Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Allan melihat foto yang berserak di meja kerjanya dengan seksama, ke khawatiran tampak jelas terpancar dari matanya.
Lelaki yang Sudah hampir tiga tahun lebih mereka anggap mati, kenapa bisa muncul kembali, dan sedang memata-matai nyonya besar mereka.
"Bos, apa tidak sebaiknya lapor tuan Erico saja" usul anak buah Allan, Allan menatapnya kemudian menggeleng tegas.
"Tuan tidak boleh tau masalah ini, ini akibat kelalaian kita, maka kita yang harus membereskannya" ujar Allan.
"Tapi nyonya besar jadi targetnya bos"
"Sebelum dia bisa menyentuh nyonya kita habisi dulu dia, dia target kita selanjutnya" ujar Allan tegas.
Dia kembali melihat Foto di atas meja, tampak di foto seorang pria berwajah tampan dengan kaca mata hitamnya. Allan menghela nafas berat pria ini bukanlah lawan yang enteng baginya dia harus lebih waspada.
**
Hari ini Kila kembali membeli buah tangan untuk anak didiknya, berkaca pada pengalaman kemarin kali ini buah tangan Kila berupa bingkisan kue yang bisa di bawa pulang.
Begitu tiba anak-anak berlarian menyambutnya, terutama murid baru yang di dominasi anak usia TK.
"Assalamualaikum anak umi" sapa Kila penuh kelembutan.
"Wa'alaikumsalam umi" sahut mereka serempak.
"Hari ini umi ada bingkisan, siapa yang sudah hafal ayat pendek yang umi beri tugas untuk di hafal di rumah, bingkisan ini boleh jadi miliknya" ujar Kila seraya menenteng bingkisan cantik berisi aneka kue di dalamnya.
"Saya umi" ujar Salah satu dari mereka.
"Desi ayo maju, ayat apa yang sudah hafal sayang" tanya Kila.
"Surat Al-taubah umi" ujarnya penuh semangat.
"Bagus, ayo mulai baca"
Dengan semangat Desi melantunkan surat Al-taubah sambil sesekali matanya melirik bingkisan di tangan Kila yang dia yakini bingkisan itu pasti jadi miliknya.
Satu persatu dari mereka maju dan Alhamdulillah semua murid dapat bingkisan karena tak satupun dari mereka yang tidak hapal.
"Alhamdulillah, semua anak umi orang yang tekun belajar, jangan lupa pesan umi, ajarkan yang sudah kalian pelajari ini pada teman yang tidak punya waktu untuk belajar dengan kita,"
"Iya umi, aku ada teman yang ingin belajar mengaji dengan kita tapi gak bisa mi" sahut seorang anak.
"Benarkah, kenapa tidak bisa sayang"
"Dia harus menjaga adiknya yang masih kecil mi"
"Ooo, kamu boleh mengajarkan apa yang kamu pelajari di sini, di saat ada waktu dan kesempatan"
"Iya mi"
Setelah itu Kila melanjutkan dengan pelajaran mengaji mengenal hurup dan tanda baca, serta hukum-hukum tajwid, Murid kila setiap hari bertambah walau satu dua orang tambahanya sudah membuat hati Kila senang.
Selesai mengajar Kila tak langsung pulang dia berniat mengunjungi Mama, terakhir kali kertemu mama, dia sempat mengeluh ketidak pedulian anak-anaknya dengan mama membuat Kila merasa bersalah.
"Pak Singgah ke butik pertigaan jalan ya pak" ujar Kila pada supirnya.
"Baik nyonya"
Tak jauh dari pertigaan jalan yang di maksud Kila mobil berbelok kesebuah butik langganan mama Kila. Kila dan nana masuk ke butik, Kila tau mama suka barang Branded .
Kila memilih beberapa barang berupa tas dan sepatu sesuai dengan selera mama, setelah selesai kila pun menuju meja kasir.Kila mengeluarkan kartu miliknya pemberian dari suaminya.
"Ini mbak" ujar Kila menyodorkan kartunya pada kasir.
"Barang ini sudah di bayar Nona"
"Maaf, apa mbak gak salah, saya belum membayarnya" ujar Kila merasa heran.
"Tapi Tuan itu yang membayar semua ini Nona" jelas Kasir yang mengira Kila masih single.
Kila beralih memandang seseorang yang di maksud oleh kasir, tampak sosok pria berwajah tampan melambai kearahnya. dengan cepat Kila berpaling kembali menatap kasir.
"Maaf mbak, saya tidak bisa menerimanya, pakai ini saja" ujar Kila sekali lagi menyerahkan kartunya.
"Maaf Nona, tidak bisa, Nona langsung saja berurusan dengan dia" ujar Kasir.
Kila menentang semua barang yang di belinya, bermaksud mencari sosok lelaki misterius tadi, tapi lelaki itu hilang tak berjejak.
"Maaf nyonya, sepertinya nyonya mencari sesuatu" tanya Nana yang tidak tau kejadian tadi.
"Belanjaanku ada yang bayari mbak" ujar Kila masih dengan wajah bingung.
"Nyonya mengenal orang itu" tanya Nana.
"Gak,baru ketemu tadi"
"Laki, apa perempuan nyonya"
"Laki-laki"
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini nyonya" ujar Nana, dia mengiringi langkah Kila, tampak perubahan Sikap Nana tadi yang terlihat santai kini berubah serius dan terlihat waspada.
"Kau selidiki tempat ini, seseorang tak di kenal telah membayar belajaan nyonya" perintah Nana pada salah satu dari pengawal Kila, saat hendak naik kemobil.
"Mbak Nana, jangan menanggapi terlalu serius masalah ini" ujar Kila merasa tidak enak dengan tangapan Nana yang di anggapnya terlalu berlebihan.
"Baik nyonya" ujar Nana
Kila turun dari mobil yang sudah terpakir di halaman rumah orang tua Kila. di tangannya menenteng paper bag, berisi barang-barang mewah kesukaan mamanya.
"Sayang.." seru mami seraya memeluk tubuh kila hangat.
"Mama, gimana kabarnya, sehatkan" Kila balas memeluk tubuh mama.
"Tentu saja sehatlah sayang"
"Oh,ya ini ada oleh-oleh buat mama, semoga mama suka" bisik Kila.
"Apa ini sayang" ujar mama seraya membuka paper bag yang di bawa Kila.
"Ya ampun sayang, ini mahal lho" ujar mama sumringah.
"Buat mama, apa sih yang enggak" ujar Kila, kembali memberi mama pelukan hangatnya.
"Sudah izin suamimu kemari sayang"
"Tentu ma, Kila mana berani pergi tanpa izin mas" jelas Kila.
"Oo ya sudah"
"Papa mana ma"
"Itu di kamar, tadi papa pulang Cepat katanya gak enak badan" ujar mama, wajahnya berubah khawatir.
"Udah cek kedokter ma"
"Kata papa gak perlu, istrahat saja sudah cukup"
"Hhhmm papa"
"Ayo lihat papa ma" ajak Kila, tapi belum juga beranjak dari duduknya, tampak papa turun dari lantai atas.
"Sayang, kapan datang"
"Baru aja pa"
"Kapan suamimu pulang, sayang"
"Belum tau pa, papa tapi sakit, Kenapa tidak kedokter"
"Udah mendingan kok sayang, cuma kecapean aja" ujar papa Edi seraya duduk di sebelah putrinya tercinta.
"Pa berhentilah bekerja, bersenang-senanglah dengan mama, nikmati hari tua selagi sehat, apalagi yang papa kejar, harta itu semakin di cari semakin kurang pa, mulailah melaksanakan Lima waktu, ajak mama, mama tanggung jawab papa, bukan hanya dunia tapi juga Akhirat pa" ujar Kila dengan lemah lembut.
Papa dan mama saling tatap, tak pernah bermimpi mempanyai anak yang begitu agamis, entah titisan dari mana dia bisa beda haluan begitu, itulah yang ada di benak mereka berdua.
"Nantilah papa pikir lagi" ujar papa Edi, seraya melirik mama.
"Ini semua demi mama dan papa juga" ujar Kila seraya menatap penuh harap kedua orang tuanya.
"Kila, apa Nak Rico juga kamu ceramahi begini" tanya mama yang tiba-tiba penasaran apakah anaknya berani memberinya ceramah agama.
"Tentu ma, diakan suamiku, itu tugasku meluruskan jalan suamiku"
"Kila kamu jangan macem-macem deh, bagaimana kalau Rico marah dan gak terima kamu ceramahi" seru mama khawatir.
"Dia gak pernah marah kok mi" ujar Kila dengan senyum.
"Masak sih" ujar mama merasa tak yakin.Kila mengangguk meyakinkan mama.
**
Menjelang magrib Kila pamit pulang pada mama dan papa. kunjungan yang sebentar itu mengobati rasa kesepian mereka, dan merekapun harus rela melepas putri mereka kembali kerumahnya, untuk kembali merasa sepi di rumah besar dan mewah ini.
Sesampainya di rumah Kila langsung keruang sholat, menunaikan kewajibanya untuk melaksanakan tiga rakaatnya.
Kila merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya, matanya baru saja terpejam ketika dering handphone Kila berdering, pangilan video tertara di layar handphone nya
"Assalamualaikum mas" sapa Kila sumringah.
"Waalaikumsalam sayang"
"Sayang sudah makan malam?"
"Belum, selesai sholat isya aja nanti mas"
"Sayang.."
"Iya mas"
"Kata Nana, seorang pria membayar barang yang sayang beli di butik" tanya Rico terdengar hati-hati.
"Iya mas"
"Kau mengenalnya sayang..?"
"Tidak mas, aku baru ketemu di butik itu"
"Lain kali, bawahlah Nana ikut serta " saran Rico.
"Iya baiklah mas" Kila tak ingin berdebat dengan suaminya dia mengikuti saja mau suaminya.
"Aku akan menambah orang untuk menjagamu pergi mengajar, ya sayang" ujar Rico.
"Mas, itu terdengar terlalu berlebihan, mas mengawalku melebihi putri presiden" protes Kila dengan wajah cemberut.
"Kau memang bukan putri presiden sayang, tapi kau adalah istriku, aku menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini" ujar Rico tegas.
"Tapi mas.."
"Tidak ada penolakan dalam hal ini sayang, atau , sayang diam di rumah saja tidak usah mengajar lagi" Ancam Rico serius.
"Baiklah mas, aku turuti maumu" ujar Kila pasrah. dia menyesal menceritakan kejadian itu pada Nana.
"Bagus itu baru istriku" ujar Rico senang.
"Sayang sudah dulu ya, aku ngantuk" ujar Rico dengan senyum.
"Iya mas, tidurlah" balas Kila.
"Assalamualaikum sayang"
"Waalaikumsalam mas"
Panggilan pun berakhir, sudah seminggu Rico di sana, tinggal beberapa hari lagi dia pulang tapi Kila sudah tak sabar rasanya menanti beberapa hari yang tertinggal.
ternyata benar kalimat seseorang bahwa rindu itu berat...
.
.
.
Happy reading 💞
Tinggalin jempol dan komennya ya sayang👍🙏🥰 juga vote sebanyak-banyaknya😘😍