NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Pakai sepatu hak 12 cm?!

HELLO there, kasih pendapat kalian soal chara di novel ini ya? rate mereka okey...

Aluna 1/10?

Arkan 1/10?

Keldo(ayah Aluna) 1/10?

Kakek Seo 1/10?

Bu Lastri 1/10?

Reno 1/10?

Clarissa 1/10?

HAPPY READING GUYS 👻

​"Dasar sok lemah..." cibir salah satu pelayan saat melihat Aluna masih terduduk di lantai.

​"Iya, lihat saja itu. Cengeng sekali, sebentar-sebentar menangis, sebentar-sebentar mengadu," sahut pelayan lain sambil tertawa meremehkan.

​Aluna bangkit berdiri dengan sisa kekuatannya. Ia menepuk roknya, membersihkan debu dari lantai marmer yang seharusnya mengilap sempurna tanpa noda.

Ia sempat memberikan tatapan tajam ke arah para pembantu itu, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bagi mereka, Aluna hanyalah wanita simpanan yang kebetulan beruntung mendapatkan status istri kontrak—tidak ada wibawa, tidak ada kehormatan.

​Setelah para pelayan melenggang pergi dengan tawa kemenangan, Aluna menarik napas panjang.

Dadanya masih terasa ngilu akibat sikutan Arkan semalam, ditambah perih di telapak tangannya sendiri.

Ia berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai. Begitu sampai di dalam, ia segera mengunci pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada mata yang bisa mengintip.

​Aluna menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya yang pucat nampak begitu asing. Tiba-tiba, rasa benci terhadap dirinya sendiri meledak. Mengapa ia begitu lemah? Mengapa ia harus menampar Arkan jika akhirnya ia sendiri yang ketakutan?

​PLAK!

​Tanpa peringatan, Aluna menghantamkan telapak tangannya ke pipinya sendiri.

​PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Hingga lima kali berturut-turut, Aluna memukuli wajahnya sendiri sampai telinganya berdenging dan pandangannya kabur. Rasa panas menjalar di wajahnya, seolah ia sedang mencoba menghapus bekas hinaan Arkan dari kulitnya.

Ia kemudian merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah cutter kecil yang ia selundupkan dari dapur tadi.

​Dengan tatapan kosong dan napas yang memburu, ia mengeluarkan mata pisau yang berkilau tajam itu.

Aluna mengarahkan ujung logam dingin itu ke pergelangan tangannya. Dunianya terasa sunyi, ia seolah ingin menyerah. Namun, di detik terakhir, jemarinya bergetar hebat. Rasa ragu menghantam nuraninya.

​"Sial... sialan!" teriaknya tertahan. Ia melempar cutter itu dengan penuh kebencian hingga benda itu meluncur jauh ke bawah ranjang king size-nya. Aluna menjatuhkan dirinya ke lantai, meringkuk seperti janin, mencoba mencari perlindungan.

...****************...

​Sementara itu, di tengah kemacetan jalanan kota yang padat, Arkan duduk di balik kemudi dengan napas yang memburu.

Ia meludah sembarangan ke arah jendela, merasa jijik dengan situasi yang baru saja terjadi.

Punggung tangannya terus mengusap pipi kirinya. Gila, tamparan wanita itu benar-benar kuat— bekasnya masih terasa panas membakar kulitnya.

​Arkan memutar bola mata geram. Ia meraih ponselnya, menekan nomor tim Wedding Organizer ternama yang sudah ia sewa.

​"Selamat siang, Tuan Arkan. Ada yang bisa kami bantu terkait persiapan resepsi?" sapa suara ramah di seberang telepon.

​"Kalian bisa datang ke rumah saya?" tanya Arkan dingin, tanpa basa-basi.

​"Oh, tentu saja, Tuan. Tepatnya kapan kami bisa hadir?"

​"Nanti sore. Dan dengarkan saya baik-baik," Arkan menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke depan.

"Tambahkan latihan ekstra dalam jadwal. Saya ingin hasil yang sempurna. Jangan ada cacat sedikit pun."

​"Tentu, Tuan. Kami akan menyiapkan tim terbaik."

​"Satu lagi," tambah Arkan dengan nada mengancam.

"Kirimkan orang-orang yang tegas, sedikit galak jika perlu. Cari yang sudah profesional melatih seorang wanita lembek. Saya tidak butuh orang yang murah hati atau penuh simpati."

​Pihak WO di seberang sana sempat terdiam sejenak, namun segera mengangguk patuh.

"Baik, Tuan, kami mengerti. Jadi, kami akan mengirimkan guru etiket senior, perancang busana kelas atas, dan tim penata rias profesional sore ini juga."

​Arkan mengangguk puas, meskipun lawannya tak bisa melihat ekspresinya sekarang. Ia menginjak gas perlahan saat deretan mobil di depannya mulai bergerak.

"Bagus. Secepatnya. Jangan sampai hasil yang kalian buat justru mengecewakan saya, atau kalian tahu konsekuensinya."

​"Baik, Pak. Kami mengerti sepenuhnya."

​Arkan menutup telepon dan melempar ponselnya ke kursi penumpang.

Senyum miring yang penuh dendam terukir di wajahnya. Ia membayangkan bagaimana Aluna akan menderita di bawah didikan guru etiket yang ia pesan khusus. Jika Aluna ingin bermain keras dengan menamparnya, maka Arkan akan memastikan hidup wanita itu jadi jauh lebih keras dari yang dia berikan padanya.

...****************...

Di dalam kamar, Aluna baru saja mengangkat wajahnya dari bathtub berisi air sedingin es.

DOK! DOK! DOK!

Ketukan keras di pintu kamar merobek ketenangannya. Dengan tangan gemetar, ia mengganti pakaian dan membuka pintu.

Di sana, Arkan berdiri dengan aura yang lebih gelap dari sebelumnya.

Tanpa kata, ia hanya memberikan instruksi tajam,

"Ikut saya."

Aluna mengekor di belakang dengan langkah berat.

'Ya Tuhan, apa yang akan dia lakukan? Apa dia masih dendam soal tamparan tadi?' ratapnya dalam hati.

Saat mereka sampai di sebuah ruangan luas yang sudah diubah menjadi arena latihan.

Arkan mengambil sepasang sepatu stiletto hitam dengan hak runcing setinggi 12 cm. Tanpa peringatan, ia menghantamkan sepatu itu tepat ke arah dada Aluna.

Aluna terkesiap, rasa nyeri akibat sikutan semalam kembali berdenyut hebat.

"I—ini apa, Mas?" tanya Aluna dengan suara bergetar.

"Menurutmu?" sahut Arkan dingin. "Pakai sekarang."

Aluna menatap sepatu itu ngeri. Ia bahkan jarang memakai sepatu hak, apalagi setinggi ini.

"Mas, tolong... aku tidak bisa. Aku minta maaf soal tadi pagi, Mas. Aku benar-benar minta maaf," lirihnya, mencoba mengembalikan sepatu itu ke tangan Arkan.

Namun, Arkan justru mendorong bahu Aluna hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Tanpa belas kasihan, Arkan menarik kaki Aluna dan memaksa tumitnya masuk ke dalam sepatu yang menyiksa jari kakinya.

"Jalan dari ujung sana sampai ke sini. Sekarang!"

Aluna berdiri dengan tertatih. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas seutas benang tipis.

Ia jatuh berkali-kali, lututnya menghantam lantai keras, namun ia tetap mencoba kembali ke hadapan Arkan. Arkan hanya duduk bersedekap dada, wajahnya datar tanpa emosi.

"Kenapa berhenti?" tanya Arkan ketus saat Aluna berdiri mematung di depannya dengan napas tersenggal.

"A—aku tidak kuat, Mas... kakiku sakit sekali. Memakai sepatu ini terlalu susah..."

"ULANGI! Lakukan ini selama dua jam penuh! Bolak-balik tanpa henti, atau kau mau saya beri hukuman yang jauh lebih menyakitkan, Aluna?!" bentak Arkan.

Gluk...

Aluna menelan ludah paksa. Ia segera berbalik dan mencoba berjalan lagi meski kakinya gemetaran hebat.

Arkan kemudian duduk santai di sebuah kursi kulit, sementara seorang pelayan menuangkan red wine ke dalam gelas kristalnya.

Rupanya, Arkan tidak sendirian. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pilar. Ia memegang sebilah kayu rotan panjang di tangannya—sang Guru Etiket.

"KENAPA BERHENTI?! JALANMU MASIH SEPERTI BEBEK, NYONYA!" teriak Guru Etiket itu, suaranya melengking tajam.

PLAK! Kayu rotan itu mendarat keras di lengan Aluna.

"AH!! SAKIT!" Aluna menjerit, mendekap lengannya yang seketika memerah dan panas.

"JANGAN CENGENG! CEPAT BERDIRI! Seorang ratu tidak boleh terlihat rapuh hanya karena sedikit dipukul!" gertak wanita itu lagi.

Aluna menoleh ke arah Arkan dengan mata berkaca-kaca, memohon belas kasihan. "Hiks... Mbak, tolong... saya mau istirahat sebentar, kaki saya sudah lemas..."

Guru Etiket itu justru semakin murka. Ia menghantamkan rotannya ke punggung Aluna hingga wanita itu terjatuh dalam posisi bersimpuh.

"JANGAN MELAWAN! SEORANG ISTRI CEO TAK BOLEH JATUH DULUAN SEBELUM ACARA SELESAI!"

Aluna mencoba berdiri lagi, meski kakinya sudah lecet-lecet. Darah mulai merembes dari tumitnya, mengotori bagian dalam sepatu mahal itu. Dari kejauhan, suara Arkan terdengar menyindir di sela sesapan wine-nya.

"Kurang seru. Di mana ya wanita yang tadi pagi sangat pemberani sampai berani menampar saya? Ke mana perginya nyalimu, Aluna?" sindir Arkan dengan senyum miring yang penuh kemenangan.

Aluna mengepal tangan erat, kebencian membara di matanya. Namun, Guru Etiket menyadari dari ekspresinya.

BRUK! Hantaman rotan kembali mendarat di bahunya. Aluna jatuh tersungkur, goresan darah mulai menghiasi kakinya yang kecil.

"Nyonya, sadarlah! Anda adalah pendamping Tuan Arkan! Tolong punya sedikit rasa malu! Apa Anda ingin dunia menganggap Anda hanya pelacur murahan yang mendekati Tuan Arkan demi hartanya?!" teriak Guru Etiket itu tepat di depan wajah Aluna.

"Tidak... bukan begitu... saya..."

"Lihat badanmu! Kurus, kecil, tidak ada tenaga! Sama sekali tidak pantas berdiri di samping pria hebat seperti Tuan Arkan! Kau itu wanita rendahan... aku heran kenapa Tuan Arkan mau memilih wanita selemah ini di saat banyak wanita berkelas yang mengantre untuknya."

Kata-kata itu menghujam jantung Aluna lebih dalam. Ia memegangi dadanya yang sesak.

'Masih ada yang lebih baik? Aku juga berharap ini segera berakhir, aku juga ingin pergi dari neraka ini,' batinnya pilu.

​Arkan merasa belum puas melihat Aluna tersiksa.

Dengan gerakan tangan santai, ia memberi kode kepada pelayan.

Sesaat kemudian, ember-ember berisi air disiramkan ke lantai marmer yang licin itu. Sang guru etiket dengan lincah menghindar, namun Aluna tidak seberuntung itu. Kakinya yang sudah gemetar di atas hak 12 cm itu terpeleset hebat.

​BRUK!

​Aluna jatuh dalam posisi menyedihkan, basah kuyup dengan rambut yang menempel di wajah pucatnya.

Guru etiket mendekat, menatapnya remeh.

"Seharusnya Anda bisa mengantisipasi ini, Nyonya. Jika di pesta nanti ada kecelakaan kecil seperti tumpahan minuman, apa Anda akan merangkak seperti ini?"

​"Sial!" desis Aluna pelan. Dalam kepalanya, ia ingin sekali berteriak, ' Aku manusia! Aku bukan hewan! Apa setelah menikah akan ada banjir bandang di dalam gedung?Ini tidak normal! '

Namun, suaranya terkunci di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap sepatu terkutuk itu yang masih mengikat kakinya kuat. Tubuhnya mulai menggigil karena air dingin meresap ke dalam tulang.

...****************...

​Penderitaan berlanjut saat ia dibawa ke kamar untuk pengukuran busana. Dua perancang busana yang dikirim terlihat sangat jutek.

Berkali-kali sikut mereka menghantam rusuk Aluna seolah disengaja saat mereka menarik meteran.

​"Tahan napasmu, Nyonya! Bagaimana kami bisa mengukur pinggangmu jika kau terus bernapas seperti orang sesak napas?" ketus salah satu perancang sambil menarik meteran kain itu begitu kencang hingga Aluna merasa organ dalamnya terhimpit.

Aluna hanya bisa tersenyum kaku, 'Aku benar-benar akan mati sebelum hari pernikahan itu tiba...'

​Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita dengan rambut gelombang pirang elegan masuk dan langsung menghambur ke Arkan.

"Arkan! Lama sekali ya kita tidak bertemu," ucap wanita itu sambil memberikan pelukan singkat.

​"Clarissa... akhirnya kau datang juga," jawab Arkan, suaranya melembut, berbeda dengan suaranya saat membentak Aluna.

​Aluna terdiam, matanya mengerjap pelan. Clarissa?Apa wanita itu yang disebut kakek Seo?

Clarissa, yang ternyata bertindak sebagai konsultan resepsi, menghampiri Aluna yang masih duduk di kursi rias.

​"Oh, jadi ini wanitanya? Cantik juga," ucap Clarissa, namun matanya memancarkan kebencian.

Tanpa sengaja—atau mungkin sangat sengaja—Clarissa menyenggol gelas jus jeruk di meja hingga tumpah tepat di atas pakaian Aluna.

​"Ups! Tanganku licin sekali," ucap Clarissa tanpa nada menyesal. Aluna berdiri kaget, mencoba membersihkan noda yang mustahil hilang itu.

"Hm... kampungan sekali ya. Kudengar dari Arkan kau tinggal di tempat kumuh? Oh, jangan-jangan kau menjebak Arkan dengan satu malam yang tidak sengaja? Wah, teknik klasik para kupu-kupu malam."

​Aluna mendongak, matanya berkilat marah. "Tidak, bukan seperti itu—"

​"Tapi maaf ya, denganku Arkan jauh lebih romantis. Andai saja Kakek tidak melarangku mendekatinya, posisimu saat ini pasti sudah kuganti," bisik Clarissa tepat di telinga Aluna.

Clarissa tertawa renyah, namun saat Aluna hendak pergi mengganti pakaian, wanita itu menjambak rambut Aluna dari belakang hingga kepala Aluna terdongak paksa.

​Arkan melotot, ia sempat bergerak maju untuk menghentikannya, namun egonya menariknya kembali. Ia hanya berdiri mematung menonton penindasan Clarissa.

​"Berani melawan, ya?! Kastamu di sini itu rendah! Jangan sok berlagak jadi nyonya besar!" teriak Clarissa.

​"Mbak... tolong lepasin... sakit," rintih Aluna. Dengan kaki yang lecet dan berdarah karena sepatu tadi, ia mencoba melepaskan cengkeraman Clarissa.

​"Hahaha, jalang! Kau kira aku tidak tahu seberapa kelam masa lalumu? Kau itu dulu pernah merebut pacar teman kuliahmu sendiri, kan? Ups... bukan maksudku membongkar aib, tapi itu menjelaskan kenapa Arkan bisa 'terjerat' olehmu. Kau pasti menggunakan cara yang sama!"

​Kemarahan yang tertumpuk sejak pagi akhirnya meledak. Aluna tidak lagi peduli pada etiket atau apa pun. Ia menarik napas dalam dan menghantamkan dahinya tepat ke hidung Clarissa.

​BUAGH!

​Clarissa tersentak mundur, tangannya menutupi hidungnya yang seketika mengeluarkan darah mimisan.

Ia menatap telapak tangannya yang merah dengan wajah ngeri. Arkan segera menghampiri, mencoba memberikan tisu, namun Clarissa menyentak tangan Arkan kasar.

​"Ini kelakuan wanitamu, Arkan?! Sungguh tidak tahu berbudi! Bangsat!!!" Clarissa berteriak histeris sebelum lari keluar dari ruangan, panik melihat darah yang tak kunjung berhenti.

​Ruangan mendadak sunyi. Aluna jatuh terduduk di kursi, napasnya memburu. Ia mengusap wajahnya yang basah, mencoba menenangkan jantungnya.

​"Kau tahu siapa Clarissa?! Kau mau hidupmu tamat, hah?!" bentak Arkan, berdiri di depan Aluna dengan amarah yang meluap.

​Aluna justru tertawa. Tawa kering yang terdengar sangat hampa. Ia mendongak, menatap Arkan dengan mata yang sudah seperti ikan mati.

"Aku tidak peduli siapa dia, Mas... Untuk apa aku peduli? Semua orang akan lahir dan berakhir di atas tanah yang sama."

​Aluna berdiri perlahan, meski kakinya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

"Mas bahagia melihatku menderita, kan? Bagus. Aku budakmu sekarang. Aku bonekamu. Aku manekinmu yang bisa kau pakaikan baju mahal sementara hatiku kau injak. Gunakan aku sepuasnya, Mas... gunakan aku sampai aku hancur sekalian. Aku sudah capek."

​Arkan terdiam. Kalimat Aluna barusan seolah menjadi tamparan keras dari yang ia terima tadi pagi. Ia meneguk ludah, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya.

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!