NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alter Ego

Tuan Marco dan Darren saling pandang, mereka paham jika Hani sedang menutupi sesuatu. "Ini pistol mu? " tanya tuan Marco sembari memputar putar pistol ditangan nya.

...-------------------------------...

Hani nyaris tersedak air liur nya sendiri ketika melihat Tuan Marco sedang membawa pistol milik nya.'Aduh mati gue, itu pistol kenapa bisa ketauan sih' batin Hani meronta

"Oh iya itu milik saya hehe" ucap Hani cengir.

Tuan Marco menatap ke adah Hani 'Apakah benar dia cucu keluarga Arclight' batin nya.

Tak berselang lama mama Diana datang dengan seorang pelayan yang membawa satu nampan makanan, pelayan tersebut langsung meletakkan makanan itu diatas meja.

Ruang keluarga Vireaux.

"Makan lah sayang, pelayan baru saja memasaknya untukmu" ucap mama Diana, Hani pun hanya mengangguk dan langsung memakan sepiring makanan itu tanpa menghiraukan para keluarga Vireaux yang sedang menatapnya, karena ia sangat lapar.

Setelah selesai makan, Hani menatap ke arah tuan Marco dan Darren secara bergantian. 'Jadi sekarang aku sudah berada didalam lingkaran keluarga Vireaux, apakah aku harus melaksanakan perintah kakek dulu? tapi aku belum menyelesaikan misi ku untuk membalas perbuatan Steven yang telah menabrak ayah dan ibu, walaupun sebenarnya mereka bukan orang tua asli ku tetapi aku sangat menyayangi nya.' batin Hani bertanya-tanya, Hani sudah tahu bahwa orang tua nya yang dikampung bukanlah orang tua kandung nya, tetapi karena hubungan nya yang sangat dekat Hani menyayangi mereka sama dengan papa dan mama nya, terlebih lagi selama ini orang-orang tau bahwa Hani merupakan anak kandung dari Tio dan Lilis, Hani juga sudah seperti memiliki ikatan batin dengan orang tua nya itu yang dulu nya adalah pengawal keluarga Arclight.

"Kenapa kau menatap kami seperti itu?" tanya Darren yang sadar sedari tadi ditatap dengan aneh oleh Hani.

Hani memutar malas bola mata nya, hancur sudah pikiran nya yang sangat serius karena pertanyaan Darren. "Tidak ada, hanya saja kalian berdua sangat tampan" ucap Hani bohong.

Tuan Marco dan nyonya Diana saling pandang, mereka tak habis fikir akan pernyataan Hani yang menurutnya sedikit unik. Sedangkan Darren menarik tipis sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang nyaris tak terlihat, dia merasa senang ketika Hani memujinya.

"Kau baru menyadari nya sekarang?" tanya Darren dengan nada bangga.

Hani menghela nafas kasar. 'Nyesel gue muji dia tadi, tapi memang tampan sih' batin Hani.

"Ah anda terlaku percaya diri tuan Darren, saya rasa ayah anda jauh lebih tampan" ucap Hani menyindir, walaupun menurut nya Darren jauh lebih tampan dari pada Tuan Marco.

Tuan Marco hanya terkekeh geli, sedangkan nyonya Diana menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu membuat tante cemburu sayang karena telah memuji suami tante" ucap nyonya Diana.

Hani menoleh ke arah nyonya Diana yang sedang tersenyum kearah nya. Ia tersenyum getir "Tante tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta pada suami tante" ucap Hani.

"Baiklah tante percaya, sepertinya kamu akan jatuh cinta pada putra tante" ucap Nyonya Diana terkekeh.

Hani memutar malas bola matanya, 'Ah pesan kakek sangat tidak efisien, bagaimana bisa aku berlindung dibawah keluarga Vireaux? bisa bisa aku menjadi gila karena om kutub menyebalkan itu' batin Hani menggerutu.

"Ah aku rasa putra tante itu sangat amat menyebalkan" jawab Hani santai, Darren hanya mengangguk angguk saja walaupun ia sedikit merasa kesal.

Nyonya Diana tertawa lucu, ia baru melihat seorang wanita yang mengatakan bahwa putra nya sangat menyebalkan. Kemudian ia teringat akan ucapan dokter pribadi keluaran Vireaux yang mengatakan bahwa gejala yang Hani alami bisa jadi adalah karena adanya gangguan alter ego.

"Em... apakah tante boleh bertanya suatu hal?" tanya nyonya Diana ragu.

Hani mengangguk setuju sebagai jawaban, ia menduga bahwa nyonya Diana akan menanyakan mengenai alter ego nya.

"Apa kamu mempunyai alter ego sayang?" tanya nyonya Diana lembut.

Hani menghela nafas berat, 'Kalo gue jujur ga ada salahnya kan, yaudah deh jujur aja' pikir Hani.

"Ya aku memang mempunyai alter ego tante, kadang aku menjadi sangat buas jika ada yang mengganggu kehidupanku" jawab Hani.

Tuan Marco dan Darren saling pandang 'Jadi yang dimaksud dari bagian diriku yang lain oleh Hani karena alter ego nya' pikir tuan Marco dan Darren.

Sedangkan nyonya Diana mengangguk paham, walaupun ia juga belum mengerti mengapa Hani memiliki alter ego nya.

Dreett... Dreett

Bunyi ponsel berdering milik Hani yang berada didalam saku celana Darren karena dia ambil ketika Hani sedang pingsan tadi.

Darren mengambil ponsel tersebut dari saku nya dan menatap layar ponsel yang tertera panggilan dari seorang bernama Einar, bawahan Hani yang mengubungi sore tadi.

"Siapa Einar? " tanya Darren sembari menunjukkan layar ponsel Hani kepada pemiliknya.

Hani tersentak kaget, ia tidak tahu bahwa ponsel nya dibawa oleh Darren. "Eh ponsel ku om" ucap Hani dan langsung menyambar ponselnya yang dalam genggaman Darren.

Hani melihat Einar yang menghubungi nya, ia kemudian teringat akan masalah perusahaan nya di Islandia. 'Aduh lupa lagi, bisa kacau nih perusahaan gue' batin Hani, ia segera mengangkat telepon tersebut dengan posisi masih berdiri dihadapan Darren dan tidak mempedulikan keluarga Vireaux yang tengah memperhatikan nya.

Góða kvöldið frú, mig langar að spyrja um erlenda kerfið sem er að reyna að hakka fyrirtækið og ráðast á það og er enn virkt. Hefur þetta vandamál verið leyst? (Selamat malam bu, saya ingin bertanya mengenai sistem asing yang mencoba meretas dan menyerang perusahaan sampai sekarang masih aktif, apakah masalah ini belum bisa ditangani? ) ucap Einar sari sambungan telepon.

Góða kvöldið Einar, ég hef ekki reynt að taka á þessu vandamáli ennþá þar sem það kom upp smávægilegt vandamál í dag, ég er viss um að það leysist fyrir morgundaginn. (Selamat malam Einar, saya belum mencoba menangani masalah itu karena ada sedikit kendala sore ini, saya pastikan masalah akan teratasi sebelum besok.) jawab Hani serius.

Tuan Marco terheran-heran namun kagum, sedangkan nyonya Diana dan Darren diam mengamati dan mendengarkan setiap lontaran kosakata Hani yang sangat fasih.

Þakka þér fyrir hjálpina, frú, ég er hræddur um að ef þetta vandamál verður ekki tekið á strax muni það hafa áhrif á vinnukerfi fyrirtækisins. (Terima kasih bu atas bantuan anda, saya khawatir jika masalah ini tidak segera ditangani maka akan mempengaruhi sistem kerja perusahaan.) ucap Einar.

Engin þörf á að þakka mér Einar, það er mín skylda að viðhalda trúverðugleika og öryggi fyrirtækisins ávallt. (Tidak perlu berterima kasih padaku Einar, sudah kewajiban ku untuk selalu menjaga kredibilitas dan keamanan perusahaan.) jawab Hani.

Allt í lagi, ef þetta er allt sem þú hefur að segja, þá lýk ég þessu símtali. (Baiklah jika hanya hal itu yang akan kau sampaikan, saya akhiri panggilan ini.) Lanjut Hani dan langsung mematikan telepon tersebut.

Hani melihat ke arah Darren, tuan Marco dan nyonya Diana yang sedang memperhatikan nya, kamudian ia duduk disebelah Darren dengan senyum canggung nya.

"Kau bisa berapa bahasa luar?" tanya Tuan Marco penasaran.

Hani menatap tuan Marco, ia tampak berfikir sejenak lalu menjawab. "10 bahasa om" jawab Hani, dia memang sedikit aneh pasalnya memanggil Darren dengan sebutan om begitupun memanggil tuan Marco.

Tuan Marco terkejut tak percaya, sedangkan nyonya Diana sedikit melongo. Dan disisi lain Darren hanya diam namun ia sangat bangga dalam hatinya 'You're mine'

"Bahasa apa saja yang kamu kuasai sayang?" tanya nyonya Diana kali ini, ia tidak bisa mendeskripsikan rasa terkejut nya.

Hani mengetuk ketuk jari telunjuknya di dagu, ia sedikit mengingat ingat "Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Singapore English, Islandia, Korea, Mandarin, Turki, Italia, sama bahasa Rusia. Dan sama bahasa Indonesia tambahan nya, jadi 11 bahasa." ucap Hani riang.

Kali ini sontak semua keluarga Vireaux melotot tak percaya, Darren yang sadar akan ekspresi nya segera menetralkan kembali wajah datar nya itu.

"Kau benar-benar luar biasa, dari mana kau belajar semua bahasa itu? " tanya tuan Marco.

"Aku belajar semasa berkuliah di Amerika om" jawab Hani, ia sedikit berbohong karena ada beberapa bahasa yang sudah ia kuasai sewaktu SMA.

Tuan Marco mengangguk angguk mengerti. 'Amerika ya?' ulang nya dalam hati.

"Apakah kau kenal dengan tuan Alexander Crowe Arclight?" tanya tuan Marco, yang membuat Darren dan nyonya Diana menjadi sedikit heran mengapa tuan Marco terlalu cepat untuk menanyakan hal ini.

Hani sedikit tersentak kaget, 'Jangan jangan keluarga Vireaux udah tau tentang gue? ah tapi kayanya ga mungkin' batin Hani.

"Tentu saja aku kenal, dia adalah idolaku om. Bahkan nama belakang kami sama yaitu Arclight." jawab Hani bohong.

Tuan Marco hanya mengangguk kecil, ia merasa bahwa Hani tidak jujur sepenuhnya. "Lalu apakah kedua orang tua mu memiliki warna mata yang sama dengan mu?" tanya nya lagi.

'Aduh kalo dilanjutin obrolan nya bisa ketauan nih, tapi gue ga boleh gegabah' batin Hani.

"Warna mata nya sama om" ucap Hani berbohong, kedua orang tua nya baik yang kandung asli dan kandung tercatat memiliki warna mata yang berbeda dengan Hani. Satu-satunya yang memiliki warna mata sanga dengan Hani yaitu sang kakek Alexander.

"Sepertinya aku harus pulang om, tante. karena masih ada beberapa pekerjaan." ucap Hani sembari melihat jam yang sudah menunjukkan hampir tengah malam.

"Eh kamu sebaiknya hari ini bermalam disini saja ya sayang? tante khawatir jika kamu harus pulang sekarang" cegah nyonya Diana.

"Kau bermalam disini saja sayang" sahut Darren, tuan Marco sedikit terkekeh geli akan ucapan Darren.

Hani sedikit melirik ke arah Darren dengan tatapan sinis 'What? sayang katanya? hubungan aja ga ada' Batin Hani.

"Tapi aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan tante, dan juga mengurus surat pengunduran diri ke perusahaan besok" alasan Hani.

"Kamu bisa mengerjakan pekerjaan mu itu disini sayang, biar perlu tante akan memerintahkan Darren untuk membantumu" bujuk nyonya Diana.

Hani tampak sedikit frustasi, rupanya ia benar-benar tidak akan bisa pulang ke apartemen malam ini. "Baiklah, aku akan menginap malam ini" ucap Hani pasrah.

Nyonya Diana tampak tersenyum puas, dia berhasil membujuk Hani untuk menginap di mansion nya.

"Laptop ku mana om?" tanya Hani sembari menoleh ke arah Darren.

Darren tak menanggapi melainkan menghubungi seseorang pada sambungan telepon. "Ambilkan sebuah laptop didalam mobil Lamborghini, bawa ke ruang keluarga sekarang" titah nya.

Tak berselang lama, seorang penjaga mansion keluarga Vireaux datang dengan membawa laptop Hani, kemudian penjaga tersebut menyerahkan laptop tersebut kepada Darren dan langsung pergi meninggalkan mansion.

Darren menyerahkan laptop tersebut kepada Hani, sedangkan Hani sedikit ragu untuk mengerjakan pekerjaan nya disebelah Darren seperti itu.

"Apakah aku boleh meminjam suatu ruangan kosong di mansion ini untuk menyelesaikan pekerjaan ku?" tanya Hani pada keluarga itu.

Tuan Marco, nyonya Diana dan juga Darren tampak bertanya-tanya, mengapa Hani meminta sebuah ruangan kosong hanya untuk mengerjakan pekerjaan nya?

"Kamu kerjakan saja disini sayang, nanti Darren akan membantu mu jika kamu kesulitan dalam menyelesaikannya" ucap nyonya Diana, tuan Marco pun mengangguk setuju.

Hani tampak tersenyum getir 'Habis sudah riwayat ku, kalo gue kerjain disini pasti om kutub tau kalo gue hacker' ucap Hani dalam hati.

"Kau memikirkan apa?" tanya Darren yang melihat bahwa Hani tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Eh ga ada tuh" jawab Hani canggung.

Dengan berat hati ia terpaksa untuk mulai membuka laptop nya dan memulai menyelesaikan misi nya untuk menghapuskan hama hama yang mengganggu perusahaan nya.

Hani sudah tidak peduli lagi jika memang nanti Darren akan mengetahui identitas nya, lagi pula ia teringat akan pesan sang kakek bahwa keluarga Vieraux lah yang dapat melindungi nya jadi suatu saat ketika ia membutuhkan keluarga ini maka ia harus siap mengatakan yang sebenarnya.

Jari jemarinya mengetik dengan lincah dan mulai memasukkan kode kode rahasia pada laptop tersebut, tampak daretan kode kode algoritma kecil yang saling menyambung pada layar laptop. Tuan Marco dan nyonya Diana hanya sedikit heran karena melihat Hani yang sangat fokus pada laptop nya.

Sedangkan Darren hanya memperhatikan Hani yang memasukkan kode demi kode yang saling bersahutan pada laptop nya. 'Sebuah kode rahasia?' tanya Darren dalam pikiran nya.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!