NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WARISAN ABADI DAN MASA DEPAN YANG TERSIMPAN DI HATI

Mentari pagi menyinari jaringan Sekolah Hadian yang sekarang telah mencapai lebih dari 150 sekolah di 25 negara di dunia. Qinara, yang sekarang berusia sembilan belas tahun, berdiri di puncak bukit di dekat Sekolah Hadian Jakarta—tempat di mana ayahnya dulu sering membawanya melihat matahari terbit saat dia masih kecil. Dia mengenakan baju batik yang dibuat Laras dengan motif bunga mawar dan melati, melambangkan cinta yang abadi dan harapan yang terus berkembang. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu yang diberikan Pak Santoso—yang telah dilapisi oleh waktu tapi masih kuat—dan kotak pemberian ayahnya yang telah menjadi bagian tak terpisah dari dirinya selama bertahun-tahun.

Pak Rio berdiri di sebelahnya, membawa laporan tahunan yayasan yang tebal. Dia menggosok jidatnya yang dipenuhi keriput, mata penuh rasa kaguman. "Qinara, kita telah membantu lebih dari 30.000 anak di seluruh dunia. Model Sekolah Hadian telah menjadi contoh bagi organisasi pendidikan di mana-mana—bahkan negara-negara maju ingin mengadopsi sistem kita yang berbasis kasih sayang. Ayahmu pasti tidak pernah membayangkan seberapa jauh kita telah datang dari hari-hari pertama kita membangun panti asuhan itu."

Qinara mengangguk, mata melihat ke arah kejauhan di mana matahari mulai terbit, menyebarkan cahaya ke seluruh dataran Jakarta. Cahaya mentari menyinari sekolah-sekolah di sekitarnya—bangunan yang sederhana tapi penuh makna, dibangun dari batu, semen, dan cinta. Dia melihat anak-anak yang mulai berjalan ke Sekolah Hadian Jakarta, rambut mereka diselimuti embun pagi dan wajah mereka penuh semangat. "Ya, Pak. Ayahmu selalu berkata bahwa kecilnya langkah tidak pernah menghalangi kita mencapai tujuan besar. Kita telah membuktikannya bersama-sama—setiap batu yang kita angkut, setiap buku yang kita berikan, setiap kata semangat yang kita ucapkan, itu semua berharga."

Laras mendekatinya dengan sekelompok anak-anak baru dari Sekolah Hadian Jakarta—sepuluh anak yang baru tiba dari daerah terpencil di Jawa Tengah, yang tidak pernah sekolah sebelumnya. Anak-anak itu berdiri dengan ragu-ragu tapi penuh harapan, memandang Qinara dengan mata yang penuh rasa kaguman. "Qinara, anak-anak ini ingin mendengar cerita ayahmu. Mereka ingin tahu mengapa kita membangun sekolah ini, mengapa kita peduli pada mereka yang tidak punya apa-apa."

Qinara tersenyum dan mendekati anak-anak. Dia duduk di tanah, membuat dirinya setinggi mereka, dan membuka kotak pemberian ayahnya dengan hati-hati. Dia mengambil surat ayahnya yang paling tua, yang kertasnya sudah kuning dan lipatannya sudah tipis karena sering dibaca. "Baik, mari aku ceritakan. Ayahku bernama Hadian—arti namanya adalah 'cahaya'. Dia adalah orang yang bekerja keras, yang mencintai anak-anak dan ingin semua anak di dunia bisa sekolah. Dia berjanji akan membangun sekolah untuk anak-anak miskin, tapi dia tidak sempat melakukannya karena dia pergi terlalu dini."

Anak-anak mendengarkan dengan seksama, mata mereka terbuka lebar. Seorang anak perempuan kecil bernama Aisha, yang hanya berusia enam tahun dan mengenakan baju yang lusuh tapi bersih, mengangkat tangan. "Kak Qinara, mengapa ayahmu pergi terlalu dini?" tanya dia dengan suara lemah.

Qinara menyentuh kepala Aisha dengan lembut. "Karena ada orang yang tidak baik yang menyakitinya, Nak. Tapi aku tidak menyerah—aku berjuang untuk mendapatkan keadilan untuk ayahku, dan kemudian aku membangun sekolah ini untuk melaksanakan janjinya. Karena aku tahu bahwa ayahku tidak akan ingin aku menangis terus-menerus—dia ingin aku menjadi cahaya bagi orang lain, seperti namanya."

Anak-anak terdiam sebentar, memahami kata-katanya. Kemudian, Aisha berkata dengan tekad yang tidak terduga untuk usianya: "Kak Qinara, aku ingin menjadi seperti kamu nanti—membangun sekolah dan membantu anak-anak lain! Aku ingin menjadi cahaya juga!"

Qinara memeluk Aisha, air mata mulai menumpuk di sudut matanya. "Kamu pasti bisa, Aisha. Semua yang kamu butuhkan adalah tekad dan kasih sayang. Aku akan membantu kamu, aku janji."

Sore hari, mereka mengadakan acara peringatan tahun ke-10 Yayasan Hadian di lapangan olahraga Sekolah Hadian Jakarta. Lebih dari 5.000 orang hadir—alumni dari seluruh Indonesia dan negara lain, guru yang telah bekerja di sekolah, sukarelawan yang telah membantu pembangunan, delegasi PBB dari New York, dan tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang. Lapangan itu dipenuhi bendera merah-putih Indonesia dan bendera PBB, serta bunga mawar putih yang menyebarkan bau harum.

Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 90 tahun dan duduk di kursi roda yang dibuat oleh sukarelawan, diantar ke panggung oleh Siti—yang sekarang sudah bekerja sebagai ketua cabang Yayasan Hadian di Yogyakarta. Dia mengambil mikrofon dengan tangan yang sedikit gemetar, tapi suaranya tetap jelas. "Sepuluh tahun yang lalu, kita hanya memiliki satu panti asuhan dengan 15 anak yatim dan impian yang besar untuk membangun sekolah. Sekarang, kita memiliki jaringan sekolah yang menyebar ke 25 negara, membantu lebih dari 30.000 anak. Semua ini karena Qinara—anak kecil yang tidak mau menyerah, yang mengubah kesedihannya menjadi kekuatan untuk membantu orang lain."

Dia melihat ke arah Qinara yang berdiri di sampingnya. "Nak, ayahmu pasti bangga padamu. Kamu adalah warisan terbesar yang dia miliki—lebih berharga dari semua harta yang dia miliki. Aku bangga bisa menjadi bagian dari perjalananmu, dari hari pertama aku menemukanmu menangis di depan rumah ayahmu."

Suara tepuk tangan yang meriah terdengar dari seluruh lapangan. Setelah Pak Santoso selesai, Sekretaris Jenderal PBB yang hadir—yang telah mengenal Qinara sejak konferensi di New York—berdiri dan memberikan pidato. "Qinara, kamu telah menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci untuk perdamaian dan kemakmuran di dunia. Kamu telah mengubah hidup ribuan anak, dan dengan itu, kamu telah mengubah dunia—karena setiap anak yang mendapatkan pendidikan adalah satu langkah lebih jauh dari kemiskinan dan konflik."

Dia membawa keluar medali yang besar dan indah—"Medali Perdamaian Dunia"—yang hanya diberikan kepada orang yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi perdamaian dunia. "Atas nama PBB dan semua orang di dunia yang telah mendapatkan manfaat dari usahamu, saya dengan senang hati memberikan penghargaan ini kepada Qinara—duta khusus PBB untuk pendidikan anak-anak dan pendiri Yayasan Hadian."

Dia memasang medali di dada Qinara. Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh lapangan, berlangsung selama lebih dari dua puluh menit. Anak-anak dari Sekolah Hadian menyanyikan lagu "Hari Ini Hari yang Baik"—lagu yang ayahnya dulu menyanyiikan padanya saat dia masih kecil—dan semua orang bergandeng tangan, menyanyi bersama-sama dengan hati yang penuh kebahagiaan.

Setelah acara selesai, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama Laras, Pak Rio, Pak Slamet, dan beberapa anak-anak yang paling dekat dengannya. Jalan ke makam dipenuhi bunga mawar putih yang diletakkan oleh warga yang mengenal ayahnya. Qinara membawa bunga mawar yang dia potong sendiri dari kebun sekolah dan laporan tahunan yayasan yang tebal.

Dia duduk di dekat makam, membuka laporan itu dan membacanya untuk ayahnya dengan suara yang jelas dan penuh emosi. "Ayah, ini laporan tahunan Yayasan Hadian. Kita telah membangun 157 sekolah di 25 negara—dari Indonesia hingga Afrika Selatan, dari India hingga Brasil. Kita telah membantu 32.450 anak mendapatkan pendidikan, memberikan mereka makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Banyak dari mereka telah lulus dan bekerja sebagai guru, dokter, pengacara, dan pemimpin komunitas. Beberapa dari mereka bahkan sudah mulai membangun sekolah sendiri di daerah mereka."

Dia membalik halaman laporan, menunjukkan foto-foto anak-anak yang sukses. "Ini Sari dari Papua—dia sekarang menjadi guru di sekolah yang kita bangun di sana. Ini Johan dari Medan—dia sekarang menjadi dokter dan bekerja di rumah sakit yang didirikan oleh yayasan. Ini Kabelo dari Afrika Selatan—dia sekarang sedang menempuh studi hukum dan ingin melindungi hak anak-anak miskin. Semua ini karena impianmu, ayah."

Qinara mengambil surat ayahnya dari kotak pemberian dan membacanya sekali lagi, kata-katanya masih terasa segar dan penuh makna meskipun sudah bertahun-tahun:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain. Bagikan warisan ini ke dunia, agar setiap anak bisa memiliki masa depan yang cerah."

Qinara menangis dengan senang, air mata mengalir di wajahnya tapi dia tersenyum. Dia tahu bahwa dia telah melaksanakan janjinya kepada ayahnya. Semua yang dia lakukan—dari berjuang untuk keadilan di pengadilan, membangun sekolah pertama di Jakarta, hingga menjadi duta khusus PBB yang berbicara di depan dunia—semua itu adalah untuk menyebarkan warisan ayahnya yang berharga.

Laras memeluknya dengan erat, air mata juga mengalir di wajahnya. "Qinara, ayahmu pasti sangat bangga padamu. Aku juga bangga padamu—lebih dari yang bisa aku ungkapkan. Kamu telah mengubah hidupku juga—memberiku kesempatan untuk memaafkan diriku, untuk memberikan kembali, dan untuk membangun hubungan baru denganmu. Aku mencintaimu, Nak."

"Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang—Pak Rio, Pak Santoso, Pak Slamet, Siti, Rudi, dan semua sukarelawan—aku tidak bisa melakukan ini. Kita adalah keluarga, bukan dari darah tapi dari hati," jawab Qinara, memeluk Laras lebih erat.

Malam itu, Qinara berdiri di teras Sekolah Hadian Jakarta, memandang kota Jakarta yang penuh cahaya dan kegembiraan. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dengan erat, menyadari bahwa semua yang dia miliki sekarang adalah karena cinta dan dukungan ayahnya dan keluarga yang dia bangun dari hati. Dia melihat langit malam yang penuh bintang, dan menemukan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai tanda ayahnya—bintang yang tampak lebih terang dari biasanya malam itu.

"Ayah, terima kasih telah memberiku hidup, impian, dan kekuatan untuk melanjutkan. Kamu selalu menyertainya, bahkan ketika kamu tidak ada di sini—di setiap cahaya mentari yang menyinari sekolah, di setiap tawa anak-anak yang belajar, di setiap senyum orang yang kita bantu. Warisanmu akan hidup selamanya di hatiku, di jaringan Sekolah Hadian, dan di setiap anak yang dia bantu di seluruh dunia. Aku mencintaimu selamanya, ayah."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak anak untuk dibantu. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang—ada rencana untuk membangun 500 sekolah lagi di 50 negara dalam lima tahun ke depan, ada harapan untuk membuat program beasiswa bagi alumni, ada tujuan untuk mengembangkan kurikulum yang lebih baik. Tapi dia juga tahu bahwa meskipun perjalanan itu panjang, dia telah mencapai tujuan besar—mewujudkan impian ayahnya dan menyebarkan kasih sayang ke seluruh dunia.

Dia berdiri tegak, memegang tongkat kayu dan kotak pemberian ayahnya, melihat ke arah masa depan yang terang dan penuh harapan. Dia siap untuk melangkah ke depannya dengan kepala tegak dan hati yang penuh kasih sayang, mengetahui bahwa ayahnya selalu menyertainya dan warisan ayahnya akan tetap hidup selamanya—sebagai cahaya yang tidak pernah padam, bagi semua orang yang membutuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!