Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Bahaya yang menanti
Suasana kota Mathilda pagi itu sudah ramai dengan segala macam bentuk aktivitas warganya. Aroma kue yang memikat, wangi susu dan mentega sudah menguar dari masing-masing rumah.
"Wanginya pekat sekali," ucap Serah saat pertama kali merasakan pengalaman ini.
"Sarapan khas warga lokal setiap pagi memang seperti ini, Yang mulia," ujar Cristine memberi penjelasan. "Apakah di Regina memiliki sarapan yang berbeda?" Tanya wanita itu sedikit penasaran.
"Ah, rakyat Regina biasa memakan biskuit, mentega dan susu," jawab Serah yang bisa lancar menyebutkan kebiasaan rakyatnya.
"Ternyata tidak jauh berbeda," ucap Cristine mengangguk lalu tersenyum. "Nah, ini toko nya, silahkan Yang mulia." Wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan Serah untuk masuk terlebih dahulu ke dalam dengan sedikit menundukkan kepala.
Serah hanya tersenyum dan mengangguk kecil menerima pelayanan dari Cristine dan melangkahkan kakinya ke dalam toko aksesoris khusus untuk perlengkapan pesta tersebut.
.
.
Di sisi lain, pagi itu suasana kota Duncan sudah ramai disesaki oleh kereta-kereta pasokan bahan makanan yang sekarang tak hanya datang dari Regina, tapi juga dari dua kerajaan lain yang juga turut membantu. Puluhan kereta itu menuju istana terlebih dahulu karena sebagian kereta dari Regina membawa bantuan untuk Duncan, sementara kereta dari kerajaan lain diteruskan melewati gerbang kota untuk sampai ke arah tujuan.
Keadaan yang terlalu sibuk itu sepertinya membuat pengawasan Duncan tidak optimal, karena ya sebagian prajurit yang bertugas sebenarnya bukanlah asli dari bagian militer tapi sukarelawan dari penduduk lokal setempat. Mereka ingin membantu meringankan tugas para prajurit dan ksatria yang masih belum pulih sebagiannya pasca perang dengan suku Barbarian.
Situasi itu dimanfaatkan oleh seorang wanita untuk menyelinap ke dalam kota dengan menggunakan jubah panjang berwarna cokelat gelap yang lusuh untuk menutupi gaun putihnya.
Begitu berhasil masuk kota dia bergegas mencari keramaian penduduk yang melihat kereta-kereta itu dari arah pinggir jalan.
"Kita harus bersyukur atas kebaikan Ratu Regina yang bersedia membagikan sebagian dari persediaannya untuk kita!" Ujar seorang lelaki dengan perasaan bahagia bercampur haru karena akhirnya mereka bisa mendapatkan bantuan untuk memulihkan diri.
"Jadi Ratu Serah mengirimkan bantuannya kepada Duncan?? Apa Louis tidak mengetahuinya?" Batin wanita asing itu bertanya-tanya sambil mengamati kereta-kereta yang berdatangan sejak pukul 04:00 pagi.
"Kita harus membalas kebaikan Ratu Serah kalau Duncan sudah pulih," ucap salah seorang penduduk lain.
"Ya, ya, itu benar, kita harus memberikan usulan ini kepada Raja Grenseal!" Orang sekitar nya tampak setuju dengan ide tersebut. Mereka mengangguk kompak.
Wanita itu berjalan perlahan di sekitar para penduduk. Jubah lusuhnya membuat ia dapat membaur dengan sempurna tanpa dicurigai oleh siapapun.
"Yang mulia...."
Dua orang dengan jubah yang sama tanpa tudung mendekati wanita itu di tengah keramaian dengan berbisik.
"Hati-hati memanggilku seperti itu di depan umum, nanti kita bisa ketahuan!" Ujar si wanita dengan suara tertahan.
"Maafkan saya, Yang mulia!" Balas pengawalnya secara reflek. "Ma-maksudnya, Lady," ralatnya dengan cepat setelah wanita itu memelototinya dengan tajam.
"Sudah, cepat katakan kalian dapat informasi apa?" Tanyanya agak kesal.
"Kita bicara di tempat yang aman saja, mari Lady...," ujar pengawalnya yang satu menuntunnya menjauhi keramaian kota.
Ketiganya segera melipir berjalan ke arah lorong jalan yang tak terlalu ramai orang. Mereka berhenti di sebuah tempat yang lumayan aman dari pengawasan mata.
"Sekarang cepat bicara, apa yang kalian temukan?" Tanya si wanita sedikit membungkuk.
"Kami melihat pasokan makanan itu masuk ke gudang penyimpanan Duncan," jawab seorang pengawalnya.
"Kau yakin dengan informasi itu?" Si wanita menyorot tajam.
"Tentu saja, benda ini adalah buktinya." Lelaki itu menyerahkan sebuah karung kecil dengan tanda cap bendera kerajaan Regina.
"Heh, bagus...." Wanita itu menyeringai setelah yakin kalau Duncan dan Regina tampaknya diam-diam bekerjasama yang pastinya Louis tidak tahu soal ini.
"Kau cepat pergilah ke Mathilda dan bawa benda ini sebagai bukti. Sampaikan pada Louis kalau Ratu Regina itu membantu Grenseal di belakangnya," perintahnya dengan cepat.
"Baik, Lady!" Pria itu memasukkan karung berisi gandum ukuran kecil itu ke dalam tasnya lalu sedikit membungkuk pada si wanita.
"Ingat, kau harus cepat!" Ujarnya dengan penekanan.
"Saya mengerti!" Dengan patuh lelaki itu pun bergegas pergi.
"Bagus, sekarang kita juga harus pergi dari tempat ini sebelum ada yang menyadari keberadaan, ayo cepat!"
Wanita itu bergegas pergi juga meninggalkan tempat tersebut dengan didampingi oleh pengawal yang satunya menuju ke gerbang perbatasan dengan berjalan di antara keramaian orang di sepanjang jalan. Keberadaan mereka tak diketahui karena jubah yang digunakan merupakan jubah umum untuk rakyat biasa, tidak terlalu royal, warna biasa yang tak mencolok serta bahan yang tidak mewah. Membuat keduanya tampak seperti orang biasa saja yang kebetulan sedang lewat di sekitar.
"Hah, bagus sekali, untung mereka sedang sibuk hingga tidak terlalu menyadari kita di sana!" Ujarnya setelah berhasil keluar dari perbatasan Duncan.
"Apa kita langsung kembali ke Rumaria, Yang mulia Laurent?"
Ternyata wanita itu adalah Laurentia Baldric, Ratu dari kerajaan Rumaria, salah satu kerajaan yang juga menerima bantuan dari pihak Regina juga dua kerajaan lainnya akibat dampak perang beberapa waktu lalu.
"Ya, urusan kita sudah selesai, ayo pergi," balasnya setelah membuka tudung besar yang menutupi bagian kepala memperlihatkan sosok asli dari dirinya.
"Baik, Yang mulia." Pengawal itu melepas tali kekang kuda yang diikatkan pada pohon, mengajak si kuda berjalan sedikit, lalu menaikinya.
"Silahkan, Yang mulia...." Kemudian ia mengulurkan tangannya kepada sang Ratu yang segera menyambutnya.
Pengawal itu membantu menahan tubuh Laurent saat menaiki kuda sampai duduk di bagian pelana belakang kuda dengan aman.
"Kita berangkat...," ujarnya sambil memacu tali kekangnya membuat si kuda bereaksi, meringkik lalu berlari pergi.
.
.
Kembali ke pusat kota Mathilda.
Serah terlihat sudah sibuk memberikan daftar barang-barang apa saja yang dia butuhkan untuk keperluan pesta kepada si pemilik toko yang langsung dengan sigap memberikan seluruh atensinya hari itu khusus untuk melayani sang calon Ratu.
"Tolong semua barang-barang itu dikirim ke istana setelah jam makan dan harus lengkap sebelum matahari terbenam," ujar Serah dengan tegas. "Pembayaran akan langsung dilakukan setelah semua sudah terkirim," sambungnya.
"Mengerti, Yang mulia! Kami akan mulai mencari dan mempersiapkan yang anda butuhkan sekarang juga. Kami pasti akan mengirim semua dengan lengkap lebih cepat dari itu!" Balas si pria dengan sedikit menjilat dan berbesar hati.
"Baiklah kalau anda bisa melakukan itu, saya akan menunggu kedatangan anda." Serah menyunggingkan seutas senyum. "Ayo, Lady Cristine...," ucapnya kemudian kepada wanita di belakangnya.
Keduanya berjalan keluar meninggalkan toko aksesoris bernama happy party itu. Lalu Serah berjalan ke arah sebuah toko yang lain.
"Anda mau kemana lagi, Yang mulia?" Tanya Cristine penasaran saat melihat Serah berjalan di antara jajaran toko gaun.
"Ada satu hal lain yang ingin kulakukan, aku harap kau bisa menjaga rahasia ini, Lady Cristine," balas Serah sambil memberikan senyum yang misterius.
"Tentu Yang mulia, anda bisa mengandalkan saya, tapi apa...?" Cristine mengerutkan kening, masih tidak memahami apa yang sebenarnya sedang direncanakan sang Ratu.
"Lihat dan kau akan tahu sendiri," jawab Serah dengan senyuman kecil. Lalu, ia pun memasuki sebuah toko pakaian khusus wanita dewasa. Wajah Cristine langsung merona saat menyadari itu.
A-apa Putri Serah ingin melakukannya dengan Yang mulia Louis...?
Apa benar Serah akan melakukan itu sesuai pikiran Cristine?
.
.
A/N : Hanya sedikit penjelasan. Serah adalah Regina, dia tetaplah seorang Ratu bagi Negerinya sendiri tapi belum resmi menjadi Ratu Mathilda, tapi calon. Makanya terkadang dia dipanggil dengan sebutan 'Puteri' di kalangan Mathilda. Sementara kalau dia disebut 'Ratu' itu menegaskan posisi aslinya yang memang seorang Ratu dari Regina.
Sekian dan terimakasih yang sudah berkunjung.
orang serah udah nunjuk christie 😂😂
noh helena jd anjing yang patuh inget tuh 🤭
bau2nya author mau comblangin kalian soalnya.