek Catherine memasangkan kalung oval ungu kembali ke leher Jemima sambil berbisik, "Kalau bisa, temukan ibumu di sana. Aku mohon kepadamu, Jemi."

***

1
Andira Rahmawati
hadir thorr..👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!