Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
“Ya, saya ingin ikut berpartisipasi,” kata Dimas, sambil mengangguk kepada mahasiswa panitia di depannya.
“Baik, kamu mau jadi spiker atau tosser?” tanya seorang panitia laki-laki berkacamata tebal yang tampak seperti mahasiswa teknik. Ia berbicara dengan nada lelah, mungkin sudah seharian mengatur peserta.
“Tosser. Saya ingin mencoba posisi itu,” jawab Dimas mantap. Dalam pikirannya, sistem akan memberinya bonus lima puluh juta rupiah jika berhasil ikut minimal satu sesi percobaan.
“Baik, silakan ke lapangan sebelah, ke area ujian teknik servis. Lihat garis kuning itu? Itu batasnya.” Panitia itu mengeluarkan pena, lalu menatap Dimas.
“Nama lengkap?”
“Dimas Martin.”
“Fakultas dan angkatan?”
“Ekonomi dan Bisnis, tahun pertama.”
Panitia itu mengangguk, menulis cepat di formulir pendaftaran, lalu mempersilakan Dimas melangkah ke sisi lapangan.
Dimas berjalan perlahan melewati barisan mahasiswa lain yang sudah menunggu giliran. Suara bola voli yang dipukul keras terdengar nyaring dari arah lapangan utama.
Plak! Plok!
Getaran ritmis itu memantul ke seluruh aula olahraga. Beberapa mahasiswa perempuan duduk di tribun sambil bersorak, sementara para peserta yang lain berbaris dengan sabar menunggu giliran.
“Eh, itu Ricky! Kapten tim voli UI!” bisik seseorang di belakang Dimas.
“Aku dengar dia sempat juara nasional antar kampus tahun lalu.”
“Dia emang jago banget. Tadi aja smash-nya bikin lawan bengong.”
Dimas hanya menatap lurus ke depan, tanpa minat. Ia tidak terlalu peduli pada sosok populer seperti itu. Ia datang bukan untuk mencari perhatian, melainkan demi satu hal sederhana menyelesaikan misi dari sistemnya dan mendapatkan uang.
Ia memperhatikan sekeliling. Setiap peserta hanya diberi satu kali kesempatan servis. Kalau gagal, mereka harus menunggu seleksi tahun depan.
Dimas menarik napas panjang. Ia tidak benar-benar tertarik dengan voli pikirannya malah terbayang kamar kos yang sejuk, tumpukan buku, dan nasi goreng kantin yang belum sempat ia beli siang tadi.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya giliran Dimas tiba. Ia menerima bola dari panitia. Seorang pelatih bertubuh besar berdiri tak jauh dari net, memperhatikan setiap gerakan peserta dengan mata tajam.
“Siap?” tanya pelatih itu singkat.
Dimas mengangguk. Ia menggenggam bola, menatap ke arah lapangan kosong di seberang net, lalu menarik napas perlahan.
Dengan satu gerakan cepat, ia melempar bola ke udara dan mengayunkan tangannya.
Plak!
Bola meluncur deras, menukik tajam melewati net, dan mendarat tepat di garis belakang lapangan.
Beberapa mahasiswa di pinggir lapangan bersorak kecil. Pelatih yang tadi hanya diam kini menaikkan alis, tampak terkejut.
Dimas menurunkan tangannya dan tersenyum tipis. Ia sudah berniat pergi begitu saja, tapi sebelum sempat melangkah, pelatih itu menghampirinya dan memegang lengannya dengan kuat.
“Nak,” katanya sambil menatap Dimas tajam, “kau bilang tahun pertama, ya? Sejak kapan pemain baru bisa servis sekencang itu?”
“Anu Pak?” Dimas sedikit bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
“Anak muda, mau ke mana?” tanya pelatih bertubuh besar itu sambil tersenyum lebar. Keringat menetes di pelipisnya, tapi ekspresinya justru penuh semangat.
“Ke asrama, Pak…” jawab Dimas ragu. Ia tidak tahu harus berkata apa, apalagi pelatih itu tampak terlalu antusias untuk melepasnya pergi.
“Coba sekali lagi,” ujar pelatih itu tegas. Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak.
Dimas terdiam sejenak, lalu mengangguk. Dalam pikirannya, mungkin saja sistem akan memberinya hadiah lebih besar kalau ia menambah percobaan. Lagi pula, melakukan servis barusan terasa cukup menyenangkan.
Pelatih memberikan bola baru padanya, lalu melangkah ke sisi lapangan sambil menyalakan alat kecil mirip remote. Dimas baru sadar alat itu adalah pengukur kecepatan servis.
Sorakan dari tribun tidak berkurang, meski barusan “Ricky”, kapten tim, gagal menerima servisnya. Para penonton justru makin heboh, sebagian gadis tampak bersemangat meneriakkan nama Ricky sambil melirik ke arah Dimas dengan tatapan kurang bersahabat.
Dimas hanya tersenyum kecil. Ia tidak peduli. Fokusnya bukan pada gengsi atau popularitas, melainkan pada misi yang sedang ia jalankan.
“Pak, memangnya perlu diulang lagi?” tanya seorang mahasiswa tampan yang berdiri di pinggir lapangan. Dari seragamnya, tampak jelas ia anggota inti tim voli UI.
“Perlu sekali,” jawab pelatih itu sambil menunjuk ke arah Dimas. “Lihat cara dia berdiri memegang bola? Anak ini bahkan kelihatannya belum pernah ikut latihan teknik dasar.”
Mahasiswa bernama Mike itu mengangguk setengah heran. “Gerakannya memang aneh, Pak. Dia nggak pakai tenaga kaki, nggak ada rotasi pinggul, tapi kok bolanya bisa secepat itu?”
Pelatih tersenyum misterius. “Kau tahu seberapa cepat servisnya tadi?”
Mike menggeleng. “Belum sempat lihat, Pak. Saya fokus ke bola yang mental.”
“115 kilometer per jam,” ucap pelatih sambil terkekeh kecil. “Tanpa teknik sama sekali. Kau sadar, itu sudah sekelas pemain nasional?”
Mike melongo, menatap Dimas dengan tatapan baru bukan lagi meremehkan, tapi penuh rasa ingin tahu.
“Anak muda,” kata pelatih itu lagi, kini suaranya sedikit lebih berat. “Sekarang, coba satu kali lagi. Lempar semua tenagamu. Jangan tahan apa pun.”
Dimas mengangguk pelan. Ia menarik napas, lalu menatap net di depannya. “Baik, Pak. Tapi setelah ini, boleh saya satu kali lagi? Biar saya puas.”
Pelatih tertawa. “Silakan. Asal kamu kasih yang terbaik.”
Dimas menempatkan diri di belakang garis servis. Kali ini seluruh aula menjadi hening. Ricky, yang tadi gagal menerima bola, tampak lebih fokus matanya menatap Dimas dengan penuh kewaspadaan.
Dimas memantulkan bola sekali, dua kali. Tangannya terangkat tinggi.
Wushh! Plak!
Bola meluncur kencang, menembus udara seperti kilat, dan mendarat tajam di sisi lapangan lawan. Ricky bahkan tak sempat bergerak.
Pelatih menatap layar alat pengukur di tangannya, lalu menelan ludah. Angkanya berkedip-kedip jelas.
“...126 kilometer per jam,” gumamnya tak percaya.